
Oscar menatap sosok Ivonne, dirinya masih marah dan juga terhina.
Oscar tidak pergi, dia ingin menunggu Kak Ronald pulang dan meminta Kak Ronald untuk memberikan penjelasan padanya.
Yanto memerintahkan orang untuk mengantarkan teh, melihat Oscar masih merajuk, Yanto tidak bisa menahan diri kemudian berkata, “Yang Mulia, perkataan Permaisuri tadi memang benar-benar perkataan demi kebaikanmu, lebih baik kamu pikirkan lagi. Itu semua demi Yang Mulia.”
“Demi kebaikanku? Tidak butuh!” Oscar mendengus dan berkata, “Apa Kak Ronald masih belum pulang?”
Yanto menggelengkan kepalanya dan keluar.
Oscar menatap teh bening di hadapannya kemudian menyesapnya, pikirannya kacau, tidak tahu seperti apa rasa teh ini.
Perasaan aneh perlahan menyebar.
Oscar tidak percaya pada perkataan Ivonne, dia tidak mempercayainya sepatah kata pun.
Tapi mengapa Clara tidak berani bersumpah?
Seharusnya Clara terlalu malas untuk memperhitungkan dengan Ivonne, wanita seperti itu terlalu ganas dan terlalu brutal, benar-benar salah jika memperhitungkannya dengannya.
Tapi mengapa Oscar merasa ada yang salah?
Apa Clara benar-benar hanya memanfaatkannya dan menipu dirinya?
Tapi Clara memperlakukannya dengan baik, begitu lembut dan pengertian, melakukan tugasnya sebagai seorang permaisuri dengan baik.
Oscar teringat akan semua yang dia lalui, sikap Clara padanya, tidak ada yang bisa dicurigai.
Apa yang harus dilakukan seorang istri, Clara melakukan semuanya dan lagi benar-benar melakukannya dengan sangat baik.
Apa Oscar tidak puas?
Tidak ada rasa ketidakpuasan, tapi jika Clara bisa sedikit lebih antusias, tidak menggunakan pandangan mata yang begitu lembut padanya tapi menggunakan tatapan mata dengan berbagai emosi, seperti ketika marah, bahagia, cemburu dan sebagainya…
Cemburu? Clara sepertinya tidak pernah cemburu, bahkan masalah Ibunya ingin mengangkat selir untuknya pun, Clara hanya mendengarkan dengan lembut dan bijaksana.
Hati Oscar tiba-tiba menjadi kacau, begitu panik.
Ronald pulang, begitu memasuki pintu dia langsung mendengar Oscar masih ada di rumahnya di rumah dan dipukuli oleh Ivonne.
Ronald mendengarkan, mengungkapkan rasa simpati tapi di saat bersamaan juga sedikit menertawakan Oscar.
Oscar ini memang harus dimarahi dan dipukuli dengan keras.
Kak Stanley tidak bekerja dan hanya tahu makan, minum, dan bersenang-senang, tapi setidaknya Kak Stanley tidak membuat orang jengkel.
Tapi Oscar ini setelah menikah, dirinya benar-benar sangat keterlaluan, terutama ketika datang ke sini dan menanyakan masalah mengenai Clara, tampangnya itu benar-benar minta dihajar.
Tapi bagaimanapun juga, sebagai keluarga dari sang pelaku, Ronald juga harus masuk dan menyapa sang korban.
__ADS_1
Ketika masuk langsung melihat Oscar sedang melamun sambil memegang teh miliknya, wajahnya bengkak dan begitu menyedihkan.
Ronald berdehem, “Aku ada banyak pekerjaan jadi pulang terlambat, apa kamu sudah menunggu lama? Apa kamu sudah menemui Ivonne?”
Oscar terus menunggu Ronald pulang, ketika melihat Ronald memasuki pintu, keluhannya itu segera meluap naik, “Kak Ronald, kamu akhirnya pulang.”
“Kenapa? Hei? Ada apa dengan wajahmu?” Ronald bertanya dengan khawatir.
Oscar sudah hampir menangis, “Kak Ivonne yang memukulku.”
Bagus sekali!
“Dipukuli dengan begitu serius? Benar-benar keterlaluan!” Ronald dengan marah berkata, “Aku nanti akan memperhitungkannya dengan Ivonne.”
“Baik!” Oscar meletakkan cangkir tehnya, mengulurkan tangan dan membelai wajahnya yang sedikit sakit, “Kak Ronald harus membantuku melampiaskan hal ini”
“Pasti, siapapun tidak ada yang boleh menindas adikku.” Ronald duduk dan berkata dengan mendominasi.
Oscar memandang ke arah Ronald, mengapa dirinya tidak mempercayai perkataan Kak Ronald?
Tapi..sudahlah, memperhitungkannya atau tidak itu sudah tidak jadi maslaah.
“Kak Ronald, aku ingin bertanya sesuatu padamu, kamu harus menjawabnya dengan jujur.” Oscar tiba-tiba menjadi serius.
“Katakan!” Ronald menatap ke arah Oscar, pukulan Ivonne itu sepertinya tidak ringan.
