
Ketika Ivonne kembali ke ranjang, Ivonne merasa dirinya sudah mati sekali, begitu bangun tidur dirinya amat pusing kemudian muntah dengan hebatnya.
Tabib sudah diundang untuk masuk, Ivonne bertanya dengan raut pucat, “Mengapa reaksiku begitu serius?”
Tabib Darien berkata: “Permaisuri, tubuhmu terlalu terluka, ditambah dengan kemarahan dan kegelisahanmu malam sebelumnya yang menyebabkan kondisimu menurun dan aliran darah tidak lancar jadinya membuat dirimu merasa amat tidak nyaman, tunggu setelah kondisi tubuhmu sudah sedikit diobati maka akan jauh lebih baik.”
“Kalau begitu cepat diobat, obat apa pun tidak masalah, aku ingin menghentikan pusing dan mual…” Ivonne bahkan tidak punya kekuatan untuk membuka matanya.
Ronald benar-benar sangat cemas, dia menarik Tabib itu keluar dan berkata, “Apa kamu tidak memiliki cara yang lebih baik? Ibu Suru memberikan begitu banyak bahan untuk menutrisi tubuh, kamu bisa menggunakannya untuknya.”
Tabib Darien malah menarik Ronald lebih jauh, menghela nafas dan berkata, “Yang Mulia, aku tidak ingin menyembunyikannya, aku sudah membicarakannya dengan para Tabib Kerajaan lainnya, kehamilan Permaisuri ini tidak terlalu benar, tubuhnya masih belum dirawat dengan baik, saat itu Permaisuri meminum sup golden purple, mungkin keesokannya sudah diberikan sup penawar, dan hal itu secara paksa menekan efek dingin dari sup golden purple dan sekarang efek itu seketika muncul, tentu saja Permaisuri merasakan rasa tidak nyaman beratus kali lipat, ditambah kehilangan darah yang disebabkan oleh percobaan pembunuhan sebelumnya, aku benar-benar dengan berani mengucapkan perkataan yang tidak menyenangkan, sekarang di dalam tubuh Permaisuri sudah sangat hancur, jika ditekan dengan pelan saja sudah tidak tersisa apa-apa lagi, bahkan juga tidak memiliki kekuatan untuk bertahan.”
Setelah mendengar perkataan ini, Ronald menggertakkan giginya, mengapa dirinya bisa begitu brengsek saat itu?
Tabib Darien kembali melanjutkan: “Kondisi fisik Permaisuri yang seperti ini masih bisa hamil, mungkin itu dikarenakan efek kekuatan dari pil golden purple yang telah melancarkan peredaran darahnya, tapi itu hanya bersifat sementara, jika efek obatnya itu sudah berlalu maka semuanya hanya bisa melihat perubahan kondisi Permaisuri.”
Ronald berpikir sejenak, menurunkan suaranya dan menatap Tabib Darien: “Bagaimana jika tidak menginginkan bayi ini?”
Tabib Kerajaan amat terkejut, “Itu benar-benar tidak boleh dilakukan, jika melakukan aborsi secara paksa maka tubuh Permaisuri tidak akan bisa menahannya, sekarang karena sudah hamil masih bisa merawat kondisi tubuhnya, Yang Mulia tidak boleh berpikir untuk mengugurkan janin itu, jika terjadi sesuatu maka nyawa Permaisuri sulit untuk dipertahankan.”
Ronald benar-benar terkejut, wajahnya pucat dan jantungnya gemetar.
Kebahagiaan itu benar-benar menghilang, sekarang hanya tersisa kekhawatiran, kecemasan, dan rasa sakit hati. Ronald benar-benar tidak ingin Ivonne hamil.
“Apa ini ada kaitannya dengan diriku yang membuatnya marah? Ivonne sekarang amay sangat tidak nyaman.” Tanya Ronald.
Tabib Darien mengangguk, “Sudah pasti ada hubungannya, lagipula suasana hati itu sangat penting, orang bisa merasa tidak nyaman, tapi bahkan jika bukan Yang Mulia yang membuat marah Permaisuri, hal ini cepat atau lambat juga akan terjadi.”
Hati Ronald mencelos, seketika tidak tahu apa yang harus diperbuat.
Ronald mengambil cuti hari ini untuk menemani Ivonne di rumah, hadiah dari Istana terus menerus berdatangan, dari Nenek, Ibunya, Ratu, Selir Monita, Selir Yunita dan selir-selir lainnya juga memberikan hadiah.
__ADS_1
Setelah itu hadiah dari para Permaisuri dan juga hadian dari para Tuan Putri serta suami mereka.
Hadiah dari Oscar dan juga Juno belum dikirim untuk saat ini, tapi ini adalah masalah harga diri, bahkan jika mereka tidak rela untuk melakukannya, hadiah dari mereka tetap akan datang.
Berita kehamilan Ivonne juga menyebar ke telinga Hendra.
Tangan Hendra gemetar untuk beberapa saat kemudian dia baru mempercayai berita ini.
Hendra segera pulang dan meminta Nenek Viona menyiapkan suplemen untuk diantarkan ke sana, Hendra bahkan memanggil Nelly yang merupakan Ibu Ivonne untuk pergi bersama Nenek Viona ke sana untuk bertemu dengan Ivonne.
Hati Hendra begitu membara.
Kesempatan sudah datang, kesempatannya sudah datang.
Selama Ivonne melahirkan seorang putra maka dia tidak harus melihat wajah Gilang, tidak perlu mencari muka padanya untuk memanjat jabatan yang lebih tinggi.
Tapi Nenek Viona dan juga Nelly kembali setelah tidak lama pergi.
