
Ketika melihat Ivonne meneteskan air matanya, mata Ronald juga memanas kemudian Ronald memeluk Ivonne dan tidak tahu harus berkata apa.
“Ronald, aku merindukan keluargaku, aku ingin pulang.” Ivonne menangis.
Berapa banyak wanita yang bisa pulang ke rumah keluarganya setelah menikah?
Berapa banyak wanita yang ketika hamil, Ibunya datang menjenguk dengan membawa begitu banyak barang? Membawa barang untuk cucunya, mengatakan hal yang perlu diperhatikan ketika hamil. Ivonne dilempar di jaman yang dia tidak tahu, tidak akan pernah bisa bertemu dengan Ibunya lagi. Apa Ibunya tahu dirinya ada di sini?
Ronald berpikir Ivonne merindukan Neneknya kemudian bergegas menyeka air mata Ivonne dan berkata, “Baik, aku akan meminta Letty untuk mengundang Nenek, aku akan memintanya datang dan tinggal di sini menemanimu.”
Ivonne menggelengkan kepalanya dan menangis dengan semakin sedih.
Ronald tidak tahu harus berbuat apa, dirinya tidak memiliki cara untuk membantu Ivonne, tidak ada gunanya dirinya mengucapkan kalimat untuk menenangkan.
Bibi Linda bergegas melangkah masuk, raut wajahnya sedikit berubah dan berkata, “Yang Mulia, Paduka Kaisar tiba!”
Ronald membeku kemudian mendongak, “Apa?”
“Ya, dia sudah berada di luar, Bibi Vera sedang menyambutnya di luar.” Bibi Linda berkata dengan gemetar.
Astaga, sudah berapa lama Paduka Kaisar tidak keluar dari Istana? Dan ternyata Paduka Kaisar datang untuk menjenguk Permaisuri?
Ivonne menghentikan tangisnya dan menatap Ronald.
Ini …… bagaimana ini mungkin?
Dan lagi ini terlalu … terlalu mengejutkan.
Bahkan jika Ibu Suri, Ratu dan Selir Prilly datang, tidak mungkin jika Paduka Kaisar yang datang kemari.
“Datang secara pribadi?” Tanya Ronald.
“Tidak, datang dengan membuka jalan secara terhormat.”
Ronald berkata pada Ivonne: “Aku akan keluar sebentar.”
Ronald bergegas berlari keluar.
Ketika berada di luar, Ronald benar-benar melihat Kakeknya itu datang bersama Kasim Artur.
Ada pelayan juga yang mengikuti, momentumnya sangat besar.
Ronald berjalan untuk memberi hormat, “Aku memberi salam untuk Kakek.”
Paduka Kaisar mengenakan jubah naga hitam dengan mahkota dan jenggot yang sudah dicukur, terlihat sangat energik, langkahnya juga begitu stabil, sama sekali tidak terlihat merupakan orang yang sudah sakit lama.
“Aku punya waktu senggang hari ini jadi aku berjalan-jalan keluar dari istana, tadi aku baru saja pergi ke rumah Indra dan sekalian datang kemari ke tempatmu.” Paduka Kaisar melihat sekeliling dan berkata, “Hmm, kediamanmu lumayan.”
__ADS_1
Ronald benar-benar kagum, Kakeknya ini bahkan sudah memikirkan alasan untuk keluar dari Istana, tidak akan membuat orang lain merasa bahwa dirinya sengaja datang untuk menjenguk Ivonne, hati Ronald tanpa sadar menghangat.
Ronald membantu memapah Kakeknya itu berjalan perlahan ke aula utama, Kakeknya kemudian bertanya dengan santai: “Oh iya, kudengar Ivonne sedang hamil, apa benar?”
Ronald menjawab: “Ya.”
“Bagaimana kondisinya?” Paduka Kaisar duduk kemudian bertanya pada Ronald.
Ronald berkata dengan sedih: “Tidak begitu baik, muntah, pusing, tidak bisa makan.”
Paduka Kaisar berkata dengan datar: “Anak muda sekarang memang tidak sanggup menanggung penderitaan, bukankah hanya mengandung anak saja malah memiliki begitu banyak masalah, benar-benar sangat manja!”
Ronald cemberut, “Kakek, kamu belum pernah hamil, bagaimana kamu bisa tahu bahwa dia itu manja? Ivonne benar-benar merasa tidak nyaman.”
Paduka Kaisar mengangkat tangannya dan berkata: “Walaupun tidak mengalaminya tapi setidaknya aku tahu bukan? Aku sudah pernah melihat banyak orang yang hamil.”
Kakeknya ini waktu itu benar-benar hebat, paling banyak adalah tahun itu, Kakeknya ini memiliki dua putra dan tiga putri yang lahir dalam 1 tahun.
Tapi, hanya di tahun itu saja, sejak saat itu tidak ada pergerakan lagi.
Mungkin bisa dikatakan melahirkan beberapa anak dalam beberapa tahun ke depan sekaligus dalam setahun.
Tapi Kakeknya ini memiliki beberapa putra saja, dan hanya Kaisar Mikael yaitu Ayahnya yang memiliki 9 putra, sedangkan para pangeran lainnya semuanya hanya melahirkan anak perempuan.
Tadinya Kakeknya ini merasa itu tidak masalah, bukankah masih ada 9 putra Kaisar lainnya? Bagaimanapun keluarga kerajaannya ini akan tetap memiliki pewaris.
Indra sakit, Gerald buta, Robert si bungsu masih di bawah umur, dan para pangeran lain yang sudah menikah masih belum melahirkan putra seorang pun.
