
Ivonne melirik sekilas ke raut wajah Paduka Kaisar, melihat jejak keunguan yang memudar dengan jelas, dan juga napasnya sudah teratur Ivonne menghembuskan nafas lega, orang ini bisa dikatakan diselamatkan untuk sementara waktu.
Paduka Kaisar memandang Ronald, perlahan mencoba menopang tubuhnya, Ronald melihatnya, bergegas bangun dan meletakkan bantal di belakang punggungnya agar dia bisa setengah berbaring.
“Raja Ronald, Istrimu ini Kakek sepertinya tidak pernah melihatnya.” Paduka Kaisar berkata lebih memiliki kekuatan dibandingkan sebelumnya, tapi jika dibandingkan dengan orang normal, dia masih terlihat lemah.
Hati Ronald tidak begitu nyaman, Kakek bangun, ternyata malah menanyakan mengenai wanita ini.
Paduka Kaisar dalam keadaan sakit berbaring di ranjang selama 1 tahun ini, ketika mereka menikah dan memasuki Istana, karena kondisi tubuh Paduka Kaisar yang tidak baik, maka Ronald tidak membawa Ivonne untuk pergi memberi hormat padanya.
Ivonne menundukkan kepalanya, tidak berbicara, dan juga tidak menunjukkan tampilan apa pun.
Tapi dia merasa pandangan mata Paduka Kaisar terpaku di wajahnya. Dengan pandangan menilai, pandangan mata ini tampaknya memiliki daya tembus yang kuat, ingin melihat Ivonne secara keseluruhan.
Paduka Kaisar memipin selama 38 tahun, dalam era kekuasaan yang tinggi, aura dan kharismanya ini didapat setelah melewati bertahun-tahun kepemimpinan.
“Kakek Kaisar. Dia … kondisi tubuhnya tidak begitu naik, cucumu ini tidak membawanya untuk dilihat olehmu, agar dia tidak menyebarkan penyakit padamu.” Ronald hanya bisa menjelaskan seperti ini.
“Aku saja sudah menjadi orang yang sekarat, masih takut tertular penyakit?” Paduka Kaisar tertawa, nadanya sudah sedikit melembut.
Ivonne perlahan-lahan mendongak, bertatapan dengan pandangan mata Paduka Kaisar yang tajam, terkejut hingga kembali menundukkan kepalanya.
“Kakek jangan asal berbicara, kamu akan baik-baik saja.” Suara Ronald sedikit sedih.
Kaisar Mikael dan Raja Ralph berada di samping dan berkata:
“Ayah akan panjang umur.”
Pelayan istana membawakan bubur, Kasim Artur datang untuk melayani, Paduka Kaisar melotot sekilas padanya, “Kenapa? Apa aku tidak layak untuk dilayani oleh orang muda? Kamu yang sudah tua ini, lihatlah kantung matamu yang sudah begitu hitam, aku masih belum mati, melihatmu yang bagai hantu ini membuatku terkejut, sana pergi, tidurlah, ada Permaisuri Raja Ronald di sini untuk melayani, itu sudah cukup. ”
Kasim Artur telah melayani Paduka Kaisar selama bertahun-tahun, tentu saja dia tahu sifat Paduka Kaisar, dia juga tahu bahwa Paduka Kaisar berbelas kasih padanya, air matanya menggenang, dengan tercekat berkata:
“Budak tua ini tidak lelah, budak tua ini akan berada di sini untuk melayani Anda.”
“Pergi!” Temperamen Paduka Kaisar muncul, mulai terengah-engah, dia memegang dadanya, “Apa kamu ingin membuatku marah dan mati?”
Kasim Artur melihatnya yang seperti ini, sangat terkejut hingga wajahnya pucat, bergegas berkata:
“Ya, ya, budak tua ini akan pergi, Anda jangan marah, aku akan pergi!”
Setelah kepergian Kasim Artur, Ivonne masih berlutut di lantai, Paduka Kaisar kembali melotot, “Kenapa? Tidak mau melayani orang tua ini?”
Ivonne bergegas berdiri, mengambil mangkuk dari pelayan Istana, dengan burur-burur kembali berlutut dan berkata:
__ADS_1
“Bukan, aku hanya … hanya merasa tersanjung.”
“Aku saja!” Ronald tidak rela membiarkan Ivonne mendekati Paduka Kaisar, kemudian dia ingin menyuapi makan Paduka Kaisar secara pribadi.
Paduka Kaisar mengangkat sudut matanya, “Kenapa? Tidak rela Istrimu melayani Kakekmu ini?”
“Bu … bukan!” Ronald kemudian menjatuhkan tangannya, hatinya sangat canggung, meskipun dia tahu itu fakta, tapi dia tidak rela orang lain menyebut Ivonne sebagai istrinya.
Istri dan Permaisuri semuanya sebutan yang sama, tapi baginya, ada perbedaan yang besar.
Ivonne menegakkan tubuhnya, kemudian menyuapi Paduka Kaisar.
Paduka Kaisar memakannya masuk ke dalam mulutnya, menghela nafas dan mengangkat sudut matanya, “Hmm, di kehidupan ini, tidak kusangka aku masih bisa memakan makanan lagi.”
Ketika perkataan ini diucapkan, mata Kaisar Mikael dan Raja Ralph seketika berair.
