
Clara merasa Kakeknya terlalu khawatir, jadi dia berkata: “Kakek tidak perlu khawatir, Ivonne tidak akan bisa melepaskan diri dari tuduhan itu. Kondisi Paduka Kaisar sangat serius, sekarang terkena racun dan tidak sadarkan diri, mana mungkin masih bisa diselamatkan? Selama Paduka Kaisar meninggal, tidak peduli apa penyebab dia meninggal, Ivonne memiliki dosa karena telah mengobati Paduka Kaisar secara pribadi, tidak akan ada jasa baginya karena mengobati Paduka Kaisar.”
Di Istana, keadaannya sudah kacau, dia saja masih tidak mengerti dengan jelas, apalagi Ivonne.
Saat ini, situasinya sangat rumit, Ronald telah terlibat dikarenakan dituduh melukai dirinya sendiri, Kediaman Ronald bisa dibilang di ujung tanduk.
Memikirkan Ronald, Clara masih menyayangkan di dalam harinya, tapi demi hal besar mengorbankan hal kecil, itu adalah nasih Ronald.
“Jangan terlalu yakin, semuanya belum sampai di langkah terakhir, masih mungkin terdapat perubahan.” Gilang tiba-tiba menatapnya. “Masalah Paduka Kaisar diracuni, bukan kamu yang melakukannya kan?”
Clara terkejut. “Jelas bukan kamu yang melakukannya, bahkan jika memberiku nyali yang besarpun juga tidak berani meracuni Paduka Kaisar.”
Gilang pertama-tama mengangguk, menundukkan kelopak mata tuanya, “Baguslah jika bukan kalian yang melakukannya, aku akan menyelidikinya mengapa Ivonne bisa mengerti ilmu pengobatan, kamu keluarlah.”
Clara bangkit dan mengundurkan diri.
Keluar dari pintu ruang kerja, di luar matahari bersinar, memikirkan Ronald, hatinya masih tidak rela.
Tadinya Clara berpikir Ronald tidak akan pernah melupakan perasaannya, tapi dari percakapan di Menara Ivylane, Clara sudah bisa merasakan sikap dinginnya.
Apa dalam hati Ronald sudah ada Ivonne? Wanita dangkal itu mana layak untuk Ronald?
Menebak Ivonne mengobati penyakit Paduka Kaisar, itu setelah melihat cedera Ronald di kediamannya, dia mendengar Raja Oscar berkata bahwa lukanya diobati oleh Ivonne, jadi Clara berpikir sebelumnya kondisi Paduka Kaisar juga tiba-tiba membaik, seharusnya itu karena Ivonne juga bertindak mengobatinya.
Awalnya Clara terus memandangi ke arah dalam, Ivonne memang maju ke hadapan Paduka Kaisar, jika berdasarkan pada sifat Ivonne dulu, jika bukan karena ada tindakan, maka dia tidak akan pernah mendekat pada orang yang sekarat.
Meminta Bibinya untuk mencari tahu, itu memang sangat berbahaya, tapi sekarang masalahnya sudah seperti ini, tapi untungnya semuanya tebakannya benar.
Tersenyum melengkungkan bibirnya, dia dengan samar mengatakan pada pelayan di sebelahnya, “Pergilah untuk menghadang Hendra, bilang padanya untuk pegi ke Kediaman untuk mencariku.”
Pemikiran Hendra, apa mungkin Clara tidak mengerti? Dia perlu membantu Raja Oscar untuk mendapatkan bantuan, begitu berusaha untuk mendapatkan posisi itu, maka Hendra juga haris memberikan sedikit usaha.
Pelayan itu pergi setelah mendapat perintah.
Clara kemudian memerintahkan seorang Bibi, “Pergi beritahu Raja Oscar, bersiap kembali ke Istana.”
Bibi itu terpaku, “Bukankah akan kembali ke kediaman?”
“Kapan aku mengatakan akan kembali ke kediaman?” Clara melirik Bibi itu.
“Anda baru saja bukankah …”
__ADS_1
Clara dengan dingin berkata: “Kalau begitu biarkan dia menunggu, jika aku belum meninggalkan istana sampai malam, maka minta dia untuk datang lagi besok, beberapa hari seperti ini, jika dia memiliki kesabaran, maka aku akan menemuinya.”
Bibi itu bingung, “Mengapa Permaisuri berbuat seperti ini?”
Clara mengulas senyum dingin, “Aku ingin melihat sikap keluarga Hendra, biarkan Hendra menyadari bahwa dirinya di hadapanku hanyalah seekor anjing, hanya ketika dia menyadari hal ini, maka dia akan benar-benar setia padaku.”
Setelah selesai berbicara, Clara dengan anggun berjalan menuruni tangga batu dan berjalan langkah demi langkah keluar.
Di istana.
Malam harinya, Kaisar Mikael meminta Kasim David pergi untuk meminta Ivonne datang ke Istana Pearlhall.
Ronald menatap Ivonne, ada sedikit kekhawatiran di pandangan matanya, “Berhati-hatilah, jangan bertindak sembarangan.”
“Aku tahu.” Ivonne menjawabnya.
Ivonne merasa hatinya cukup hangat, Ronald bisa dikatakan tidak terlalu jahat.
Kasim David membawa Ivonne keluar dari pintu samping, tidak melewati ruang kerja kerajaan.
Ketika datang ke Istana Pearlhall, baru menyadari bahwa Kaisar Mikael dan Raja Ralph ada di sana.
