
Ivonne tidak mendengar terlalu jelas, tapi Ivonne mendengarnya bahwa dirinya diusir keluar.
Ivonne membungkuk memberi hormat kemudian mengundurkan diri, membawa mutiara keluar dari Istana Pearlhall. Bibi Vera juga baru saja selesai memberi makan Lucky dan keluar, dia memanggil pelayan istana untuk membawa pergi mangkuk itu.
“Apa Permaisuri sudah akan kembali? Aku akan ikut pergi bersamamu.” Kata Bibi Vera.
Ivonne memandangi wajah serius Bibi Vera. Bibi tua ini, ketika Ivonne berada dalam kesulitan Bibi Vera pernah menolongnya, Ivonne berterima kasih padanya.
Sepanjang jalan, Bibi Vera tersenyum dan berkata, “Mengapa Kaisar memberi hadiah dua untai kalung mutiara dari selatan sekaligus pada Permaisuri? Mutiara dari selatan ini sangat berharga, setiap tahunnya hanya ada 3-4 untai, sebagian besar diberikan pada Ibu Suri dan juga Baginda Ratu, Selir Prilly juga mendapatkan 1 untai, benar-benar tidak cukup untuk dibagikan.”
“Oh.” Ivonne menjawabnya dengan linglung.
Bibi Vera meliriknya sekilas dan berkata, “Permaisuri juga jangan menganggap aku terlalu banyak mengatur, Selir Prilly adalah Ibu mertua Permaisuri, seharusnya Permaisuri mencari cara untuk menyenangkan hatinya. Dua untai kalung mutiara ini sama, mengapa tidak berbuat bakti dan memberikan satu untai pada Selir Prilly?”
Ivonne memikirkan sesuatu dalam hatinya, mendengar Bibi Vera mengatakan seperti itu, kemudian berkata, “Perkataan Bibi masuk akal. Aku akan meminta orang untuk mengantarkannya ke sana.”
Bibi Vera tersenyum dan berkata, “Aku kebetulan akan pergi ke sana, atau aku akan membantu Permaisuri untuk mengantarkannya ke sana?”
“Kalau begitu aku merepotkan Bibi.” Ivonne mengambil seutas kalung mutiara lalu menyerahkannya pada Bibi Vera, pandangan matanya sedikit bersinar, “Sekalian katakan ini baktiku untuk Selir Prilly.”
“Baik!” Bibi Vera mengambil alih, memandang Ivonne, “Kalau begitu … Permaisuri silahkan kembali ke Istana terlebih dahulu.”
“Baik!”
Ivonne berjalan pergi, Bibi Vera tiba-tiba menghentikannya, “Permaisuri!”
Ivonne menoleh, “Kenapa?”
Bibi Vera itu menatapnya, pandangan matanya sedikit ragu-ragu, pada akhirnya, dia berkata dengan samar, “Apa tahu jalannya?”
Ivonne menatapnya dengan tenang, “Tahu.”
Bibi Vera mengangguk, perlahan berbalik badan, Ivonne berdiri diam tidak bergerak, memperhatikan langkahnya selangkah demi selangkah ke arah yang berlawanan.
“Bibi!” Kali ini, Ivonne yang memanggilnya.
Bibi Vera terpaku sesaat, kemudian perlahan menolehkan kepalanya, ada raut ragu di matanya, “Permaisuri?”
Ivonne menatapnya, dengan pelan berkata, “Terima kasih!”
“Ini …” Bibi Vera tertegun, “Aku tidak berani menerimanya.”
“Lukaku sembuh dengan begitu cepat, itu karena Bibi yang membantuku, budi ini, Ivonne akan mengingatnya di dalam hati.” Ivonne menatapnya, mengatakan satu kata demi satu kata dengan sangat jelas.
Bibi Vera diam di tempat bagai manusia batu, pandangan matanya terpaku, seolah-olah tidak ada fokus.
__ADS_1
Ivonne berbalik badan dan pergi.
Hatinya sangat bimbang, berharap tidak seperti yang dipikirkannya.
Kalau tidak, Ivonne benar-benar tidak bisa mempercayai siapa pun.
Dengan pikiran gelisah kembali ke Istana, Tabib Istana baru saja pergi setelah merawat luka Ronald.
Ronald harusnya sangat kesakitan, raut wajahnya pucat.
Ivonne duduk melamun, meletakkan Mutiara dari selatan yang tersisa di atas meja, Ronald melihat Ivonne yang masuk ke dalam sambil melamun, kemudian bertanya, “Tampangmu seperti tidak ingin hidup, apa yang terjadi?”
Ivonne berkata dengan nada tidak baik, “Apa kamu tidak bisa mengucapkan perkataan yang baik?”
Alis Ronald berkerut, akhir-akhir ini Ivonne sangat berani, sudah berani berdebat dengannya?
Tapi, setelah melihat Ivonne sedikit tidak beres, Ronald juga khawatir, “Apa terjadi sesuatu pada Kakek?”
“Tidak ada, baik-baik saja!” Jawab Ivonne.
Kalau begitu Ronald tidak khawatir, Ronald melihat Mutiara Selatan di atas meja, dia sedikit terkejut, “Ibu Suri yang menghadiahimu? Ini adalah Mutiara Selatan yang sangat langka.”
