
Ada kesadaran dalam benaknya yang masih sangat jelas.
Yaitu Stanley, apa Stanley mati?
Dan lagi masih ada Indra, besok Indra diberi obat, bahkan jika Indra tidak disuntik dia tetap harus memakan obat.
Untungnya, ketika Ivonne pergi malam ini, dia sudah meninggalkan dua pil obat, Ivonne harus terus hidup, jika dirinya mati maka Indra tidak akan mendapatkan obatnya, sekarang Indra tidak boleh terputus untuk meminum obatnya.
Hanya saja Ivonne merasa sangat kesakitan, mengapa bisa begitu menyakitkan? Ivonne hanya mengalami luka di bahu dan kakinya, mengapa Ivonne merasa seluruh tubuhnya sakit.
Ivonne ingin bersuara, tapi walaupun menggunakan seluruh kekuatannya, Ivonne masih tidak bisa mengeluarkan suara.
Ivonne mendengar Ronald memanggilnya, tapi Ivonne tidak yakin apa itu Ronald atau bukan karena suara itu berbeda, suara yang didengarnya ini sedang gemetar.
Jangan takut, jangan takut, dirinya bisa melewatinya.
“Yang Mulia, air panasnya sudah datang.” Bibi Linda juga sangat terkejut, ketika Ivonne dibawa kemari kondisinya sudah dalam keadaan setengah mati.
“Aku saja!” Suara Ronald serak, wajah Ivonne penuh dengan darah, seharusnya itu adalah darah Kak Stanley yang terciprat di wajah Ivonne. Kak Stanley yang menyelamatkan Ivonne, jika bukan karena Kak Stanley yang menghadang panah maka panah itu sudah pasti langsung mengenai jantung Ivonne.
Bibi Linda mengulurkan handuk panas itu kemudian Ronald mengambilnya, dengan hati-hati menyeka darah di wajah Ivonne.
Darah itu telah membeku, sulit untuk dibersihkan, tapi Ronald enggan untuk menggunakan tenaganya dengan keras karena Ronald takut Ivonne kesakitan, meskipun Ivonne pingsan, tapi Ivonne terus gemetar, dia sedang kesakitan.
Ivonne begitu kurus, tubuhnya sangat lemah, bagaimana bisa Ivonne menahan kedua panah ini?
“Mana Peter dan Rendi?” Ronald bertanya dengan suara berat.
Yanto bergegas masuk dan berkata, “Yang Mulia tenang saja, Rendi dan Peter sedang menyelidikinya, aku percaya identitas pembunuh itu akan segera diketahui.”
“Aku menginginkan kebenaran dan juga ingin tahu siapa yang ada di baliknya!” Ada cahaya dingin yang terlintas di mata Ronald.
“Baik!” Yanto memandang sekilas pada Permaisuri dengan pandangan dalam, tidak tahu apa Permaisuri bisa melewatinya atau tidak, jika tidak….
Huh, Yanto benar-benar tidak berani membayangkannya.
Yang Mulia Ronald baru menyadari perasaannya sekarang, dan juga baru melewati satu hari yang indah dengan Permaisuri, mengapa bisa seperti ini?
Pembunuh itu semuanya telah terbunuh, tidak mudah untuk menemukan siapa yang ada di baliknya.
Setelah Raja Ralph meminta Tabib Istana untuk keluar, dia terus menunggu di Istana. Setelah Kaisar Mikael bangun, Raja Ralph segera melaporkan padanya.
Mendengar bahwa Stanley dan Ivonne diserang pembunuh, Kaisar Mikael sangat terkejut dan juga marah, dia memerintahkan orang untuk menyelidikinya dengan menyeluruh.
Siang harinya, Kaisar Mikael datang ke kediaman Ronald.
Setelah para pangeran diberikan kediaman masing-masing, Kaisar Mikael belum pernah datang ke kediaman mereka sekalipun.
