Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan

Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan
Bab 25. Apa Aku Sudah Hampir Mati?


__ADS_3

Benar saja, Clara melihat wajah Paduka Kaisar yang mulai menggelap.


Clara merasa lega, meskipun Paduka Kaisar menyayangi Raja Ronald. Dan karena rasa sayang ini pula maka dia baru bisa meminta Ivonne tinggal di Istana untuk merawat penyakitnya, tapi sayangnya. Ivonne ini tidak terlalu berguna.


Tabib Kerajaan melihat bahwa raut wajah Paduka Kaisar tidak baik, dia bergegas membawa obat itu kemudian berbalik dan pergi.


Paduka Kaisar malah dengan marah berkata:


“Masih tidak cepat dibawa kemari? Apa tidak mendengar Permaisuri Raja Ronald mengatakan bahwa harus meminum obat?”


Semua orang tercengang, mereka memandang Ivonne.


Terutama Clara, raut wajahnya tiba-tiba berubah, sedikit tidak percaya akan pendengarannya.


Ivonne menundukkan kepalanya, benar-benar tidak ingin membuka mulutnya, tapi, jika Paduka Kaisar tidak meminum obat dan malah sembuh, maka itu akan menimbulkan kecurigaan.


Wajah Kaisar Mikael menjadi cerah, “Cepat bawa kemari.”


Sejak semalam hingga sekarang, Kaisar Mikael akhirnya menatap Ivonne, dan lagi dengan tatapan persetujuan.


Paduka Kaisar meminum habis obat dalam sekali teguk, dapat dilihat bahwa dia benar-benar takut rasa pahit, setelah meminum obat, wajahnya mengerut. Ibu Suri bergegas menyerahkan buah manisan padanya, kemudian raut wajahnya baru terlihat agak membaik.


Ronald memandang Ivonne dengan tatapan rumit, situasi ini tidak membuatnya merasa lega, hanya membuatnya lebih khawatir, kakek benar-benar mendengarkan kata-katanya, apa itu berarti, konspirasi Ivonne berhasil?


Paduka Kaisar meminum obat, Ibu Suri juga sangat senang, memanggil Ivonne mendekat, memujinya beberapa kata, bahkan Raja Ralph yang biasanya diam pun memuji Ivonne.


Meskipun Ratu juga tersenyum, tapi senyum itu sangat berat, tampaknya kekhawatiran Clara bukannya tidak beralasan.


Kaisar Mikael meletakkan urusan politiknya, secara khusus datang untuk melayani, meskipun Paduka Kaisar sudah membaik, tapi dia tetap tidak merasa tenang, lagipula, seluruh Tabib Kerajaan sudah mengatakan bahwa Paduka Kaisar sudah mendekati ajal.


Tapi, Paduka Kaisar jelas tidak ingin dilayani oleh mereka, menyuruh Kaisar Mikael dan Raja Ralph untuk kembali.


Sebelum Kaisar Mikael pergi kali ini, dia berkata kepada Ivonne:


“Mumpung ada banyak orang di siang hari, kamu tidurlah terlebih dulu.”


“Ya!” Ivonne membungkuk.


Ivonne pergi ke aula luar dan bersiap untuk tidur, Kasim Artur malah datang dan memberitahunya bahwa dia telah mengatur Ivonne pergi ke Paviliun Riverswood untuk beristirahat, dan juga memerintahkan pelayan untuk membawakan pakaian ganti dan juga obat untuk luka luar, selain itu juga menyiapkan air panas.


Ivonne sedikit terkejut.

__ADS_1


Kasim Artur berkata dengan datar: “Paduka Kaisar yang memerintahkan, nanti Bibi Vera akan datang untuk mengoleskan obat padamu, Bibi Vera melayani Paduka Kaisar selama bertahun-tahun, tidak akan banyak berbicara, Permaisuri bisa tenang.”


Meskipun sikap Kasim Artur masih seperti biasa, tapi Ivonne memiliki perasaan ingin menangis.


Pergi ke Paviliun Riverswood, setelah beberapa saat, pelayan wanita membawa air panas dan masuk, yang mengikuti masuk ada juga seorang Bibi yang memakai pakaian abu-abu, berusia sekitar 50 tahun, rambutnya digulung ke atas, alis dan sudut bibirnya menukik turun, terlihat sangat tegas.


“Bibi Vera!” Ivonne memberi salam, orang di sekitar Paduka Kaisar bisa dikatakan sudah setengah penguasa.


“Kamu keluar!” Kata Bibi Vera pada pelayan Istana di sebelahnya.


“Baik!” Pelayang wanita itu membungkukkan badan dan mengundurkan diri.


Bibi Vera tidak basa-basi, langsung berkata pada Ivonne: “Budak tua ini akan melayani Permaisuri untuk menanggalkan pakaian.”


Dia berkata sambil mengeluarkan beberapa botol bubuk obat dari balik lengan bajunya, meletakkannya di tepi ranjang.


Pasien tidak memiliki martabat, Ivonne hanya bisa membiarkannya melepas pakaiannya dan tengkurap di ranjang.


Dia mendengar Bibi Vera menarik napas.


Mendengar bunyi gunting, Bibi Vera sedang memotong kasa luka yang membalut lukanya, rasa sakit datang menyerang, Ivonne mengepalkan kedua tangannya.


