
Ivonne membersihkan luka pengemis itu, melihat Oscar yang terus mengganggunya, raut wajah Ivonne menggelap, “Jika kamu khawatir padanya maka bawa dia ke istana untuk mencari Tabib Istana.”
“Kamu periksalah Clara lebih dulu, aku takut dia melukai perutnya.” Oscar menatap cemas pada Clara.
Clara belum pernah bersikap bagai kehilangan jiwa seperti sekarang ini.
Tidak tahu Clara terluka di bagian mana.
Ivonne menoleh dan menatap sekilas pada Clara kemudian berkata dengan datar, “Aku bukan bidan, tidak mengerti mengenai hal ini, jangan halangi aku.”
Clara seolah-olah baru kembali tersadar, melirik ke arah Oscar sekilas, “Aku baik-baik saja, Yang Mulia jangan mengacau.”
Tapi ada kilatan cahaya yang tiba-tiba melintas di benaknya.
Ayah Kaisar pasti akan meminta pertanggungjawaban kali ini padanya, tapi bagaimana jika dirinya ini hamil?
Bulan ini dirinya sudah telat datang bulan selama beberapa hari, dua hari lalu Clara sengaja memasuki istana untuk mengunjungi Bibi sekalian meminta Tabib Istana datang untuk memeriksa denyut nadinya.
Dokter itu berkata tampaknya itu adalah kabar baik, tapi juga tidak mirip, dan mungkin dikarenakan masih terlalu dini dan belum terlihat dengan jelas, jadi harus menunggu selama beberapa hari untuk melakukan pemeriksaan lagi.
Napas Clara tiba-tiba menjadi cepat.
Jika dirinya benar-benar hamil, maka Kaisar tidak akan tega menghukumnya.
Ivonne mengabaikan mereka dan terus mengobati pengemis itu.
Pengemis itu terbaring di tanah dengan ekspresi kesakitan di wajahnya, tapi dia juga merasa sangat puas.
Pengemis itu memungut dua roti, memakannya gigitan demi gigitan, memasukkan semuanya ke dalam perutnya.
Pengemis itu tidak pernah merasa sekenyang itu.
“Apa sakit?” Ivonne mencabut kayu yang tertusuk di kaki pengemis itu, ada juga luka bakar yang disebabkan oleh bubur panas yang membuat lukanya itu memerah, menarik celana kotor dan compang camping itu ke atas, dari paha ke lutut semuanya terdapat luka bakar.
Luka bakar itu sangat menyakitkan.
Pengemis itu menggelengkan kepalanya, menatap Ivonne dengan penasaran dan ketakutan.
Ivonne selesai membersihkan lukanya dan mulai mengoleskan luka pada luka bakarnya.
Melihat adegan ini, Oscar tidak bisa tidak mendengus dengan dingin.
Clara menarik Oscar pergi, Oscar tidak bisa menahan diri untuk bertanya pada Ivonne, “Kak Ivonne, apa kamu tidak takut?”
Ivonne tiba-tiba bangkit, dan dengan tegas berkata di depan Oscar, “Raja Oscar, mana Ronald?”
__ADS_1
Oscar dikejutkan oleh emosi Ivonne yang tiba-tiba, tanpa sadar melirik sekilas dan melihat Ronald masih sedang berurusan dengan para korban, kemudian dia berkata, “Kak Ronald sedang menyelamatkan para korban.”
“Sialan, lalu apa yang kamu lakukan di sini?” Ivonne memaki dengan marah kemudian berkata, “Aku sudah begitu sibuk, apa kamu tidak melihatnya? Ada begitu banyak korban yang terluka di sekitar, apa kamu tidak bisa membantu untuk menghentikan darah dan membalut luka mereka? Jika kamu tidak memiliki rasa simpati sedikitpun dan hanya memikirkan apa Istrimu itu baik-baik saja atau tidak, maka kamu boleh membawa Istrimu itu dan pergi, jangan mengganggu penyelamatan di sini.”
Oscar bagai tersambar petir.
Ivonne memaki Oscar untuk beberapa saat, Oscar kemudian baru merespon, dirinya ditegur keras oleh Kakak iparnya ini di depan begitu banyak orang.
Rasa kesal dan terhina muncul di hatinya, sebagai seorang pangeran dan juga merupakan keturunan langsung, mana mungkin Oscar bisa menerima rasa malu yang begitu besar seperti itu?
Oscar dengan marah berkata, “Ivonne, beraninya kamu mengatakan itu? Terakhir kali kamu mendorong Clara ke danau, aku tidak memperhitungkannya denganmu karena melihat Kak Ronald, sekarang kamu menjadi begitu sombongnya?”
Ivonne memandang ke arah Clara, “Apa aku mendorongmu ke danau? Kamu berkata seperti itu padanya? Apa kamu berani bersumpah ke langit bahwa kamu tidak mendorongku ke danau, tidak menekan kepalaku ke danau untuk menenggelamkanku karena ingin membunuhku? Kamu bersumpah, bersumpah demi reputasi keluargamu, bersumpah demi bayi di dalam rahimmu, bersumpah demi nyawamu, selama kamu berani bersumpah, aku akan mengaku bersalah padamu.”
