Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan

Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan
Bab 138. Ini Baru Merupakan Nyonya Utama


__ADS_3

Ivonne memandang ke arah lain, “Aku peduli akan hal itu, kupikir kamu melakukannya dengan mereka.”


Pandangan mata Ronald berkobar, “Mengapa kamu peduli? Bukankah kamu ingin aku menceraikanmu?”


Ivonne berpikir sesaat, beberapa kata memang tidak bisa diucapkan, Ivonne tiba-tiba bangkit dan berkata, “Lupakan saja, aku kembali dulu, Yang Mulia istirahatlah lebih awal.”


Ivonne berbalik, Ronald meraih pergelangan tangannya.


“Jangan pergi!” Ronald bangkit, menariknya masuk ke dalam pelukannya, bibir Ronald segera membungkamya, melakukan hal yang sudah sangat ingin dilakukannya sekian lama. Yaitu mencium Ivonne dengan dalam.


Ria bergegas menutup pintu dari luar, tidak mengizinkan siapapun mengganggu Yang Mulia dan Permaisuri.


Ciuman ini merupakan pelampiasannya akan kerinduannya yang ditekannya selama beberapa hari ini. Bibirnya itu terasa sangat panas, akal sehatnya sudah terbakar.


Ivonne digendong Ronald hingga ke atas ranjang, pakaiannya sudah setengah terbuka. Ciuman itu hampir menghabiskan semua oksigen Ivonne, otaknya sangat kekurangan oksigen, seluruh tubuhnya lemas dan tidak mampu untuk berpikir.


Tangan Ronald bergerilya di atas tubuh Ivonne, pada akhirnya mendarat di dada Ivonne, kepalanya juga terkubur di antaranya, seperti seorang yang begitu rakus dan ingin melahap Ivonne dengan liar.


Ivonne sangat gugup, terus terengah-engah, seakan sedang memasok kekurangan oksigen di dalam otaknya, tubuhnya sedikit gemetar dan tidak tahu harus berbuat apa.


Sampai Ronald menekannya dengan begitu berat, Ivonne baru mendongak dan menatap pandangan mata Ronald yang gelap dan bulu matanya itu sedikit bergetar.


“Apa boleh?” Ada kebingungan di mata Ronald, bertanya dengan suara seraknya, hawa panas di bawah sana sudah tidak bisa ditahan tapi Ronald masih dengan sabar bertanya padanya.


Ivonne menahan nafasnya, untuk sesaat Ivonne menghindari tatapan mata Ronald, suaranya sedikit bergetar, “Ya!”


Ronald menahan tubuhnya dengan satu tangannya, kemudian menyentuh wajah Ivonne dengan tangan lainnya, mencium bibir Ivonne, perlahan-lahan bergerak di bawahnya.


Ivonne merasakan rasa sakit tajam yang menjalari tubuhnya.


Ini bukan yang pertama kali, tapi mengapa masih begitu menyakitkan? Ivonne sedikit mengerutkan keningnya, menahan seruan kesakitannya.


Ronald menghentikan gerakannya, sial, Ronald juga sangat gugup setengah mati.


“Apa sangat sakit? Aku bisa menghentikannya.” Kata Ronald.


Ivonne menggigit bibirnya dengan perlahan, menggelengkan kepalanya, pandangan matanya seketika berubah menjadi yakin, karena Ivonne melihat rasa sayang dari pandangan mata Ronald.


Untuk sesaat, Ivonne merasa tidak peduli, manusia ada kalanya harus melakukan hal-hal gila pada saat mereka memang seharusnya berbuat hal gila.


Lanjutkan perbuatan gilanya!


Tidak tahu sudah terlewat berapa lama, akhirnya semuanya kembali hening.


Ronald memeluk Ivonne, memeluknya dengan sangat erat, tubuh Ivonne masih bergetar, dan juga masih terengah-engah.


