
Ivonne dibawa keluar dengan menggunakan tandu, Paduka Kaisar duduk di tengah dan sudah melihatnya sejak awal, mengerutkan kening dan berkata: “Untuk apa dia keluar?”
Ivonne juga sudah melihat ekspresi tidak senang Paduka Kaisar, pria tua ini menjenguknya kemari tapi masih berpura-pura seperti itu?
Ronald bergegas keluar kemudian menggendong Ivonne masuk ke dalam.
Karena perkataan Tabib Kerajaan mengatakan bahwa Ivonne tidak boleh turun ke lantai jadi tidak peduli ke kamar kecil atau mandi, Ronald akan menggendong Ivonne.
Ivonne merasa seperti orang cacat, meninju lengan Ronald tanpa daya dan berkata, “Memang kenapa jika membiarkanku turun dan berjalan dua langkah?”
“Tidak boleh, Tabib Kerajaan berkata kamu belum boleh turun dari ranjang dan berjalan.” Ronald berkata kemudian menempatkan Ivonne duduk di kursi, “Kamu ini tidak patuh, jangan pikir aku tidak tahu, ketika aku tidak ada di rumah, kamu sering diam-diam turun dari ranjang.”
Ivonne berkata: “Jika aku tidak berjalan maka kakiku akan lumpuh.”
Ivonne menatap dengan mengeluh pada Paduka Kaisar, “Kakek, benar kan?”
Paduka Kaisar menatap Ivonne sekilas, kemudian memalingkan wajahnya ke arah Ronald, mengerutkan kening dan berkata: “Apa kamu tidak bisa mengikatnya di ranjang ketika kamu keluar? Jika sudah diikat masih tidak bisa diam apa kamu tidak bisa menghukumnya?”
Ronald mengangguk, memicingkan matanya pada Ivonne dan berkata, “Ya, aku akan mengingatnya.”
Ivonne dengan tidak berdaya menatap ke arah pria tua itu, “Selama kehamilan juga tidak bisa duduk seperti ini saja, terkadang juga harus turun dan berjalan-jalan, aku tahu batasanku, aku juga adalah seorang tabib.”
Paduka Kaisar berkata dengan datar: “Bisa mengobati tapi belum tentu bisa mengobati diri sendiri, bagaimana? Bisa meminum sup itu?”
Tatapan mata Ivonne bersinar sekilas, “Bisa, dan lagi ketika meminumnya aku tidak merasa mual, supa apa itu? Aku merasa ada sarang burung dan air kelapa di dalamnya.”
Kasim Artur tertawa dan berkata, “Tidak usah pedulikan itu apa, yang pasti itu adalah resep yang baik, tidak hanya bisa menghilangkan rasa mual saat memakannya tapi juga bagus untuk kehamilan.”
Ketika Ronald mendengar kata-kata itu, dirinya bergegas meminta resep, “Kakek, bisakah memberikan resep ini padaku? Aku akan meminta orang untuk membuatnya, Ivonne belum pernah makan enak akhir-akhir ini.”
“Tidak perlu, sup ini tidak boleh dimakan terlalu banyak, jika perlu maka aku akan mengirimkannya kemari.” Kata Paduka Kaisar.
Paduka Kaisar berdiri dengan perlahan, “Waktunya sudah larut, aku masih harus pergi ke tempat Kakak ketigamu.”
Ivonne sedikit kecewa, “Sudah mau pergi? Tidak mengobrol lagi?”
Begitu Kakek pergi, Ivonne sudah pasti harus kembali ke kamar lagi untuk berbaring.
Paduka Kaisar menatap ke arah Ivonne, “Kamu rawatlah kehamilanmu dengan baik, bagimu itu adalah yang paling penting, mengerti?”
__ADS_1
Ivonne menatap wajah Kakek yang serius kemudian tanpa sadar berkata, “Ya.”
Ronald mengantarkan Kakeknya keluar, Kakeknya juga mengingatkan beberapa patah kata pada Ronald, Ivonne melihatnya dan bisa melihat Kakek sedikit mengernyit, Kakek khawatir.
Ivonne sedikit terharu kemudian tidak bisa menahan tangisnya.
Ivonne menyeka air matanya, akhir-akhir ini dirinya begitu rapuh, dirinya akan menangis bahkan karena hal kecil saja.
Ketika Ronald kembali dan melihat Ivonne menyeka air matanya, Ronald mengira Ivonne sedih dikarenakan dimarahi oleh Kakek.
Ronald mengulurkan tangan untuk menyeka air mata Ivonne, dengan lembut berkata: “Kakek berkata begitu karena dia sayang padamu, kali ini Kakek keluar dari Istana dan pergi mengunjungi beberapa kediaman, Kakek kelelahan, Kakek keluar dari Istana demi dirimu.”
Ivonne berlinangan air mata, “Aku tahu, karena itulah aku menangis.”
Ronald tertawa, menggandeng tangan Ivonne dan bangkit berdiri, “Mau berjalan-jalan? Aku akan menemanimu berjalan-jalan, tapi hanya kali ini saja, pulang nanti kamu masih harus berbaring dan beristirahat, kecuali Tabib mengatakan sudah boleh turun dari ranjang dan berjalan-jalan.”
Ivonne tiba-tiba berubah dari menangis lalu tertawa, dengan nakal berkata: “Baik!”
Berjalan dari aula utama kembali ke kamar sebenarnya juga tidak dekat.