Clara menatap Ivonne, wajahnya begitu pucat, “Permaisuri Ivonne, masalah ini sudah berlalu, aku tidak mempermasalahkannya lagi denganmu.”
Selesai berbicara, Clara berkata pada Oscar, “Ayo kita pulang.”
Oscar dengan kekanakan berkata, “Bersumpahlah, kamu bersumpahlah, kita lihat apa lagi yang bisa dia katakan.”
Tatapan mata Clara sudah kehilangan kesabarannya, “Perutku sakit, aku tidak ingin memperhitungkannya dengan orang-orang ini.”
Oscar mendengar Clara berkata perutnya sakit, dia begitu gugup, “Baik, kita tidak akan memperhitungkannya dengannya, ayo kita pergi.”
Ada banyak banyak orang di sekitar, ketika Ivonne memarahi Oscar tadi banyak orang yang melihat ke arah mereka.
Alis Ivonne terangkat, “Jangan bergerak!”
Pengemis itu tidak bergerak sama sekali, seperti batu, bahkan dirinya tidak berani bernafas.
Pengemis itu tidak berani menatap Ivonne, tatapan matanya menghindar, dia sangat panik dan juga begitu bersemangat.
“Baiklah, datanglah ke kediamanku untuk mencariku besok, aku akan memberimu obat lagi.” Ivonne menarik turun celananya ke bawah, sebenarnya juga tidak ada yang bisa ditutupi, celananya itu sudah begitu compang camping.
Pengemis itu dengan gemetar berkata, “Baik, terima kasih banyak… Terima kasih banyak Permaisuri.”
Ivonne tahu pengemis ini tidak akan datang, jadi Ivonne memberinya beberapa pil obat kemudian menjelaskan, “Obat ini diminum sekali sehari, selama 5 hari, lalu 2 butir obat ini adalah pereda demam, jika kamu merasa dirimu demam maka segera minum satu butir, mengerti?”
Pengemis itu perlahan mengulurkan tangannya, tangan itu begitu hitam dan kurus, seperti dahan mati.
Ivonne memberikan obat itu padanya kemudian berbalik untuk mengobati korban lain yang terluka.
Jumlah penyelamat berangsur-angsur meningkat, ada orang yang datang dari pihak Tuan Joshua, Raja Ralph juga datang secara pribadi untuk menjemput Istrinya dan juga putrinya.
Permaisuri Ralph tidak datang untuk menyapa Ivonne, tapi dia menganggukkan kepalanya untuk berterima kasih pada Ivonne karena telah menyelamatkan Karen.
__ADS_1
Kondisi di tempat ini akhirnya bisa dikendalikan.
Ronald dengan tegas memerintahkan agar orang-orang yang tidak berkaitan untuk segera pergi.
Orang yang tidak berkaitan ini termasuk Ivonne.
“Aku …” Ivonne berusaha berdebat.
Ronald langsung menggendong Ivonne dan membawanya menuju kereta kuda, kemudian berkata pada Cecil dan Letty, “Bawa dia pulang, awasi makan dan minumnya.”
“Tidak, aku masih bisa …” Ivonne membuka tirai, yang terpenting adalah masih ada obat di kotak obatnya.
“Diam!” Ronald menurunkan tirai.
“Baik Kakak ipar!” Cecil benar-benar takut, Kak Ivonne benar-benar sangat gila karena masih ingin menerjang maju, itu merupakan pekerjaan pria.
Tapi Kak Ivonne tadi benar-benar sangat heroik.
Cecil merasa dirinya tiba-tiba mengagumi Kakaknya ini.
“Nona Cecil, kamu ada di sini? Apa kamu baik-baik saja?”
Ketika Cecil ingin menaiki kereta kuda, dia mendengar suara pria yang begitu jernih.
Menoleh ke belakang, dia melihat seorang pria tampan yang mengenakan pakaian berwarna biru yang membawa tanda giok di pinggangnya sedang tersenyum padanya.
Orang ini terlihat familiar.
“Kamu siapa?” Cecil tidak dapat mengingatnya dan bertanya.
Peter sedikit terhuyung, dirinya seakan mendengar ada sesuatu yang retak di dalam tubuhnya.
Peter selalu berpikir pertemuan mereka waktu itu, bahkan walaupun itu hanya sekilas dan mengejutkan tapi harusnya adalah kejadian tak terlupakan.
Peter teringat saat mata jernih Cecil yang menatapnya pada waktu itu, saat itu cahaya di pandangan mata itu begitu dalam.
Peter tak sabar untuk kembali bertemu dengan Cecil.
Peter percaya Cecil juga demikian.
Peter memikirkan Cecil diam-diam selama beberapa malam.
Berpikir sepertinya Cecil juga demikian, atau mungkin Cecil bahkan lebih buruk dibandingkan dirinya, lagipula kemampuan mengendalikan diri wanita lebih buruk dibanding pria.
Tapi, apa yang dikatakan Cecil tadi? Dia bertanya padanya dia siapa?
__ADS_1
Peter berbalik kemudian pergi, tidak memiliki keberanian untuk menghadapi kenyataan yang kejam.
Peter tidak bisa menerimanya, selama ini dia yang terlalu berpikiran lebih.