
Hati Ronald sangat sedih dan juga menyakitkan sekarang.
Ronald dengan samar berkata, “Jika ada orang seperti itu, maka yang dia berikan padamu hanyalah siksaan dan tidak ada rasa suka, tidak ada kebahagiaan.”
“Jika ada siksaan maka itu sudah pasti ada rasa suka.”
Ronald mendongak dan minum, Ronald meyadari bahwa di antara mereka sudah tidak ada bahasa yang sama lagi, persahabatan mereka sudah sampai akhir.
Tapi sebagai nasihat terakhir, Ronald menunjuk ke arah Peter dan berkata, “Lebih baik kamu tidak seperti itu, kamu akan menyesalinya.”
Peter meraih tangan Ronald, “Kamu duduklah dan temani aku minum, kamu tidak mengerti apa-apa. Apa kamu benar-benar mencintai Clara? Tidak. Kamu tidak begitu memikirkannya dan menginginkannya, tidak bertemu dengan Clara satu hari saja apa kamu tidak merasa harimu berubah menjadi kelam, kamu hanya berpikir bahwa Clara cocok, mengenai Istrimu, lupakan saja, kamu itu dijebak olehnya, tentu saja kamu tidak memiliki perasaan padanya.”
Ronald mendorongnya, “Kamu sadarlah.”
Selesai berbicara, Ronald kemudian pergi.
“Aku sudah memiliki seseorang yang kusukai!” Peter tiba-tiba berteriak ke arah Ronald.
Ronald berbalik dan merasa ini adalah hal yang baru, “Siapa?”
Peter mengangkat jarinya, “I…”
Sebuah sepatu dilempar dan langsung mengenai wajah Peter, Ronald bergegas menerjang ke arah Peter seperti singa yang mengamuk kemudian menghajarnya.
Peter dipukuli dengan tidak jelas seperti itu, mana mungkin dia menerimanya? Mengambil kesempatan dirinya dalam keadaan mabuk, dia langsung berkelahi dengan Ronald.
Keduanya memiliki keahlian bela diri, tapi mereka malah berkelahi seperti orang amatir, kamu memukul lalu aku membalas, kamu mencakar lalu aku balas mencakar, akhirnya keduanya terengah-engah dan duduk di lantai dan saling menatap dengan penuh kebencian.
“Apa nyalimu sudah begitu besar? Beraninya kamu memikirkan Istriku?” Ronald mengambil segenggam pasir kemudian melemparkan ke arah Peter.
Peter sangat marah, “Apa kamu gila? Sejak kapan aku memikirkan Istrimu? Yang aku sukai adalah Cecil, adik iparmu.”
Hah, jadi ini kesalahpahaman? Ronald terpaku, seperti apa tampilan Cecil? Ronald sudah tidak ingat, Cecil memang pernah datang ke kediamannya dan juga ketika berbicara sedikit tajam.
Ronald berkata bagai seperti teman baik, “Cecil ini tampaknya sedikit tajam dalam perkataannya, bagaimana kamu bisa menyukainya? Kamu tidak mengenalnya sebelumnya, kapan jal ini terjadi?”
Peter melotot menatap ke arah Ronald, “Kenapa aku harus memberitahumu?”
“Baik, aku tahu aku sedikit impulsif tadi, kemarilah aku akan menyeka wajahmu.” Ronald mengambil inisiatif untuk memapah Peter, “Kapan hal ini terjadi? Mengapa kamu tidak memberitahuku? Dia adalah adik iparku, aku bisa membantumu.”
Peter melambaikan tangannya, “Sudahlah, kamu urus saja dirimu sendiri, lihatlah tampilanmu ini, tidak perlu membantuku, makin dibantu maka akan makin berantakan.”
Ronald masih tidak mengerti, “Sejak kapan kalian berdua bertemu?”
“Apa kamu percaya pada cinta pandangan pertama? Sekali melihat saja kamu sudah yakin bahwa dia adalah orang yang akan menemanimu seumur hidup.” Kata Peter dengan serius.
__ADS_1
Ronald menatapnya, apa itu cinta pada pandangan pertama? Itu hanyalah omong kosong, tampaknya Peter sudah gila.
“Tentu saja aku percaya, ini adalah takdir, kamu bekerja keraslah, aku pergi dulu.” Ronald menepuk bahu Peter kemudian berbalik dan pergi.
Setelah berkelahi dengan Peter, sekujur tubuh Ronald berkeringat, Ronald menaiki kudanya dan suasana hatinya makin merasa sedih.
Setelah berbuat gila tadi, rasa kesepiannya makin terasa lebih buruk.
Angin bertiup, merasa sedikit sakit di bagian wajahnya, Ronald tersenyum dengan dingin, sudah lama dia tidak berkelahi seperti ini.
Membuat wajahnya begitu kotor.
Peter ternyata menyukai orang dari keluarga Ivonne, tidak heran Peter merasa putus asa dan sedih, bagaimana mungkin Ayah Peter akan setuju Peter menikah dengan putri Hendra? Itu hanya bisa menjadi mimpinya.
Ronald benar-benar sangat sial hingga bisa menikahi…
Menghela nafas perlahan, kalimat ini, Ronald benar-benar tidak tega untuk memikirkannya.
