
Kediaman Indra ingin diperiksa dengan teliti, Ronald dan Ivonne tidak tinggal lama di sana.
Dikarenakan akhir-akhir ini ada banyak orang yang datang ke kediaman Indra, mereka mungkin belum tentu adalah orang-orang di kediaman Indra. Ini melibatkan para putri dan pangeran lain, mereka juga tidak bisa berkata apa-apa.
Karena Ronald khawatir akan cedera Ivonne, jadi hanya bisa membawa Ivonne kembali agar bisa berbaring dengan nyaman di kediaman mereka.
Di malam harinya, ada bawahan dari kediaman Indra yang datang melapor, mata-matanya sudah ketahuan. Ternyata itu adalah Bibi yang mengikuti Indra keluar dari Istana.
Ketika Ronald mendengar perkataan ini, dia hanya menggelengkan kepalanya dan berkata, “Jika aku tidak salah ingat, Bibi itu seharusnya adalah Ibu asuh Indra.”
Ibu asuh, itu setara dengan setengah Ibu kandung.
Sepertinya Indra akan merasa sangat sedih.
“Racun itu juga dia yang melakukannya, tapi dia masih berbelas kasih. Racun itu sebenarnya bisa membuat Yang Mulia Indra terbunuh.” Yanto melaporkan perkataan yang dilaporkan oleh bawahan dari kediaman Indra.
“Apa sudah mengetahui siapa yang ada di baliknya?” Ronald bertanya.
Yanto menggelengkan kepalanya, “Belum, bersikeras tidak mengatakannya. Kehidupan satu keluarga ada di tangannya, pada akhirnya ketika tidak ada yang memperhatikan Bibi itu bunuh diri dengan membenturkan kepalanya ke dinding.”
Mendengar Bibi itu meninggal dengan cara yang begitu mengenaskan, hati Ivonne juga merasa tidak nyaman.
Anak yang diasuh sejak kecil hingga besar, jika bukan karena terpaksa, sepertinya Bibi itu juga tidak akan melakukannya.
Dan lagi, Bibi itu memang berbelas kasih, jika tidak sepertinya Indra sudah mati.
Siapa yang akan mewaspadai Ibu asuh?
Bisa dilihat orang yang ada di belakang itu sangat pintar, menemukan seseorang yang tidak akan dicurigai oleh siapa pun.
Yanto tiba-tiba berkata, “Ibu asuh itu sudah meninggal, petunjuknya sudah putus, tidak mungkin bisa melacaknya.”
Ivonne memandang ke arah Ronald, “Apa menurutmu ini dilakukan oleh Raja Juno?”
Ronald memandang ke arah Ivonne, dengan pelan berkata, “Mengenai masalah ini kamu jangan mengurus dan juga jangan menanyakannya, kamu juga jangan mencari masalah dengan pasangan ini di kemudian hari, aku memiliki cara untuk berurusan dengan mereka.”
Dulu, Ronald pernah mendengar Ivonne mencurigai Juno.
Ronald tahu bahwa pemikiran Ivonne jernih, otaknya pintar dan juga Ronald menghargai hal ini.
Tapi dulu dan sekarang itu berbeda, Ronald tidak ingin Ivonne melihat hal yang kotor dan juga kejam.
Ivonne tahu maksud Ronald, kemudian dia berkata, “Baiklah, aku mengerti.”
__ADS_1
Tidak ingin mengecewakan niat baik Ronald, tapi Ivonne juga bisa menggunakan cara lain.
Yanto tidak membicarakan hal itu lagi, mengalihkan topik berkata, “Oh iya, Permaisuri Stanley akan membawa Yang Mulia Stanley kembali ke kediamannya sendiri besok pagi.”
“Apa kamu sudah pergi menjenguk Kak Stanley?” Ivonne bertanya.
“Belum!” Ronald berkata dengan begitu canggung, setelah masalah itu, Ronald sama sekali tidak pergi dari sisi Ivonne selangkahpun, hanya meminta Yanto untuk pergi mengurus ke sana.
“Cepatlah kamu pergi untuk menjenguknya, luka Kak Stanley tidak ringan.” desak Ivonne.
Ronald mengangguk, “Aku akan pergi nanti, kamu tidurlah lebih dulu, aku akan pergi setelah kamu tidur.”
“Pergi sekarang!” Ivonne melototkan matanya.
Ronald tersenyum, “Baik, aku pergi sekarang, kamu tidurlah, aku akan memanggil Bibi Vera untuk menemanimu di sini.”
“Aku bukan anak kecil, apa perlu ditemani ketika tidur?”
“Tidak boleh membantah!” Ronald berkata dengan seenaknya.
Ivonne hanya bisa menyerah, “Baiklah!”
Ronald baru keluar dengan tenang, Bibi Vera masuk dan berjaga di samping.
Ivonne sangat lelah, lukanya sudah menghabiskan seluruh tenaganya, Ivonne terlalu malas untuk berbicara, memejamkan matanya kemudian tidur untuk sesaat.
Stanley berbaring di ranjang, Istrinya yang secara pribadi menjaganya.
Sikap duduk Istri Stanley sangat aneh, dia duduk dengan begitu tegak, lehernya terjulur seperti jerapah yang sedang mengawasi Stanley, dia memang khawatir tapi lebih banyak rasa amarahnya.
Istri Stanley benar-benar marah.
Situasi tadi malam, jika sedikit saja mengerti seni bela diri maka tidak akan menjadi seperti sekarang.
