Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan

Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan
Bab 129. Malu Untuk Menerimanya


__ADS_3

Ronald bagkit bangun, wajahnya marah, “Kamu … pergi cuci selimutku.”


Rendi menatap ke arah itu sambil memegang salah satu matanya, dia tercengang, “Yang Mulia, kamu ini mengompol?”


Tinju lain kembali datang, mata Rendi yang satu lagi juga membiru.


Ronald meminum segelas besar air dingin, baru bisa menekan api di dalam hatinya.


Rendi pergi dengan wajah ingin menangis sambil membawa selimut, ini masih belum fajar.


Sarah masuk untuk merapikan ranjang, menatap Ronald dengan berhati-hati, hanya melihat Ronald duduk di kursi dengan ekspresi marah. Pandangan matanya menatap Sarah dengan tajam, menatapnya dari atas ke bawah, menatap Sarah hingga membuatnya bergidik.


Ada apa dengan Yang Mulia hari ini?


Sarah ketakutan, setelah membereskan ranjang, dia bergegas undur diri.


Ketika Ronald kembali berbaring, sudah tidak memiliki niat untuk tidur.


Dia belum pernah tersiksa seperti ini.


Rendi mencuci selimut di dekat sumur, sambil menangis, Yanto menghampiri dengan membawa sebuah lentera, “Ada apa? Sudah bukan menyalin tapi berganti jadi mencuci selimut?”


Rendi mendongak dengan sedih, “Mengapa Tuan Yanto masih belum tidur?”


“Sudah tidur, tapi dibangunkan oleh tangisanmu.” Yanto duduk di sebelahnya, “Apa yang terjadi padamu? Mengapa kamu terus berbuat salah pada Yang Mulia?”


Rendi juga sangat teraniaya, “Aku tidak tahu.”


“Kamu, benar-benar tidak berguna. Cepat atau lambat Yang Mulia akan menukarmu.” Yanto menghela nafas.


Ketika Rendi mendengar perkataan itu dia terpaku, melempar selimut di tangannya, “Tuan Yanto, apa yang kamu katakan benar? Yang Mulia akan menukarku?”


“Jika kamu tidak pintar, tidak tahu kapan akan diganti.” Yanto mengangkat bahu, “Kamu tahu, berapa banyak orang yang berebut dan ingin memasuki kediaman ini.”


Rendi jatuh terduduk di tanah, hatinya hancur.


Tidak masalah jika ditinju dan diomeli, tapi jangan menukarnya.


Hatinya sedih, “Aku juga tidak bermaksud mengintipnya yang mengompol.”


Yanto tersenyum dan menjitak kepala Rendi, “Kamu ini, aku benar-benar ragu apa kamu ini pria atau bukan, apa kamu tidak pernah bermimpi basah di tengah malam?”


Tiba-tiba Rendi tersadar, dia sangat kaget hingga dagunya hampir terjatuh, “Tuan Yanto, kamu … Yang Mulia menginginkan wanita?”


Rendi berpikir bahwa hal semacam ini hanya terjadi padanya, wanita seperti apa yang tidak bisa dimiliki Yang Mulia? Dan lagi Yang Mulia masih memiliki Permaisuri.

__ADS_1


Bahkan jika Yang Mulia tidak ingin menyentuh Permaisuri, dia juga bisa mengambil beberapa selir pelayan bukan?


Tapi, beberapa pelayan wanita yang ada di Paviliun Eternity benar-benar tidak bisa dilihat, jangankan Yang Mulia, Rendi sendiri saja tidak memandangnya.


“Berpikirlah lebih pintar, melayani Yang Mulia dengan baik, masa depanmu itu tidak terbatas.” Yanto kemudian bangkit dengan membawa lentera.


Rendi tersentak dan meraih tangan Yanto, “Tuan Yanto, aku punya ide, bisa menyenangkan hati Yang Mulia.”


“Ide apa? Jangan sembarangan membuat ide, lakukan saja dengan baik pekerjaanmu.” Yanto berkata memperingatkan.


Rendi berkata pelan, “Karena Yang Mulia menginginkan wanita, maka kita cari seorang wanita untuknya, wanita di Istana ini satu per satu itu tidak bisa dipahami, tapi para wanita di luar itu berbeda, memiliki berbagai macam teknik, sangat mahir.”


Yanto menatapnya dengan ekspresi kosong, “Sepertinya, kamu sudah pernah mencoba berbagai macam teknik itu?”


“Aku? Aku mana punya begitu banyak uang… Maksudku adalah, aku tidak pergi ke tempat seperti itu, aku mendengarkan ucapan orang, gadis di rumah bordil itu tahu lebih banyak, para majikan dan tuan muda menyukai mereka, kita minta beberapa orang untuk datang ke sini dan membuat Yang Mulia bahagia, jika Yang Mulia bahagia, tentu saja dia tidak akan menukarku.”


Yanto sedang memikirkan ingin menolaknya, tapi perkataan itu sudah sampai di ujung bibir, tapi malah terhenti.


Melihat ke arah selimut, malam ini Yang Mulia dan Permaisuri seharusnya tidur bersama, sepertinya kurang sedikit api, jika tidak, lebih baik menambahkan api ini.


