Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan

Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan
Bab 153. Itu Benar-Benar Ironi


__ADS_3

Ronald berkata dengan marah, “Tidak heran aku begitu menyedihkan malam ini, pada akhirnya yang salah adalah aku?”


“Yang Mulia pasti tidak salah.” Yanto memainkan keahlian tingkat tingginya, “Tapi Permaisuri juga tidak salah, yang salah adalah masalah ini memang tidak seharusnya diungkit. Misalnya, jika Permaisuri sama sekali tidak peduli apa Yang Mulia memiliki wanita atau tidak sebelumnya, apa Yang Mulia merasa senang?”


Ronald berpikir sejenak, “Tidak terlalu senang, tapi setidaknya aku tidak akan begitu menyedihkan malam ini.”


“Itu hanya sementara. Dapat dilihat Permaisuri benar-benar sangat memandang penting Yang Mulia, di dalam hatinya ada Yang Mulia, jadi aku merasa Yang Mulia harus pergi untuk mengakui kesalahan pada Permaisuri.”


Ronald melototkan matanya, “Mengakui kesalahan? Bukankah tadi kamu mengatakan aku tidak salah.”


“Ini tidak ada hubungannya dengan benar atau salah, mana ada benar atau salah di antara suami istri? Paling-paling hanya harus membujuknya dan lebih perhatian padanya maka semuanya akan berlalu.” Yanto terus berkata membujuk, tidak bisa membiarkan kedua majikannya ini merajuk bukan, jarang-jarang istana ini memiliki hari-hari yang tenang.


Ronald benar-benar terbujuk dan memikirkan pemikiran Yanto, “Yang kamu katakan juga benar, dia peduli padaku jadi bisa seperti ini, jika dia acuh setelah mendengarku berkata seperti itu maka aku baru perlu khawatir.”


“Benar bukan?” Yanto berkata menyarankan, “Yang Mulia pergilah ke Paviliun Serenity untuk membujuk Permaisuri, wanita akan lebih baik setelah dibujuk.”


Ronald bangun kemudian berkata, “Kamu tinggal di sini, aku pergi sendiri saja.” Tidak mungkin membiarkan Yanto melihat dirinya menundukkan kepala pada wanita bukan, itu sangat memalukan.


Yanto tersenyum dan berkata, “Baik, aku akan meminta seseorang untuk mengantarkan sup ke sana, Yang Mulia dan Permaisuri bisa meminumnya bersama.”


Menyaksikan Ronald pergi, Yanto menunggu di dalam, tersenyum dan melihat sepertinya hari-hari bisa dilewati dengan indah.


Tidak lama, Yanto melihat ada seseorang yang berlari dengan panik, di belakangnya ada Becky yang mengejar dengan gilanya, pakaian Ronald digigit hingga berlubang, celananya juga tercabik, Ronald berlari mati-matian seakan seperti sedang menari hula.


“Becky, mundur!” Yanto berkata memarahi.


Ketika Becky melihat itu adalah Yanto, dia menggonggong padanya 2 kali, kemudian berbalik dan pergi.


Ronald sangat amat marah, bersandar dan bernafas dengan terengah-engah, Ronald ingin membunuh Becky.


Yanto merasa Yang Mulia Ronald malam ini benar-benar menyedihkan.


Begitu menyedihkan hingga membuat orang ingin tertawa.


Ronald berkata dengan marah, “Dia itu sangat kejam, jelas-jelas tahu aku takut pada anjing, dia malah memanggil Becky untuk menggigitku.”


Yanto dengan pelan berkata, “Yang Mulia, ganti pakaianmu lebih dulu.”


Yanti sudah tidak tahu lagi bagaimana cara menghiburnya.


Ronald merasa batas kesabarannya sudah dilewati.


Merasa Ivonne sudah sedikit keterlaluan.


Ronald berbaring di ranjang sendirian, semakin dipikirkan dia semakin marah.

__ADS_1


Lagipula bukan dia saja yang sepreti itu, pria itu semua sama, banyak pria yang memiliki tiga hingga empat istri, tapi Ronald tidak.


Dan lagi itu adalah hal sebelum Ronald mengenal Ivonne, apa alasan yang dimiliki Ivonne untuk mengungkit masalah itu?


Tidak masalah jika hanya marah sebentar, tapi Ivonne malah menyuruh anjingnya untuk mengejarnya, apa Ivonne tidak takut Ronald benar-benar mati?


Benar-benar wanita yang kejam, sikap lemah lembut selama beberapa hari itu hanyalah ilusi, sifatnya yang sebenarnya memang jahat seperti ini.


“Aku sudah memutuskan, aku tidak akan mempedulikannya lagi.” Ronald berteriak pada Yanto yang berada di luar.


Yanto dan Rendi tersenyum, baiklah, lihatnya berapa hari Ronald bisa tidak peduli.


Kemarahan Ivonne sudah menghilang.


Kemarahan Ivonne datang dan pergi dengan cepat.


Ketika Ivonne meminta Becky untuk menggigit Ronald dan melihat Ronald berlari mati-matian, pada saat itu kemarahan Ivonne sudah reda.


Ivonne sedang berpikir.


Mengenai masalah malam ini, jika dipikirkan baik-baik sebenarnya itu adalah pertanyaan yang layak untuk dipikirkan.


Ivonne dulu berpikir dia adalah orang yang sangat toleran, riwayat cinta masa lalu Ronald sebenarnya sama sekali tidak perlu diperhitungkan.