Di bawah selimut tipis, tubuh mereka saling berdekatan, tanpa adanya pengekangan, merasa ini adalah keintiman yang belum pernah terjadi sebelumnya.


Tidak tahu apa di dalam kotak obat ada alat kontrasepsi darurat? Ivonne meletakkan kedua tangannya di depan dada Ronald, tiba-tiba memikirkan masalah ini.

__ADS_1


“Mengantuk?” Ronald bertanya di samping telinga Ivonne.


“Tidak!” Kata Ivonne, sedikit tidak berani menatap Ronald.


Ivonne bukanlah orang yang begitu emosional, tapi pada saat ini Ivonne tidak bisa bersikap seperti biasanya.


Ronald berguling dan berbalik menekan Ivonne di bawah, “Aku juga tidak mengantuk.”


Rasa panas yang familiar itu kembali datang.


Beberapa hari yang lalu, Ivonne tidak tidur nyenyak, malam ini sepertinya dirinya juga tidak akan bisa tidur.


Bau alkohol di tubuh Ronald sudah hilang, langit sudah hampir terang, sinar cahaya samar-samar menyinari masuk ke dalam ruangan.


Langit sudah akan terang.


“Kamu tidak usah pergi ke tempat Indra hari ini, tidurlah dengan nyenyak.” Ronald berkata sambil memeluk Ivonne.


“Aku tidak bisa tidak pergi, hari ini aku masih harus menyuntiknya.” Mata Ivonne sudah hampir tidak bisa dibuka, tubuhnya bagai ditabrak oleh mobil, begitu lelah dan sakit.


“Kalau begitu aku akan mengantarmu pergi, kamu istirahatlah setelah selesai menyuntiknya.”


“Tidak usah mengantarku, kamu istirahatlah, Peter akan mengantarku.” Kata Ivonne sambil mendongak dan menatap mata Ronald, setelah melewati tadi malam, banyak hal yang berubah, Ronald di mata Ivonne, menjadi begitu tampan dan menawan.


Ada rasa bahagia yang perlahan-lahan merembes keluar dari hatinya.


Ivonne tidak ingat siapa yang mengucapkannya, begitu seorang wanita berkomitmen pada seorang pria, maka akan melahirkan sebuah cinta keibuan.


Jika melakukannya sekali lagi, maka Ivonne akan mati karena kelelahan.


Ivonne bahkan sudah tidak memiliki kekuatan untuk memisahkan kakinya.


Ronald menghela nafas pelan, “Aku akan pulang cepat malam ini, kamu juga pulanglah lebih awal.”


Ivonne berbaring di atas dada Ronald, “Biarkan aku berbaring sebentar, aku sangat lelah.”


Ronald merasa tidak tega pada Ivonne, memeluknya dengan lembut sambil menepuk-nepuk punggungnya.


“Apa kamu tidak berpikir ini sangat aneh? Kita dalam sekejap menjadi seperti ini.” tanya Ivonne.


Ronald berkata, “Ini tidak aneh, apa kamu merasa aneh?”


“Aku hanya merasa ini sedikit tidak nyata, seperti sedang bermimpi.” Jari-jari Ivonne memilin rambutnya, ini benar-benar terasa tidak nyata.


Ronald bergumam berkata, “Ya, ini seperti sedang bermimpi.”


Dari mananya bagai sedang bermimpi? Ini sudah seperti seluruh hidupnya bagai diputar balik.


Tangan Ronald dengan perlahan menyusuri perut Ivonne, “Kamu pernah berkata pada Ayah akan memberinya cucu untuk digendongnya dalam kurun waktu setahun.”

__ADS_1


Itu hanyalah perkataan asal saja.


“Itu hanya bisa bergantung pada nasib, tidak bisa dipaksakan.” Kata Ivonne, dia benar-benar harus memakan obat setelah melakukan hal ini, Ivonne berharap obat itu ada di dalam kotak obatnya.