Keduanya berjalan perlahan-lahan, diikuti oleh sekelompok besar orang di belakang, Tabib Darien mendengar bahwa sang Permaisuri berjalan sendiri jadi dia juga bergegas menghampiri, jaga-jaga jangan sampai ada sesuatu yang terjadi.
“Apa sudah merasa lebih baik setelah memakan sup yang diberikan oleh Kakek?” Tanya Ronald.
Kota ini terletak di utara, memasuki musim gugur sudah agak dingin, kelapa diproduksi di bagian selatan, meskipun bisa disimpan untuk jangka waktu tertentu tapi di saat seperti ini siapa yang akan menyimpan kelapa?
Ronald berkata: “Apa benda yang tidak ada di Istana? Tidak ada, meminta seseorang untuk mengirimkan dari selatan juga bisa, Pengawal bayangan Kakek itu sangat menakjubkan. ”
“Pengawal bayangan?”
“Ya, pengawal bayangan dibentuk di masa pemerintahan Kakek dan dulunya memiliki kekuasaan dan reputasi, memata-matai informasi di antara rakyat dan para pejabat, kemudian ketika Ayah naik tahta, pengawal bayangan ini juga akhirnya hanya bekerja untuk Kakek saja.”
Ivonne baru pertama kali mendengarnya, Ivonne ingat dulu pernah melihat penjaga yang berpakaian hitam di Istana Pearlhall, tidak tahu apa itu pengawal bayangan atau bukan.
“Sepertinya tidak hanya bekerja untuk Kakek saja? Kulihat informasi Kakek sangat akurat, sepertinya pengawal bayangan ini masih bertugas memata-matai informasi untuk Kakek.” Kata Ivonne.
Ronald berkata: “Itu tidak mengejutkan, lagipula tidak ada yang bisa disembunyikan dari Kakek.”
Perkataan ini juga sudah pernah didengar Ivonne dari Bibi Vera.
__ADS_1
Bibi Vera adalah orang yang telah melayani Kakek selama bertahun-tahun, Bibi Vera harusnya tahu peran para pengawal bayangan itu.
Ronald memandang Ivonne dan berkata, “Ada sesuatu yang terus kusembunyikan darimu.”
Ivonne berkata: “Suasana hatiku baik hari ini, aku bisa memaafkanmu untuk segalanya kecuali masalah menikahi seorang selir dan yang berhubungan dengan wanita.”
Ronald tertawa, “Apanya yang menikahi selir? Tapi ini memang ada hubungannya dengan wanita.”
“Clara?” Ivonne menoleh menatap ke arah Ronald.
Ronald terpaku, “Siapa itu Clara? Aku tidak kenal.”
Ivonne mencubit lengan Ronald, “Keinginan untuk bertahan hidupmu sangat kuat.”
Ronald tiba-tiba menyadari dan berkata sambil tersenyum: “Ahh, yang kamu katakan itu Permaisuri Oscar? Ini benar-benar tidak ada hubungannya dengannya tapi dengan Permaisuri Juno.”
“Dia kenapa lagi?” Tanya Ivonne.
“Bukankah dia meminta seseorang untuk mengantarkan patung Dewi Welas Asih kemarin?”
“Ya, mengantarkan patung Dewi Welas Asih yang terlihat tidak buruk, tapi Bibi Vera menyembunyikannya dan berkata tidak ingin memajang barang pemberiannya.” Ivonne teringat akan hal ini.
“Ada retakan di Patung Dewi itu, terdapat di bagian belakang patung itu.” Ronald masih begitu marah jika mengingatnya.
Ivonne menimpali sekilas, berkata dengan sedikit kecewa, “Ada retakan? Sayang sekali.”
“Kamu tidak marah?” Ronald sedikit terkejut, orang yang kecil hati seperti Ivoone bahkan tidak marah karena hal sebesar itu?
Ivonne menatap Ronald, “Apa harus marah? Lagipula itu didapat gratis, jika ada retakan maka anggap saja tidak menerimanya, aku juga tidak mengharapkan barang pemberiannya, hanya saja aku merasa patung Dewi itu sangat bagus jadi hanya merasa sayang.”
Jika giok retak maka nilainya tidak hanya berkurang saja.
Pada dasarnya sudah menjadi barang cacat, kecuali memotongnya dan menjadikannya benda lain.
Ronald memegang tangan Ivonne yang dingin, “Kamu sedang hamil, dia mengirim patung Dewi Welas Asih yang retak, menurutmu apa maksudnya?”
“Mengutuk? Lelucon yang kekanak-kanakan?”
Ronald menatap Ivonne dengan sedih, meskipun Ivonne tidak marah sama sekali dan tidak peduli tapi Ronald masih merasa Permaisuri Juno sangat keterlaluan, jadi dia pergi untuk berurusan dengan Permaisuri Juno hanya demi Ivonne, Ronald malah takut Ivonne akan marah dikarenakan hal ini jadi Ronald tidak mengatakannya.
__ADS_1
Ivonne tersenyum dan berkata: “Jika kamu tidak ingin melihat patung Dewi itu maka kembalikan saja padanya.”
“Sudahlah, dia juga sudah mendapat pelajaran yang layak diterimanya.” Ronald berpikir dan masih merasa sudah sepantasnya dia memberi pelajaran pada Permaisuri Juno, bahkan jika bukan demi Ivonne itu juga demi dirinya sendiri.