
Ketika Cecil melihat Ivonne yang tampak seperti tidak tahu apa-apa, dia akhirnya menjelaskan, “Besok, Clara akan membuka tempat untuk membagikan bubur di luar kota, meringankan dan membantu pengemis di kota, dua hari sebelumnya, Permaisuri Juno yang sedang sakit pergi ke Kuil untuk mendoakan para korban banjir, membuat permohonan dan berlutut sepanjang malam.”
Ivonne akhirnya paham, “Permaisuri Juno berdoa dalam keadaan sakit? Dan juga berlutut sepanjang malam? Aku khawatir kondisi penyakitnya akan semakin buruk bukan?”
“Ya, kondisinya menjadi makin memburuk, Kaisar bahkan memberikan obat padanya.” Cecil memandang Ivonne dengan bingung, “Tidak benar, bukankah kamu yang sebagai Permaisuri harusnya tahu akan kabar ini? Aku saja tahu mengenai hal ini.”
Ivonne tersenyum pahit, “Aku tidak tahu banyak akan hal luar.”
Ivonne bahkan tidak tahu mengenai banjir.
Ivonne kemudian bertanya, “Di mana banjir itu terjadi?”
“Siapa yang tahu, kudengar di kota di perbatasan.”
“Aku akan bertanya pada Ronald nanti ketika pulang.” Kata Ivonne.
Cecil menatapnya sekilas kemudian mengangkat alisnya, “Apa kamu memanggil Yang Mulia dengan namanya begitu saja?”
“Kalau tidak?” Ivonne masih belum tersadar, hatinya masih memikirkan kota mana yang terkena banjir itu, jika benar ada maka Ronald harusnya tahu.
“Jika didengar oleh Ayah maka dia akan membunuhmu.” Kata Cecil.
Ivonne tersenyum samar, “Dia tidak bisa mendengarnya dan juga tidak bisa melihatku.”
“Benar juga, dia tidak berani memukulimu sekarang.” Cecil mengangkat bahunya, bibirnya mencibir, “Tidak tahu apa pemikirannya akhir-akhir ini, dia selalu membawa tamu datang ke rumah kemudian memintaku untuk menemui mereka.”
“Tidak mungkin bukan? Siapa mereka? Apa kamu pernah bertemu dengan mereka sebelumnya?” Tanya Ivonne.
“Aku belum pernah melihat mereka, mengenai siapa mereka, bagaimana mungkin aku tahu? Tapi aku mungkin bisa menebaknya.” Kata Cecil dengan nada bosan.
Ivonne tiba-tiba tersadar, “Masalah mengenai pernikahanmu?”
Cecil memandang ke arah luar, “Kalau tidak apa lagi?”
Ivonne bertanya, “Bagaimana menurutmu?”
Cecil melirik ke arah Ivonne sekilas kemudian berkata dengan sinis, “Apa yang bisa kupikirkan? Selama itu bukan seperti orang dari Keluarga Chu yang ingin membunuhku itu, aku bahkan tidak memiliki kemungkinan untuk menolak.”
Terhadap masa depan, Cecil tidak memiliki keinginan lain.
Mengenai pernikahan, Cecil sama sekali tidak memiliki hak untuk berpendapat.
__ADS_1
Perlawanan sebelumnya itu dikarenakan pedang keluarga Chu itu diarahkan langsung di lehernya, jika Cecil menikah dengan orang itu maka dia sudah pasti akan mati.
Mengingat Ivonne hampir mati dikarenakan dirinya, ada perasaan kompleks yang muncul di hati Cecil.
Cecil dulu berpikir Kakaknya ini tidak berguna dan juga serakah serta sombong.
Sekarang Ivonne benar-benar banyak berubah.
“Kak lebih baik kamu berhati-hati, sekarang kamu adalah Istri dari Yang Mulia Ronald, bahkan jika kamu tidak memprovokasi orang lain tapi orang lain mungkin tidak akan membiarkanmu hidup damai.”
Ivonne terpaku untuk beberapa saat, bukankah tadi sedang mendiskusikan pernikahan Cecil?
Mengapa tiba-tiba Cecil menasihatinya? Jalan pikiran adiknya ini benar-benar berubah dengan sangat cepat.
“Besok Clara akan membagikan bubur, haruskah kita juga pergi dan melihatnya?” Kata Ivonne.
“Apa yang bisa dilihat? Apa kamu ingin mendukungnya?” Cecil bingung.
“Clara tidak terlihat seperti orang baik, tapi jika dia bersedia melakukan hal seperti ini bagi orang miskin demi reputasinya, maka itu adalah hal yang baik.”
Cecil menatap Ivonne, “Ini baik untuk orang miskin, lalu apa gunanya untukmu? Kamu tidak miskin, ini tidak ada hubungannya denganmu.”
“Aku tidak tahu apa harus bahagia atau tidak, itu tidak ada gunanya bagiku.” Kata Cecil, bukannya sengaja berkata sinis tapi dia benar-benar tidak mengerti mengapa Ivonne pikir itu adalah hal yang baik.
