
Ketika Ronald pulang, dia memberitahu Ivonne mengenai hal itu.
Ivonne mendengarkan dan berkata: “Aku belum pernah bertemu dengan Selir Liana, tidak tahu wanita macam apa dia, tapi jika seorang wanita yang hamil bisa menyeburkan dirinya sendiri ke danau maka bisa dibayangkan ketika dia berada di kediaman Juno itu hidunya tidak lebih buruk dibanding mati.”
“Aku tidak mengatakan dengan rinci ketika berada di birokrat, sebenarnya seharusnya Permaisuri Juno yang mengancamnya, mengancam dengan menggunakan nyawa Ayahnya.” Kata Ronald.
Ivonne menatap Ronald, “Jadi masalah ini hanya seperti ini?”
Ronald dengan tidak berdaya berkata: “Apa lagi yang bisa dilakukan? Kasus pembunuhan di kediaman seorang pangeran dan juga merupakan kasus bunuh diri. Permaisuri Juno melakukan hal ini dengan mana, sudah pasti dia memiliki pernyataan yang paling masuk akal untuk melewatinya, besok aku akan pergi sekali lagi, nanti sudah pasti akan ada satu atau dua orang yang maju dan mengatakan bahwa mereka melihat Liana terjun ke danau tapi mereka tidak keburu untuk menyelamatkannya. Masalah ini bisa dikatakan sudah selesai ditangani, kecuali Juno keluar untuk Liana, atau sudah pasti masalah ini tidak akan pernah ketahuan.”
Ivonne juga berpikir demikian.
Selama Liana benar-benar bunuh diri maka tidak ada yang bisa disalahkan.
Ivonne merasa sedih untuk wanita itu.
Nyawa hanya ada satu bagi semua orang, jika bukan karena terpaksa maka siapa juga yang akan menyerah akan nyawanya sendiri?
“Oh iya,” Ronald tiba-tiba teringat akan penyakit Permaisuri Juno, “Hari ini aku melihat warna kulit Permaisuri Juno begitu kuning dan lagi batuknya tidak berhenti, dia baru saja terkena penyakit tidak lama, mengapa bisa terlihat begitu parah? Indra sebelumnya tidak seperti itu.”
“Ini sulit untuk dikatakan, pertahanan diri, kondisi tubuh, ada berbagai faktor.” Kata Ivonne.
“Bisakah kamu mengobatinya?” Tanya Ronald.
Ivonne tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “Aku tidak bisa mengambil inisiatif, aku sekarang hanya mendengarkan perintah dari kotak obat kemudian menjalankannya, ada obat apa di dalam kotak obat maka aku akan melakukan apa yang harus kulakukan.”
Sebelum insiden di gerbang kota, sebagian besar obat di dalam kotak obat adalah obat untuk Indra, tapi ketika kejadian itu terjadi, sebagian besar obat yang ada di dalam adalah obat untuk kondisi darurat dan juga obat untuk luka luar.
“Di dalam kotak obat ini jika bukan tinggal seorang dewa maka sudah pasti adalah hantu/” Ronald berkata dengan datar.
Ivonne tersenyum dan berkata: “Aku juga merasa begitu.”
__ADS_1
Ivonne mengeluarkan kotak obat dan membukanya, kemarin dia sudah melihatnya, obat di dalam kotak obat pada dasarnya adalah obat untuk Indra.
“Hei?” Ivonne sedikit terkejut, “Apa yang terjadi hari ini?”
Ternyata di dalam terdapat suntikan untuk memperkuat kandungan dan juga tablet asam folat dan kalsium.
“Kenapa?” Ronald tidak mengerti guna obat-obatan ini, melihat raut wajah Ivonne yang aneh, Ronald kemudian bertanya: “Apa kotak obat ini memintamu untuk menyelamatkannya?”
Ivonne menggelengkan kepalanya dengan tatapan aneh, “Bukan, ini semua adalah obat untuk memperkuat kandungan, Selir Liana? Dia sudah meninggal.”
“Apa ada yang salah dengan kotak obatmu ini? Jika obat untuk memperkuat kandungan tidak perlu menggunakan milikmu, ada banyak tangan suci di dalam istana.” Kata Ronald.
“Mungkin.” Lagipula Ivonne juga tidak bisa memahami temperamen kotak obat ini jadi dia tidak mempedulikannya.
Hari berikutnya, para penyelidik kembali pergi ke Kediaman Juno.
Benar saja, seperti yang diduga oleh Ronald, ada dia orang bawahan yang ketika sedang membersihkan loteng mereka melihat Selir Liana bunuh diri terjun ke danau, waktu itu ketika mereka berdua berlari ke bawah, karena jarak mereka yang terlalu jauh sudah ada para penjaga yang turun ke danau untuk menyelamatkanya.
Ivonne terpaku untuk sejenak, “Bukankah kamu mengatakan dia diancam oleh Permaisuri Juno?”
“Aku harus memikirkan alasan untuk melaporkan pada Ayah, jika tidak, Liana bunuh diri dalam keadaan hamil akan membuat keluarganya menderita, tidak masalah jika dia sudah meninggal, tapi sebisa mungkin jangan melibatkan keluarganya, Liana adalah anak yang berbakti. ”
Ivonne berpikir kemudian membuat sebuah penjelasan untuk Ronald.
Ronald memasuki istana untuk melaporkan situasinya, setelah Kaisar Mikael mendengarnya, dia tidak mengatakan apa-apa dan meminta Ronald untuk menjelaskan hal itu pada Ibu suri.
