Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan

Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan
Bab 149. Otopsi


__ADS_3

Ada bawahannya yang bergegas masuk dan melapor dengan hormat, “Yang Mulia, Permaisuri datang.”


Ronald mendongak, “Permaisuri?”


Untuk apa Ivonne datang? Ini sudah sangat larut, mengapa masih tidak tidur?


Ronald bangkit dan keluar, benar saja dia melihat Letty sedang memapah Ivonne dan berjalan masuk ke dalam.


Ronald bergegas menghampiri dan menggenggam tangan Ivonne, berkata dengan pelan, “Ini sudah begitu larut, mengapa kamu datang?”


Ivonne menatap wajah Ronald yang pucat dan lelah, tidak bisa menahan perasaan tidak teganya, “Hari ini Putri Lilian mengatakan padaku bahwa Kaisar telah memberi perintah padamu untuk menyelesaikan kasus ini dalam waktu 7 hari, ini adalah masalah besar, mengapa kamu tidak memberitahuku?”


Ronald berkata dengan lembut, “Jangan khawatir, waktu 7 hari masih belum tiba, dan lagi aku memiliki kepercayaan diri bisa menyelesaikan kasus ini sebelum batas waktu itu tiba.”


Ivonne tahu Ronald sedang berbohong. Jika Ronald benar-benar dapat menyelesaikan kasus ini sebelum tenggat waktu, maka Ronald tidak akan tidak pulang ke rumah.


Ivonne membiarkan Ronald menggandengnnya masuk, kemudian berkata, “Aku tidak mengerti bagaimana cara menyelesaikan kasus, tapi aku tahu sedikit mengenai teknik pengobatan, biarkan aku melihat mayatnya, mungkin akan memiliki beberapa penemuan dan petunjuk lain.”


“Melihat mayatnya? Tidak boleh!” Ronald langsung menolak, “Apa yang bisa dilihat dari mayat?”


Orang itu sudah mati beberapa hari, meskipun kamar mayat itu dibangun dengan menggunakan es, tapi tubuh mayat itu sudah bengkak dan bau, bagaimana Ivonne bisa menahan bau itu?


“Tapi sekarang kalian tidak memiliki kemajuan apapun bukan? Jangan menyembunyikan dariku.” Kata Ivonne.


“Percaya padaku, akan baik-baik saja.” Ronald sendiri merasa bahwa kata-katanya itu tidak memiliki kepercayaan diri.


Setelah mengantarkan Ivonne ke belakang dan beristirahat di kamar, Ronald kemudian menegur Letty karena dia tidak menjaga dan membiarkan Permaisuri beristirahat dengan baik.


Ivonne sangat bersyukur begitu disayang oleh Ronald seperti itu, tapi mereka sekarang adalah pasangan suami istri, seharusnya mereka saling berbagi kesulitan.


Jadi Ivonne juga merasa sangat tak berdaya terhadap tindakan Ronald ini.


Ivonne juga tidak bisa memaksakannya, Ronald sudah terlihat sangat jengkel.


Ivonne seakan hanya berganti tempat untuk tidur, Ronald masih sibuk di luar sana.


Rendi diperintahkan untuk berjaga di luar, jangan sampai Ivonne berkeliaran.


Ivonne tidak bisa tidur, memerintahkan Letty untuk memanggil Rendi masuk ke dalam.

__ADS_1


Setelah kasus Ivonne hampir dibunuh itu, Rendi sekarang menjadi jauh lebih serius.


Senyum riang dan juga pandangan mata bodoh itu sudah tidak ada, “Permaisuri, ada apa kamu memanggilku?”


“Rendi!” Ivonne menatapnya dan dengan serius bertanya, “Bagaimana sikapku padamu?”


Rendi dengan bersyukur berkata, “Permaisuri sangat baik padaku, jika bukan karena Permaisuri memohon pada Yang Mulia, maka aku mungkin tidak akan bisa kembali ke sisi Yang Mulia untuk melayaninya.”


Ivonne dengan tegas berkata, “Baik, baguslah jika kamu ingat, aku pernah membantumu sekali, jadi kamu harus membantuku satu kali, bagaimana?”


Rendi dengan hormat berkata, “Permaisuri tidak harus menggunakan kata membantu, apa perintah Permaisuri, aku akan melakukannya bahkan jika harus mati.”


“Kamu tidak perlu mati, aku hanya ingin kamu membawaku ke kamar mayat.” Kata Ivonne.


Rendi terkejut, “Permaisuri, untuk apa kamu ingin pergi ke kamar mayat? Tempat itu tidak boleh dimasuki, akan membawa sial, dan lagi jika Yang Mulia tahu maka sudah pasti akan menyalahkan dan menghukumku.”


Ivonne memandang Rendi dan berkata, “Siapa yang menyuruhmu untuk memberitahu Yang Mulia? Kamu hanya perlu membawaku ke sana, jika aku tidak menemukan petunjuk apa-apa, mkaa Yang Mulia juga tidak akan mengetahui hal ini, tapi jika aku menemukan petunjuk maka kamu bisa melaporkannya sebagai temuanmu.”


“Tidak bisa, aku tidak mau melaporkannya sebagai temuanku.” kata Rendi dengan tegas.


Ivonne berjalan dengan perlahan, menatap Rendi dan menggelengkan kepalanya berkata, “Rendi, aku tidak menyangka kamu adalah orang yang seperti ini, tidak tahu balas budi.”