Ivonne berkata “Karena itu adalah kehidupan rakyat.”
Cecil tidak mengerti, tapi tatapannya ketika menatap Ivonne terdapat cahaya yang aneh, “Kamu ternyata benar-benar ingin menjadi putri mahkota, jika tidak untuk apa kamu memikirkan hal ini?”
Ivonne tertawa.
Masalah menjadi putri mahkota atau tidak, itu bukanlah hal yang dia inginkan atau tidak diinginkannya.
Jika Ronald adalah pangeran mahkota maka dia sudah pasti akan menjadi putri mahkota.
Jika Ronald bukan atau tidak berniat menjadi Pangeran mahkota maka posisi putri mahkota juga benar-benar tidak menarik untuk Ivonne.
Keesokan harinya, Kakak beradik itu pergi bersama ke luar gerbang kota.
Ada ruang besar terbuka di luar gerbang kota, saat ini tenda sementara sudah didirikan, beberapa pot besar sudah dipanaskan di atas api yang menyala, bubur yang mendidih di dalam panci besi itu menguarkan aroma yang semerbak, menarik perhatian orang miskin dan pengemis yang belum memakan bubur untuk waktu yang lama itu berkumpul di sekitar sana.
Clara belum tiba, jadi aktivitas pembagian bubur itu masih belum dimulai.
__ADS_1
Hanya saja memasak bubur di tempat seperti ini, dan juga semua orang yang sedang kelaparan berada di sekitar, dan lagi orang datang terus menerus satu demi satu, dan lagi hanya ada beberapa panci itu, sepertinya hanya bisa dimakan oleh puluhan orang saja, jumlah orang terlalu banyak dan jumlah makanan yang diberikan terlalu sedikit.
Ada orang yang sudah menunggu hingga menjadi tidak sabar, kemudian maju untuk bertanya pada orang yang sedang memasak bubur, “Tuan, kapan bubur ini akan dibagikan?”
Orang yang memasak bubur itu berkata dengan dingin, “Mengapa kamu begitu buru-buru? Apa kamu tidak melihat bubur ini masih sedang dimasak? Setidaknya masih harus menunggu selama satu jam lagi.”
“Satu jam lagi?” Semua orang semakin panik, “Dalam 1 jam lagi, takutnya beras itu sudah dimasak sampai gosong.”
Orang yang memasak bubur itu tidak berbiacara, menarik beberapa kayu bakar, apinya menjadi semakin kecil, bubur itu menjadi tidak begitu mendidih seperti sebelumnya.
Ivonne merasa itu sangat aneh, bubur itu tampaknya sudah hampir matang, mengapa masih tidak dibagikan?
Ada semakin banyak orang sekarang, nantinya tekanan ketika membagikan bubur akan semakin besar, mereka yang mengantri adalah orang yang paling tidak sabar, mudah membuat konflik dan keadaan akan menjadi kacau.
Jadi ketika orangnya sedikit lebih baik membagi bubur secara perlahan untuk mengurangi tekanan selama periode puncak.
Jika harus menunggu satu jam lagi, bukankah akan makin banyak orang yang datang?
Di kota ini memang banyak orang kaya, tapi ada juga banyak orang miskin di desa-desa dan kota-kota sekitarnya.
Ada bubur gratis yang dibagikan untuk dimakan, siapa yang tidak akan datang dan memakan semangkuk?
“Apa yang terjadi? Ini sudah waktunya dan masih belum membagikan bubur?” Cecil menunggu hingga dirinya tidak sabar, dia tidak ingin meminum bubur, hanya berpikir Kak Ivonne datang kemari untuk melihat pembagian bubur lalu mereka akan pergi setelah melihatnya.
Ivonne seketika langsung paham, “Clara masih belum datang, karena dia ingin membangun nama yang baik jadi tentu saja harus mengunjungi tempat ini dan juga mendapat rasa kagum dari orang-orang.”
Cecil dengan jijik berkata, “Benar-benar munafik.”
Ivonne tersenyum, “Bagi rakyat itu tidak jadi masalah, mereka hanya memikirkan bisa memakan bubur ini, paling-paling mereka hanya perlu mengucapkan ‘Terima kasih Permaisuri Clara’ saja.”
Yang ditebak Ivonne benar, setelah menunggu hampir satu jam, mereka baru melihat kereta kuda yang datang perlahan.
Pada saat ini, orang-orang yang menunggu untuk memakan bubur itu sudah tidak sabar lagi, mereka semua menunggu begitu lama, sangat disayangkan jika pergi, tapi menunggu pun membuat mereka emosi, mereka belum pernah melihat pembagian bubur seperti ini.
Sebelum kereta kuda itu tiba di tenda, dua pelayan membantu memapah Clara untuk turun dari kereta kuda.
Orang-orang yang menunggu semuanya bersorak, karena semua orang mengerti mereka harus menunggu “orang baik” ini tiba baru bubur itu bisa dibagikan.
Clara begitu terkejut, bubur masih belum dibagikan tapi reaksinya sudah seperti ini.
Benar saja, nasihat Kakek memang paling baik.
__ADS_1