Ibu Suri yang biasanya berjaga di sisi Paduka Kaisar tidak ada, Ratu juga tidak datang.
Ivonne memandang Lucky, kemudian memintanya diam, Lucky seketika menjadi tenang.
Ketika Raja Ralph melihatnya, dia tersenyum dan berkata: “Binatang kecil ini juga mendengarkan perkataanmu? Benar-benar aneh.”
Ivonne tersenyum, “Anjing itu mengerti manusia.”
“Benar juga, kalau tidak, bagaimana mungkin dia bisa membuat Paduka Kaisar begitu bahagia? Anjing ini terkadang melihat dengan lebih menyeluruh daripada manusia.” Kata Raja Ralph sambil berpikir, kemudian menatap Kaisar Mikael sekilas dengan samar.
Kaisar Mikael juga samar-samar melirik sekilas pada Raja Ralph, apa sedang mengatakan bahwa dirinya tidak bisa melihat secara menyeluruh?
Dia berkata pada Ivonne: “Karena kamu mengerti ilmu pengobatan, maka pergilah untuk memeriksa bagaimana kondisi Paduka Kaisar.”
Ivonne membungkukkan badan memberi hormat kemudian berjalan ke sana.
Bibi Vera dan Kasim Artur melangkah mundur, Ivonne melihat raut wajah Paduka Kaisar, kemudian bertanya pada Tabib di sebelahnya, “Apa Paduka Kaisar diracuni?”
Tabib Istana itu baru saja melihat kehebatan Ivonne ketika menolong Raja Ronald tadi, sikapnya juga menjadi sedikit lebih hormat, dia berkata: “Menjawab pertanyaan Permaisuri, Paduka Kaisar memiliki tanda-tanda keracunan.”
__ADS_1
“Bisakah kamu menunjukkan catatan pemeriksaanmu padaku?”
Tabib Istana mengambilnya dari dalam kotak obat dan menyerahkan pada Ivonne, “Silahkan Permaisuri lihat.”
Ivonne membukanya, melihat catatan kondisi Paduka Kaisar semalam, muntah darah dua kali, kemudian tidak sadarkan diri, denyut nadi lemah, bibirnya ungu, didiagnosis keracunan.
Keracunan apa, tidak tertulis di sini.
Dan resep obatnya ditulis di bawah, itu adalah resep obat herbal, Ivonne tahu bahwa itu adalah formula untuk mendetoksifikasi racun, tapi setelah diberikan resep obat ini tidak tertulis itu meringankan kondisi penyakitnya.
Dengan kata lain, obatnya tidak memiliki efek.
Ivonne terus membacanya, menemukan bahwa Paduka Kaisar terus menerus memakan pil yang bernama Pil Trinity.
“Pil Trinity ini dibuat dari apa?” Ivonne bertanya.
“Pil Trinity ini dirancang khusus untuk Ibu Suri, bisa mengobati masuk angin, meningkatkan kondisi tubuh, setelah Ibu Suri memakannya dia merasa obat ini baik, jadi memerintahkan untuk diberikan pada Paduka Kaisar, pembuatan Pil Trinity ada di halaman depan …” Tabib Istana maju dan membantu Ivonne membuka halaman depan, kemudian menunjukkannnya untuk dilihat oleh Ivonne.
Atractylodes, cinnabar, jujube kernel, cypress seed, angelica dan bahan penyulingan obat lainnya, memang obat yang aman, sama sekali tidak mencurigakan.
“Bisakah kamu menunjukkan padaku Pil Trinity ini?” Ivonne bertanya.
Kasim Artur berkata: “Ada di Istana, karena itu adalah obat yang sering diminum oleh Paduka Kaisar maka selalu disiapkan.”
Kasim Artur berjalan dan mengambiil sebuah kotak lalu memberikannya pada Ivonne, Ivonne membukanya, di dalam kotak itu terdapat 12 baris, 12 butir obat diletakkan di sana, sekarang sudah dikonsumsi sebanyak 10 butir, masih tersisa 2 butir.
Kasim Artur terpaku sesaat, “Hee? Seharusnya masih tersisa 3, mengapa bisa berkurang satu?”
“Berkurang 1?” Jantung Ivonne berdegup, “Apa kamu yakin?”
“Yakin, tiap harinya aku yang melayani Kaisar untuk meminum obat, terakhir kali aku memberikan obat, jelas-jeas ingat masih tersisa 3 butir.”
Ivonne dengan serius berkata: “Kasim Artur ingat kembali, apa benar tidak ada kesalahan? Ini masalah besar.”
Kasim Artur dengan tidak senang mengatakan: “Apa aku mungkin salah mengenai hal ini? Terakhir kali memberikan obat, Lucky tiba-tiba menggonggong, membuatku terkejut, obat itu bahkan jatuh ke lantai, setelah memungutnya aku lalu menaruhnya kembali, memastikan masih ada 3 butir.”
“Obatnya jatuh ke lantai? Bukankah dengan begitu urutannya menjadi kacau?”
“Memang mengapa jika urutannya kacau? Obatnya sama.” Kata Kasim Artur.
Ivonne berkata: “Takutnya belum tentu.”
__ADS_1
Ivonne meletakkan obat di atas meja, kedua obat itu ditempatkan secara terpisah, mengambil cangkir dan membuka obat itu, menghancurkannya dan melihat warnanya, Ivonne menarik napas dan mengerutkan kening. “Kaisar, tolong kamu lihat.”