Ibu Suri sangat sedih, keluarga kerajaan selalu menantikan kelahiran seorang putra tapi bertahun-tahun ini, para permaisuri tidak memiliki kabar baik sama sekali, paling-paling Stanley dan Juno yang mendapatkan putri, tapi dalam beberapa tahun terakhir sama sekali tidak ada pergerakan.
Lalu Istri dari Steve juga mengandung tahun lalu tapi tidak tahu kenapa ketika kandungannya mencapai enam bulan, janin itu meninggal di dalam, hampir saja nyawa Permaisuri Steve ikut melayang, sekarang dirinya sedang dalam masa pemulihan, dengar-dengar baru bisa turun dari ranjang dan berjalan.
Tidak mudah Selir Liana bisa hamil, tapi malah berpikiran pendek dan bunuh diri dengan terjun ke danau, Ibu Suri sangat marah hingga tidak bisa tidur semalaman dan juga tidak bisa makan seharian ini.
__ADS_1
Ketika Ronald tiba, Ibu Suri masih sedang marah dan menghempaskan mangkuk dan juga mengusir semua orang.
Melihat Ronald datang, Bibi yang melayani di Istana merasa lega, “Yang Mulia, cepatlah masuk untuk membujuk, Ibu Suri sudah belum makan dua kali, kemarin juga tidak tidur semalaman, sedang mengamuk dan juga sedih.”
Ronald berkata: “Baik, Bibi pergilah untuk membawakan bubur atau sup, aku akan melayaninya.”
“Baik!” Bibi itu bergegas pergi.
Ibu Suri melihat cucunya yang tersayang datang, kemudian teringat harapannya untuk menggendong cicitnya sudah hilang, tidak bisa menahan perasaan sedihnya jadi bergegas bertanya: “Apa penyelidikan kasus Selir Liana sudah jelas? Siapa yang mencelakainya?”
Ronald melihat kekacauan di ruangan itu, Neneknya ini cukup emosional.
“Kudengar Bibi berkata Nenek belum makan dua kali, makanlah lebih dulu, aku akan memberitahumu situasinya nanti.” Ronald duduk di sampingnya dan membujuk dengan lembut.
“Tidak bisa makan, cepat kamu katakan, jangan membuatku cemas.” Ibu Suri melihat Ronald, kemarahannya mereda dan hanya tersisa kesedihan.
Bibi membawakan sup, Ronald kemudian mengambilkanya dan menyuapkan sesendok demi sesendok, memaksa Neneknya untuk menghabiskan seteguk sup baru meminta Bibi keluar lalu mengatakan, “Sudah diselidiki dengan jelas, dia itu bunuh diri.”
Ibu Suri mendengar perkataan itu dan sangat marah, “Bunuh diri? Dia berani mati dengan membawa keturunan kerajaan? Berani sekali, apa dia tidak takut keluarganya menerima akibatnya?”
Ronald memegang tangan neneknya yang gemetar karena marah kemudian berkata, “Tenangkan amarah Nenek, dengarkan penjelasan cucumu ini.”
“Apa kamu masih ingin memohon demi keluarganya? Aku begitu menantikan cicitku sudah sekian lama, dalam beberapa tahun terakhir keluarga kerajaan tidak mendengar kabar baik, kali ini adalah berkah dari surga tapi malah dihancurkan olehnya.” Ibu Suri begitu marah hingga raut wajahnya mengeras.”
Ronald berkata dengan suara pelan: “Aku memintamu menenangkan diri, untuk apa Nenek begitu marah? Mengenai kehamilan itu, siapa yang paling bahagia? Sudah pasti Selir Liana sendiri, jika dia memiliki jalan untuk hidup apa dia akan bunuh diri?”
Ibu Suri membeku, ini benar juga, keluarga kerajaan menantikan keturunan, ini adalah hal yang diketahui oleh semua orang, Selir Liana harusnya menjadi orang yang paling bahagia.
“Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Cepat katakan, apa kamu benar-benar ingin membuatku mati karena cemas.” Kata Ibu Suri.
Ronald menjelaskan: “Mengenai Permaisuri Juno yang mengidap penyakit, Nenek sudah pasti tahu bukan, Selir Liana dekat dengan Kakak ipar, ketika Kakak ipar sakit tentu saja Selir Liana selalu melayaninya, mengapa dia tiba-tiba mengundang Tabib hari itu karena dirinya menyadari dirinya itu batuk dan demam, siapa yang tahu malah diperiksa dan dinyatakan hamil. Nenek, penyakit ini ganas dan kamu tahu itu, bahkan Indra pun telah disiksa oleh penyakit ini selama beberapa tahun dan hampir saja tidak bisa diselamatkan. Jika Selir Liana mengidap penyakit ini maka anak itu sudah pasti tidak bisa dipertahankan, bahkan jika bersikeras dilahirkan pun sudah pasti akan memiliki penyakit bawaan dari sang Ibu dan sudah pasti akan mati lebih awal, jika keturunan kerajaan meninggal maka itu adalah hal yang tidak baik. Selir Liana berpikir demi nama baik kerajaan, Nenek, dia itu tidak memiliki jalan keluar lain, kalau tidak mana ada orang yang tidak menghargai nyawa sendiri?”
__ADS_1
Ketika Ibu Suri mendengarkan penjelasan itu, dia terpaku sekian lama, amarah yang ada di dalam dirinya tidak bisa dilampiaskan.