
Oscar menciut, raut wajahnya seketika berubah, “Untuk apa Kak Ronald begitu galak?”
Ronald kehilangan kesabarannya dan berteriak, “Antar atau tidak?”
“Kakak tenang dulu, jangan sampai menakuti Clara!” Oscar berkata dengan pelan, tapi dia juga dengan perlahan memimpin jalan.
Ronald mengambil napas dalam-dalam beberapa kali baru akhirnya bisa menekan amarahnya yang meledak.
Oscar kemudian kembali berkata, “Sebelumnya ketika berada di luar gerbang kota, Kak Ivonne berkata dia tidak mendorong Clara ke danau, tapi malah memfitnah bahwa Clara yang mendorongnya dan ingin mencelakainya. Kak Ronald, ketika kamu pulang kamu harus berkata padanya, karena aku melihatmu makanya aku tidak mempermasalahkan masalah ini.”
Ronald melangkah maju kemudian memanggil salah seorang bawahan, “Pergi dan undang Permaisuri Clara ke aula samping, aku ingin bertanya padanya.”
Bawahan itu terpaku untuk sesaat, melihat ke arah Oscar kemudian Oscar mengatakan “Pergilah!”
Bawahan itu menerima perintah kemudian pergi.
Ronald mengabaikan Oscar, berjalan ke aula samping untuk menunggu bersama Rendi.
Oscar kemudian melangkah mengikuti dan juga tidak lupa memohon, “Kak Ronald, kamu harus menyelesaikan masalah ini dengan baik, kamu tidak membiarkanku mleindungi Clara, jadi tidak masuk akal bukan jika kamu melindungi Kak Ivonne?”
Rendi melihat raut wajah Ronald sudah menggelap, dia sudah tidak bisa menahannya lagi kemudian berkata, “Yang Mulia Oscar, lebih baik kamu jangan berkata lagi, bisakah kamu menunggu sampai masalah ini diselesaikan?”
Oscar melirik ke arah Rendi, kemudian Rendi memberinya tatapan peringatan lalu menunjuk ke arah Ronald.
Pada akhirnya Oscar masih takut pada Ronald, meskipun dia merasa tidak senang tapi dia juga sudah tidak berani berbicara lagi.
Setelah menunggu sebentar di aula samping, mereka kemudian melihat Clara datang dengan membawa pelayannya.
Luka di sekitar dagunya sudah dibalut, pakaian yang dikenakannya itu longgar tapi malah menampilkan lekuk pinggang dan anggota tubuh lainnya yang penuh, tubuhnya itu begitu lemah dan rapuh.
Pelayan itu membantu memapahnya masuk ke dalam, ekspresinya begitu rapuh, matanya bengkak.
Melihat Ronald, sebelum mengatakan sesuatu, matanya sudah memerah dan dengan tercekat berkata, “Kak Ronald sudah datang?”
Ronald menatapnya, “Apa lukanya sudah lebih baik?”
__ADS_1
Clara berkata dengan pelan, “Sudah tidak masalah.”
“Masih berkata sudah bukan masalah, kamu saja sudah begitu ketakutan.” Oscar maju dan membantu Clara untuk duduk, “Kamu tenang saja, Kak Ronald datang kali ini karena menerima perintah Ayah untuk menanyakan beberapa pertanyaan, kamu jawab dengan jujur saja itu sudah cukup.”
Clara mengangguk kemudian duduk dan segera bertanya, “Bagaimana dengan mereka yang terluka? Apa baik-baik saja?”
Ronald berkata, “Beberapa ada yang mengalami luka serius, sudah ada Tabib yang merawat mereka, saat ini yang mengalami luka yang paling serius adalah Putri karen, Paman Ralph sudah meminta Tabib kerajaan datang, untungnya pendarahan dihentikan tepat waktu, jika tidak mungkin nyawanya dalam bahaya.”
Clara berkata sambil menangis, “Jika terjadi sesuatu pada Karen, dihukum dengan berat pun aku tidak bisa menebusnya.”
Ronald berkata, “Kamu mengadakan acara pembagian bubur hari ini, dan lagi sudah ada seseorang yang menyiapkannya sejak pagi, mengapa sampai siang masih belum dibagikan? Dan lagi mengapa Bibi dan juga Karen datang bersamamu?”
Clara sedikit tercekat, “Tadinya memang ingin membagikan lebih awal, tapi aku merasa jika membagikan bubur saja tidak akan dapat mengenyangkan perut, jadi aku meminta orang untuk memesan ratusan roti dan roti ini memakan waktu yang lama hingga baru selesai di siang hati. Mengenai Bibi dan juga Nyonya Valen, mereka tahu bahwa aku akan membagikan bubur dan ingin ikut untuk melihat-lihat, mereka juga adalah orang-orang yang baik hati, mereka ingin melakukan sesuatu untuk rakyat, tapi tidak disangka… ”
Clara menundukkan wajahnya dan mulai terisak, isakannya itu begitu menyedihkan dan membuat orang merasa kasihan padanya.
Oscar begitu tidak tega, ingin menjangkau dan memeluknya, tapi ada Ronald dan Rendi di sini.
Ronald sama sekali tidak berekspresi, hanya mendengarkan dengan tenang, menunggu Clara selesai menangis baru mengatakan, “Membagikan roti itu apa merupakan keputusan mendadak?”