Menunggu untuk melihat wajah mereka yang datar, Hendra tercengang dan berkata, “Mengapa begitu cepat? Apa tidak meminta kalian untuk makan malam di sana?”
“Masih bersikap sombong seperti itu? Benar-benar putri pemberontak!” Hendra sangat marah.
Nelly berkata menjelaskan: “Bukannya benar-benar bersikap sombong, aku melihat para Permaisuri dan Tuan Putri juga ke sana dan Ivonne tidak menemui mereka, kudengar janinnya tidak stabil dan Tabib Kerajaan memintanya untuk beristirahat dengan tenang, Ronald tidak memperbolehkan siapapun untuk masuk ke dalam dan menjenguknya.”
“Janinnya tidak stabil?” Hendra begitu terkejut, raut wajahnya tiba-tiba berubah, “Bagaimana mungkin janinnya bisa tidak stabil? Apa kamu sudah menanyakannya?”
“Menanyakan pada siapa? Aku bertanya dan tidak ada yang tahu.” Nelly sangat marah, “Ronald juga benar-benar, setidaknya aku ini Ibu mertuanya, sikapnya begitu dingin, aku tidak mau pergi ke sana lagi.”
Hendra marah dan berteriak, “Diam, apa yang salah dengan Ronald yang bersikap dingin? Kamu tidak bisa menerimanya? Dia itu adalah seorang pangeran, dia sudah memanggilmu dengan panggilan Ibu mertua dan kamu harusnya mengerti bahwa aturan kerajaan itu berbeda.”
Nelly dimarahi kemudian tidak berani lagi berbicara.
__ADS_1
Nenek Viona berkata dengan rasional, “Hendra, bukannya Bibi ingin berkata padamu, tidak ada gunanya juga kamu pergi, karena Yang Mulia Ronald sudah berkata tidak bertemu siapapun maka walaupun kamu sendiri yang pergi pun dia tidak akan menemuimu, lebih baik menunggu saja terlebih dulu.”
Hendra meremas tangannya sendiri sambil mengerutkan kening dan berkata: “Tidak bisa menunggu, evaluasi resmi pejabat akan dimulai pada akhir tahun, harus segera bertemu dengan Ivonne dan memintanya untuk mengatakan hal baik di depan Ronald, tentu saja Ronald akan mengerti dan melakukannya, sekarang Ivonne hamil, Ronald akan mengikuti semua keinginannya.”
Ketika Nelly mendengar itu berkaitan dengan posisi pejabat, dia juga menjadi gugup, “Gadis sial itu dekat dengan Ibu, mengapa tidak meminta Ibu pergi ke sana? Ronald tidak mungkin akan menolak Ibu yang datang untuk berkunjung bukan?”
Nenek Viona berkata dengan datar: “Itu tidak baik, Kakak sakit parah, bagaimana mungkin bisa membiarkannya keluar? Biarkan dia beristirahat dengan baik.”
Nelly tahu pemikiran Nenek Viona, Ibu sekarang tidak mengurus apapun dan orang-orang di kediaman ini juga sudah tidak mendengarkan perkataan Ibu.
Lagipula, seseorang yang sudah lama sakit parah tidak tahu kapan akan pergi jadi tentu saja tidak akan ada yang mendukungnya.
Tetapi jika Ibu bisa membantu Hendra maka itu akan berbeda.
Nenek Viona takut kehilangan kekuasaannya.
Namun Hendra malah berkata: “Benar, biarkan Ibu yang pergi, kidengar gadis itu datang untuk menjenguk Ibu beberapa kali, Ivonne tidak mungkin tidak menemui Ibu.”
Nenek Viona mencibir, tahu bahwa begitu Hendra sudah emmutuskan maka sudah pasti tidak akan mungkin menyerah, jadi Nenek Viona hanya bisa menyerah.
Hendra pergi ke kediaman Ibunya.
Tentu saja, ketika berbicara dengan Ibunya, Hendra masih tahu bagaimana cara untuk bersikap.
Hendra berkata dengan cemas: “Kediaman Ronalnd memerintahkan orang untuk menyampaikan berita yang mengatakan bahwa Ivonne hamil tapi janinnya tidak stabil dan sekarang harus beristirahat di ranjang, aku sangat khawatir, dia selalu bersikap ceroboh, jika terjadi sesuatu maka itu tidak baik, apa kondisi Ibu sudah lebih baik? Bisakah Ibu pergi ke sana?”
Nenek Ivonne benar-benar sangat kecewa pada putranya ini, dirinya sudah lama sakit dan putranya ini hanya sesekali datang untuk memberi salam tapi sama sekali tidak berbakti.
Tentu saja Nenek Ivonne sangat memahami putranya, dia tahu dengan sangat jelas niat dari putranya ini.
Ronald benar-benar sangat jijik pada orang-orang di keluarga ini, selama kehamilan Ivonne tidak stabil maka tidak mungkin akan mau bertemu dengan mereka, putranya ini tahu Ivonne mencintai neneknya jadi purtanya ini ingin memanfaatkannya.
__ADS_1
Nenek Ivonne tua dengan jelas akan hal itu, tapi begitu mendengar bahwa kondisi kehamilan cucunya tidak stabil, hatinya juga cemas jadi dia sengaja berpikir sebentar kemudian berkata: “Minta orang untuk menyiapkan kereta kuda, aku akan pergi ke sana.”
Hendra amat bahagia, kemudian berkata dengan pelan: “Ibu, jika kamu bertemu dengan Ronald, kamu juga harus memberitahunya sesuatu mengenai keluarga kita.”