
Kereta kuda tiba-tiba berhenti.
Stanley membuka tirai, Rendi berkata dengan suara dalam, “Jangan keluar, ada masalah.”
Kepala Stanley yang baru dijulurkan langsung masuk kembali.
Ada sesuatu yang dengan cepat menerobos udara, yang melewati telinga Rendi dengan cepat.
Jika Rendi tidak menyampingkan badannya, panah ini pasti akan langsung menembus kepalanya.
“Ada pembunuh.” Rendi marah, meminta pelayan bergegas mempercepat laju kereta kuda, Rendi menangkis panah dengan menghunungkan pedangnya.
Ketika Ivonne mendengar ada seorang pembunuh, otaknya tiba-tiba tersadar.
Ingin membuat Indra mati, tidak hanya dengan cara meracuni saja.
Jika Ivonne mati, maka tidak ada yang bisa menyembuhkan Indra dan Indra pada akhirnya akan tetap mati.
Ivonne selalu merasa ada yang salah hari ini, ternyata tujuan musuh tidak hanya Indra tapi masih ada dirinya sendiri.
Pembunuh itu tidak banyak jumlahnya, dan lagi mereka tidak menampilkan wajah mereka, hanya melepaskan anak panah dan anak panah itu terbang dengan sangat cepat, itu bukan hujan panah, jadi Rendi menduga pembunuh itu hanya ada tiga orang.
Selama kuda tidak terkena panah dan terus melaju maka musuh juga tidak akan dapat mengejar, masih ada jalan untuk hidup.
Namun, hal yang ditakutkan benar-benar terjadi, mereka mendengar suara ringkihan kuda yang terkena panah, kedua kaki kuda itu langsung terjatuh dan kereta kuda langsung berguling terbalik.
Bibi Vera memeluk dan berhenti di depan Ivonne untuk melindunginya.
Tubuh Stanley berat, ketika terjatuh ke tanah dia kesulitan untuk bangkit berdiri, Ivonne melangkah maju untuk membantu, sebuah anak panah melesat cepat dan menembus kaki Ivonne.
Rasa sakit yang tajam seketika menyebar dengan cepat ke seluruh tubuh Ivonne.
Jalanan gelap gulita, lentera itu sudah terjatuh entah kemana, tidak ada penerangan, selama tidak mengeluarkan suara, maka pihak lain tidak akan dapat menemukannya.
Jadi walaupun Ivonne sudah kesakitan hingga air matanya sudah mengalir tapi dia tidak berteriak.
Sebuah panah lain kembali melesat dan langsung mengenai bahu Ivonne, Ivonne sangat kesakitan hingga hampir pingsan, menggertakkan giginya dan pada akhirnya Ivonne mengeluarkan suara kesakitan.
Bibi Vera ketakutan hingga dirinya menjadi panik.
Rendi menerjang ke arah anak panah itu dilesatkan, berteriak pada Bibi Vera, “Bibi, cepat bawa Permaisuri pergi.”
Kali ini, anak panah itu dibalut dengan api dan datang dengan sangat cepat.
Stanley akhirnya bangkit berdiri, berpikir ingin mengulurkan tangan memapah Ivonne, tapi anak panah api itu melesat dengan cepat, sama sekali tidak bisa membawa pergi Ivonne, panah ini langsung mengarah ke jantung Ivonne.
Bibi Vera menarik Ivonne dari belakang, hanya bisa menyaksikan panah api itu melesat, api panah itu memperlihatkan wajahnya yang pucat.
Bahu dan kaki Ivonne terkena panah, sama sekali tidak bisa bergerak, memejamkan mata dan menunggu anak panah itu melesat ke arahnya.
__ADS_1
Pada saat itu, Ivonne teringat akan Ronald.
Suara panah yang menembus daging terdengar, cairan hangat memercik di wajah Ivonne.
Ivonne membuka matanya, dengan samar melihat ada seseorang yang terjatuh di depannya, itu adalah Stanley.
Stanley menghadang panah itu!
Ivonne berteriak, “Kak Stanley!”
Stanley perlahan-lahan terjatuh dan berkata, “Daging gulung itu… harusnya kumakan habis.”
“Kak Stanley!” Ivonne pani, perlahan menyentuhnya dengan tangannya yang tidak terkena panah, menyentuh panah di tubuh belakang Stanley.
Astaga, anak panah ini menembus di bagian mana? Apa paru-paru belakang?
Rendi sangat ini sudah menemukan posisi musuh, ada tiga musuh, setelah bertarung beberapa saat, ketiganya mati.
Rendi bergegas kembali ke sisi Ivonne, pedang panjang itu meneteskan darah, nafasnya terengah-engah, lengan kirinya terus meneteskan darah, ketika menyerang, ada panah yang elintas melewati lengannya.
Rendi berusaha sekuat tenaga berteriak pada pelayan Stanley yang sudah ketakutan setengah mati, “Cepat pergi cari Yang Mulia Ronald!”
Pelayan itu akhirnya bereaksi kemudian pergi berlari.
“Permaisuri, apa kamu baik-baik saja?” Dalam kegelapan, nada suara Rendi telah berubah.
Ivonne merasa sangat kesakitan, pandangan matanya gelap, perlahan-lahan dirinya jatuh.
Kesadarannya menipis, Ivonne mendengar suara Ronald, Ronald dengan lembut menepuk-nepuk wajah Ivonne, suaranya sudah tercekat dan sudah hampir menangis, Ivonne sangat ingin membuka matanya dan mengatakan pada Ronald bahwa dirinya baik-baik saja, Ronald tidak perlu khawatir, tapi Ivonne bahkan tidak memiliki kekuatan untuk membuka kelopak matanya.
