Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan

Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan
Bab 186. Bunuh Diri


__ADS_3

Juno jelas sangat sedih.


Matanya merah, duduk dengan linglung di dalam ruangan, dirinya seperti patung yang sama sekali tidak bergerak


Ronald yang melihat tampilannya yang seperti itu juga measa Juno benar-benar mencintai Liana.


Ronald melangkah maju dan duduk, “Kak, turut berduka cita!”


Juno kemudian menolehkan kepalanya perlahan, matanya perlahan-lahan tidak kosong seperti tadi, berkata dengan letih; “Kamu akan datang!”


“Ya, Ayahku memerintahkanku untuk datang.” Ronald tidak mengatakan datang untuk menyelidiki.


Tapi Juno mengerti, dia duduk dengan tegak, ekspresinya juga kembali normal, “Jika ada yang ingin kamu tanyakan maka tanyakan saja, sepertinya kamu mungkin sudah menanyakan orang-orang di dalam kediaman ini.”


“Selain Kakak ipar, aku sudah bertanya pada semuanya.” Kata Ronald.


Sama sekali tidak ada emosi di mata Juno, dia berkata dengan datar: “Kakak iparmu terus terbaring sakit, sama sekali tidak bisa mengurus masalah di kediaman ini, sia-sia juga bertanya padanya, dia tidak tahu apa-apa.”


Ronald mengangguk, “Kudengar dari pelayan yang ada di sisi Selir Liana, sebelum kecelakaan itu Selir Liana menerima surat dari Ayahnya yang mengatakan bahwa Ayahnya sudah tidak dapat menanggung kesengsaraan dan ingin meminta Kakak memohon pada Ayah.”


Juno mengangguk, “Memang ada hal seperti itu, tapi aku tidak setuju, Ayahnya itu dihukum atas kesalahannya dan pantas menerimanya, aku benar-benar tidak bisa memohon pada Ayah akan hal ini, dan juga sudah menegur Liana untuk tidak mengungkitnya lagi.”


“Kakak menegurnya?”


Juno mengerutkan kening dan tampaknya sedikit kesal, “Mungkin kata-kataku terlalu berat hingga membuatnya memilih jalan pintas.”


“Kakak berpikir dia bunuh diri?” Ronald bertanya.


Juno menatap Ronald, “Jika bukan bunuh diri apa mungkin dia dibunuh?”


Ronald berkata: “Masih dalam penyelidikan.”


Juno mengangkat tangannya dengan letih, “Selidikilah.”


“Selain masalah ini, tidak tahu apa masih ada hal tidak menyenangkan lainnya mengenai Selir Liana?” Ronald bertanya.


Juno tersenyum dingin, “Hal yang tidak menyenangkan? Masih ada hal apa lagi yang tidak menyenangkan? Dia mengandung anakku, jika melahirkan seorang putra, maka itu benar-benar sangat terhormat, apa yang bisa membuatnya berpikiran pendek seperti itu?”

__ADS_1


“Ya, dia hamil dan seharusnya bisa melahirkan keturunan tapi mengapa dia berpikiran pendek?” Ronald bertanya.


Juno menatap Ronald, “Apa mungkin aku mengetahui dia hamil dan membunuhnya? Ronald, apa kamu ingin mengatakan hal ini?”


“Kakak tidak mungkin melakukan hal itu.” Ronald berkata dengan suara pelan, “Kakak hanya memiliki dua putri, sudah menantikan seorang putra begitu lama, mengenai kehamilan ini sudah pasti Kakak adalah orang yang paling bahagia.”


Juno berkata: “Jika kamu tahu, untuk apa kamu berkata begitu banyak omong kosong?”


“Kakak tidak mungkin melakukannya, tapi sulit untuk menjamin yang lain tidak melakukannya.” Ronald mengatakannya dengan jelas.


“Kalau begitu selidikilah, cari tahu siapa pembunuhnya, lakukan segera!” Juno menggebrak meja dan berdiri kemudian pergi.


Ronald memandang sosok kepergian Juno, dia benar-benar marah dan kemarahan ini bukan karena Ronald bertanya terlalu banyak.


Juno marah akan kejadian ini.


Juno marah karena kehilangan anak dan kemungkinan itu adalah seorang putra.


Setelah bertanya pada Juno, Ronald baru pergi bertanya pada Istri Juno.


Mengetahui Permaisuri Juno menderita penyakit paru-paru, Ronald meminta beberapa masker penutup pada Ivonne sebelum datang kemari, kemudian menanyakan secara pribadi bersama dengan para penyelidik dari Jingzhaofu.


Kulitnya begitu kuning, mungkin karena efek obat membuatnya tidak memiliki nafsu makan dan terlihat jauh lebih kurus.


Permaisuri Juno sebelumnya menangis, matanya merah dan bengkak.


Tidak menunggu Ronald bertanya, dia sudah tercekat dan berkata: “Bagaimana bisa seperti itu? Dia itu dibunuh atau bunuh diri? Dia tidak punya alasan untuk bunuh diri, dia sudah hamil, melihatku yang sudah tidak sanggup lagi dan hanya tersisa beberapa tahun, dia tidak mungkin bunuh diri, sebenarnya siapa yang membunuhnya?”


Ronald melihatnya yang menangis berlinangan air mata, tampilannya begitu sedih tapi Ronald sama sekali tidak tergerak habya bertanya dengan profesional: “Kapan Kakak terakhir kali melihat Selir Liana?”