Pandangan mata Oscar sedikit gugup, “Jika … jika masalah di Kediaman tuan putri itu tidak terjadi, apa kamu akan menikah dengan Clara?”
Ronald berpikir sejenak kemudian berkata, “Pada akhirnya aku tidak akan menikah dengannya, masalahnya bukan padaku tapi padanya.”
“Kenapa?” Oscar tidak mengerti.
“Dia tidak akan menikah denganku.” Kata Ronald dengan datar.
“Kenapa?” Oscar masih tidak mengerti karena mereka semua adalah teman sedari kecil.
Ronald tersenyum dan dengan datar berkata, “Dari mana ada begitu banyak pertanyaan kenapa?”
Hati Oscar mendingin, “Dia tidak ingin menikah denganmu, apa karena kemungkinan Kak Ronald menjadi pangeran mahkota lebih kecil dariku?”
Pandangan mata Ronald menyorot tajam, “Mengapa kamu bertanya seperti itu?”
“Kak Ivonne yang jahat itu yang berkata seperti itu.” Oscar sedikit sedih, sangat sedih.
“Apa kamu percaya?” Ronald bertanya balik.
Oscar terdiam beberapa saat, “Itu konyol!”
“Jika itu konyol, kalau begitu apa yang kamu khawatirkan?”
__ADS_1
Oscar bingung, dia juga tidak tahu.
Perkataan Kak Ivonne yang jahat itu tentu saja tidak bisa dipercaya.
Semua perkataannnya itu semuanya adalah omong kosong.
“Mengenai masalah di danau itu, apa Kak Ronald percaya pada Kak Ivonne yang jahat itu?” Oscar kembali bertanya.
Ronald sedikit kewalahan, tiba-tiba analisis mendalam mengenai masalah-masalah yang ada ditanyakan, Ronald benar-benar tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.
“Kak Ronald, aku berharap kamu berkata jujur.” Oscar menarik napas dalam-dalam, “Aku bisa menahan pukulan apapun sekarang.”
Ronald menatapnya kemudian mengangguk perlahan, “Percaya.”
“Kenapa?” Hati Oscar seakan ditusuk oleh sesuatu dengan kejamnya, begitu masam dan menyakitkan.
Ronald menghela nafas pelan kemudian menatapnya, “Apa kamu masih ingat apa yang terjadi hari itu?”
Oscar mengangguk, “Ingat, ketika kami tiba waktu itu Clara tidak sadarkan diri, dia juga ditusuk hingga terluka oleh Kak Ivonne yang jahat itu dengan menggunakan aksesoris rambut, itu menunjukkan bahwa Kak Ivonne benar-benar berniat melukai orang.”
“Mengapa berkata berniat melukai orang? Dia mendorongnya ke danau, apa masih perlu melepas aksesoris rambutnya untuk menusuknya?”
Oscar kaget, “Apa maksud Kak Ronald?”
“Itu adalah perlawanan, merupakan perlindungan diri!” Ronald menatap ke arah Oscar, meskipun hatinya gelisah tapi dia masih berkata, “Ivonne saat itu ditenggelamkan di dasar danau oleh Clara, dia hanya bisa melakukan hal itu untuk menyelamatkan dirinya.”
Wajah Oscar begitu terkejut, “Tidak mungkin!”
“Siapa yang datang lebih dulu sebelum kita datang?”
Pikiran Oscar begitu berantakan, mana mungkin dia ingat?
“Penjaga? Atau Kakak lainnya?”
Ronald berkata, “Itu adalah pelayan Clara, dia melihat dari tempat tidak jauh, dan juga dia yang berteriak meminta bantuan.”
“Bagaimana Kakak bisa tahu?” Oscar tidak senang, “Waktu itu kita hampir tiba di saat yang bersamaan, Kakak tidak bisa mempercayai semua yang dikatakan oleh Kak Ivonne. Aku percaya pada Clara.”
Ronald menatap Oscar dengan tidak berdaya, “Karena aku bertanya, aku menyelidiki, memeriksa segala hal yang terkait, jika kamu tidak percaya, maka kamu bisa pikirkan cara untuk menanyakannya pada pelayan yang berada di sisi Clara.”
Oscar tampak linglung, “Tapi aku tidak mengerti, jika apa yang kamu katakan benar, mengapa Clara melakukan ini? Dia adalah orang yang baik, apa tujuannya melakukan ini? Kak Ronald, kamu paham akan dirinya bukan? Kamu tahu bahwa Clara bukan orang yang seperti itu, kita harus memercayainya berdasarkan karakternya bukan?”
Ronald bangkit dan menepuk pundak Oscar, “Aku hanya percaya pada fakta.”
Oscar seketika menghela nafas lega!
“Penjaga, antar Raja Oscar kembali ke kediamannya!” Kata Ronald.
Oscar dengan linglung dipapah keluar dari kediaman Ronald. Ronald menatapnya dengan sedikit sedih, adiknya ini sangat dicintai sejak kecil dan tidak pernah mengalami pukulan dan tekanan seperti ini, kali ini sepertinya merupakan pukulan yang tidak kecil untuknya.
__ADS_1
Ronald harus kembali dan memperlakukan Ivonne dengan baik.