Selama setelah Ronald bersamanya dia bersikap setia, maka Ivonne sama sekali tidak masalah.


Di jaman ini, pria yang memiliki kedudukan sudah pasti akan memiliki tiga atau empat istri dan selir, Ronald tidak terkecuali, sekarang apa Ronald mencintainya atau tidak saja itu juga tidak pasti, bahkan jika Ronald mencintainya, cinta juga bisa berlalu dan tidak bisa tetap segar seumur hidup.


Melihat tingkat perceraian yang tinggi di zaman modern itu sudah amat jelas.


Tapi di zaman modern setidaknya masih bisa bercerai, tapi di sini jika suami berubah hati dan mengambil seorang selir, Istrinya hanya bisa menerimanya dalam diam, bahkan masih ada Istri yang dikarenakan nama baik malah mencarikan selir untuk sang suami, kemudian menjalani seumur hidupnya dengan sangat menyedihkan.


“Permaisuri, sudah waktunya tidur.” Kata Bibi Vera.


Ivonne duduk kemudian meminta Bibi Vera datang, “Bibi, aku ingin bertanya padamu, apa ada di antara para anggota kerajaan yang tidak memiliki selir?”


“Ini … Bahkan jika tidak mengambil selir sekarang, nantinya juga akan ada, ingin memiliki banyak keturunan bukan, Permaisuri tidak perlu memikirkan ini.”


“Kak Stanley juga tidak memiliki selir.” Ivonne terpikir akan Stanley.


“Raja Stanley juga akan memiliki selir, Permaisuri Stanley sudah sedang mencarikan untuknya.” kata Bibi Vera sambil tersenyum.


Ivonne menghela nafas, “Apa tidak ada yang hanya memiliki satu wanita seumur hidupnya?


“Ada, para warga sipil yang tidak memiliki uang.” Kata Bibi Vera sambil tersenyum, “Tapi, siapa yang rela menikahi orang miskin? Bahkan jika wanita biasa pun juga ingin hidup tanpa perlu khawatir akan apapun.

__ADS_1


Ya, makan dan pakaian adalah yang paling penting, jika dibandingkan dengan masalah suaminya yang memiliki selir maka hal itu masih bisa ditolerir.


“Apa ada wanita yang tidak mengijinkan suaminya mengambil selir?”


Bibi Vera berkata, “Ada, tapi namanya akan menjadi buruk karena dicap tukang cemburu, tidak akan ada orang yang ingin berurusan dengannya lagi, karena takut merusak nama baik diri sendiri.”


Ya, dicap tukang cemburu, tidak ada yang mau berususan lagi, siapapun akan terkena imbas.


Ivonne menghela nafas, “Di jaman ini sungguh tidak adil untuk para wanita.”


Bibi Vera terdiam selama beberapa saat kemudian berkata, “Lebih baik Permaisuri tidur lebih awal, jangan memikirkan hal macam-macam.”


Ivonne menjawab sekilas, memeluk selimut dan tidur.


Perasaan itu datang tiba-tiba, seperti api yang seketika terbakar dalam sekejap.


Namun setelah terbakar, sudah seharusnya berpikir dengan tenang.


Orang tidak bisa begitu impulsif dalam menghadapi perasaan.


Ronald … wajah Ronald yang tampan muncul di benak Ivonne, menghela nafas pelan, sangat berharap dirinya bisa bersikap lebih rasional pada Ronald.


Keesokan harinya, Ronald pergi bekerja lebih awal dan tidak tidur sepanjang malam, keluar rumah dengan penuh kemarahan dan juga kegelisahan.


Ivonne pergi ke kediaman Indra tidak lama setelah Ronald keluar.


Menghabiskan sebagian besar waktu di kediaman Indra, Ivonne tidak bersemangat.


Hari pertama perang dingin dengan Ronald, Ivonne merindukannya!


Selir Renata bahkan bisa melihatnya, menyeret Ivonne keluar dan menanyakannya.


Ivonne berkata, “Tidak ada apa-apa, hanya ada rintangan di hatiku, aku tidak bisa melewatinya.”


Selir Renata mengerti dan berkata, “Selama kamu masih hidup, tidak ada tidak bisa dilewati.”


Ivonne tentu saja tidak bisa membicarakan dengan Selir Renata mengenai apa yang ada di dalam hatinya, Ivonne hanya bisa tersenyum dan berterima kasih pada Selir Renata atas perhatiannya.


Selir Renata sangat memperhatikan Permaisuri Juno akhir-akhir ini, terus menanyakan mengenai kondisinya.


Karena itu Ivonne tidak mau menceritakannya, jadi Ivonne mengganti topik pembicaraan dan berkata, “Kudengar Permaisuri Juno mengidap penyakit paru-paru.”


Ivonne terpaku, “Tidak mungkin bukan? Apa terinfeksi oleh Indra?”


Selir Renata tidak mengakuinya dan dengan datar berkata, “Siapa yang tahu dengan siapa dia berhubungan? Di Istana ini juga bukan Indra satu-satunya yang menderita penyakit itu, mungkin itu adalah karmanya.”

__ADS_1


Ivonne teringat Permaisuri Juno pada awalnya tidak mau memakai masker penutup, tidak takut terinfeksi, jika dia benar-benar terinfeksi maka itu benar-benar sangat ironi.


__ADS_2