Permaisuri Juno menyeka air matanya dengan saputangan, “Beberapa hari sebelumnya, dia datang untuk membawakan sup, saat itu aku tidak tahu dia hamil, kalau tidak aku tidak akan mengizinkannya masuk, dia juga sangat ceroboh, hamil adalah hal yang begitu besar bagaimana bisa dia tidak menyadarinya.”


“Kalau begitu kapan selir Liana tahu dirinya itu hamil?” Ronald bertanya.


“Lusa kemarin, pelayan datang untuk melaporkan bahwa Liana tidak sehat dan muntah, kemudian meminta Tabib untuk memeriksa dan ternyata dia hamil.”


“Apa dia langsung memberitahu Kakak?”

__ADS_1


Permaisuri Juno batuk dan mengangguk, “Ya, waktu itu dia datang untuk melaporkannya, pada waktu itu aku begitu senang dan memberinya banyak hadiah dan memerintahkan Tabib untuk merawatnya baik-baik.”


Ronald memandang ke arah kepala penyelidik dan orang itu berkata: “Ya, aku sudah bertanya pada para bawahan, setelah mengetahui Selir Liana hamil, Permaisuri Juno memberikan banyak hadiah padanya, waktunya pas yaitu lusa kemarin.”


Ronald berkata: “Baiklah, kalau begitu tidak ada yang perlu ditanyakan lagi, Kak, kamu beristirahatlah, aku undur diri.”


“Selamat jalan Ronald, maaf aku tidak bisa mengantar.” Permaisuri Juno berkata dengan sedih, ketika Ronald berjalan keluar cukup jauh dia masih bisa mendengarnya yang terbatuk.


Kembali ke birokrat, kepala penyelidik maju dan melaporkan: “Yang Mulia, ketika aku menyelidiki kudengar Bibi di samping Selir Liana mengatakan dengan berlinangan air mata bahwa Permaisuri Juno jelas sudah setuju untuk membebaskan Ayah Selir Liana, jadi Selir Liana tidak mungin bunuh diri karena hal itu.”


“Apa Bibi itu yang mengatakannya padamu?” Tanya Ronald.


“Bukan, dia sedang duduk dan mengatakannya pada seorang pelayan, ketika aku masuk untuk bertanya, dia berkata dia tidak tahu apa-apa, aku tidak tahu bagaimana keputusan Yang Mulia jadi aku tidak berani membawa orang itu.”


Ronald melipat tangannya, “Selir Liana bunuh diri.”


Kepala penyelidik itu terkejut, “Bunuh diri? Dia hamil dan lagi Permaisuri Juno berjanji untuk membebaskan Ayahnya, mengapa dia harus bunuh diri? Dan lagi apa Yang Mulia memiliki bukti yang menunjukkan bahwa dia melakukan bunuh diri?”


Felix memandang ke arah Ronald, dia tahu bahwa Yang Mulia tidak mungkin menebak tanpa alasan, jika bisa diucapkan maka itu pasti beralasan.


Ronald berkata: “Menyelidiki di tempat kejadian, hanya ada jejak kakinya di padang rumput tepi danau tempatnya terjatuh, orang yang menyelamatkan datang dari sisi lain, ini adalah yang pertama. Yang kedua, dia hamil, Bibi dan para pelayan di sekelilingnya sudah pasti mengikutinya dengan cermat, kecuali dia sendiri yang bersikeras ingin berjalan sendirian dan mengusir semuanya, hal ini bisa dibuktikan dari pengakuan pelayan, saat itu Selir Liana tidak mengizinkan orang lain untuk mengikutinya. Ketiga, kebetulan Permaisuri Juno yang berjanji untuk membebaskan Ayahnya dan bukannya Raja Juno. Ayah Selir Liana sudah menerima hukuman setelah tiga tahun, sekarang baru menulis surat untuk meminta bantuan, harusnya dia sedang sakit parah atau mengalami kecelakaan dan Selir Liana adalah anak yang berbakti.”


Perkataan berikutnya Ronald tidak mengucapkannya, Felix dan kepala penyelidik sudah bisa menebaknya.


Selir Liana hamil saat ini, jika melahirkan seorang putra maka itu akan langsung mengancam status Permaisuri Juno.


Permaisuri Juno memiliki kemampuan untuk menyelamatkan Ayah Selir Liana dan juga bisa menjanjikannya, tapi tentu saja ada harga yang harus dibayar.


Felix berpikir lama kemudian berkata: “Takutnya Permaisuri Juno mungkin tidak menginginkan nyawanya tapi hanya ingin Selir Liana menggugurkan kandungannya.”


Kepala penyelidik berkata: “Terhadap wanita yang sendirian selama 10 tahun, satu-satunya jalan keluar baginya di masa depan adalah dengan hamil, jika anak ini tidak ada maka dirinya tahu bahwa dia tidak akan pernah bisa hamil lagi, bahkan jika mengandung lagi, mungkin akan sama seperti saat ini, jadi hatinya sudah suram.”


Ronald mengangguk tanpa suara.


“Raja Juno tidak mungkin tidak menyadari hal ini.” Kata Felix menatap ke arah Ronald.


“Memang kenapa jika dia tahu? Dia juga tidak bisa lepas dari Permaisuri Juno".Ronald berkata dengan datar.

__ADS_1


Felix tersenyum pahit, “Itu benar-benar sangat menyedihkan, bahkan jika rencana Permaisuri Juno sempurna untuk Raja Juno, tapi pada akhirnya tidak akan pernah memiliki seorang putra.”


__ADS_2