“Ya, baru diputuskan di pagi hari.” Clara terisak untuk beberapa saat sebelum akhirnya bisa menenangkan diri dan menjawab pertanyaan.
Clara membeku untuk sesaat, matanya yang berlinang air mata sedikit terpaku dan menatap lekat pada Ronald.
Di dalam hati Clara terdapat lapisan kesedihan dan kemarahan.
Ronald datang apa benar-benar untuk melakukan penyelidikan? Atau hanya menerima perintah Kaisar untuk datang dan menanyakan beberapa pertanyaan?
Jika merupakan yang terakhir, maka tidak perlu menanyakan dengan begitu terperinci seperti ini.
Jika yang pertama … maka Ronald benar-benar berubah.
Clara mengulurkan tangan untuk menopang dahinya, tampangnya kembali ingin menangis, “Kepalaku sedikit sakit, mengenai masalah ini aku hanya memerintahkan pada bawahanku untuk melakukannya, Kak Ronald, kamu bisa menanyakan pada mereka, hari ini aku benar-benar… sangat sedih, hatiku juga sangat kacau.”
Oscar bergegas berkata, “Kak Ronald, masalah roti ini adalah keputusan mendadak dan bukan diputuskan sejak awal, bahkan walaupun hanya 150 roti juga tidak diatur dengan benar, tidak ada yang menyangkan akan seperti itu, Clara hanya berniat baik.”
__ADS_1
Ronald memandang ke arah Oscar yang tidak berguna, tahu bahwa Ronald tidak akan bisa mendapatkan jawaban jadi kemudian berkata, “Baiklah, mengenai situasinya aku sudah mengerti, istirahatlah baik-baik, aku pergi dulu.”
Clara menundukkan pandangannya, wajahnya pucat kemudian berkata dengan pelan, “Selamat jalan Yang Mulia Ronald.”
Sebutan Yang Mulia Ronald ini sedikit dingin dan juga acuh, bukanlah panggilan Kak Ronald yang akrab seperti dulu.
Wajah Ronald sama sekali tidak memiliki ekspresi apapun, dia bangkit kemudian pergi.
Oscar kemudian mengejarnya.
“Kak Ronald, perkataan tadi sepertinya lebih baik dibicarakan dengan jelas.”
Ronald menatap raut wajah Oscar yang tidak masuk akal itu kemudian berkata, “Baiklah, jika kamu ingin membicarakannya dengan jelas maka bicarakanlah, apa yang kamu ingin kamu katakan?”
Oscar berkata dengan tidak senang, “Pada awalnya kamu memintaku tidak mempermasalahkannya maka aku membiarkannya, tapi Kak Ivonne sepertinya sama sekali tidak bertobat, masalah ini tidak dapat dibiarkan begitu saja, Kak Ivonne harus diberi pelajaran, bahkan jika dia memiliki tongkat kerajaan pun aku tidak takut, Paduka Kaisar adalah orang yang rasional, jika masalah ini diadukan padanya maka Paduka Kaisar pasti tidak akan membantunya.”
“Memberi pelajaran padanya? Baik, bagaimana kamu ingin memberi pelajaran padanya? Memukulinya?” Ronald bertanya dengan tenang seolah-olah dirinya tidak marah sama sekali.
Oscar berpikir untuk sesaat, jika memukul wanita sepertinya itu tidak terlalu baik, “Dia itu perlu ditegur bukan? Sebelumnya Kakak berkata Kak Ivonne tidak datang untuk meminta maaf, tapi ketika aku memikirkannya kembali, aku merasa Kak Ivonne harusnya datang untuk meminta maaf.”
Ronald mengangguk, “Ya, apa yang kamu katakan itu benar, tapi aku tidak berpikir Ivonne akan datang untuk meminta maaf pada Permaisuri Clara, atau malam ini kamu luangkan waktu untuk pergi ke kediamanku saja? Ivonne seharusnya mau meminta maaf padamu.”
“Meminta maaf padaku? Apa gunanya meminta maaf padaku? Dia harus meminta maaf pada Clara.” Kata Oscar.
“Itu tidak mungkin, kalau tidak kamu pergi menemuinya lalu kembali untuk menyampaikannya pada Permaisuri Clara?” Kata Ronald.
Oscar merasa lebih baik seperti itu, jika Ivonne bersikeras tidak mau meminta maaf pada Clara maka juga tidak ada cara untuk memaksanya, tapi masalah ini harus jelas, tidak bisa membiarkan Ivonne terus memfitnah Clara, hari ini mengatakan Clara mendorongnya lalu besok mengatakan Clara ingin membunuhnya.
“Baiklah, aku akan menenangkan Clara kemudian aku akan segera pergi ke sana.” Kata Oscar.
Ronald dan Rendi kemudian berbalik dan keluar.
Setelah menaiki kuda, Rendi bergegas mengejar, “Yang Mulia, apa benar akan meminta Raja Oscar datang? Apa Permaisuri akan meminta maaf pada Raja Oscar?”
“Tidak akan mungkin!”
__ADS_1
Rendi terpaku kemudian berkata, “Kalau begitu …”
Ronald menarik tali kekangnya dan meluncur pergi, “Setidaknya dia harus mencoba tongkat kerajaan itu apa berguna atau tidak!”