Mutiara Selatan ini hanya dimiliki oleh Ibu Suri, bahkan Ratu juga tidak memilikinya, jadi seharusnya Ibu Suri yang menghadiahinya padamu.
Ivonne menyembunyikan masalah surat hutang.
Ronald sangat terkejut, “Ayah yang memberikannya?”
Ivonne mengangguk, terdiam sesaat, memikirkan masalah Bibi Vera, Ivonne mendongak menatapnya, “Yang Mulia, apa kamu percaya padaku?”
Ronald memandangnya, “Mengapa kamu bertanya seperti itu?”
“Hanya menanyakannya saja, apa kamu percaya padaku?”
Ronald menatap ke depan, menatap ke langit ranjang, percaya? Tidak percaya
Meskipun Ivonne menyelamatkannya, tapi hal-hal yang telah dia lakukan terlalu licik, Ronald tidak percaya pada Ivonne.
Ivonne berbisik berkata, “Tidak peduli apa yang terjadi nanti, tolong percayalah padaku, berdiri di sisiku.”
“Apa yang akan terjadi? Atau kamu melakukan sesuatu yang buruk?” Ronald menoleh, berkata dengan sangat tegas.
Ivonne melihat cahaya tajam di pandangan mata Ronald, tahu bahwa hampir tidak mungkin bagi Ronald untuk percaya padanya.
Ivonne tersenyum dengan dingin, “Mengapa kamu berpikir bahwa aku yang melakukannya dan bukan orang lain yang melakukannya?”
__ADS_1
Ronald sangat kesal, “Bisakah kamu berhenti membuat masalah untukku?”
Ivonne menolehkan kepalanya, “Clara yang terus mencari masalah.”
Wajah Ronald seketika suram, “Diam, kamu tidak pantas menyebutnya!”
Ruangan itu seketika hening.
Ketika pandangan mata mereka bertatapan, ada sedikit kejengkelan di mata Ronald, tapi melintas dalam sekejap, pandangan matanya masih dingin dan suram.
Hati Ivonne sedih dan marah, tersenyum dengan terpaksa, “Ya, aku tidak pantas!” Ivonne mengambil mutiara kemudian melangkah keluar.
Ivonne benar-benar tidak rela.
Tadi malam, Ivonne mendapatkan kehangatan dan keamanan dari Ronald, Ivonne dengan konyol mengira bahwa setidaknya ada kedamaian dan kepercayaan dasar di antara mereka, tapi ternyata itu semua hanyalah angan-angannya saja.
Bahkan jika Ivonne menyerahkan hidupnya padanya, itu tidak sebanding dengan sebuah senyum Clara.
Ivonne berjalan keluar. tidak tahu pergi ke mana, Istana ini berhubungan dengan ruang kerja Kekaisaran, berkeliaran seperti ini, ada kemungkinan bertemu dengan Kaisar Mikael.
Untungnya Ivonne menemukan pintu samping, dia keluar dari pintu samping, tidak mempedulikan lukanya yang sakit, dia berlari ke Taman Kekaisaran, ada sebuah batu di tanah yang menyandung kakinya, dia bahkan tidak berpikir dan menendangnya dengan keras.
Batu itu ditendang ke tengah taman bunga.
Terdengar suara “Aduhhh”, sebuah kepala terlihat di antara bunga-bunga, itu seorang pria muda, saat ini raut wajahnya sangat marah, “Beraninya? Siapa yang berani menyerangku?”
Ivonne melihat dirinya secara tidak sengaja melukai orang itu, kemarahannya hilang untuk sementara, kemudian melihat orang itu berparas lumayan, dengan tubuh besar, mengenakan pakaian hitam, tangannya memegang paha ayam yang sudah digigit setengahnya, mulutnya sangat berminyak, tidak cocok dengan raut wajahnya yang sedang marah.
Ivonne memutar otaknya, mengenali bahwa orang ini adalah putra kedua Kaisar Mikael, Raja Stanley.
Stanley adalah yang paling tidak memiliki kemajuan dari semua pangeran, tidak bekerja di kekaisaran, hanya menjadi pangeran yang menganggur.
Ibunya adalah Selir Sandra.
Ivonne meminta maaf, “Maaf, Yang Mulia, aku tidak tahu kamu bersembunyi di antara bunga-bunga … sambil memakan paha ayam.”
Stanley mengenali Ivonne, kemudian berkata, “Permaisuri, kudengar kamu kemarin makan malam bersama Ayahku.”
Pandangan mata Ivonne sedikit berkedip, tampaknya makan bersama Kaisar benar-benar menyakiti hati banyak orang, bahkan Raja Stanley yang terkenal datar pun mengajukan pertanyaan ini.
Ivonne berkata dengan datar, “Ya.”
Stanley menggigit paha ayam, paha ayam yang gemuk itu berminyak, Stanley mengambil satu langkah lebih dekat, sambil mengunyah sambil bertanya, “Memakan apa? Apa enak? Apa membuatkanmu tahu Chiba? Kudengar Kaisar juga memberikan daging untuk Paman Ralph, kuberitahu padamu, daging yang ada di istana, sebaik apapun juru masak di luar, tidak akan bisa membuatnya, lain kali jika kamu makan dengan Ayah, bisakah meminta Ayah untuk memberikan satu hidangan padaku?”
Ada kilatan cahaya di mata Stanley, menatapnya dengan penuh harap.
__ADS_1