
Ronald melangkah maju untuk memapah Indra, Permaisuri Juno bergegas berkata, “Ronald, jika kamu takut terinfeksi, biarkan pelayan saja yang melakukannya.”
Perkataan ini sudah keterlaluan.
Ivonne sudah tidak tahan, menggantung stetoskop di telinganya. Berbalik badan dengan tegas berkata pada Permaisuri Juno, “Permaisuri Juno, kamu tidak membantu apa-apa di sini selain membuat suara keributan di sini. Lebih baik kamu keluar untuk minum teh dan mengobrol, bukankah ini adalah hal yang paling kamu bisa?”
Permaisuri Juno tidak menyangka Ivonne akan seperti itu, seketika dia tertegun, kemudian dia menatap ke arah Selir Renata dengan ekspresi sedih, “Ibu Renata, aku benar-benar minta maaf, aku memang tidak membantu apa-apa.”
Renata tidak menyukai perkataan tajam Ivonne, dengan dingin berkata, “Atas dasar apa kamu menyuruhnya pergi? Jika bukan karena Permaisuri Juno menenangkan hati orang-orang di istana dalam beberapa hari terakhir, tempat ini sedari awal sudah akan kacau. Kamu masih tidak tahu ada masalah atau tidak, sudah berani tidak sopan pada orang yang lebih tua?”
Ivonne benar-benar sangat marah, “Selir Renata, yang berbaring sakit di atas ranjang adalah putramu, dan aku datang karena perintah Kaisar untuk menyelamatkannya, bukannya untuk mencelakakannya. Aku sudah menjelaskan padamu mengenai masalah masker penutup, penyakit Raja Indra ini menular, memakai penutup itu untuk mencegah penularan, jika kamu tidak senang, terserah kamu ingin berpikir seperti apa, tapi kamu dan Permaisuri Juno jangan mengganggu pengobatanku, aku tidak tahu apa dia memiliki niat tertentu, tapi dia sudah pasti tidak akan begitu peduli pada putramu seperti dirimu, dan aku sekarang adalah seorang Tabib, aku harus berada di jalur yang sama dengan pasien dan keluarga pasien, jika kamu masih dapat berpikir jernih, kamu seharusnya mendengarkanku, lagipula bahkan Ayah dan Kakek juga mendengarkanku dalam masalah pengobatan ini.”
“Permaisuri Ivonne, aku benar-benar tidak mengerti mengapa kamu mengatakan aku memiliki niat tertentu, apa niat yang kumiliki? Fitnahmu ini, aku tidak bisa menerimanya.” Permaisuri Juno tidak menunggu Selir Renata berbicara, dia sudah langsung membela diri.
“Permaisuri Juno, aku tidak ingin bertengkar mulut denganmu dan mengganggu pekerjaanku, jika mau diam dan melihat, atau kamu keluar.” Kata Ivonne secara langsung.
Selir Renata ingin berbicara, Ivonne kemudian menyela, “Selir Renata, sebelum berkata-kata, pikirkan baik-baik!”
Renata berpikir sejenak, berbalik badan dan berkata pada Permaisuri Juno, “Sudahlah, jangan pedulikan dia.”
Permaisuri Juno menghela nafas, “Baiklah, kalau begitu aku tidak bersuara.”
Ronald sulit untuk menyembunyikan pandangan mata memuji, wanita sedang berbicara, dia benar-benar tidak enak untuk menyela, berpikir Ivonne benar-benar akan dibuat sangat marah oleh Permaisuri Juno, tidak disangka, Ivonne membalas balik perkataannya, dengan rasional dan jelas, langsung mengatakan Permaisuri Juno memiliki niat tertentu, membuatnya tidak bisa lagi membalas.
Renata bukan orang bodoh, dia hanya impulsif sesaat, ditambah dengan ketidakpercayaan pada Ivonne, jadi bisa memiliki segala macam sikap curiga.
Namun, kata-kata Ivonne menyadarkannya.
Mencelakakan Indra, sama sekali tidak ada untungnya bagi Ivonne.
Sebaliknya, jika dia menyelamatkan Indra, maka Kaisar sudah pasti akan menghargai Ivonne dan Ronald.
Bagaimanapun dipikir, Ivonne tidak memiliki kemungkinan untuk mencelakai Indra.
Sebaliknya Permaisuri Juno, terus-terusan mengungkit masalah penutup, jika dipikirkan dengan teliti memang memiliki sedikit niat provokasi, dan lagi, Ivonne sudah berkata seperti itu, Permaisuri Juno masih berada di sini dan melihatnya.
__ADS_1
Dalam beberapa hari terakhir, para pangeran terus datang kemari, memangnya Renata tidak tahu itu kenapa?
Sudah tiga tahun sejak Indra sakit, yang benar-benar sering datang kemari hanya Ronald, tiba-tiba, Juno langsung pindah dan tinggal di sini, dia ingin mendapatkan nama sebagai saudara yang baik.
Renata berpikir seperti itu, hatinya jauh menjadi lebih jernih, tanpa sadar berdiri di depan Permaisuri Juno, dengan sengaja menghalangi pandangannya.
Ivonne tidak tahu apa yang dilakukan Selir Renata, dia memegang stetoskop dan mendengarkan paru-paru serta jantung Indra.
Tidak memiliki alat untuk memeriksa, ini merupakan kelemahan yang besar, Ivonne juga tidak memiliki pengalaman yang cukup banyak dalam mengobati TBC.