“Jika Permaisuri tidak bisa menahannya, maka menggigit selimut saja.” Suara Bibi Vera terdapat nada kasihan.


?Sakit, benar-benar sakit, Ivonne tidak pernah menerima rasa sakit yang begitu menusuk seperti ini seumur hidupnya.


Keluhan dan air mata kesakitan perlahan muncul.


Pintu kemudian dengan cepat dibuka, ada orang yang masuk dengan cepat.


Ivonne terkejut, mendengarkan suara langkah kaki, dia sudah tahu siapa orang itu, Ivonne menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, Bibi Vera malah menahan tangannya, dengan datar berkata: “Yang datang adalah Raja Ronald, jangan bergerak!”


Justru karena yang datang Raja Ronald makanya harus menutupinya!


Ronald tidak menyangka Bibi Vera ada di sini, dia benar-benar tidak bisa bersabar, tadinya ingin bertanya dengan jelas, tapi malah melihat Bibi Vera seadang mengobati lukanya di sini.


Kemarahan dan keraguan tiba-tiba tercekat di tenggorokannya.


Melihat luka Ivonne, pandangan matanya meredup.


Bagian punggung, paha, bokong, tempat di mana kain kasa itu dipotong, itu semua penuh dengan luka yang bercampur dengan darah, darahnya masih merembes.

__ADS_1


Lukanya benar-benar tidak ditangani.


Ivonne tadinya masih bisa menahan air mata, tapi dia sekarang telanjang dan dilihat olehnya, itu bahkan lebih sulit ditahan dibandingkan rasa sakit, dia menangis dalam diam.


Setetes demi setetes, Ivonne menggigit punggung tangannya, tidak berani menangis bersuara, tapi tidak bisa mengendalikan kedua pundaknya yang bergetar karena menangis.


Kemarahan Ronald perlahan menghilang, saat ini, dia tidak memikirkan masalah Ivonne yang menjebaknya di kediaman Putri, tapi dia teringat apa yang Ivonne katakan kemarin saat marah di aula samping itu, sepertinya itu kegilaan yang sudah dipaksa mencapai batas hingga dia harus melawan.


Keganasan waktu serta rintihan rapuh saat ini, perbandingannya sangat jauh berbeda.


Bibi Vera sudah selesai memotong kain kasa, dengan datar berkata pada Raja Ronald: “Mohon Raja Ronald mengambilkan handuk panas.”


Ronald menoleh, melihat sebaskom air panas di sebelahnya, dia mengambil handuk kemudian mencelupkannya ke dalam air, memeras air kemudian menyerahkannya.


“Seka!” Kata Bibi Vera.


Ronald tidak bergerak, mengerutkan kening, lukanya itu hampir tidak mungkin untuk bertindak, dan yang paling penting adalah dia tidak mau menyentuh wanita ini.


Bibi Vera menghela nafas, kemudian mengambilnya, “Orang terbuat dari daging Yang Mulia!”


Ronald dibesarkan oleh Bibi Vera, tentu saja dia tidak berani berdebat, tapi wajahnya malah berubah warna.


Handuk itu diseka dengan lembut, Ivonne gemetar, rintihannya tercekat di tenggorokannya, suara ini jauh lebih menyedihkan dibandingkan menangis.


“Bagaimana luka ini didapat?” Bibi Vera menghela nafas dan menatap Ronald, “Kamu tidak menyeka lukanya, tapi kamu bisa mengoleskan bubuk obatnya bukan?”


Ronald mengambil bubuk obat itu, menaburkannya pada luka besar Ivonne, bagian tubuhnya itu masih lembab, ditaburi bubuk obat itu, terlihat sudah jauh lebih kering.


Tapi, setelah seluruh luka ditaburi dengan bubuk obat yang putih, malah terlihat begitu menyakitkan.


Ivonne mulai batuk, batuk ini, hampir tidak bisa berhenti, terbatuk hingga seluruh tubuhnya melengkung, batuk hingga air matanya mengalir keluar, dalam kekacauan dia tidak lupa untuk menutupi bagian depan dadanya dengan pakaian, benar-benar begitu menyedihkan.


Darah menyembur dari mulutnya.


Darah tersembur di atas bantal putih polos, seperti bunga peony merah besar yang mekar.


Wajah Bibi Vera berubah, mendongak menatap Ronald, “Kamu …”


Perkataannya tidak diselesaikan, dia adalah anak yang dia cintai, dia enggan untuk memarahinya, hanya menggelengkan kepalanya, “Dosa apa ini, Permaisuri mana yang akan menerima perlakukan seperti itu? Kejahatan besar apa yang telah dilakukan?”


“Aku sudah akan mati bukan?” Ivonne tahu itu karena sup golden purple, dia tidak tahu apa itu, tapi muntah darah ini mungkin dikarenakan sup golden purple itu, saat itu ketika Bibi Linda dan Letty memberinya minum sup itu, Ivonne bisa melihat bahwa sup itu beracun.

__ADS_1


Ivonne meraih lengan Ronald, wajah pucatnya sedikit terangkat, ada darah di sudut bibirnya, menggunakan tenaga seprti ini, membuatnya begitu kesakitan hingga mengertakkan giginya, dia menatap Ronald, pandangan matanya begitu tegas, “Kumohon satu hal padamu, sebelum aku mati, ceraikan aku, aku matipun tidak mau menjadi Permaisuri Raja Ronald. “


__ADS_2