Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan

Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan
Bab 74. Di Balik Lengan Pakaian Itu


__ADS_3

Ivonne memukul dan menggigit Ronald lagi, kemarahannya sudah hilang sebagian besar. Dia benar-benar sangat pusing, matanya berputar, rubuh di atas tubuh Ronald, benar-benar pusing.


Ronald melihat Ivonnea tiba-tiba tidak bergerak, kemudian mendorongnya, “Hei!”


Ivonne mengerang sekilas, mengubur kepalanya di atas bahu Ronald, sambil bergumam berkata, “Aku ingin pulang, aku bisa pulang setelah terbangun dari tidur.”


Ronald marah, setelah Ivonne membuat kegilaan karena mabuk dia langsung tidur begitu saja, pulang? Baik, besok dia akan mengirim Ivonne pulang. Benar-benar aneh, kediaman Hendra itu, apa yang perlu diingat?


Dengan kesulitan mendorong Ivonne menyingkir dari atas tubuhnya, menatap Ivonne yang terbaring di lantai yang dingin, tanpa sadar Ivonne meringkuk. Meskipun Ronald marah, tapi dia juga tidak tega dan hatinya tergerak.


Perlahan-lahan dia membungkuk dan menggendongnya, Ivonne seakan tidak memiliki bobot tubuh, Ronald yang terluka begitu parah saja tidak merasa kesulitan ketika menggendongnya.


Menggendongnya ke atas ranjang, berpikir, kemudian menyelimutinya dengan selimut. Melihat wajah merah Ivonne setelah kegilaannya, dengan lembut menggelengkan kepalanya, “Benar-benar wanita gila.”


Ronald berdiri dan membuka pintu, Peter, Yanto dan Rendi bergegas maju, menjulurkan kepala masuk untuk melihat sekilas.


“Tidak perlu melihat, sudah tidur!” Ronald berkata dengan nada tidak baik.


“Apa Yang Mulia baik-baik saja?” Rendi bertanya sambil mengelus telinganya sendiri.


“Apa yang bisa terjadi?” Ronald melihat Rendi yang terus menggosok telinganya, kemudian bertanya, “Apa kamu memiliki dendam dengan telingamu?”


“Diinjak oleh Permaisuri, benar-benar sakit.” Rendi berkata mengeluh.


Peter dan Yanto keduanya tertawa, menatap Rendi yang menyedihkan tapi juga lucu.


Ronald kemudian bertanya pada Yanto, “Berapa banyak yang dia minum di Istana Pearlhall?”


Peter berkata, “Mendengar dari Kasim Artur, meminum segelas alkohol osmanthus.”


“Seberapa besar gelasnya? Mabuk hingga seperti ini.” Rendi membelalakkan matanya.


Peter membuka tangannya, membuat sebuah lingkaran, mulutnya berkata, “Hanya sebesar … ini.” Ketika dia berbicara, tangan yang membuat gerakan itu menyusut, membentuk sebuah lingkaran dengan diameter kecil.


Rendi tertegun, “Hanya gelas kecil? Hanya 1 gelas? Apa itu bukan anggur osmanthus?”


“Kasim Artur yang berkata seperti itu.”


Yanto juga tidak mempercayainya, “Apa pura-pura mabuk?”

__ADS_1


Ronald juga merasa itu sangat mungkin, berpura-pura mabuk untuk berbuat hal gila.


Peter memikirkan kejadian mengerikan tadi kemudian menghela nafas berkata, “Tidak mungkin berpura-pura mabuk, lagipula Permaisuri juga membuat hal gila karena mabuk di Istana Pearlhall, kamu tidak tahu ketika aku masuk, benda-benda yang bisa dihancurkan di kamar Paduka Kaisar sudah hancur, Paduka Kaisar meringkut menghindar di ujung ranjang, sekujur tubuh Kasim Artur penuh dengan muntahan, Permaisuri sendiri berdiri di atas meja dan berteriak memaki, hanya saja tidak tahu memaki apa, sepertinya yang diucapkannya itu bukan bahasa Dinasti Tang Utara.”


Ketiganya saling berpandangan, ada kengerian di wajah mereka.


Rendi perlahan-lahan mengulurkan jempolnya, dengan gemetar berkata, “Permaisuri benar-benar hebat.”


Orang-orang yang berani bertindak liar di Istana Pearlhall belum pernah terlihat sebelumnya, Paduka Kaisar ternyata malah tidak menghukumnya, dan malah meminta Peter secara pribadi mengantarkannya kembali ke kediamannya, itu benar-benar hal yang aneh!


Hati Ronald terkejut, sebenarnya bagian mana dari wanita jelek yang begitu dipandang oleh Ayah dan juga Kakeknya? Bahkan mereka berulang kali melepaskan Ivonne.


Jika begini bukankah Ivonne di kemudian hari akan semakin seenaknya?


Yanto memerintahkan Bibi Vera dan Bibi Linda untuk merawat Ivonne, mereka berempat mencari tempat lain untuk berbicara.


Peter menghela nafas, duduk, memicingkan matanya, matanya bersinar tajam, “Yang Mulia, mengenai masalah mengambil selir, apa rencanamu? Hari ini Gilang datang ke Istana, mendengar Hendra sudah menjamin berkata bahwa Ivonne bersedia secara sukarela melepaskan posisinya, jadi hari ini Gilang memberi jawaban pada Kaisar, mengatakan bahwa dia setuju dengan pernikahan itu, siapa tahu Kaisar mengatakan bahwa Permaisuri Ivonne tidak setuju, rencana pernikahan itu batal, aku melihat raut wajah Gilang dari luar, tidak tahu sudah seberapa jelek raut wajahnya, dan juga dia mengucapkan beberapa kalimat melawan Kaisar.”


