Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan

Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan
Bab 38. Masih Ada Luka


__ADS_3

Ivonne menatapnya dengan aneh, “Apa maksudmu?”


Ronald tidak menjawab dan balik bertanya: “Mengapa kamu berpikir bahwa yang melakukannya adalah Raja Juno?”


Ivonne berpikir sejenak kemudian berkata: “Intuisi.”


Tentu saja Ivonne bukan tipe orang yang intuitif, hanya saja berdasarkan pemahamannya akan situasi saat ini, kesimpulannya adalah Raja Juno.


Ronald mengetahuinya. “AKu tidak mempercayai pernyataan ini, kamu hanya berkata asal.”


Ivonne dengan datar berkata: “Memang hanya intuisi.”


Ivonne kesal dengan dirinya yang banyak berkata, dia tidak ingin mencari lebih banyak masalah, meskipun analisis yang diucapkannya ini benar, tapi itu tidak memiliki manfaat baginya, malah akan membuat Ronald berpikir bahwa Ivonne memahami hal-hal ini ketika berada di Istana.


Seseorang yang membaca buku sejarah, memiliki perasaan yang tajam terhadap kondisi seperti ini, Raja Juno adalah putra tertua dan juga memiliki kemampuan perang, Kaisar juga mengapresiasi, dia juga memenagkan beberapa peperangan, sudah pasti menginginkan posisi Pangeran Mahkota.


Dan Raja lainnya, meskipun memiliki ambisi, tapi dengan kekuatan Raja Juno saat ini, mustahil untuk membantunya menyingkirkan Ronald.


Karena dengan mempertahankan Ronald maka itu sama saja dengan memberi penghalang bagi Raja Juno untuk mendapatkan posisi Pangeran Mahkota, bukannya mengatakan yang lainnya menyukai Ronald, hanya saja dengan kondisi saat ini, tidak seharusnya bertindak seperti itu.


Ronald juga sudah tidak bertanya, tapi hatinya sedikit terkejut. Ivonne, wanita bodoh ini ternyata tahu bahwa pelakunya adalah Raja Juno.


Sepertinya di kediaman Hendra terdapat banyak diskusi seperti ini.


Dalam hatinya, Ronald bahkan makin jijik terhadap Hendra.


Ivonne tengkurap di atas tikar, perlahan-lahan menutup matanya.


Akhir-akhir ini dia sangat lelah, ingin tidur ketika menyentuh ranjang.


Tapi ada banyak hal dalam benaknya yang terus berputar, membuat tubuhnya yang sudah lelah dan bahkan tidak bisa membuka matanya ini malah tidak bisa tidur.


“Gadis jelek!” Terdengar suara dari atas ranjang.


Ivonne menolehkan kepalanya ke arah luar, tidak ingin mempedulikan orang yang begitu tidak sopan ini.


Sebuah bantal dilemparkan ke bawah, mengenai kepala Ivonne.


Ivonne mengangkat kedua tangannya, membuka matanya tanpa semangat, “Apa?”


“Aku ingin buang air kecil!”


Ivonne bangkit, berjalan ke sudut di belakang bilik dan mengambil sebuah pot.


“Panggil Yanto masuk.” Pandangan matanya meredup, terkadang Ivonne pintar, tapi selalu bodoh pada saat genting, memberitahunya ingin buang air kecil itu ingin agar dia memanggil Yanto untuk melayaninya, siapa yang menyuruhnya pergi untuk mengambil pispot?


Ivonne meletakkan pispot di bawah, berbalik dan keluar untuk memanggil Yanto.


Yanto masuk sebentar kemudian keluar dengan membawa pispot, berkata pada Ivonne: “Permaisuri sudah bisa masuk.”


Ivonne mengangguk dan hendak masuk, Yanto tiba-tiba berkata: “Permaisuri tunggu sebentar.”

__ADS_1


Ivonne menoleh menatapnya, “Ada apa?”


Yanto berjalan ke arah halaman, kemudian melambai ke arah Ivonne, ekspresinya sangat misterius.


Ivonne menghampiri dengan curiga, “Jika ada sesuatu maka katakan.”


Yanto merendahkan suaranya dan berkata: “Masih ada luka di tubuh Yang Mulia, tidak ada yang diizinkan untuk menanganinya, tadi??tadi aku baru melihatnya, tampaknya sedikit merah dan bengkak.”


“Masih ada luka? Mengapa tidak ditangani?” Ivonne berkata dengan terkejut.


Dimana masih ada luka? Jelas-jelas Ivonne telah selesai menanganinya, dia telah memeriksanya sebelum dan sesudahnya.


Kecuali …


Pandangan mata Ivonne perlahan-lahan semakin dalam, memandang Yanto, “Yang kamu katakan jangan bilang adalah … benda milik pria itu?”


Di sini disebut seperti itu bukan?


Tahun ini, Yanto berusia 35 tahun, dia merupakan seorang veteran, mengikuti Ronald bolak-balik dari medan perang, dia adalah seorang pria yang telah melihat angin dan ombak besar.


Tapi sekarang pria gagah ini, wajahnya memerah, menghela napas di dalam hatinya, bisakan Permaisuri berkata dengan sedikit lebih lembut?


Apanya yang benda miliki pria? Tidak bisakah mengatakan itu adalah leluhur anak dan cucu Yang Mulia? Akar keturunannya juga lebih enak didengar.