Kegelapan terus-menerus menyerang, seperti pusaran air yang besar, begitu mengerikan, Ivonne benar-benar sangat takut.
Ivonne tahu Ronald sudah menggendongnya, berlari dengan sangat cepat, Ronald terus memanggil namanya, tapi Ivonne benar-benar sangat kesakitan hingga Ivonne merasa dia ingin pungsan pun tidak bisa.
Ronald sudah hampir gila.
Ketika ada pelayan yang datang mencarinya dan mengatakan bahwa Ivonne bertemu dengan pembunuh, pada saat itu, Ronald benar-sangat panik.
Ronald langsung bergegas mengendarai kuda, kemudian segera memerintahkan orang untuk bergegas mengendarai kereta kuda ke sana.
Ketika Ronald melihat Ivonne tergeletak dalam genangan darah, jantungnya seakan hampir berhenti berdetak.
Ketika Ronald meninggalkan kediaman Indra hari ini, Ivonne masih tersenyum padanya, dan senyum itu selalu tercetak dalam benaknya seharian ini.
“Jangan tidur, ayo kita pulang.” Ronald menggendong Ivonne memasuki kereta kuda, suara Ronald sudah tercekat.
Ronald tahu bahwa situasi Kak Stanley juga sangat kritis, tapi Ronad sudah tidak mempedulikan begitu banyak.
Rendi pergi ke gerbang Istana untuk meminta bantuan, biasanya di kediaman Ronald ada Tabib, tapi beberapa hari ini Tabib itu telah kembali ke Istana.
__ADS_1
Namun gerbang istana sudah ditutup, penjaga gerbang istana juga tidak mau melaporkan, Rendi tak berdaya, tidak berani membuat masalah di istana, jadi hanya bisa pergi mencari Peter.
Ketika Peter mendengar laporan Rendi, dia terkejut dan bergegas mengendarai kudanya pergi ke kediaman Tabib Istana yang tidak sedang bertugas.
Tapi benar-benar aneh, beberapa Tabib yang tidak bertugas hari ini semuanya sakit, mereka muntah dan diare, ada masalah pada makanan yang dimakan para Tabib ini.
Begitu gerbang istana ditutup, tidak ada yang bisa masuk kecuali membawa perintah Kaisar, karena itu, para Tabib di dalam Istana juga tidak bisa keluar.
Para pangeran tidak memiliki surat perintah Kaisar, kecuali satu orang, yaitu Raja Ralph.
Peter bergegas mengendarai kuda mencari Raja Ralph, ketika Raja Ralph mengetahuinya, dia bergegas pergi ke istana dan meminta Tabib Istana untuk keluar dan datang ke kediamannya, itu saja sudah memakan waktu dua jam.
Stanley awalnya pernah memberi Ronald sebutir pil Golden purple, dan pil ini langsung diberikan Ronald untuk Stanley, untuk sementara waktu kondisinya bisa distabilkan.
Pil Golden purple ini bisa dibilang menyelamatkan Stanley, situasinya stabil sampai Tabib kerajaan tiba.
Permaisuri Stanley juga datang, dia cukup rasional dan tidak panik sama sekali, hanya menatapnya di samping, pada saat genting, dia juga maju untuk membantu.
Panah itu melewati paru-paru belakang, jika berbeda satu sentimeter lagi, maka panah itu akan menusuk paru-paru.
Tapi Stanley kehilangan banyak darah, dan lagi panah itu sangat berat, itu masih mengancam nyawanya.
Hal yang sama berlaku untuk Ivonne.
Ivonne kehilangan darahnya dengan cepat.
Meskipun Rendi sudah bergegas menotok sendi untuk menghentikan pendarahan, tapi Ivonne sudah kehilangan banyak darah ketika Rendi sedang berurusan dengan para pembunuh itu.
Ini adalah alasan utama mengapa Ivonne masih belum sadar sampai saat ini.
Ronald malam ini begitu kesakitan hingga mati rasa, dia memeluk Ivonne untuk membiarkan Tabib Istana mengeluarkan panah itu.
Ketika melihat darah memercik, tubuh Ivonne langsung lemas, ada jeda ketika Ivonne bernafas, Ronald berpikir Ivonne akan mati.
Sampai ketika Ronald melihat Ivonne bernafas, denyut nadi dan detak jantungnya masih ada, hatinya yang sangat panik itu akhirnya perlahan menjadi sedikit tenang.
Tapi situasinya sama sekali tidak baik, Ivonne masih tidak sadarkan diri, obat untuk menghentikan pendarahan tidak bisa diberikan, Ronald mengeluarkan kotak obat Ivonne, ingin mencari obat tapi tidak tahu mengapa kotak obat itu tidak menjadi besar ketika dikeluarkan.
Ronald berjaga di samping ranjang, dirinya seakan bagai kehilangan jiwanya, Ronald bahkan tidak berani mengedipkan matanya, dia takut jika dia mengedipkan matanya maka Ivonne bisa tiba-tiba tidak bernapas.
Otak Ivonne sebenarnya masih terus terjaga.
Ivonne tahu segalanya, hanya saja dirinya bagai ditekan oleh sesuatu, tubuhnya tidak bisa bergerak.
Tersadar juga bukan sepenuhnya tersadar.
Ivonne sangat takut, ada begitu banyak suara di telinganya, yang dilihatnya adalah pusaran hitam yang ingin menyedotnya, Ivonne mencoba melarikan diri dari pusaran itu, tapi setiap kali baru melarikan diri sedikit kemudian dengan cepat Ivonne kembali dihisap masuk.
Dunianya berputar.
__ADS_1