
Tidak lama pintu ditutup, kemudian Ronald dibiarkan masuk.
Kali ini, Ronald berkata jujur, setelah berpikir dengan jernih di luar pintu satu-satunya alasan Ivonne marah karena Ronald bertemu dengan Clara berduaan.
Ronald berjanji dengan jujur, “Di kemudian hari aku tidak akan pernah bertemu berdua dengannya lagi.”
Ivonne menatapnya, “Aku benar-benar tidak cemburu kali ini, aku juga bukan marah karena kamu tidak mengatakan yang sebenarnya padaku, tapi aku merasa kamu tidak cukup waspada. Bahkan jika kamu merasa kamu sudah tidak memiliki perasaan seperti itu lagi padanya, tapi kalian tumbuh besar bersama, setidaknya masih ada perasaan itu, dia ingin menggunakan perasaan ini untuk menjebakmu dan juga mencelakakanmu, itu merupakan hal yang mudah baginya. Apa kamu sudah melupakan pelajaran di kediaman Tuan Putri?”
Ivonne menggunakan dirinya sendiri sebagai bahan pengajaran negatif untuk mengajarinya, bisa dianggap dirinya benar-benar bekerja keras.
Ronald sangat terharu, tapi di saat bersamaan juga merasa bahwa Ivonne agak tak tahu malu.
Apa Ivonne masih memiliki malu mengungkit kejadian di kediaman Tuan Putri?
Tapi Ronald takut mengatakan hal itu, jadi dirinya dengan patuh menerima ajaran.
Ronald benar-benar memikirkannya pada saat itu, meskipun ada orang di luar, selain Rendi sisa orang lainnya adalah orang Clara, jika saat itu Clara melakukan sesuatu maka kemungkinan besar namanya akan kembali hancur.
Dan Clara juga bukannya tidak akan melakukannya, saat itu mungkin Clara terpaku karena perkataannya dibungkam oleh Ronald.
Ronald menanggalkan pakaian Ivonne satu per satu, “Apa yang dikatakan Permaisuri benar, aku akan lebih waspada di kemudian hari, sekarang berbaringlah, benar, begitu saja dan jangan bergerak …”
Ivonne memukul tangan Ronald dengan marah, “Bisakah otakmu tidak memikirkan hal semacam ini terus?”
“Hal yang mana?” Tangan Ronald sibuk, bibir juga sibuk dan itu membuat Ivonne sangat kesal.
“Hmmph …” Bibir Ivonne dibungkam, dirinya hanya bisa memelototkan matanya dan memprotes tanpa suara.
Setelah adegan aksi percintaan, keduanya tidur dengan saling berpelukan.
Keesokan harinya, pasangan itu berangkat bersama, Ivonne pergi ke kediaman Indra dan Ronald pergi bekerja, setelah membereskan barang-barangnya Ronald memasuki Istana untuk melapor.
Selir Renata masih berada di kediaman Indra, dia sangat terkejut mendengar kabar bahwa Oscar diserang semalam, dia berpikir para Pangeran diserang beberapa kali berturut-turut, ini sudah pasti ada seseorang yang sedang merencanakan konspirasi yang sangat besar, dia khawatir setelah putranya pulih maka akan menderita musibah ini juga.”
Jadi dia terus bertanya pada Ivonne, ingin Ivonne bertanya pada Ronald apa pihak Jingzhaofu sudah menangkap si pembunuh atau belum.
Ronald memasuki istana dan melaporkan pada Kaisar Mikael mengenai insiden gerbang kota dan juga penyerangan Oscar.
__ADS_1
Insiden di gerbang kota disebabkan oleh persiapan Clara yang tidak memadai dan juga penundaan yang terlalu lama hingga menyebabkan insiden itu terjadi.
Mengenai penyerangan, tidak ada bukti nyata untuk membuktikan Clara yang melakukannya, tapi Ronald menjelaskan analisisnya.
Kaisar Mikael mendengarnya, terdiam beberapa saat sebelum akhinya berbicara dengan perlahan, “Korban yang terluka di gerbang kota, kamu pergilah ke rumah mereka untuk memberikan sejumlah uang untuk pengobatan dan pemulihan mereka, dan juga aturlah penempatan hidup mereka untuk sementara waktu, mengenai si pembunuh, terus selidiki, analisismu tidak bisa digunakan sebagai bukti.”
Ronald tahu kasus penyerangan ini akan menjadi seperti ini, tapi bagaimana mengurus insiden di gerbang kota? Bagaimana cara menjelaskannya?
“Ayah, mengenai kasus gerbang kota, begitu banyak orang yang menjadi korban, setidaknya harus memberi mereka penjelasan, apa Ayah…” Ronald menatap Kaisar Mikael, menunggunya untuk berbicara.
Sebenarnya tidak butuh diberi hukuman karena niat Clara itu awalnya baik, selama diperintahkan untuk ditegur, mengatakan Ckara tidak melakukannya dengan baik, melakukan hal yang salah, kemudian meminta Clara untuk memberikan sejumlah uang pada korban yang terluka, dengan begitu baru bisa menenangkan badai ini.
Kaisar Mikael berpikir sejenak kemudian berkata, “Siapa penjaga di gerbang kota hari itu?”
“Roy!” Ronald sudah menyelidiki situasinya dan mengetahui nama penjaga itu, insiden itu bisa dikontrol dengan begitu cepat karena ada andil Roy, Ayah harusnya memberi penghargaan atas jasa Roy.
Kaisar Mikael berkata dengan datar: “Ya, dia akan dianggap bertanggung jawab atas pengawasan yang lemah hingga terlambat menyelamatkan, pekerjaannya ditangguhkan dan akan diselidiki.”