“Benar tidak?” Ivonne melihat Yanto hanya melamun dan tidak berbicara, jadi Ivonne mengajukan pertanyaan lain.


“Yanto, sial, omong kosong apa yang kamu bicarakan?” Di dalam, terdengar suara teriakan kemarahan, teriakan ini hampir bisa menghancurkan ubin, sudah jelas bukan teriakan yang bisa dikeluarkan dengan kekuatan fisik Ronald yang sekarang.


Ivonne melamun sambil menarik kembali pendangan matanya, perlahan berjalan kembali.


Raut wajah Ronald membiru dan memerah, seperti palet, tapi ujung hidungnya putih.


Pandangan matanya terbakar amarah, menatap Ivonne lekat, masih merupakan jenis amarah yang ingin menelannya hidup-hidup.


“Itu …” Ivonne tidak tahu mengapa dia begitu marah, “Yanto mengatakan kamu masih memiliki luka.”


“Dia bicara sembarangan!” Ronald berkata sambil menggertakkan giginya.


Ivonne semakin merasa Yanto tidak berkata sembarangan, tapi Ronald yang terlihat tidak mau mengakuinya.


Ivonne tahu ada beberapa orang yang anti akan Dokter, kemudian dia berkata: “Terhadap Dokter, kamu tidak boleh menyembunyikan lukamu, kalau tidak jika luka lain yang tidak ditangani dengan benar bisa menyebabkan infeksi dan demam tinggi, itu bisa merenggut nyawamu.”


“Apa urusannya denganmu?” Kata Ronald dengan kejam.


Ivonne mengerutkan kening, “Jadi, tubuh bagian bawahmu benar-benar terluka? Bagaimana bisa melukai bagian itu? Apa kamu berbaring kemudian ditebas oleh orang?”


“Aku ingin membunuhmu!” Ronald sekali lagi meledak, benar-benar ingin bangun dan menghancurkan Ivonne.


Wajahnya benar-benar memerah hingga ke bagian belakang telinga.


“Jika kamu ingin membunuhku maka tunggu ketika kamu sembuh baru bunuh, sekarang biarkan aku melihatnya terlebih dulu, melihat seberapa serius lukanya.”

__ADS_1


“Melihat kepalamu.”


“Kamu boleh melihat kepalaku sesukamu, Yanto mengatakan itu sudah meradang dan bengkak, jika terinfeksi, kamu akan mati.”


“Pergi!”


“Setelah melihatnya aku akan segera pergi.”


Ronald mengertakkan gigi dan berkata, “Bahkan jika aku mati, aku tidak akan membiarkanmu melihatnya.”


Ivonne menghela nafas dengan pelan, menundukkan pandangannya, “Sepertinya aku harus pergi ke Istana dan meminta Paduka Kaisar untuk memberikan surat perintah.”


Surat perintah untuk melihat benda itu.


Ronald menyipitkan matanya, “Apa kamu tahu bagaimana menulis kata malu?”


Ivonne tidak berbicara dan menatapnya.


“Tidak perlu menatapku, aku sudah mengatakan, matipun aku tidak akan menunjukkannya padamu.”


Air desinfektan, kapas, pinset, pencukur sudah disiapkan.


Ivonne memandangnya, “Aku akan membukanya, kamu jangan malu, anggap saja aku sebagai Tabib Istana.”


“Tabib Istana? Jangan harap!” Ronald menggertakkan giginya, Ivonne mengancam akan memberinya obat bius, menunggunya pingsan kemudian baru memeriksanya.


Ronald tidak ingin dibius, siapa yang tahu apa yang akan Ivonne lakukan padanya?


Menggertakkan giginya, dia hanya bisa menyetujui Ivonne memeriksa lukanya.


Ronald menolehkan kepalanya ke bagian dalam ranjang, merasa malu karena Ivonne membuka lapisan terakhir yang menutupi tubuhnya.


“Lebarkan kakimu, tidak bisa melihat dengan jelas.”


Ronald menelan air liurnya, menelan amarahnya, kemudian membuka kakinya.


Udara sangat dingin, udara dingin itu merembes masuk ke dalam kulit, membuat bulu di seluruh tubuh merinding.


“Kamu …” Ronald merasa tersentuh oleh tangan Ivonne, marah saat itu juga, “Jangan menyentuh sembarangan dengan tanganmu.”


“Jika aku tidak menyentuhnya, bagaimana aku bisa melihat lukanya? Ya ampun, luka ini bahkan sudah terlihat tulangnya, jika lebih dalam satu inci lagi, kamu tidak akan bisa mempertahankan akar kehidupan anak cucumu ini, dan lagi, jika kamu tidak menangani lukanya, bahkan jika sembuh, itu juga akan berpengaruh pada kemampuan re-produksimu.”


Apa-apaan? “Kamu hanya mengatakan melihatnya saja.”


“Jika lukanya tidak serius, aku bisa saja tidak menanganinya, tapi seperti kata Yanto, lukamu ini meradang dan harus dirawat.” kata Ivonne dengan serius.


“Kamu …”


“Diam, kamu akan berterima kasih padaku nanti ketika kamu berhubungan badan dengan wanita.”


Pandangan mata Ronald penuh dengan aura membunuh, hatinya diam-diam bersumpah tunggu ketika dia pulih, dia pasti akan membuat Ivonne mati dengan mengenaskan.

__ADS_1


__ADS_2