Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan

Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan
Bab 139. Kemajuannya Tidak Buruk


__ADS_3

Hari ini Ronald dan Peter bersama-sama mengantar Ivonne ke kediaman Indra.


Kedua orang itu begitu lengket, hingga membuat Peter memutar bola matanya.


“Sepertinya malam ini tidak membutuhkanku untuk mengantar?” Kata Peter dengan datar.


“Ya, hari ini aku yang akan menjemputnya, kamu bisa mengurus urusanmu.” Kata Ronald.


Peter merasa senang, lagipula hari ini wajahnya juga tidak bisa diperlihatkan pada orang lain, jadi lebih baik dia bersembunyi.


Keduanya turun dari kereta kuda bersama-sama, berjalan masuk ke dalam, Ronald mengingatkan Ivonne, “Hari ini harus beristirahat, ada begitu banyak kamar di kediaman Indra. Kamu atur orang untuk merawatnya, setidaknya tidurlah selama satu hingga dua jam, mengerti?”


“Aku tahu, kamu sudah mengatakannya sepanjang jalan.” Ivonne menatap Ronald dengan tidak berdaya.


“Baiklah, kalau begitu aku tidak akan mengatakannya lagi, kamu harus mengingatnya.” Ronald tersenyum, dia memang agak sedikit berlebihan.


Indra sangat jarang melihat kedua orang itu datang bersama-sama. Bahkan sudah beberapa hari tidak melihat mereka muncul bersama di ruangan ini.


Terakhir kali itu ketika mereka berdua bertengkar di sini, membuat Ivonne begitu tidak bersemangat selama beberapa hari berikutnya, bahkan tidak mengucapkan kata-kata lebih.


Ronald hari ini dengan sangat patuh meminta Ivonne untuk mengambilkan penutup, kemudian Ivonne menyerahkannya pada Ronald, “Tidak perlu memakainya lagi dalam beberapa hari ini, kurang lebih dalam setengah bulan, penularannya akan berkurang dan sudah bisa diabaikan.”


Ronald senang, “Kalau begitu apa itu berarti Indra sudah sembuh?”


“Masih harus melanjutkan perawatan, setidaknya dalam enam bulan tidak boleh berhenti meminum obat.” Ivonne masih seperti biasanya, mengeluarkan stetoskop dan memeriksa Indra.


“Bahkan jika meninggal setelah enam bulan kemudian, aku juga sudah merasa untung.” Indra secara otomatis menaikkan pakaiannya, gerakannya yang sudah terbiasa dilakukan sejak lama, dia juga sudah familiar dengan prosesnya.


“Jangan bicara sembarangan.” Kata Ronald.


Selir Renata masuk sambil tersenyum, “Ya, mulutnya itu memang benar-benar suka berbicara sembarangan.”


Ronald bergegas bangkit, “Aku memberi salam untuk Ibu Renata.”


Selir Renata memandang Ronald dengan penuh senyum, “Kamu begitu sibuk tapi masih meluangkan waktu menjenguk adikmu ini, benar-benar memiliki hati.”


“Sudah seharusnya.” Ronald menatap sekilas pada Ivonne, matanya penuh dengan senyum.


“Kalau begitu pergilah bekerja, tidak usah menjemputku begitu awal malam ini.” Desak Ivonne.


“Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu.” Ronald berjalan mendekat, ingin mencium Ivonne sekilas, tapi Selir Renata ada di sana, jadi Ronald tidak bisa melakukannya, hanya bisa diam-diam mencubit pergelangan tangan Ivonne sekilas, Ivonne mendongak dan tersenyum pada Ronald kemudian mengawasinya keluar.

__ADS_1


Renata memandang Ivonne, “Ronald bersikap begitu baik padamu, kalian bisa dianggap sudah berbahagia.”


Meskipun Ivonne sangat lelah hari ini, tapi dia juga sangat senang, mengingat kejadian tadi malam, wajahnya masih saja memerah dan dengan pelan berkata, “Ya, dia sangat baik padaku.”


Indra menghela nafas, “Jika aku benar-benar sembuh, aku harus menikahi seorang wanita terlebih dahulu.”


“Kalau begitu cepatlah sembuh, Ibumu ini sangat ingin menggendong cucu.” Selir Renata tersenyum sambil memakai penutup, duduk di samping Indra, “Bagaimana perasaanmu tadi malam? Apa kamu batuk?”


“Sudah tidak batuk.” Kata Indra.


Renata sangat bersyukur, menatap Ivonne dan berkata, “Apa Indra bisa dikatakan sudah sembuh?”


Ivonne berkata, “Masih harus terus meminum obat, bisa dikatakan sudah lepas dari ancaman nyawa.”


“Itu sangat bagus!” Renata benar-benar sangat lega.


Indra berkata, “Bu, kamu juga sudah mendengar Kak Ivonne mengatakan aku baik-baik saja, kamu cepatlah kembali ke istana untuk menemani Ayah.”


“Ayahmu mana bisa dibandingkan denganmu? Putraku ini adalah yang paling penting.” Renata dari awal tidak memiliki niat untuk bersaing mendapatkan kasih sayang dari Kaisar, dia hanya memikirkan putranya, setelah putranya jatuh sakit, bersaing untuk mendapatkan kasih sayang itu tidak ada artinya baginya, mendapatkan kasih sayang dari sang Kaisar tapi malah kehilangan anaknya, itu bukanlah hal yang membahagiakannya.


