Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan

Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan
Bab 173. Dikunci Di Luar Pintu


__ADS_3

Setelah kepala Rendi dijitak dua kali, dia segera kembali ke kediaman Ronald.


Ivonne belum tidur dan sedang menunggu dengan cemas.


Mendengar Letty berkata Yang Mulia sudah kembali, Ivonne segera keluar.


Ronald juga mengundang Yanto masuk ke dalam, Ronald menunggang kuda di sepanjang jalan jadi dirinya berada dalam suasana hati yang baik, Ronald tidak menayakan pada Yanto mengenai situasi yang ditanyakannya di kediaman Oscar.


“Bagaimana cederanya? Apa baik-baik saja?” Ivonne bergegas bertanya.


Ronald menarik Ivonne untuk duduk, “Tidak masalah, hanya dua luka kecil, seharusnya hanya ditusuk oleh ujung pedang, hanya mengalami sedikit pendarahan.”


“Pembunuh ini sangat tidak berguna!” Kata Ivonne, tapi hatinya itu akhirnya bisa menjadi tenang, bukan karena dia khawatir akan Oscar, tapi Oscar dipukuli olehnya lebih dulu kemudian Oscar diserang tidak jauh dari gerbang kediamannya ini.


Ronald bertanya pada Yanto, “Coba kamu ceritakan tentang situasinya.”


Yanto kemudian berkata: “Baik, aku telah menanyakan pengawal dan kusir kereta yang ada di sekitar Yang Mulia Oscar, penyerang itu muncul di sudut gang, mengenakan pakaian hitam dan menutupi wajahnya, seni bela diri tidak terlalu tinggi tapi malah membalikkan kereta kuda, selama keributan itu Raja Oscar tertusuk pedang, pengawal mengejarnya dan membuat penyerang itu melarikan diri.”


Ivonne terkejut, “Seni bela dirinya tidak begitu tinggi tapi dia bisa melukai Oscar dan membalikkan kereta kuda? Bukankah Raja Oscar juga bisa seni bela diri? Mana penjaganya?”


Yanto dan Ronald saling berpandangan, “Permaisuri saja bisa melihat ada yang aneh.”


“Jadi?” Ivonne terpaku dan menatap Ronald, “Apa yang terjadi?”


Ronald menjelaskan: “Pembunuh ini bukannya tidak memiliki seni bela diri yang tinggi, dan juga bukannya tidak dapat membunuh Oscar, dia hanya ingin melukai Oscar dan membuat kasus penyerangan, membuat orang mengaitkan penyerangan Oscar dan juga masalah di gerbang kota. Setelah penyelidikan insiden di gerbang kota menjadi jelas, jika ada orang yang membantah dan mengatakan bahwa saat itu ada seseorang yang sengaja menyebabkan kerusuhan? Jika begitu maka insiden itu… ”


Ivonne kemudian melanjutkan, “Bukan kejahatan Permaisuri Clara, dan bukan merupakan kecelakaan tapi ada seseorang yang ingin sengaja membunuh Oscar.”


Ronald menatap Ivonne, tatapan matanya memancarkan kekaguman, “Bisa dilihat ini benar-benar bukan strategi yang sangat pintar, tapi ini sejalan dengan kenyataan karena sejak kejadian di gerbang kota hingga sekarang dan juga sampai Oscar datang ke kediaman kita ini, itu benar-benar sangat buru-buru, tidak bisa membuat pengaturan yang lebih teliti, orang ini tahu aku akan bisa menebaknya.”


Ivonne dengan dingin berkata: “Jadi dia bertindak di sebelah Istanamu, jika kamu ingin melindungi dirimu maka harus bekerja sama tidak mengekspos strategi bodoh ini, kamu benar-benar tidak bisa lagi dicurigai oleh Kaisar, jadi akan lebih rela membantu untuk menyembunyikan dan tidak akan berani untuk mengungkapkan kebenaran.”


Ronald tidak bisa menahan diri untuk mencubit wajah Ivonne, “Mengapa kamu begitu pintar?”


Ivonne melirik sekilas pada Ronald, “Jadi, pelakunya pasti akan meminta untuk berbicara secara pribadi malam ini denganmu, baik dengan alasan apapun, dia akan menggunakan hubungan masa lalu atau dengan menggunakan godaan!”


Ronald menampilkan raut wajah serius, “Wanita yang begitu pintar sama sekali tidak lucu.”

__ADS_1


“Tuan Yanto, silakan kamu keluar!” Ivonne berdiri dan mempersilahkannya.


Yanto mengerti, melihat ke arah Ronald sekilas, benar-benar mencari masalah untuk diri sendiri!


Yanto dengan sangat perhatian menutup pintu, kemudian meminta Letty dan Ria pergi.


Letty dengan polos berkata: “Tidak boleh pergi, sepertinya Yang Mulia belum makan, aku harus menunggu di sini untuk melayani.”


“Masih makan?” Yanto menghela nafas, “Pergilah dan masak semangkuk sup untuk luka dalam untuknya, kurasa Yang Mulia akan memerlukannya.”


Setelah selesai berbicara, mereka semua bergegas keluar.


Dari kejauhan, Yanto mendengar Ronald menjelaskan dengan suara pelan, “Dia memang mencariku tapi aku tidak memberinya kesempatan, aku langsung membungkam ucapannya.”


Ivonne tersenyum pada Ronald, “Benarkah? Langsung membungkam ucapannya? Bagaimana caranya? Coba peragakan.”