“Kamu duduk di tepi ranjang untuk melayani.” kata Paduka Kaisar.
Ivonne tersenyum pahit, dia merasakan rasa sakit sekarang, mana mungkin bisa duduk?
“Cucu menantu tidak berani, aku berlutut saja.”
“Aku menyuruhmu untuk duduk maka duduk!” Paduka Kaisar kembali melotot.
Ronald ada di sisinya, bisa merasakan tubuhnya yang gemetar.
Efek sup golden purple sudah hilang.
Pandangan matanya meredup, perasaan dalam hatinya terasa rumit.
Setelah memberi makan semangkuk bubur kecil, Ivonne sudah begitu kesakitan hingga tubuhnya banjir keringat, dia hanya bisa menghibur dirinya sendiri, merupakan hal yang baik bisa berkeringat ketika demam.
Paduka Kaisar sudah tidak bisa memakannya lagi, melambaikan tangannya, menunjukkan bahwa Ivonne boleh berhenti.
Kaisar Mikael dan Raja Ralph maju dan melihat sekilas, mereka melihat bahwa bubur itu habis hampir setengah mangkuk, mereka semua menghela napas lega.
Tabib juga menghela nafas lega.
Paduka Kaisar menarik napas dalam-dalam, kemudian memandang Ivonne dan berkata: “Kamu melayani dengan cukup baik, beberapa hari ini, berada di sampingku untuk merawatku.”
Ivonne terus menunggu perkataan ini, dia membungkuk kemudian berlutut, “Baik!”
Kaisar Mikael awalnya ingin menentangnya, tapi jarang dia melihat Paduka Kaisar begitu bahagia, jadi dia membiarkannya.
__ADS_1
Ronald mendongak dengan sengit, memandang Paduka Kaisar dengan tidak berani mempercayainya, kemudian memandang Ivonne dan berkata: “Cucu juga ingin berada di sini untuk melayani kakek.”
Wajah Kaisar Mikael menggelap, “Sembarangan!”
Ronald menyadari sesuatu, tahu bahwa dia telah mengucapkan kalimat yang salah, menundukkan pandangannya, “Aku salah berucap!”
Ivonne juga tahu mengapa Kaisar Mikael tiba-tiba marah.
Dia juga memiliki sedikit pemahaman tentang jaman ini, berasal dari ingatan pemilik tubuh yang asli.
Setelah berpikir sesaat, dia mengerti mengapa Kaisar Mikael bisa begitu marah.
Sekarang posisi Putra Mahkota masih belum ditetapkan, Paduka Kaisar adalah orang yang paling memenuhi otoritas untuk memiliki Putra Mahhota, Kaisar Mikael pasti berpikir Ronald menginginkan posisi itu jadi ingin tinggal di sini untuk melayani Paduka Kaisar.
Membuat Ronald keliru dikira oleh Kaisar Mikael bahwa dia memiliki ambisi ini, Ivonne sama sekali tidak merasa bersalah, orang ini … memang benar-benar menyebalkan.
Paduka Kaisar menyela dan berkata dengan datar: “Jika benar-benar berbakti, datang saja ke istana setiap hari untuk mengucap salam.”
“Baik!” Kata Ronald sambil membungkukkan badannya.
Orang-orang di aula luar ketika mengetahui bahwa Ivonne ditinggalkan sendirian di Istana Pearlhall untuk merawat Paduka Kaisar, semuanya terkejut sehingga tidak bisa berbicara.
Clara menundukkan wajahnya dan tersenyum: “Kakek tidak apa-apa itu lebih penting, siapa pun yang melayani itu sama saja.”
Yang lainnya tidak berpikir demikian, yang datang duluan yang akan mendapatkannya, siapa yang tidak mengerti kebenaran ini? Kakek sudah sekarat, jika mendapatkan perawatan dari Istri Raja Ronald, maka itu akan memberi keuntungan pada Raja Ronald.
Ketika Ronald keluar, semua orang menatapnya dengan tatapan aneh, Raja Juno yang biasa begitu sombong hanya tertawa dan berkata dengan dingin: “Cara Raja Ronald benar-benar bagus!”
Wajah Ronald meredup, “Aku tidak mengerti maksud Kakak tertua, mohon katakan dengan jelas.”
Raja Juno berkata: “Kamu mengerti dalam hatimu.”
Setelah selesai berbicara, dia membawa Permaisurinya dan pergi.
Semua orang melihat Raja Juno telah pergi, kemudian mereka juga ikut pergi, Raja Oscar maju untuk menghibur Ronald, “Kakak tertua memang mulutnya seperti itu, kamu jangan masukkan dalam hati.”
Ronald melihat sekilas pada Raja Oscar, Clara berdiri diam di samping Raja Oscar, keduanya begitu serasi satu sama lain, benar-benar pasangan, Ronald merasa hatinya tersumbat, jadi dia tidak mempedulikan Raja Oscar dan pergi.
Raja Oscar tersenyum, “Raja Ronald bahkan marah padaku juga.”
Clara berkata, “Takutnya, dia hanya ingin menyembunyikan dari orang-orang saja.”
Raja Oscar mengangkat tangannya, “Raja Ronald bukan orang seperti itu, ayo pergi, kita akan ke tempat Ibu untuk memberi salam.”
__ADS_1
Clara menundukkan pandangannya, menyembunyikan kecurigaan di matanya.