Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan

Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan
Bab 22. Ambisi


__ADS_3

Ronald kembali ke kediamannya, semakin dia pikir merasa ada yang tidak benar.


Dia melihat Ivonne menggunakan jarum untuk menusuk Kakek, tidak tahu apa yang dimasukkan ke dalamnya. Apa itu racun atau benda lain, itu tidak diketahui.


Meski kondisi Kakeknya sedikit lebih baik. Namun, racun itu ternyata bisa membuat Kakek kehilangan akal, mungkin juga memiliki efek lainnya, misalnya dapat dikontrol.


Ivonne tidak mengerti semua ini. Siapa yang mengajarinya di belakang?


Apa Ayah Ivonne, Jeremia?


Dia tidak memiliki keberanian ini, Jeremia hanyalah orang kecil.


Ronald memikirkan konsekuensi yang lebih serius, Ivonne adalah Permaisuri-nya, yang dia lakukan pada Paduka Kaisar, jika diekspos, maka dia sudah pasti akan dituduh menjadi penghasut di belakang layar, tidak akan ada yang percaya bahwa dia sama sekali tidak terlibat.


Semakin memikirkannya, dia semakin tidak tenang, kemudian meminta Yanto untuk memanggil Bibi Linda dan juga Letty kemari.


Keduanya melayani Ivonne dalam jarak dekat, jika ada tingkah laku yang tidak biasa, seharusnya tidak akan luput dari mata Bibi Linda.


Letty memang tadinya menemani ke Istana, tapi ketika keluar dari istana, dia diberitahu bahwa Ivonne harus tinggal di Istana Pearlhall untuk merawat Paduka Kaisar, dia kembali dan memberitahu Bibi Linda, dan Bibi Linda juga sangat terkejut.


Mendengar Yang Mulia memanggil mereka, keduanya bergegas pergi menghadap.


“Yang Mulia!” Ketika memasuki ruang kerja, keduanya memberi hormat.


Ronald menatap Bibi Linda sekilas, memikirkan hal mengenai cucunya, kemudian dia bertanya, “Bagaimana keadaan Denis?”


“Terima kasih atas perhatian Yang Mulia, sudah tidak ada hal besar lagi.”


Ronald sedikit terkejut, “Sepertinya, perawatan medis Tabib Rudi tidak buruk.”


“Ya … Ya!” Bibi Linda berkata setelah ragu-ragu sejenak.


Ronald mengetahuinya, dengan datar menatapnya sekilas, “Apa ada hal yang disembunyikan Bibi Linda dariku?”


Bibi Linda terpaku, bergegas berkata: “Aku tidak berani!”


“Kamu telah melayani di sisiku sejak kecil, kamu setia padaku, sepertinya, kamu tidak akan menyembunyikan apaun padaku.” Suara Ronald dingin, raut wajahnya juga dingin.


Hati Bibi Linda takut, dia segera berlutut, “Budak tua ini bersalah, aku bukannya ingin sengaja menyembunyikannya.”


Mata Ronald sedikit terangkat, dan ada kilatan dingin di matanya, “Katakan!”


Bibi Linda hanya bisa berkata: “Menjawab Yang Mulia, Denis bukan disembuhkan oleh Tabib Rudi, tapi Permaisuri yang menyembuhkannya, hanya saja Permaisuri mengatakan tidak boleh mengatakan hal ini pada siapapun.”


Yanto yang berada di samping terkejut: “Permaisuri? Sejak kapan Permaisuri mengetahui ilmu medis? Saat itu, Permaisuri juga menggunakan pisau pada Denis, karena itu dia dihukum oleh Yang Mulia dipukul sebanyak 30 kali dengan papan.”

__ADS_1


Bibi Linda kemudian menyampaikan perkataan dan juga kondisi setelahnya yang diucapkan oleh Denis, kemudian dengan merasa bersalah berkata: “Budak tua yang salah paham pada Permaisuri.”


Ronald dan Yanto saling memandang, pandangan mata mereka terkejut.


“Aku tanya padamu, apa kamu pernah melihatnya memiliki sebuah kotak? Kotak itu …” Ronald tiba-tiba terpaku, ketika masuk ke dalam ruangan, dia tidak membawa kotak itu, tapi setelah masuk, kotak itu tidak tahu muncul dari mana, kemudian ketika melihatnya di aula samping, kotak itu juga tidak ada di sampingnya.


“Ada sebuah kotak!” Letty segera berkata, “Ada obat-obatan di dalam kotak itu, hanya saja obat-obatan itu, budak belum pernah melihatnya, dan kotak itu juga belum pernah Budak lihat sebelumnya.”


Ronald kembali bertanya, “Siapa yang datang menemuinya baru-baru ini? Atau dia keluar menemui siapa?”


Bibi Linda menggelengkan kepalanya, “Sejak Permaisuri menikah dan masuk kemari, sangat jarang ada orang yang datang mengunjunginya, dan lagi dia juga tidak pulang ke rumah keluarganya dalam beberapa bulan terakhir.”


Yanto juga berkata:


“Memang benar, jika Permaisuri masuk dan keluar, petugas memiliki catatannya, aku pernah melihat Permaisuri terakhir kali kembali ke rumah keluarganya itu tiga bulan lalu, pergi selama setengah hari kemudian pulang dalam keadaan marah.”