Ronald memutar bola mataya pada Ivonne, “Lihatlah dirimu, berkata dengan begitu curiga, maksudku bukan seperti itu, sudahlah tidak usah dibicarakan lagi, tidak ada yang bisa dibicarakan.”


Tentu saja tidak bisa dibicarakan, bahkan walaupun tidak ada apa-apa juga tidak bisa dibicarakan, lagipula Clara membicarakan mengenai masa lalu mereka dan lagi sebelum Ronald membungkam ucapan Clara, Ronald mengatakan banyak hal buruk mengenai Ivonne.


Jari-jari Ivonne dengan lembut menggores pergelangan tangan Ronald, tatapan matanya melirik wajah Ronald dengan segala macam emosi, “Katakan dengan jujur!”


“Apa yang dia katakan?” Ivonne duduk di pangkuan Ronald, kedua tangannya merangkul leher Ronald dan bertanya dengan lembut di dekat telinganya.


Sebelum akal sehat Ronald runtuh, perkataan Yanto saat itu terngiang di telinganya, terhadap wanita, cukup hanya mengatakan setengah kebenarannya saja.


“Pertama dia mengungkit masa lalu, kemudian mengatakan kamu adalah wanita yang licik, aku sangat marah ketika mendengarnya kemudian aku menegurnya, aku mengatakan bahwa kamu adalah wanita yang lembut, baik, murah hati dan berbudi luhur, aku bahkan dapat mengucapkan seribu hal mengenai kebaikanmu tanpa berpikir panjang, bagaimana mungkin aku bisa mentolerir dia yang menjelekkanmu dengan sesuka hati? Aku menegurnya dan juga mengatakan padanya bahwa aku akan menyelidiki masalah ini tanpa memihak, jangan harap dia ingin bertindak macam-macam.”


“Apa kamu benar-benar mengatakan itu?” Ivonne tersenyum pada Ronald, “Lalu bagaimana reaksinya setelah kamu mengatakan hal itu?”


“Marah, dan dia juga berkata bahwa aku tidak diizinkan pergi ke kediaman Oscar di kemudian hari.” Kata Ronald.


Mata Ivonne sedikit berkedip, “Benarkah? Apa tidak ada kebohongan?”


Ronald mengangkat tangannya dan bersumpah, “Jika aku menyembunyikan sesuatu mengenai masalah malam ini, aku akan …”


Ronald menatapnya lekat, Ivonne saat ini harusnya segera menurunkan tangan Ronald, membekap mulutnya, saling berpandangan dan tidak mengizinkan Ronald untuk melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


Tapi Ivonne hanya menatapnya dengan tenang, tanpa ada niat untuk menghentikan ucapan Ronald sama sekali.


“Hmm? Kalau tidak apa yang kamu lakukan?” Tanya Ivonne sambil mengangkat alisnya.


Ronald mengertakkan giginya, Ivonne benar-benar kejam!


“Kamu tidak aku tidak boleh memasuki kamarmu setengah langkahpun.” Ronald selesai berbicara kemudian mencium Ivonne, wanita ini benar-benar tidak bisa dipermainkan.


Ivonne mendorongnya, “Tunggu sebentar, kamu bantu aku untuk mengambil barang.”


“Mengambil apa? Nanti saja baru diambil!” Ronald membenamkan wajahnya di cekungan leher putih milik Ivonne.


“Tidak, ambil sekarang, aku akan membuka pakaianku dan menunggumu.” Ivonne menahan tangan Ronald sambil tersenyum padanya.


Ronald berdiri tanpa daya, “Mengambil apa?”


Ivonne membuka pintu dan menunjuk ke halaman gelap di luar sana, “Dompetku yang kuletakkan di meja di luar sana.”


“Kamu ini, benar-benar ceroboh!” Ronald menjulurkan tangan dan menjitak kepala Ivonne kemudian berbalik dan pergi.


Pintu ditutup kemudian pintu itu dikunci dari dalam.


Ronald membeku, dia begitu marah hingga seakan ingin gila, mengetuk pintu terus menerus, “Ivonne, kamu berbohong lagi, dasar pembohong!”


“Kamu berani berkata tadi tidak berbohong padaku?” Suara Ivonne terdengar dari dalam.


Ronald berkata dengan tegas: “Tidak, aku sudah bersumpah.”


“Ya, kamu sudah bersumpah, kamu mengatakan bahwa jika kamu berbohong maka kamu tidak boleh memasuki kamarku setengah langkahpun, itu berarti kamu telah bersumpah dan kamu berbohong padaku!”


Ronald bersandar di pintu dan berteriak, “Ini adalah Paviliun Eternity dan bukan kamarmu, bagaimana bisa dianggap sumpah?”


Ivonne berhenti berbicara.


Letty datang dengan membawa sup, melihat Yang Mulia mengetuk pintu seperti orang gila, dia begitu terkejut dan segera mengambil beberapa langkah mundur, hatinya tidak bisa tidak kagum, Tuan Yanto benar-benar hebat, jika menggedor seperti itu aneh jika tangan Yang Mulia tidak bengkak.


Ronald benar-benar sangat marah, beraninya mengusirnya keluar, ternyata ada wanita yang begitu jahat di dunia ini?

__ADS_1


Perkataan yang dikatakannya pada Clara memang tidak salah, Ivonne itu memang brutal, bodoh, keras kepala, kasar, berhati dingin dan kejam!


__ADS_2