
Wendy berkata: “Aku tahu, aku tidak berani mengatakan pada orang lain tapi aku percaya pada Kakak.”
Ivonne tersenyum, anak ini benar-benar lugu, di antara mereka sebenarnya baru berhubungan selama berhari-hari, begitu mudahnya memercayai orang lain benar-benar tidak terlalu baik.
Tapi Ivonne juga tersentuh oleh kepolosan anak ini.
Hubungan di antara orang-orang harusnya memang lebih sederhana, hanya saja tumbuh besar di Istana jika memiliki sifat polos maka bisa merenggut nyawa.
“Kak, Ibu begitu tidak begitu menyukaimu, aku akan membantumu mengatakan sesuatu yang baik di lain hari padanya.” kata Wendy.
Ivonne tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu, tidak akan bisa mengubah pemikiran orang begitu cepat bahkan mungkin tidak akan bisa diubah seumur hidup.”
“Kenapa?” Wendy bertanya bingung.
Ivonne berkata: “Sejak dulu hubungan antara ibu mertua dan menantu memang tidak pernah saling menyukai, kami mencintai pria yang sama.”
Wendy menutup bibirnya dan mencuri tawa, “Kalau begitu Kakak juga tidak menyukai Ibu?”
Ya, bukan hanya tidak menyukai bahkan itu benar-benar menyebalkan.
“Bagaimana mungkin? Aku bahkan tidak keburu untuk menyenangkannya hatinya.”
Wendy tampaknya tidak peduli akan masalah ini, merangkul lengan Ivonne kemudian berjalan ke kerumunan, ketika bertemu seseorang Wendy berbisik pada Ivonne dan memperkenalkan, siapa putri itu, siapa orang itu, siapa menantu itu.
Ivonne terkejut akan ingatan Wendy, biasanya jika tinggal di Istana sangat jarang bisa berkomunikasi dengan orang luar, bagaimana Wendy bisa mengingatnya dengan begitu jelas?
“Yulicia.” Wendy tiba-tiba memanggil satu nama, membawa Ivonne pergi menghampiri seorang gadis muda yang mengenakan gaun berwarna biru.
Gadis itu memiliki wajah bulat, matanya besar, alisnya tebal, rambutnya ditata dengan begitu indah, benar-benar sangat imut.
Ketika dia melihat Wendy, dia segera melangkah maju dan menjabat tangannya, menguls senyum yang menampilkan gigi putihnya yang rapi, benar-benar sangat bersinar.
Ada beberapa orang yang tampilannya ketika sekali dilihat bisa langsung sangat disukai.
Ivonne sangat menyukainya.
“Yulicia, ini adalah Kakak iparku, Permaisuri Ivonne!” Wendy memperkenalkan.
“Aku memberi salam untuk Permaisuri Ivonne!” Gadis muda bernama Yulicia itu bergegas memberi hormat.
Ivonne berkata: “Tidak perlu terlalu sopan, Putri, siapa ini?”
“Yulicia, cucu dari Jenderal Yuan, dia ini adalah temanku.” kata Wendy sambil tersenyum.
__ADS_1
“Halo Nona Yulicia!”
“Permaisuri, aku benar-benar sangat senang bisa bertemu denganmu.” Yulicia menatap Ivonne dengan penuh rasa kagum.
“Senang?” Ivonne tidak tahu bagaimana menjawabnya.
Wajah Yulicia memerah, matanya bersinar tapi juga sedikit malu kemudian berkata: “Ya, Nenek berkata kamu adalah kelahiran kembali seorang Buddha, kejadian yang terjadi di luar gerbang kota hari itu, Permaisuri menyelamatkan begitu banyak orang, para rakyat semuanya membicarakan tentangmu.”
“Benarkah?” Ivonne terkejut, kenapa dirinya tidak tahu?
Kelahiran kembali seorang Buddha, ini sudah sedikit berlebihan.
“Benar, Nenek sangat ingin bertemu denganmu, apa aku boleh membawa Nenek untuk mengunjungimu?” Yulicia dengan cemas dan berharap menatap ke arah Ivonne.
“Tentu saja boleh!” Ivonne tersenyum, tidak pernah ada teman yang datang untuk mengunjunginya.
“Benarkah?” Yulicia sangat bersemangat, wajahnya semakin memerah.
Wendy diacuhkan, dia hanya bisa dengan terpaksa menyela, “Apa Nenekmu tidak datang malam ini?”
“Tidak, aku datang dengan Ibuku, Ibuku juga sangat menyukai Permaisuri… Tidak, bukan menyukai tapi menghormati.” Yulicia pergi langsung mencari sosok Ibunya tanpa sadar, tapi dirinya tidak menemukannya, kemudian dia berkata : “Jika Ibu melihat Permaisuri, dia sudah pasti akan sangat gembira.”
Ivonne tidak tahu diriya ternyata telah menjadi idola orang lain, rasanya benar-benar … memalukan.
Yulicia tersenyum dengan bodoh menatap ke arah Ivonne, “Raja Ronald.”