Ini adalah pertama kalinya Kaisar Mikael datang ke kediaman Ronald.
__ADS_1
“Yang Mulia, Kaisar datang!” Yanto bergegas masuk dan secara pribadi melaporkannya, “Anda cepatlah keluar untuk menyambutnya.”
Kedua mata Ronald sangat merah, “Tidak, aku ingin menjaganya. Yanto, kamu bawalah orang untuk pergi menyambut.”
Sang Ayah akan menyalahkannya atau tidak, Ronald sudah tidak peduli.
Kaisar Mikael tidak menyalahkannya, pertama-tama dia pergi menemui Stanley.
Mendengar Tabib Istana berkata dikarenakan Raja Stanley memiliki lemak dan daging yang tebal, jadi kekuatan anak panah itu teredam sebagian, jika orang biasa mungkin sudah meninggal.
Kaisar Mikael tidak berdaya.
Dulu dia suka mengatakan bahwa putranya ini tidak berguna, tapi sekarang, dia telah menjadi seorang pahlawan.
Mikael memerintahkan Istri Stanley untuk merawat Stanley baik-baik, kemudian Mikael pergi menemui Ivonne.
Ivonne sama seperti Stanley yang masih dalam keadaan pingsan.
“Ayah!” Ronald berlutut, sejak masalah ini terjadi, meski hatinya kacau tapi Ronald berusaha kuat. Sekarang ketika dia bertemu Ayahnya, pertahanannya perlahan-lahan mula hancur, matanya basah oleh air mata, “Kondisinya sangat buruk, sangat buruk!”
Kaisar Mikael melihat putranya yang biasanya tegar ini bahkan hampir tidak bisa menahan air matanya, hatinya menjadi tergerak, mengulurkan tangan dan memapah Ronald kemudian berkata, “Tenang, Ivonne akan melewatinya.”
“Jika Kaisar berkata seperti itu maka Permaisuri pasti akan baik-baik saja.” Kasim David berkata di samping, bisa dibilang sedang menghibur Ronald.
“Ya, aku datang kemari untuk menjaga mereka berdua.” Kata Kaisar Mikael.
“Terima kasih, Ayah!”
Kaisar Mikael juga merasa sedih, menantunya ini adalah orang yang paling mendapat perhatiannya dan juga yang paling memiliki kemampuan.
“Mana Peter? Bukankah aku memerintahkannya untuk mengantar dan menjemput Ivonne?” Setelah Kaisar Mikael melihat Ivonne untuk beberapa saat, dia mulai bertanya dengan raut wajahnya yang serius.
Ronald tentu saja tidak ingin Peter terseret, dia kemudian berkata, “Ayah, aku yang menyuruhnya untuk tidak perlu menjemput dan mengantar Ivonne karena aku yang bertanggung jawab untuk mengantar dan menjemput Ivonne.”
Kaisar Mikael dengan marah berkata, “Itu juga kelalaian tugasnya, anak ini makin tidak bisa diandalkan.”
Ronald memandang sekilas ke arah Ivonne dengan khawatir, Ayahnya berteriak dengan keras di sini, tidak tahu apa itu akan mengganggu Ivonne atau tidak.
Lebih baik Ayahnya ini segera pergi, dia juga tidak membantu apa-apa.
Memang itu sangat mengganggu.
Ivonne merasa selain pusaran itu, suara guntur dan teriakan membuat gendang telinganya sakit.
Ivonne sekarang sangat sensitif terhadap rasa sakit.
Namun suara ini membuatnya selangkah demi selangkah menjauh dari pusaran hitam itu.
Pikiran yang awalnya melayang di pusaran perlahan-lahan ditarik kembali, seolah-olah jiwanya yang hancur itu kembali ke tempat asal.
__ADS_1
“Permaisuri bergerak!” Bibi Linda tiba-tiba mengeluarkan suara terkejut, langsung menekan kemarahan Kaisar Mikael.