Beberapa tahun ini, Istri Stanley terus meminta Stanley untuk berlatih seni bela diri, tapi Stanley tidak mendengarkannya, Stanley hanya tahu bagaimana makan dan minum setiap harinya, membuat tubuhnya memiliki begitu banyak lemak, makin membuat gerakannya menjadi canggung.
Melihat Ronald masuk, Istri Stanley bangkit dan berkata, “Kebetulan kamu datang, nasehati dia.”
Ronald melihat Kakaknya membenamkan kepalanya di bawah bantal, tampangnya itu begitu menyedihkan karena diomeli, kemudian Ronald berkata, “Kak, Kak Stanley masih terluka, kamu jangan memarahinya lagi.”
Istri Stanley berkata dengan nada tidak baik, “Kemarin malam dia benar-benar mempermalukan wajah keluarga kerajaan, sebagai salah seorang pangeran, hanya bisa menggunakan tubuhnya yang berlemak itu untuk menghadang panah, apa itu tidak memalukan?”
Stanley menolehkan kepalanya, dengan enggan berargumen, “Setidaknya aku menyelamatkan Istri Ronald.”
__ADS_1
“Kamu tetap saja membiarkannya terluka!” Istri Stanley mendengarkan Stanley begitu bangga, tidak bisa menahan diri untuk berteriak, “Mengapa kamu bisa begitu bertebal muka? Lihatlah saudara-saudaramu, kecuali Gerald yang memang sudah sakit sedari kecil, mana di antara mereka yang tidak bisa seni bela diri? Bahkan Indra yang sedang sakit sekarang pun juga mendapat apresiasi dari Ayah karena gerakannya yang begitu cepat, kulihat kamu bahkan juga tidak dapat mengalahkan adikmu yang paling kecil.”
Stanley bergumam berkata, “Mengapa aku harus bertarung dengan adikku? Bukankah nanti aku akan diejek karena melakukan intimidasi? Selalu mengatakan hal-hal yang tidak berhubungan, benar-benar banyak bicara.”
Istri Stanley sangat marah hingga sudah akan menangis, “Aku banyak bicara? Mengapa aku bisa seperti itu? Bukankah karena kamu yang tidak berguna? Aku tidak memintamu seperti Ronald yang begitu hebat, setidaknya kamu bekerja dengan benar dan membuktikannya pada orang lain bahwa aku tidak menikah dengan orang yang tidak berguna, oke?”
Ketika Ronald mendengarkan kata-kata ini, dia juga tidak berdaya, sepertinya dia datang di waktu yang tidak tepat.
Pasangan ini sedang bertengkar, jika Ronald menyela itu juga tidak benar, mendengarkan mereka juga salah, jika dia pergi maka itu akan lebih tidak sopan.
Stanley biasanya tidak akan melawan karena terlalu malas untuk berdebat, tapi hari ini adiknya ada di sini, Stanley juga orang yang masih menginginkan harga diri, dia kemudian menggebrak ranjang dan berakata dengan marah, “Jika kamu tidak menyukaiku, maka pergi saja, apa aku akan memusingkan tidak akan bisa menemukan istri?”
Istri Stanley dengan marah berkata, “Baik, ketika kembali besok, aku akan mengepak barang-barangku dan kembali ke rumah keluargaku, kamu bisa hidup sendiri.”
Stanley sangat marah sehingga bagian lukanya merasa sakit kemudian dia merintih kesakitan.
Ketika Istri Stanley melihatnya, dia begitu tidak tega dan tidak bisa marah padanya, duduk di pinggir ranjang dan dengan lembut mengelus punggung Stanley, “Kamu memang pantas merasakan sakit.”
Ronald perlahan-lahan mundur keluar sambil berpikir.
Komunikasi antara suami-istri ini sangat aneh, tidak lama mereka bertengkar dengan begitu hebatnya, lalu seketika sikap mereka begitu intimnya.
Tapi pertengkaran benar-benar membuat orang merasa jengkel, di kemudian hari Ronald tidak akan pernah bertengkar dengan Ivonne.
Paling-paling Ronald harus sedikit mengalah pada Ivonne.
Selama Ivonne merawat lukanya, Ivonne diperlakukan orang lain bagai sebuah harta berharga, bahkan Becky pun tidak berbuat nakal, hanya menemani di samping ranjangnya.
Ronald telah berhubungan dengan Becky selama dua hari, secara perlahan Ronald sudah tidak begitu takut atau membencinya lagi, ketika Ronald makan bahkan dia memberikan tulangnya pada Becky, itu membuat Becky sangat senang hingga berputar di sekitar Ronald.
Ivonne penasaran dan diam-diam bertanya pada Bibi Linda, “Mengapa Yang Mulia begitu takut pada anjing?”
“Ketika Yang Mulia masih kecil, dia pernah dikejar dan digigit oleh anjing.” Kata Bibi Linda.
Ivonne kemudian berkata, “Benarkah? Digigit di bagian mana?”
Meskipun ada banyak luka di tubuh Ronald, tapi tampaknya tidak ada bekas luka digigit anjing.
Bibi Linda tersenyum, diam-diam menoleh dan melihat sekilas, melihat Ronald masih belum masuk, dia kemudian menurunkan suaranya dan berkata, “Tidak terkena gigitan, tapi hampir saja burungnya itu dimakan, untuknya Kasim Artur tiba tepat waktu.”
Ivonne kaget, “Benarkah?” Tidak heran Ronald begitu trauma, ternyata hampir saja bagian terpentingnya itu dimakan anjing.
Bibi Linda tertawa.
__ADS_1
Ronald kemudian masuk, “Kenapa? Tertawa dengan begitu keras.”