“Ya, tidak bisa dipaksakan.” Kata Ronald, apa Ronald berharap di dalam hatinya? Tentu saja dia berharap.


Bukan demi hal lain, tapi demi kelanjutan mimpi ini.


Pada akhirnya, keduanya dengan enggan bangkit, Bibi Linda dan Letty bahkan datang kemari untuk melayani, tidak ada yang berkata apa-apa, tapi Letty dengan penasaran memandang sekilas ke arah ranjang, mengapa begitu berantakan? Apa mereka berkelahi tadi malam?


Kemudian kepalanya dipukuli oleh Bibi Linda, “Masih tidak bergegas mengantarkan sarapan kemari?”


Letty menjawab sekilas kemudian bergegas keluar.


Ketika sarapan, Ivonne menatap Ronald sekilas dan berkata, “Rendi…”


“Ria!” Ronald mendongak, “Katakan pada Yanto agar dia memanggil Rendi kembali ke sini.”


“Baik!” Ria menatap Ivonne dengan penuh rasa syukur, meskipun Rendi tidak begitu bisa diandalkan, tapi ketika Rendi ada di sini, hari-hari bisa dilewati dengan bahagia.


Ronald memasukkan kue di tangannya ke dalam mulut Ivonne, “Makan.”


“Sudah kenyang.” Ivonne tidak makan banyak ketika sarapan, ditambah tidak cukup tidur semalam, makin tidak memiliki nafsu makan.


“Makan lebih banyak, lihatlah dirimu yang begitu kurus.” Ronald mencubit wajah Ivonne kemudian berkata, “Apa wajah ini masih bisa diperlihatkan pada orang lain.”


Ivonne memutar bola matanya pada Ronald, “Wajahmu juga tidak bisa diperlihatkan pada orang lain hari ini.”


Dulu itu bagai dicakar oleh kucing, dan hari ini benar-benar begitu hancur.


Ronald tidak peduli sama sekali, “Jika orang-orang bertanya, maka aku akan berkata aku dipukuli oleh Istriku.”


Ivonne tersenyum, “Apa kamu tidak merasa malu?”


“Mengapa harus malu jika dipukuli oleh Istri? Itu adalah suatu kehormatan.” Kata Ronald dengan serius.


Ivonne kemudian bertanya, “Oh iya, ada yang ingin kutanyakan padamu, mengapa orang di luar mengatakan bahwa aku memukuli kedua wanita itu dan juga mengusirnya dari atas ranjang? Apa benar Ayah juga memanggilmu ke istana dan menayakannya padamu?”


Ronald mengangguk, “Memang ada hal seperti itu, Ayahnya juga menegurku.”


“Lalu bagaimana kamu menjelaskannya?”


Ronald memandang Ivonne sekilas dan berkata, “Tidak menjelaskannya, saat itu kamu mengabaikanku, hatiku merasa sedih jadi tidak ingin menjelaskan apa-apa, aku membiarkan Ayah memaki dan memarahiku.”


Ivonne marah, “Mengapa kamu begitu bodoh? Tidak menjelaskan apa-apa, kamu yang rugi karena kamu tidak melakukannya.”


“Tapi kamu berpikir aku melakukannya.”


Ivonne dengan sungguh-sungguh berkata, “Aku akan pergi ke istana besok untuk menjelaskannya untukmu, Ayah dari awal sudah tidak begitu senang melihatmu, sekarang kamu malah menemui masalah seperti ini, tidak tahu apa yang dipikirkannya mengenai dirimu, dan lagi, mengapa hal ini bisa tersebar di luar? Kamu harus menyelidiki orang yang ada di kediaman ini, tidak masalah jika tersebar, tapi berita yang disebarakan itu penyimpangan dari fakta yang ada.”

__ADS_1


Ronald tersenyum, ini memang sikap yang seharusnya dimiliki oleh Nyonya di kediamannya ini!


__ADS_2