Menyingkirkan stetoskop, Ivonne menekan bagian hati, perut serta usus, kemudian bertanya pada Indra apakah itu sakit, lambung Indra sebelumnya pernah sakit selama beberapa waktu, tapi akhir-akhir ini tidak masalah.
Indra bertanya, “Apa sakit perut ini terkait dengan penyakitku?”
Ivonne berkata, “Aku ingin mengesampingkan infeksi penyakit paru-paru sampai di perut atau tempat lain, memulai perawatan penting selama setengah bulan, Yang Mulia harus mendengarkan apa perkataanku, aku meminta kerja sama mutlak padamu, tidak boleh berhenti meminum obat, benar-benar tidak boleh, jika Yang Mulia menghentikan obatnya, maka aku benar-benar tidak bisa menyelamatkanmu.”
“Jadi sekarang …” Pandangan mata Indra tenggelam, “Kamu memiliki cara untuk menyelamatkanku?”
“Tidak ada yang mutlak dalam ilmu pengobatan, penyakitmu sudah diulur sangat lama, aku akan mencoba yang terbaik.” Kata Ivonne.
Ivonne menggelengkan kepala, langsung membantah perkataan Tabib, “Fungsi jantung dan paru-paru milikmu belum sepenuhnya rusak, mengenai batuk darah??.akan dikontrol dalam waktu sekitar tujuh hari, mengenai terbatuk di malam hari, harusnya akan mengalami perubahan menjadi membaik malam ini, ini adalah jalur perawatan yang panjang, selama Yang Mulia tidak menyerah, maka aku juga tidak akan menyerah.”
Ronald mendengar kalimat ini di sebelahnya, hatinya menjadi hangat, dia menatap lekat pada Ivonne, akhir-akhir ini wanita ini sedikit bercahaya.
Indra berkata dengan pelan, “Terima kasih Kakak ipar.”
“Sekarang tidurlah.” Ivonne berbalik badan dan memandang ke arah Selir Renata, “Selir Renata dan yang lainnya silakan keluar, biarkan Yang Mulia Indra beristirahat.”
Renata mengangguk, menjulurkan kepala dan menatap sekilas pada putranya, kemudian baru keluar dengan enggan.
Ada harapan yang perlahan muncul di hatinya, tapi harapan ini bukan diberikan oleh Tabib, tapi oleh Ivonne, jadi dia tidak merasa nyata.
Ivonne juga keluar, Ronald ingin tinggal di dalam untuk menemani adiknya mengobrol, tapi dia ditarik keluar oleh Ivonne, “Pihak keluarga, keluar, jangan mengganggu istirahat pasien.”
“Untuk apa menarikku seperti itu?” Ronald dengan tidak rela mengikuti Ivonne keluar, benar-benar banyak gaya, mendapat tongkat kerajaan, bahkan dia sudah bersikap seperti ini.
__ADS_1
Di luar, sudah ada banyak orang, bahkan Oscar dan Clara yang tadi belum dayang juga sudah datang.
Ketika Oscar melihat Ronald, dia melangkah maju dan menariknya ke samping.
Ronald tidak bisa berkata-kata, kenapa orang sekarang sangat suka menarik pakaiannya?
Oscar dan istrinya sudah berada di sini untuk beberapa saat, mendengar Ivonne sedang berada di dalam dan melakukan pengobatan, jadi mereka ikut menunggu bersama yang lain.
Tapi, itu bukan berarti Oscar melupakan masalah mengenai danau itu.
Dia menarik Ronald ke samping dan bertanya, “Kak Ronald, masalah itu telah lewat selama beberapa hari, sudah seharusnya memberikan penjelasan mengenai masalah itu pada Clara bukan?”
Ronald menatapnya, benar-benar ingin menampar wajahnya.
“Oscar, apa penjelasan yang kamu inginkan?”
Mata Oscar melebar, “Tentu saja dia harus meminta maaf pada Clara, jika tidak, aku akan mengaku pada Ayah.”
Ronald tersenyum, “Ayah sudah tahu mengenai masalah ini.”
“Sudah tahu?” Oscar berpikir, begitu banyak orang pada hari itu maka sudah pasti akan ada yang melapor pada Ayahnya, “Lalu bagaimana dari pihak Ayah?”
“Ayahnya menyuruh Ivonne mengobati Indra, jika sembuh, maka Ivonne tidak bersalah.”
Oscar bergumam, “Ayah tidak memintanya untuk meminta maaf pada Clara? Kak Ronald, kamu katakan padanya untuk minta maaf.”
Ronald melambaikan tangannya, “Aku tidak berani.”
Oscar kaget, tidak berani? Apa dia tidak salah dengar? Sejak kapan Kak Ronald takut pada Ivonne?
Ronald berkata menjelaskan, “Kakek menghadiahinya tongkat kerajaan, memberi perintah, selama ada orang yang memprovokasinya dan membuatnya tidak senang, maka Ivonne boleh menggunakan tongkat itu untuk memukulnya.”
Bola mata Oscar hampir terjatuh, “Tidak mungkin bukan?” Mengapa Kakek melakukan penghinaan terhadap kekuasaan Negara seperti ini?
“Benar atau tidak kamu akan mengetahuinya jika mencobanya, lagipula aku sudah dipukuli tadi malam.” Ronald teringat kejadian tadi malam dan menghela nafas.
__ADS_1
Oscar melihat wajah Ronald yang berwarna kekuningan, benar-benar tampak seperti menerima penghinaan yang besar, tidak berani melampiaskan kemarahannya, huh, Kak Ronald benar-benar kasihan.