Ivonne terkejut, menatap gadis yang manis dan juga berani ini.
Ivonne saja bahkan menyukai gadis ini, apalagi Ronald si mesum itu, bagaimana jika Ronald melihatnya?
Wendy berkata dengan gembira: “Baiklah, kamu jadilah selir Kak Ronald dan menemani Kak Ivonne.”
“Ya!” Yulicia mengangguk dengan penuh semangat, matanya itu terus menerus menatap ke arah Ivonne.
“Kak Ivonne bagaimana menurutmu? Nanti ketika Ibu bertanya siapa yang kamu sukai, maka Kakak bilang saja menyukai Yulicia.” Wendy berkata dengan gembira.
Ivonne menatap Wendy sambil tersenyum, menahan dorongan untuk menjadikannya spesimen percobaan, “Kenapa? Apa mencari selir untuk Oscar hari ini para pangeran lainnya juga akan memilih satu?”
“Ini adalah jamuan menikmati bunga, jika ada yang cocok maka bisa langsung dijadikan selir.” Kata Wendy.
Jamuan menikmati bunga bukanlah menikmati bunga yang ada di taman, tapi bunga di sini adalah para gadis muda yang sedang mekar-mekarnya.
Yulicia merasa seakan pembicaraannya itu tidak ada hubungannya dengan dirinya jadi dia hanya terus menatap Ivonne.
__ADS_1
Ivonne menyerah kemudian segera pergi mencari Istri Stanley, dia membutuhkan seseorang dengan IQ sepadan untuk berbicara dengannya.
“Kenapa? Raut wajahmu begitu buruk.” Istri Stanley menatap Ivonne.
Ivonne kemudian berkata, “Apakah jamuan kali ini benar-benar untuk mencari selir bagi para pangeran?”
“Ya.” kata Permaisuri Stanley dengan ringan.
“Itu terlalu …” Ivonne begitu tidak berdaya, apa itu perlu?
Ivonne tidak tahu harus berkata apa.
Permaisuri Stanley menjelaskan: “Masalah selir ini awalnya tidak terlalu mendesak, dulunya juga tidak dianggap begitu serius, tapi sekarang posisi pangeran mahkota sedang diperebutkan dan juga tidak ada kabar baik dari para Permaisuri, ditambah kasus Permaisuri Clara yang melakukan kehamilan palsu, tentu saja Ibu Suri panik, jadi dia langsung mengatur jamuan menikmati bunga ini jadi para pangeran bisa mendapatkan seorang selir untuk melihat siapa yang bisa mendapatkan kabar baik dan melahirkan seorang putra.”
“Jadi, jamuan ini sebenarnya diselenggarakan oleh Ibu suri?” Ivonne terkejut.
“Ya, tapi sang Ratu juga berpikir demikian.” Permaisuri Stanley memalingkan wajahnya, ada raut senang di atas penderitaan orang lain,”Permaisuri Clara melakukan kehamilan palsu tentu saja sang Ratu malu jadi malam ini Permaisuri Clara harus membawa salah satu dari para wanita ini untuk menjadi selir Raja Oscar dan pangeran lainnya tidak harus memilih selir.”
Jadi malam ini selir Oscar akan ditentukan, Ivonne memandang Clara dari kejauhan, dia sedang berdiri bersama dengan Steffie, mengenakan gaun istana berwarna merah yang menunjukkan posisinya sebagai Permaisuri.
Ekspresi Clara juga begitu bangga dan sombong.
Sama sekali tidak ada ekspresi sedih, malah terlihat seperti pemburu yang berusaha mencari mangsa yang baik, melihat sekeliling dengan tajam dan gesit.
Tatapan mereka berdua bertemu, Clara terpaku untuk sejenak kemudian memalingkan wajahnya.
Ivonne merasa suasana malam ini benar-benar aneh.
Setiap Istri sah sedang mencari selir untuk suaminya.
Wendy kembali menarik Yulicia menghampiri, Yulicia masih menatap Ivonne dengan ekspresi kagum dan berdiri di samping Wendy dengan malu.
Permaisuri Stanley memandang Yulicia kemudian berkata sambil tersenyum: “Gadis ini adalah gadis yang baik, sangat cocok untuk menjadi selir Oscar, Ivonne, bagaimana menurutmu?”
Ivonne mengangguk tanpa sadar, “Ya!”
Mata Yulicia menjadi lebih cerah.
Selanjutnya, tidak peduli ke mana pun Ivonne pergi, Yulicia akan mengikuti diam-diam, dia tidak melangkah maju untuk berbicara dengan Ivonne tapi hanya mengikuti.
Ivonne juga tidak memiliki minat untuk menikmati bunga dan juga memilih wanita, dia mencari tempat yang tenang kemudian duduk untuk mengobrol bersama Permaisuri Stanley.
Yulicia mengikuti di sampingnya, dia menarik Wendy dan tidak membiarkan Wendy pergi, jadi Wendy hanya bisa duduk di samping dengan bosan.
__ADS_1