“Aku pernah membantumu, ketika aku meminta bantuanmu, kamu malah tidak membantuku, apa itu bukan tidak tahu balas budi.”


Rendi benar-benar tidak berdaya, melihat wajah dingin dan marah Permaisuri, dia tidak tahu harus berbuat apa.


Letty juga maju dan berkata, “Rendi, kamu juga tahu bahwa Yang Mulia sudah begitu jengkel dengan kasus ini, Permaisuri ingin membantu, kamu bantulah Permaisuri kali ini, dan lagi jika benar-benar ketahuan oleh Yang Mulia maka katakan saja itu adalah perintah Permaisuri, kamu tidak berani menentangnya.”


Rendi merasa bahwa Yang Mulia mungkin akan membunuhnya.


Namun, kasus ini memang sama sekali tidak ada kemajuan, Permaisuri akhir-akhir ini juga selalu menciptakan keajaiban, mungkin dengan membiarkan Permaisuri pergi melihat siapa tahu akan menemukan petunjuk.


Memikirkan hal ini, Rendi mendongak kemudian berkata, “Baiklah, tapi Permaisuri tidak boleh berada lama di sana, meskipun tidak ada penjaga di kamar mayat, tapi terkadang masih ada orang yang berpatroli di sana, jike ditemukan maka mereka pasti akan memberitahu Yang Mulia.”


“Aku mendengarkanmu!” Ivonne setuju, kemudian berkata pada Letty, “Kamu berjaga di sini, jika Yang Mulia datang, kamu bilang saja aku pergi ke kamar kecil.”


“Ya, aku mengerti.” Kata Letty.


Rendi mengambil lentera dan pergi keluar dengan Ivonne.

__ADS_1


Kamar mayat berada di bagian kiri belakang tempat ini, merupakan sebuah bangunan seluas sekitar 50 meter persegi, dindingnya lebih tebal dan memiliki dua jendela, tapi tidak semuanya dibuka.


Di malam hari, ada dua lentera yang tergantung di ambang pintu, lentera itu mengeluarkan cahaya merah, pintu kamar mayat berwarna merah terang, itu benar-benar terlihat sangat menakutkan.


Ketika Rendi berjalan ke sana dirinya pun merasa merinding, dia memandang sekilas pada Ivonne, “Apa Permaisuri tidak takut?”


“Apa yang harus ditakutkan?” Ivonne berjalan masuk, “Kamu berjaga di sini, beritahu aku jika ada orang yang datang.”


“Aku akan mengikuti Permaisuri masuk ke dalam.” Rendi takut Ivonne akan ketakutan berada di dalam, meskipun Ivonne berkata bahwa dia tidak takut, tapi mana mungkin ada yang tidak takut? Ada begitu banyak mayat di dalam, dan lagi mayat itu begitu mengerikan.


“Tidak, kamu akan menghalangiku.” Ivonne meraih lentera di tangan Rendi kemudian langsung menutup pintu, menghalangi Rendi dari luar.


Bau mayat di dalam ruangan itu begitu kuat, Ivonne pertama-tama memakai masker penutup sebanyak tiga lapis, bau itu tetap masih bisa tercium, Ivonne membuka jendela dan membiarkan angin berhembus untuk sedikit menyamarkan bau busuk yang tersebar di ruangan ini.


Bau ini begitu menyengat dan juga membuat mual. Ivonne membuka kotak obat untuk melihat apa ada alat untuk melakukan otopsi.


Pisau bedah, magnet, semprotan penghilang bau dan juga senter.


Setiap kali ketika Ivonne ingin melakukan sesuatu, maka di dalam kotak obat ini akan memunculkan alat atau obat yang Ivonne butuhkan, itu meningkatkan kepercayaan diri Ivonne.


Ketika Ivonne melihat ada alat sederhana di dalam kotak obat, dia merasa lega dan merasa bahwa dirinya seharusnya bisa menemukan petunjuk.


Membuka kain putih yang menutupi mayat, dua keluarga, totalnya delapan mayat, anti korosi tidak dilakukan dengan baik, ada tiga mayat yang sudah sangat membengkak.


Seluruh tubuh mayat itu membengkak, matanya menonjol, ada darah di mulut dan hidungnya, anggota badannya begitu tebal, dan juga kulitnya berwarna kehijauan, sekilas dilihat begitu menakutkan.


Ivonne bukan pertama kalinya melihat pemandangan mayat yang begitu membengkak seperti ini, tapi di saat yang bersamaan ada delapan mayat seperti itu yang terbaring di depannya, dan tiga di antaranya sudah membengkak dengan amat sangat, itu membuat hatinya sedikit takut.


Ivonne mengikatkan senter ke atas kepalanya, mengosongkan kedua tangannya, kemudian mulai memeriksa tubuh mayat itu.


Ada banyak luka di tubuh mayat, ada hampir 8 hingga 12 luka, tapi luka itu tidak fatal, tapi jika ada begitu banyak luka dan tidak diobati, maka bisa kehilangan banyak darah dan mati.


Namun, kematian karena kehilangan darah jelas bukan penyebab kematian.


Ada sebuah proses jika merupakan kematian karena kehilangan banyak darah.


Mereka seharusnya mati dengan cepat, seperti kematian karena terbentur keras atau mati lemas kekurangan oksigen.


Tapi jika dilihat dari bekas luka, mustahil bisa menyebabkan keadaan seperti itu.

__ADS_1


Jadi apa sebenarnya penyebab kematiannya?


__ADS_2