Ronald begitu terkejut mendengar perkataan Kaisar Mikael, “Ayah, Roy memiliki jasa!”
“Lalu siapa yang bersalah?” Kaisar Mikael menatap Ronald dengan tidak senang.
“Lakukan apa yang kuminta.” Kaisar Mikael memijat pelipisnya sendiri, “Pergilah.”
Ronald menggelengkan kepalanya, “Tidak, Ayah, aku tidak bisa menghukum orang yang memiliki jasa.”
Kaisar Mikael berkata dengan marah: “Lalu apa kamu sedang melawan perintahku?”
“Ayah.” Ronald melangkah maju dan dengan tulus memohon, “Roy benar-benar berjasa, jika menyalahkan orang yang berjasa, itu akan membekukan hati ribuan orang.”
Kaisar Mikael menatapnya dengan pandangan marah, “Jika kamu tidak menangani masalah ini maka banyak orang yang bisa melakukannya, pikirkan sendiri baik-baik, keluarlah!”
Ronald masih ingin berbicara, tapi Kasim David sudah melangkah maju dan berkata: “Aku akan mengantar Yang Mulia.”
Kasim David memberi isyarat pada Ronald untuk berhenti berbicara.
Seketika Ronald tersadar, mengetahui temperamen Ayahnya, jika masih menentangnya maka Ronald mungkin tidak akan bisa memperjuangkan keadilan bagi Roy.
__ADS_1
Ronald kemudian undur diri, “Aku undur diri lebih dulu.”
Kasim David mengantarnya keluar, ketika berada di luar pintu, Kasim David berkata dengan pelan: “Subuh tadi, orang dari kediaman Oscar memerintahkan seseorang untuk memasuki Istana mengabarkan bahwa Permaisuri Clara sedang hamil.”
Tatapan mata Ronald sangat tenang, “Aku mengerti, terima kasih Kasim David sudah memberitahuku!”
Kasim David menghela nafas pelan, “Yang Mulia pergilah, penjaga yang bernama Roy itu memang akan tertindas untuk sementara waktu, Kaisar tahu akan hal itu tapi ketika masalah sudah mereda maka dia akan mendapatkan kompensasi di kemudian hari.”
Ronald hanya bisa tertawa dingin di dalam hatinya, perkataan akan mendapat kompensasi di kemudian hari, tapi kalimat lambat melakukan penyelamatan itu akan menyakiti hati pengawal itu.
Ronald tidak kembali ke birokrat, dia masih belum memikirkan bagaimana menjelaskannya kepada orang-orang di birokrat.
Masalah hari itu dilihat oleh banyak perwira dan tentara dari Jingzhaofu, Roy benar-benar melakukan yang terbaik, jika Roy dinyatakan bersalah maka semua orang yang ada di Jingzhaofu akan merasa hal itu sulit dipercaya.
Ronald juga tidak pulang, sepertinya Ivonne malah akan lebih emosional dibanding dirinya.
Dalam kebimbangan, Ronald pergi ke Akademi kekaisaran untuk mencari Timothy.
Timothy mengenakan pakaian berwarna putih yang berkibar, wajahnya begitu lembut bagai giok, mendengarkan cerita Ronald tanpa ada emosi sedikitpun.
Timothy meletakkan meja teh kemudian dia berkata: “Sekarang semua pangeran tidak memiliki putra, posisi pangeran mahkota masih belum ditentukan, Permaisuri Clara sedang hamil sekarang, hati Kaisar mungkin sudah berpihak dan ingin menetapkan Raja Oscar sebagai pangeran mahkota jadi Permaisuri Clara tidak boleh memiliki Noda, Yang Mulia harusnya mengerti.”
Ronald berkata dengan jengkel: “Aku mengerti, tapi bahkan jika tidak menghukum Permaisuri Clara setidaknya jangan menyalahkan Roy.”
“Harus ada seseorang yang bertanggung jawab atas masalah ini, Roy adalah penjaga gerbang kota, dirinya paling tepat untuk memikul tanggung jawab ini.” Kata Timothy.
Ronald tidak setuju, “Aku tidak sanggup untuk menghukum Roy.”
Ronald sendiri dulunya adalah seorang komandan militer, dia mengetahui betapa sulitnya bagi komandan militer untuk bisa naik pangkat, jika tidak ada perang di negara ini maka beberapa komandan militer mungkin akan berhenti pada posisi mereka saat ini sepanjang hidup mereka.
Tapi begitu ada perang yang terjadi di negara ini, mereka harus mempertaruhkan nyawa mereka untuk bisa mendapatkan kesempatan untuk kenaikan pangkat, hanya saja berapa banyak jiwa para tentara yang mendapatkan penghargaan setelah kematian mereka.
Pada hari itu begitu banyak orang yang hadir, mereka semua melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Roy berusaha mati-matian untuk menyelamatkan orang-orang, mereka itu tidak dapat dibodohi.
Jika Roy dihukum, itu akan menjadi lelucon besar macam apa?
“Kamu itu biasanya selalu cerdas, cepat cari ide untukku.” Ronald tampak marah ketika melihat Timothy yang seakan merasa ini tidak ada hubungannya dengan dirinya.
__ADS_1
Timothy meneguk teh dan dengan tenang berkata, “Bukannya tidak ada cara, hanya saja itu sedikit beresiko, jadi tergantung Yang Mulia berani atau tidak.”
Ronald menggebrak meja, “Apanya yang tidak berani? Cepat katakan!”