Meskipun Paduka Kaisar tidak mengucapkannya tapi dia diam-diam cemas memikirkannya, di depan Kaisar Mikael, dia terkadang mengungkit masalah ini.
Paduka Kaisar cemas, tentu saja Kaisar Mikael sebagai anak yang berbakti juga ikut cemas, itulah sebabnya ada yang berspekulasi bahwa siapa pun yang melahirkan seorang putra akan menjadi pangeran mahkota.
Ronald tidak berbicara apa-apa, takut dirinya akan bersikap tidak sopan.
“Bawa kemari!” Paduka Kaisar berteriak pada Kasim Artur.
Kasim Artur membawakan wadah makanan dari pelayan di belakangnya kemudian menyerahkannya pada Bibi Vera, ” Ini adalah hadiah yang diberikan oleh Paduka Kaisar untuk Permaisuri, tolong Bibi bawakan untuk dimakan oleh Permaisuri.”
Bibi Vera menerimanya kemudian menghela nafas dengan pelan: “Aku khawatir akan menyia-nyiakan cinta Paduka Kaisar, hari ini apa yang dimakan Permaisuri semuanya dimuntahkan.”
Kasim Artur berkata: “Kamu hanya perlu membawanya ke sana, memakan sesuap itu sudah bisa dikatakan tidak menyia-nyiakan niat baik Paduka Kaisar.”
Bibi Vera mengambilnya kemudian memberi hormat dan undur diri.
Bibi Vera membawa wadah makanan itu kemudian Ivonne bertanya: “Apa Kakek sudah pergi?”
“Belum, ada di luar, dia membawakanmu makanan, Permaisuri makanlah sedikit, tidak perlu makan terlalu banyak, sebagai rasa terima kasih saja.” Kata Bibi Vera.
__ADS_1
Ivonne tersenyum dengan getir, “Aku benar-benar tidak mau makan.”
Bibi Vera membuka wadah makanan itu dan melihat semangkuk sup manis di dalamnya, berwarna putih dan aromanya sangat harum, seperti aroma kelapa.
Bibi Vera membawakannya dan berkata, “Makanlah sedikit.”
“Apa ini air gula? Astaga, aku makin tidak ingin memakannya.” Ivonne mengerutkan keningnya dengan dalam.
Bibi Vera mengambil sendok, kemudian memasukkan sendok itu ke dalam dan mengeluarkannya, “Permaisuri jilat sendok itu saja, itu bisa dianggap sudah memakannya.”
Ivonne tersenyum, “Bukankah itu tindakan asal?”
“Itu sudah bisa dikatakan memakannya, yang pasti tidak mengecewakan niat baik Paduka Kaisar.” Bibi Vera berkata sambil tersenyum.
Ivonne mengambil sendok dan menjilatnya, tertegun sesaat kemudian mendongak dan menatap Bibi Vera, “Ini tidak manis.”
Ivonne mengangkat tubuhnya dan duduk di tepi ranjang, mengambil mangkuk itu dan meminumnya langsung tanpa sendok.
Dalam satu tarikan napas sudah meminum sebagian besar isi dari mangkuk itu.
Bibi Vera sangat cemas, takut Ivonne nanti akan muntah, jadi dia bergegas mengambil baskom.
Ivonne memegang dadanya kemudian bersendawa, sebenarnya dia masih ingin meminumnya tapi dirinya tidak bisa minum terlalu banyak, rasa setelah muntah itu sulit untuk dilupakannya.
“Tidak muntah?” Bibi Vera meletakkan baskomnya, menyeka tangannya kemudian mengelus punggung Ivonne.
Ivonne berkata: “Ini sangat lezat, aku tidak tahu apa itu, ada aroma kelapa, ada sarang burung di dalamnya, sedikit manis tapi lebih terasa segar, rasa mual di hatiku seketika hilang.
Bibi Vera bahkan tidak bisa menahan tangisnya, selama 7 atau 8 hari terakhir, Ivonne benar-benar memuntahkan apa yang dia makan, bahkan Ivonne telah kehilangan banyak berat badannya.
“Aku ingin keluar untuk bertemu dengan Kakek!” Kata Ivonne.
“Permaisuri tidak boleh pergi, harus beristirahat di ranjang.” Kata Bibi Vera sambil menekan bahu Ivonne.
Ivonne berkata: “Kamu siapkan tandu untuk membawaku keluar.”
Bibi Vera ragu-ragu, Ivonne menarik tangannya dan memohon: “Aku ingin berbicara dengan Kakek.”
Ivonne benar-benar bosan, setelah sekian hari berbaring di ranjang, hidupnya itu benar-benar membosankan.
Hal baik jika bisa keluar dan menghirup udara segar.
Bibi Vera melihat wajah Ivonne yang begitu memohon, jadi hanya bisa berkata: “Baiklah.”
Bibi Vera keluar dan memerintahkan orang untuk mempersiapkan tandu, dengan berhati-hati memapah Ivonne naik ke atas dan mengingatkan bawahannya, “Harus berhati-hati ketika berjalan di lorong, tidak boleh berjalan terlalu cepat, harus selangkah demi selangkah.”
“Baik!” Jawab kedua bawahan itu.
__ADS_1
Paduka Kaisar dan Ronald mengobrol di aula utama, saat Paduka Kaisar menanyakan situasi Ivonne, Ronald merasa pahit, mengatakan bahwa Ivonne benar-benar menyedihkan akhir-akhir ini, Kasim Artur yang mendengarnya pun merasa sedih.