Beberapa hari yang lalu, ketika Ronald selesai bekerja dia akan bergegas pulang, sekarang apa gunanya dia pulang?
Ronald sedikit mabuk, dia tidak ingin berada di luar lebih lama, jadi Ronald pulang ke kediamannya.
Ketika Ronald memasuki gerbang, dia membiarkan pengawalnya membawa kudanya, kemudian melihat Ria datang dengan ekspresi gelisah, “Yang Mulia, ini sudah begitu larut, kenapa baru kembali sekarang?”
“Aku sibuk, ada apa?” Ronald langsung berjalan masuk ke dalam.
Ketika Ronald mendengar perkataan itu, dia berjalan dengan cepat ke dalam, “Apa dia memiliki urusan penting?”
“Aku sudah menanyakannya, Permaisuri berkata tidak, hanya berkata ingin menunggumu pulang.” Kata Ria sambil menyusulnya.
Ronald bergegas berlari dan memasuki Paviliun Eternity, benar saja Ronald melihat Ivonne duduk di tangga batu sambil menyandarkan kepalanya ke samping, Ivonne sudah tertidur.
Udara di malam hari sangat dingin, kedua lutut Ivonne ditekuk, tubuhnya meringkuk, terlihat jelas Ivonne sedikit kedinginan.
Mungkin karena mendengar suara langkah kaki, Ivonne perlahan membuka matanya kemudian mengusap matanya, mengerjapkan matanya dengan bingung, kemudian perlahan-lahan Ivonne bangkit, memapah pegangan di samping tampak sedikit limbung, “Kamu sudah pulang?”
“Mengapa kamu di sini? Apa ada masalah?” Ronald teringat akan ketidakpedulian Ivonne, menjauhkan rasa perhatian dan juga kekhawatirannya, bertanya dengan acuh.
“Aku ingin berbicara denganmu.” Ivonne terlihat sedikit menyedihkan.
Pada akhirnya Ronald tidak tega dan berkata, “Masuklah ke dalam untuk berbicara.”
Ronald melirik Ivonne sekilas dan berjalan melewatinya.
Ivonne mengikuti di belakang, kemudian bersin dua kali berturut-turut.
__ADS_1
Masuk ke dalam, Ronald masih belum berbalik, Ivonne tiba-tiba memeluk Ronald dari belakang.
Ronald terpaku, tubuhnya seketika kaku.
Ivonne berkata dengan suara parau, “Aku kedinginan, bolehkah aku memelukmu sebentar?”
Ronald berbalik dan menatap Ivonne, Ivonne mendongakkan kepalanya, pandangan matanya begitu jernih dan menyedihkan.
Ronald menghela nafas, kemudian memeluk Ivonne, wajah Ivonne terkubur di depan dadanya, tubuh Ivonne sangat dingin seperti es.
“Apa yang terjadi pada wajahmu?” Ivonne bertanya sambil menguburkan dirinya di dalam pelukan Ronald.
“Berkelahi dengan Peter.” Kata Ronald, suaranya dingin, Ronald masih tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin dilakukan Ivonne, malam hari seperti ini datang kemari dan menunggunya selama dua jam, beberapa hari yang lalu Ivonne begitu acuh tak acuh padanya, dan juga mengatakan begitu banyak kata-kata yang menyakitkan.
Ivonne menjawab sekilas, tidak bertanya mengapa, hanya melepaskan Ronald dan berkata, “Aku akan membantumu mengobati lukanya, lukamu berdarah.”
Ronald mengangguk kemudian duduk, melihat Ivonne mengeluarkan kotak obatnya, kemudian mengambil tidak tahu benda apa yang dioleskan di kapas, membantu Ronald membersihkan pasir yang ada di lukanya dengan begitu berhati-hati seperti seorang Istri yang baik.
“Apa sakit?” Ivonne bertanya.
Ronald memandangnya, “Tidak sakit.”
“Kamu minum?”
“Minumlah sedikit.” Kata Ronald.
Ivonne menjawab sekilas, kemudian lanjut mengobati luka Ronald, Ivonne mencari luka di bagian rambut Ronald dan terus mengolesi obat.
Ronald tidak bertanya, menikmati keintiman yang tak bisa dijelaskan ini.
Tubuh Ivonne memiliki aroma samar yang menerjang ke otak Ronald, dirinya harus mengerahkan begitu banyak kesabaran untuk menahan agar dirinya tidak memeluk Ivonne.
Setelah selesai mengobati luka, Ivonne meletakkan kotak obat di seberang Ronald, menatapnya dengan sedikit gugup kemudian dengan serius berkata, “Ke mana perginya Rendi?”
“Aku mengusirnya.” Ronald berkata sambil menatap bibir Ivonne.
“Lebih baik kamu biarkan dia kembali, meskipun dia ceroboh tapi dia setia.” Kata Ivonne.
“Ya!” Ronald menatap tulang selangka Ivonne.
Tidak tahu kenapa, Ivonne langsung berkata dengan jujur, “Aku datang untuk minta maaf.”
“Minta maaf?” Ronald bertanya sambil menatap dada Ivonne.
Ivonne meremas jari-jarinya, berkata dengan canggung, “Kedua wanita itu, kamu tidak…”
__ADS_1
“Jadi?”