Ronald bergegas menoleh untuk menatap Ivonne, tangan Ivonne memang perlahan-lahan bergerak.
Mata Ivonne juga perlahan terbuka.
Ronald berjongkok di samping ranjang, mengulurkan tangan dan menyentuh wajah Ivonne, Ronald tersenyum tapi senyum itu membuat orang merasa sedih, “Sudah bangun? Apa sakit?”
Ivonne tidak memiliki kekuatan sama sekali, otak dan tubuhnya seperti kapas, bahkan bola matanya saja tidak bisa digerakkan, hanya bisa menatap Ronald, pandangan matanya kabur, “Kak Stanley…”
“Kak Stanley baik-baik saja.” Ronald tahu apa yang ingin Ivonne tanyakan, jadi dia bergegas menjawabnya.
Ivonne akhirnya tenang, kemudian kembali menghela nafas, “Indra… obat …”
“Indra tidak akan kenapa-kenapa, apa kamu sakit? Apa sakit?” Ronald menyentuh wajah Ivonne, tidak berani menggunakan tenaga sama sekali.
“Sakit …” Ivonne benar-benar kesakitan, Ivonne ingin menyuntikkan obat anestesi pada dirinya sendiri, tapi dia tidak memiliki kekuatan dan tidak bisa bergerak sama sekali.
Sebelumnya ketika dirinya dipukul dengan tongkat saja bahkan tidak begitu sakit seperti ini.
Ivonne tidak pernah merasakan rasa sakit yang begitu tajam seperti ini seumur hidupnya.
Air matanya menetes tanpa bisa ditahannya.
Melihat Ivonne yang menangis kesakitan, hati Ronald hancur.
Ronald tidak berdaya, tidak tahu bagaimana cara membantu Ivonne, hanya bisa menoleh ke belakang dan meminta bantuan dari Kaisar Mikael, kemudian mencari Tabib Istana, karena Kaisar Mikael ada di sini, Ronald juga tidak berani berteriak marah, hanya bisa dengan cemas berkata, “Dia kesakitan, cepat hentikan rasa sakitnya.”
Tabib Istana juga sangat tidak berdaya, “Yang Mulia, ini benar-benar tidak ada cara, rasa sakit ini hanya bisa diterima.”
Kaisar Mikael maju dan berkata, “Nak, aku ada di sini untuk menjagamu, kamu akan baik-baik saja.”
Ivonne baru menyadari bahwa Kaisar Mikael juga datang, merasa tersanjung karena dirinya mendapat kasih sayang, tapi dirinya benar-benar tidak memiliki kekuatan untuk memanggilnya dengan sebutan Kaisar, jadi Ivonne hanya bisa mengeluarkan satu kata, “Ayah…”
Kaisar Mikael sedikit terpaku.
Matanya sedikit basah.
Itu merupakan panggilan biasa untuk seorang Ayah, ternyata begitu enak didengar.
“Jangan katakan apa-apa, jangan berbicara.” Jari-jari Ronald membelai bibir Ivonne, dia begitu tidak tega dan sangat ingin menggantikan Ivonne menerima rasa sakit itu.
Ivonne juga tidak bisa berbicara lagi, rasa sakit itu memenuhi dirinya, Ivonne hanya bisa bernapas dengan membuka mulutnya, mencoba menahan rasa sakit itu, tapi pada akhirnya tetap saja dirinya begitu kesakitan hingga sekujur tubuhnya gemetaran sepanjang waktu.
Kaisar Mikael tidak tega melihatnya, kemudian berkata pada Ronald, “Kamu jaga dia, aku akan ke sebelah untuk melihat Kakakmu.”
Ronald sama sekali tidak mendengar kalimat ini, semua perhatiannya tertuju pada Ivonne.
Kaisar Mikael melihat Ronald yang begitu peduli pada Ivonne, dirinya sedikit terkejut, tapi juga merasa agak senang.
__ADS_1
Kemudian dia pergi keluar.