
Clara berlutut di lantai, wajahnya pucat.
Clara yang begitu pintar bagaimana mungkin tidak tahu cara bermain Kakeknya ini?
Bagi Kakeknya, Clara hanyalah bidak catur yang sudah ditinggalkan.
Hati Clara penuh dengan kesedihan dan kemarahan, kemudian Clara bertanya dengan dingin, “Takutnya Kakek yang tidak ingin aku menjadi Permaisuri lagi bukan? Tidak tahu siapa yang Kakek lihat? Apa itu Steffie?”
“Kamu tidak perlu khawatir akan hal itu, lakukan saja pekerjaanmu dengan baik.” Kata Gilang tanpa mengerutkan kening sama sekali.
“Kenapa?” Clara berkata dengan penuh benci: “Aku hanya melakukan satu kesalahan saja, kenapa Kakek meninggalkanku? Aku pergi ke gerbang kota untuk membagikan bubur itu juga merupakan maksud dari Kakek, jika bersikeras ingin meminta pertanggungjawaban, Kakek adalah… ”
Kata ‘Pelakunya’ itu tidak diucapkan, seberapapun berani Clara dirinya juga tidak berani mengatakan kata itu.
Tapi Gilang malah berkata dengan dingin, “Aku adalah pelakunya? Ya, kamu membagikan bubur untuk mendapatkan nama baik itu semua adalah maksudku, tapi sayangnya kamu malah menggagalkannya. Kamu melakukan amal membagikan bubur dan menyiapkannya selama beberapa hari, sudah pasti akan ada orang yang menyebarkannya untukmu, mengapa kamu harus repot-repot membawa Nyonya Valen dan Putri Karen? Setiap melakukan sesuatu kamu pasti ingin semua orang tahu sekaan takut melakukan hal yang sia-sia, kamu melakukan hal yang tidak perlu. Jika kamu melakukan hal dengan baik maka hal seperti ini tidak akan terjadi. Sejak kamu mengancam Bibi Vera dengan meggunakan namaku, aku sudah memiliki niat untuk menyerah akan dirimu, tapi berpikir kamu adalah cucuku maka aku memberimu satu kesempatan lagi, hanya sayangnya kamu tidak tahu bagaimana cara menghargainya, mengenai masalah kali ini, kamu malah menggunakan kehamilan sebagai alasan untuk menghindar dari kesalahan, kamu sama sekali tidak memiliki sikap bertanggung jawab, bagaimana bisa kamu menjadi Permaisuri? Aku tidak akan membiarkanmu merusak reputasi Oscar.”
Clara berkata dengan penuh kemarahan, “Tapi akulah yang merupakan cucu kandungmu, kamu memikirkan Oscar, mengapa tidak memikirkan diriku?”
Gilang menatap Clara, “Karena Oscar adalah cucuku yang memiliki kesempatan untuk menjadi Kaisar.”
Clara tertawa dan tersenyum ironis, “Sayangnya akan membuatmu kecewa, Oscar yang tidak berguna itu tidak berpikir ingin menjadi pangeran mahkota, dia juga tidak memiliki kemampuan untuk menjadi seorang pangeran mahkota.”
Raut wajah Gilang masih tetap tidak berubah, “Itu adalah hidupnya, tidak ada yang bisa menyalahkannya, jika dia tidak bisa maka Ronald yang akan menjadi pangeran mahkota.”
Setelah Gilang berkata demikian dia bangkit dan meninggalkan ruangan, meninggalkan Clara yang masih begitu sedih dan marah di ruangan itu.
Clara awalnya pulang untuk meminta bantuan, tapi ternyata orang yang paling kejam bukanlah orang luar tapi kakeknya.
Benar-benar konyol.
Yang lebih konyol lagi adalah Kakeknya berkata jika Oscar tidak dapat menjadi pangeran mahkota maka Ronald yang akan mendudukinya.
Tapi pada saat itu Clara jelas mendengar Kakeknya mengatakan bahwa dia akan sepenuhnya mendukung Oscar, jika bukan karena perkataan Kakeknya bagaimana mungkin Clara bersedia menyerahkan Kak Ronald pada Ivonne?
Clara berjalan keluar dengan perlahan, di depan pintu berdiri pelayan kakeknya.
Dengan wajah tanpa ekspresi berkata: “Permaisuri, Tuan berkata agar kamu melakukan apa yang dia minta, dia dapat menjamin posisi Permaisurimu itu akan aman.”
__ADS_1
Clara begitu marah hingga dia menampar wajah pelayan itu, “Pelayan sial, beraninya kamu mengatakan hal-hal itu padaku? Apa kamu juga meremehkanku?”
Pelayan itu tidak menghindar tapi menerima tamparan itu, masih berkata tanpa memiliki ekspresi: “Selamat jalan Permaisuri!”
Clara pergi dengan marah.
Sepanjang jalan pulang, Clara begitu terkejut dan marah, memeras otaknya tapi sama sekali tidak bisa memikirkan tindakan balasan.
Clara tidak cukup bodoh untuk menentang kakeknya.
Tapi tidak mudah bagi Kakek untuk menemukan cucu dari keluarga Chu untuk menggantikannya sebagai Permaisuri.