Yanto berkata, “Jika begitu, bukankah Gilang akan lebih membenci Hendra?”


“Gilang memandang sekilas pada Permaisuri, hanya kurang tidak mencincang Permaisuri saja.” Kata Peter sambil menatap ke arah Ronald, “Sebenarnya Permaisuri yang tidak mau atau Yang Mulia yang tidak mau?”


Ronald dengan samar berkata, “Aku yang tidak mau.”


Pandangan mata Ronalg sangat dingin, “Aku tidak pernah berpikiran untuk menikah dengan Steffie.”


“Dia … kudengar sangat mirip dengan Permaisuri Clara.” Peter berkata pelan, terus menatap Ronald.


Pandangan Ronald menyapu sekilas bagai kilat, “Memang kenapa jika mirip? Itu bukan dia.”


Peter tidak bisa menahan diri kemudian berkata, “Jika itu adalah dia pun juga tidak bisa dinikahi.”


Ronald terdiam selama beberapa detik, perlahan-lahan menatap Peter, “Kamu terlalu ikut campur.”


Peter menggelengkan kepalanya, “Memang aku ikut campur, tapi juga berniat baik, mengharapkan orang yang tidak boleh diharapkan, itu akan membuat situasimu sangat berbahaya, dan juga itu akan merusak hubunganmu dengan Raja Oscar.”


Yanto sangat ingin bertepuk tangan berkata setuju, tapi ketika melihat wajah Yang Mulia Oscar yang suram, dia menahan diri.


“Lepaskanlah dirimu!” Kata Peter.

__ADS_1


Ronald terdiam, raut wajahnya tidak baik.


Peter tahu bahwa ucapannya tidak didengar kemudian dia berdiri, “Baiklah, aku sudah harus kembali ke Istana, aku bertugas hari ini.”


Setelah selesai berbicara, dia memberi hormat kemudian berbalik lalu pergi.


Yanto malah berharap Peter bisa berkata lebih banyak, ada beberapa perkataan, jika dia yang mengucapkannya itu tidak cocok, tapi Peter adalah teman Yang Mulia, Yang Mulia juga tidak akan benar-benar marah padanya.


Ronald hening untuk sekian lama, memikirkan begitu banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini, tapi itu malah membuat otaknya makin lebih jernih, satu per satu orang yang memiliki niat buruk keluar, seperti sedang mempersiapkan sebuah drama besar.


Ronald tidak ingin terlibat, tapi apa daya dirinya sudah berada di pusat pusaran ini, kali ini menggunakan Ivonne sebagai penghalang untuk menolak pernikahan, tidak peduli apa itu disengaja atau tidak, itu memang sudah menyeret Ivonne.


Awalnya berpikir paling-paling Ivonne hanya akan sedikit memaki, tidak menyangka Ivonne malah mabuk dan melakukan hal gila, dan juga berani membawa pisau dapur untuk meminta keadilan, teringat akan wajah marah Ivonne yang memerah, Ronald tanpa sadar tersenyum.


Ivonne pernah menjebaknya sekali, hari ini, bisa dibilang mereka impas.


Yanto tadinya melihat Ronald sangat marah, jadi dia berdiri di samping dan tidak berani bersuara, siapa tahu, Ronald marah tapi malah kemudian tertawa.


Hari ini benar-benar terjadi hal yang aneh.


Ronald berdiri, “Aku sudah lelah, kembali ke kamar untuk tidur, pergilah lakukan apa yang harus kamu lakukan, tidak perlu terus berjaga, cederaku sudah tidak memiliki masalah besar.”


“Atau lebih baik makan saja pil Golden purple milik Raja Stanley.” saran Yanto.


“Tidak, lebih baik simpan saja, mungkin tidak tahu kapan, akan ada orang yang merencanakan pembunuhan, aku sekarang sudah menjadi sasaran musuh.” Ronald berjalan keluar sambil menaruh tangannya di belakang, seperti pria tua kecil yang agung.


Perkataannya sangat berat, tapi nada suaranya sangat santai, tampaknya tiba-tiba ada semacam keberanian, semacam keberanian untuk menghadapi semua konfrontasi yang tak tertahankan.


Bahkan Rendi yang pemikirannya sederhana pun bisa melihatnya.


Ronald kembali ke kamar, berjalan di sekitar ruangan, pada akhirnya dia tidak bisa menahan diri untuk duduk di depan ranjang dan menatap Ivonne yang tertidur.


Rambutnya berantakan, mulutnya sedikit terbuka, sudut bibirnya … Hei, apa wanita jelek ini meneteskan air liur saat tidur?


Melihat Ivonne yang berbaring telentang, gaya tidurnya tidak cantik sama sekali, benar-benar ingin menamparnya untuk membangunkannya, apa dia tahu bahwa dia adalah seorang Permaisuri? Benar-benar membuatnya malu.


Ketika Ronald sedang berpikir, kedua kaki Ivonne menendang selimut, membalikkan tubuhnya, tangannya kemudian terjulur dan langsung menampar kepala Ronald.


Ronald sangat marah, ada benda apa di lengan bajunya itu, ketika terkena pukulan benar-benar sakit.

__ADS_1


Tiba-tiba Ronald teringat hari itu ketika berada di Istana Pearlhall, mereka memasuki ruangan bersama, kotak milik Ivonne itu …


Mata Ronald jatuh di lengan baju Ivonne, ragu-ragu sejenak, kemudian menggulung lengan bajunya untuk mengambil sesuatu di balik kantong di lengan baju Ivonne.


__ADS_2