Bibi Linda merasa dia telah mengkhianati Ivonne, dia merasa bersalah, dan khawatir tentang kondisinya, kemudian dia berkata:


“Sejak Permaisuri dipukuli dengan papan, dia tidak pernah keluar, Yang Mulia memerintahkan para Budak agar tidak mempedulikannya, karena itu, dia menangani lukanya sendiri, sebelum meminum sup golden purple, dia sedang demam tinggi, sekarang sepertinya efek sup golden purple sudah hilang, tidak tahu apakah dia bisa bertahan di Istana.”


Ronald teringat ketika Ivonne sedang memberi makan bubur pada Kakeknya, dia menahan rasa sakit dan sekujur tubuhnya gemetar, saat itu efek sup golden purple seharusnya sudah hilang.


Dia tidak khawatir pada Ivonne, hanya takut dia bersikap tidak sipan di sana, membuat masalah di Istana dan juga pada Ibunya.


Pengawal biasa, jika dipukul 30 kali, juga butuh istirahat selama beberapa hari baru bisa bangun.


Jika merupakan pelayan wanita yang lemah, takutnya nyawanya sudah melayang.


Yang Mulia benar-benar sangat membencinya.


Ronald berkata dengan dingin: “Hal-hal yang dia lakukan, bahkan jika menginginkan nyawanya pun itu tidak keterlaluan.”


Jika bukan karena takut melibatkan Ibunya, dan juga merusak reputasi keluarga kerajaan, dia sudah lama ingin menceraikan Ivonne.


Bibi Linda mengumpulkan keberanian dan berkata: “Yang Mulia, budak merasa Permaisuri seakan berubah menjadi orang lain.”


Ronald mendongak memandangnya, hatinya terpaku, “Bagaimana menurutmu?”


Bibi Linda berkata: “Permaisuri dulu begitu jahat, dan juga begitu sombong, tapi pada hari dia menolong Denis, sikapnya, nada bicaranya … Dia bahkan berkata maaf pada budak tua ini, ini bahkan tidak pernah disangka-sangka olehku. ”


Perkataan Bibi Linda ini, sebenarnya mengkonfirmasi dugaan dalam hati Ronald.


Mengingat sebelum pergi ke Istana, Ivonne menggunakan kepalanya untuk memukulnya, perkataan yang diucapkannya itu, “Melakukan sesuatu itu ada batasnya, mengapa kamu menindas orang sampai sebegitunya.”


Dia tidak pernah mengatakan kalimat seperti ini, karena dia tahu itu akan merugikannya, jadi Ivonne hanya berani bertingkah dan berlaku sombong pada para bawahan, dia tidak pernah berani begitu sombong di hadapannya.

__ADS_1


Tapi, ketika dia mengatakan perkataaan ini hari ini, sepertinya dirinya sudah mengalami begitu banyak keluhan.


Dan lagi perlawanannya di aula samping …


Dalam benaknya, muncul wajah Ivonne dengan raut dinginnya, teringat kembali apa yang dia katakan di aula samping.


Dia harus mencari tahu dengan jelas apa yang sedang terjadi.


Di dalam Istana Starlake milik Ratu.


Setelah Raja Oscar datang untuk memberi salam, da kemudian pergi mengunjungi adiknya kedelapan, Gerald, meninggalkan Clara dan Ratu untuk berbicara di dalam Istana.


Clara adalah keponakan perempuan sang Ratu, ketika Raja Oscar pergi, Clara kemudian meminta pelayan yang ada di dalam Istana untuk keluar.


Ketika Ratu melihatnya, dia tahu ada sesuatu, kemudian duduk tegak dan berkata, “Apa yang terjadi?”


“Bibi, Ivonne diminta oleh Paduka Kaisar tinggal di Istana Pearlhall untuk merawatnya, apa kamu tahu tentang hal ini?”


Ratu kembali terlebih dulu, jadi dia tidak tahu tentang hal itu, ketika dia mendengar Clara membicarakannya, dia sedikit terkejut, “Istri Raja Ronald? Paduka Kaisar memintanya yang merawatnya?”


Namun, dia kemudian segera melambaikan tangannya, “Merawat itu hanya merawat saja, itu juga membantuku agar tidak usah bolak-balik ke sana, akhir-akhir ini benar-benar sangat melelahkan.”


Clara mendengus, “Bibi benar-benar ceroboh, kenapa kamu tidak memikirkannya dengan teliti?”


Sang Ratu tersenyum, “Aku tahu apa yang kamu khawatirkan, tapi, jangan khawatir, tidak ada gunanya Raja Ronald melakukan apa pun, sekarang Kaisar sangat membencinya.”


Clara perlahan menggelengkan kepalanya, “Bibi, Paduka Kaisar sekarang sudah sadar, segalanya akan berbeda.”


Sang Ratu terpaku, raut wajahnya perlahan berubah menjadi serius.


Memang benar, mengenai Putra Mahkota, Kaisar masih sangat menghargai pendapat Paduka Kaisar.


Paduka Kaisar memang lebih menyayangi Raja Ronald, jika kali ini Ivonne mengambil kesempatan untuk berbicara, maka Raja Ronald masih merupakan kesempatan.


Tapi …


Sang Ratu mendongakkan pandangnanya, “Bukankah Raja Ronald jijik pada Ivonne?”


Clara perlahan tertawa, “Orang yang beguna, walaupun jijik, tapi maish bisa ditoleransi.”


Hati sang Ratu tenggelam, segera berkata:


“Ibu Suri sudah begitu bekerja keras merawat penyakit Paduka Kaisar, hari ini, dia sudah pingsan beberapa kali, kamu ikuti aku untuk merawat Ibu Suri untuk menunjukkan rasa baktimu.”


Clara berdiri dan membungkuk, “Aku mengerti.”

__ADS_1


__ADS_2