Sebelum turun dari kereta kuda, Clara menarik kembali ekspresi marah dan kejam yang ada di wajahnya, menggantinya dengan ekspresi lembut dan merasa bersalah.
Clara memerintahkan pelayan untuk pergi ke dapur mengambil sup, dia sendiri yang membawakannya untuk Oscar.
Ketika Oscar melihat Clara, teringat apa yang Clara katakan dan lakukan hari ini, Oscar sama sekali tidak mengatakan apa-apa.
Clara bergegas masuk kemudian meletakkan sup di atas meja, berjalan menghampiri dan duduk sambil menatap Oscar.
Oscar hanya bisa menatapnya dan berkata, “Sudah pulang?”
Oscar tidak tahu apa yang akan dilakukan Clara, jadi dia hanya menjawab sekilas dan tidak berbicara.
Mata Clara memerah dan sudah hampir menangis, suaranya sedikit tersendat, “Aku melakukan sesuatu yang salah, aku ingin memperbaikinya, sebenarnya dalam dua hari terakhir, hatiku merasa amat bersalah, aku juga tidak tahu harus berbuat apa, aku takut merusak nama baikmu karena apa yang telah kulakukan, aku takut dihukum oleh Ayahmu, jadi aku mencoba yang terbaik untuk menghindari kesalahan, aku benar-benar berpikir aku hamil tapi hasilnya itu hanyalah kesalahpahaman saja, aku benar-benar menyesalinya jadi aku ingin melaporkannya ke istana.”
Clara menarik napas dalam, mengangkat kepalanya dan memaksa diri untuk tidak meneteskan air matanya, “Jadi, aku memutuskan untuk pergi ke istana besok untuk mengaku bersalah dan menerima tanggung jawabku.”
Ucapan ini tidak diduga oleh Oscar.
Oscar menatap Clara, ada kesedihan, rasa bersalah, penyesalan, dan keras kepala di tatapan mata Clara.
Oscar menggenggam tangan Clara dan berkata, “Kamu tenang saja, aku akan memohon untukmu.”
“Ya!” Clara menangis tapi memaksa dirinya untuk mengulas senyum, membuat orang merasa kasihan padanya, “Terima kasih karena masih mempercayaiku, hari ini aku… aku juga tidak tahu mengapa aku mengatakan hal itu, aku benar-benar gila.”
Oscar berkata menghibur: “Semua orang memiliki emosi, masalah di gerbang kota itu begitu besar, kamu awalnya memiliki niat baik tapi malah menjadi seperti ini pun itu bukan keinginanmu, jadi Ayah pasti akan memahami dan juga menghukummu dengan ringan.”
__ADS_1
Clara menundukkan kepalanya, membenamkannya di dada Oscar kemudian berkata dengan suara tercekat, “Terima kasih karena masih mau percaya padaku.”
Oscar membelai rambut Clara, untuk sekian lama baru berkata dengan pelan: “Aku tentu saja percaya padamu, kamu adalah Istriku.”
Tapi pandangan mata Oscar meredup.
Oscar tidak tahu apa dia harus percaya pada Clara atau tidak.
Oscar juga bukan orang bodoh.
Dari apa yang dikatakan Clara hari ini, dapat dilihat bahwa Clara menginginkan posisi sang putri mahkota, dan kegilaan di mata Clara serta tatapan penghinaan yang terakhir diperlihatkan padanya itu tidak bisa dilakukan dengan pura-pura.
Sebaliknya, sikap lembut itu bisa dilakukan dengan pura-pura.
Hanya saja Oscar berharap Clara yang saat ini itu nyata.
“Jika kamu benar-benar ingin aku bersaing untuk mendapatkan posisi pangeran mahkota, maka aku bersedia melakukan yang terbaik, tapi berhasil atau tidaknya itu tidak dapat kukendalikan.” Kata Oscar.
Clara mengangkat kepalanya kemudian berkata, “Bukannya aku ingin kamu bersaing untuk menjadi pangeran mahkota, tapi aku percaya bahwa kamu akan menjadi Kaisar yang baik, jadi kamu harus berusaha mendapatkannya, Kakek pasti akan membantumu.”
Oscar tertawa tapi hatinya tenggelam dengan perlahan-lahan.
Oscar tahu dirinya tidak pantas dan Clara juga tahu itu.
Perkataan ini terlalu palsu.
Clara sangat pandai, di saat bersamaan juga memahami situasi dengan baik, Clara tahu risiko bersaing mendapatkan posisi Pangeran mahkota sangat berbahaya saat ini.
Tapi Clara tidak menunjukkan kekhawatiran dan hanya menyuruh Oscar untuk berusaha mendapatkannya.
Di balik tatapan matanya itu terdapat nyala ambisi yang ditutupi.
Oscar tidak pernah percaya pada kata-kata Ivonne, tapi sekarang Oscar dengan sedih menyadari bahwa apa yang dikatakan Ivonne benar.
Oscar tidak tahu harus berbuat apa, hatinya sangat bingung.
Oscar memiliki permintaan sempurna terhadap perasaan.
__ADS_1
Jika perasaan itu ternoda atau memiliki unsur dimanfaatkan maka Oscar akan merasa jijik seperti dirinya menelan seekor lalat.