Ivonne diam-diam mendengarkan pembicaraan antara ibu dan anak itu, ketika Ivonne sedang mempersiapkan jarum suntik dan obat-obatan, Ivonne kemudian berkata pada Indra, “Julurkan tanganmu kemari.”


Indra kemudian mengulurkan tangannya, Selir Renata juga bangkit dan menyingkir.


Ketika melihatnya sekarang, Renata sudah mengetahui bahwa itu adalah obat yang untuk menyelamatkan nyawa.


Tentu saja, Renata tidak terpana akan kebaikan ini, dia masih bersikap hati-hati dan waspada pada Ivonne dan Ronald.


“Permaisuri Juno tidak datang selama beberapa hari ini.” Kata Renata tiba-tiba.


Ivonne bahkan tidak mengangkat kepalanya, kemudian berkata, “Aku sama sekali tidak merindukannya.”


“Kudengar dia sakit.” Kata Renata.


“Sakit?” Ivonne bertanya, “Sakit apa?”


Renata menggelengkan kepalanya, “Tidak tahu, aku hanya tahu ketika aku pergi untuk mengunjungi Ratu kemarin, dia tidak pergi ke sana, Selir Yunita mengatakan bahwa dia sakit dan tidak bisa memasuki istana.”


Kemarin adalah tanggal 15, menurut aturan, para Permaisuri harus memberi salam pada Ratu.


Ivonne dibebaskan oleh Kaisar karena Ivonne harus merawat penyakit Indra.

__ADS_1


Karena Permaisuri Juno, suasana hati semua orang tidak begitu baik, terutama ketika Renata memakinya beberapa kata.


Indra mengerutkan keningnya, “Ibu, sudahlah, jangan berkata terlalu banyak, ada mata-mata di mana-mana.”


Indra sudah terbiasa, jadi dia merasa lebih baik tidak mencari masalah.


“Sudahlah?” Renata mendengus dan memandang ke arah Indra kemudian berkata, “Kamu masih belum berkata jujur pada Ibu, sebenarnya apa yang dikatakannya di depanmu?”


“Itu sudah berlalu, tidak perlu mengungkitnya lagi, aku juga tidak bersikap ceroboh lagi.” Indra menatap obat yang perlahan-lahan disuntikkan ke dalam tubuhnya, menghela nafas pelan, sudah sakit sekian lama, dia memang sedikit ceroboh.


Untungnya, Kak Ivonne tidak menyerah akan dirinya karena sikapnya itu.


Ivonne menarik jarum, memandang Indra dan berkata, “Sebenarnya aku juga ingin tahu, sebenarnya apa yang dikatakannya?”


Ivonne ingin memahami apa yang dikatakan Permaisuri Juno, wanita ini benar-benar sulit untuk dipahami dengan jelas.


Terkadang kamu akan merasa dia sangat dangkal, terkadang kamu akan merasa dia sangat tebal muka, terkadang kamu akan merasa dia sangat baik, dan terkadang kamu juga akan merasa bahwa dia sangat tidak tahu malu.


Ketika Indra mendengar Ivonne juga berkata seperti itu, dia hanya bisa berkata, “Seperti yang dikatakan oleh Zico, Ayah sudah menyerah akan kondisiku, pihak Istana sedang mempersiapkan pemakamanku, Ayah bahkan diam-diam meminta kakak untuk bertanya padaku apa harapan terakhirku, dan juga berkata Ayah membiarkan Kak Ivonne datang kemari hanya untuk menenangkanku sementara waktu, Kak Ivonne sebenarnya tidak paham akan pengobatan, hanya memberiku harapan palsu dan membuatku bahagia selama beberapa hari sisa terakhir hidupku.”


“Lalu kamu percaya begitu saja.” Ivonne mengeluarkan termometer dan meletakkannya di bawah ketiak Indra, mengeluarkan catatannya dan menunggu untuk mencatat suhu tubuh Indra yang diukurnya tiga kali sehari.


“Pada saat itu aku memang sudah benar-benar sekarat.” Indra mengangkat bahunya, “Orang yang sudah lama sakit terus menunggu datangnya hari itu, tidak datang sekian lama membuat hati tidak tenang.”


Sekarang Indra tidak peduli, tapi pada saat dia memang merasa tersiksa setiap harinya.


Renata memaki dan mengutuk dengan kejam, “Benar-benar berharap dia mati karena sakit, aku akan mengutuknya sekali sehari.”


“Tiga puluh enam koma tujuh derajat.” Ivonne melepaskan termometer, kemudian menulis catatan, “Ini bagus, tidak demam lagi.”


“Ini hal baik bukan?” Renata tidak mempedulikan makiannya lagi, dia langsung bergegas melihat termometer itu, tapi bagaimana cara melihat benda itu? Renata tidak melihat angka tiga puluh enam koma tujuh derajat itu.


“Ya, kemajuannya tidak buruk.” Ivonne berkata sambil mengangguk.


Renata sangat senang, akhir-akhir ini dia mendengar perkataan Ivonne yang seperti ini setiap harinya, hatinya merasa sangat nyaman.


Ivonne membiarkan Zico melayani Indra meminum obatnya, Ivonne terus mengawasinya, Indra tidak bisa menahan senyumnya, “Kak Ivonne tenang saja, aku tidak akan memuntahkannya lagi.”


Ivonne tersenyum, “Baguslah kalau begitu, aku tidak perlu mengawasimu lagi.”


“Aku yang mengawasinya, aku akan mengawasinya.” Selir Renata bergegas berkata.

__ADS_1


Renata masih tidak bisa merasa tenang.


__ADS_2