“Ide bagus.” Yanto menepu bahu Rendi, menghargainya dan berkata, “Tidak kusangka kamu begitu pintar kali ini, tahu bagaimana membuat Yang Mulia bahagia, tidak salah lagi, jika Yang Mulia bahagia, tentu saja dia tidak akan menukarmu.”


“Baguslah jika Tuan Yanto setuju.” Rendi tersenyum dan mengulurkan tangan.


“Apa?”


“Besok datanglah ke ruang akuntan untuk mengambilnya.” Yanto berjalan perlahan, “Lanjutkan pekerjaan mencuci selimutnya.”


Rendi menemukan solusi, hatinya sangat senang, dia mencuci selimut dengan sangat gembira, mencucinya dengan segenap tenaganya.


Ivonne tidak bisa tidur malam ini.


Bolak balik, pandangan matanya menampilkan pandangan mata Ronald yang membara.


Sudah hampir gila!


Ivonne menutupi wajahnya, kemudian memeluk kepalanya, apa yang sebenarnya Ronald pikirkan?


Ivonne, lalu apa yang kamu pikirkan?


Apa orang ini benar-benar bisa dipercaya? Jangan lupa bahwa tidak lama kamu dipukul olehnya hingga tidak dapat bangun dari ranjang.


Tapi mengapa bisa sangat menyukai ciumannya?


Ketika Ivonne kembali dengan menaiki kereta kuda, kepalanya bersandar di pundak Ronald, mendengarkan detak jantung Ronald, Ivonne benar-benar merasa bahwa itu adalah waktu yang paling tenang dan paling nyata selama dia datang ke zaman kuno ini.

__ADS_1


Meski akhirnya terganggu oleh sebuah ciuman.


Jika, jika kereta kuda itu terus berjalan, apa mereka akan melakukannya di kereta kuda…


Ivonne merasa dirinya sudah hampir gila, napas Ronald, detak jantung Ronald, aroma Ronald, ciuman Ronald, bibir dan gigi Ronald, tangan besar Ronald yang menangkupnya, semuanya itu menjadi objek pemikirannya malam ini.


Tenang!


Ivonne berguling turun dari ranjang, meminum segelas besar air dingin, jika dia tidak tidur, dia harus meminum pil tidur.


Setelah beberapa saat, Ivonne bangun dan membongkar kotak obat, tidak ada obat tidur.


Dia hanya bisa berbaring menerima nasib, satu domba, dua domba, tiga domba, empat domba, lima Ronald, enam Ronald…


Keesokan harinya, keduanya bangun pagi-pagi sekali, ketika mereka bertemu di aula utama, terdapat kantung mata di wajah keduanya.


Saling terpaku, dengan canggung saling menyapa.


Rendi juga masuk sambil menguap, lingkaran hitam matanya bahkan dua kali lebih besar dan lebih gelap dari keduanya.


Ketika Peter memasuki pintu, dia melihat enam pasang mata dengan lingkaran hitam saling bertatapan.


Peter menahan rasa ingin tahu, maju dan berkata pada Ronald, “Jika Yang Mulia sibuk pergi ke Jingzhaofu, maka aku yang akan mengantarkan Permaisuri.”


“Baiklah, aku memang benar-benar sibuk hari ini, Peter, menyusahkanmu.” Kata Ronald, dia benar-benar takut duduk di gerbong kereta yang sama dengan Ivonne, dia akan menjadi gila.


Peter tersenyum, “Tidak masalah, tugas lebih penting, Kaisar juga sudah memerintahkan, harus mengantar jemput Permaisuri kapanpun, kemarin malam Yang Mulia sudah membantuku mengantarkan Permaisuri, aku yang terbantu.”


Ronald tersenyum, memandang ke arah Ivonne, “Malam ini … Peter yang akan menjemputmu, aku akan pulang sangat larut.”


Ronald berpikir dia ingin menjemputnya malam ini, tapi sial, dia ternyata tidak dapat mengucapkannya.


Ivonne diam-diam menghela nafas lega, “Baiklah!”


Merasakan rasa canggung di antara keduanya, Peter berkata, “Permaisuri, apa sudah bisa pergi?”


“Ya!” Sudut mata Ivonne menatap sekilas pada Ronald, ingin menatapnya dengan terang-terangan, tapi tidak berani.


Peter pergi, Ivonne hanya bisa mengikutinya, berjalan begitu jauh, baru kemudian menoleh melihar sekilas pada Ronald, Ronald sedang berada di pintu aula utama, menatap Ivonne, pandangan mereka bertatapan, hati mereka seakan tertabrak oleh sesuatu.


Pergi ke Kediaman Indra, Wendy sudah ada di sana, dia menyapa Ivonne, merangkul lengannya dan berjalan masuk, “Apa Kakak tidak tidur nyenyak tadi malam? Mengapa lingkaran di bawah matamu begitu hitam?”


Ivonne tersenyum dan berkata, “Ya, aku sedang memikirkan kondisi Indra sepanjang malam.”


“Kakak benar-benar bekerja keras.” Wendy menghela nafas.

__ADS_1


Ivonne merasa bersalah, malu untuk menerimanya!


__ADS_2