Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan

Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan
Bab 56. Kemarahan Besar


__ADS_3

Selir Prilly berpikir itu masuk akal, kemarahan ini pada akhirnya hanya bisa ditelannya.


Bibi Vera sampai pergi ke Istana Rosebell, mengantarkan mutiara selatan Ivonne kemudian berkata, “Permaisuri Ivonne berkata, Ratu tidak pernah memiliki Mutiara Selatan ini, jadi dia sebagai menantu tidak berani memilikinya sendiri, karena itu dia memberikan satu untai sebagai bentuk kebaktian.”


Sang Ratu ketika mendengar perkataan ini, dia sangat marah, dengan dingin berkata, “Aku tidak berani menerimanya, kembalikan.”


Bibi Vera tersenyum dan berkata, “Ratu, untuk apa kamu menolah rasa bakti dari Permaisuri? Setidaknya ini adalah hadiah yang diberikan oleh Kaisar jika Ratu tidak menerimanya, takutnya akan diberikan pada Selir Monita atau Selir Prilly. Mutiara Selatan ini sangat berharga, Ratu bahkan tidak pernah memilikinya, tapi Selir Monita dan Selir Prilly malah memilikinya. Bukankah ini sama saja mempermalukan dirimu sendiri? Lebih baik Anda menerimanya, mengenai bagaimana mengurusnya, itu adalah masalah Ratu. ”


Bibi yang mengurus Istana Rosebell juga berkata, “Yang dikatakan Bibi Vera masuk akal. Ratu, lebih baik Anda menerimanya kemudian kirimkan ke hadapan Kaisar, mengenai apakah Permaisuri Ivonne sedang menyombongkan diri atau bermaksud untuk mencari perhatian, maka itu tergantung dari apa yang dipikirkan Kaisar.”


Intinya, bagaimanapun, Kaisar akan marah.


Tadi Ratu baru saja sedang marah, tidak disangka ketika diingatkan oleh Bibi kemudian dengan dingin berkata, “Yang kamu katakan benar, terima saja, kemudian kirimkan ke tempat Kaisar, bahkan Ibu Suri tidak mendapatkan Mutiara Selatan ini, aku tidak berani menerimanya.”


Dia tahu bahwa satu untai Mutiara Selatan di tangan Kaisar belum diserahkan pada Ibu Suri, jadi, pernyataan ini juga masuk akal.


Bibi Vera tersenyum dan berkata, “Budak tua ini harus kembali ke Istana untuk melayani Paduka Kaisar, jadi undur diri dulu.”


“Antar Bibi Vera!” Kata Bibi yang bertugas.


Bibi Vera perlahan berjalan keluar dari Istana Rosebell, setelah berjalan keluar langkah kakinya tampak terpaku, dia menghela napas dalam-dalam dan berkata dengan pelan, “Hutang budi padamu sudah ku kembalikan, di kehidupan ini sudah tidak ada hutang budi di antara kita.”


Clara berjalan maju, tersenyum menatap Bibi Vera.


Bibi Vera membungkuk hormat, “Permaisuri.”


“Halo Bibi!” Clara menatapnya, “Sudah merepotkanmu.”


Bibi Vera tidak berkata-kata, membungkuk hormat kemudian pergi.


Clara melihat sosok Bibi Vera, mengulas senyum di bibirnya, dia harus melakukan ini, karena Kaisar memberikan dua untai Mutiara Selatan pada Ivonne dan juga makan malam berdua dengan Ivonne, itu merupakan masalah yang tak ada habisnya, Clara harus menghancurkan kepercayaan ini, membuat kecurigaan bahwa Ronald memiliki motif tersembunyi, baru bisa membuat Ronald mundur.


Clara menghela nafas pelan, Kak Ronald, ini semua demi dirimu, ini adalah bisnis menjual kehidupan, kamu tidak dapat berpartisipasi di dalamnya, lakukan saja tugasmu sesuai dengan posisimu, maka aku akan memastikan nyawamu tidak terancam dan juga masih bisa menjadi Raja yang bahagia.


Melihat Bibi Bertha membawa Mutiara itu keluar, Clara maju ke depan, “Apa Bibi akan pergi ke tempat Kaisar?”


Bibi Bertha terpaku, “Permaisuri tahu?”


Clara tersenyum, “Bibi tolong dengarkan aku baik-baik, katakan pada Kaisar sesuai dengan perkataanku, ini adalah perintah Kakekku.”

__ADS_1


Bibi Bertha menatap Clara, menyimpan raut terkejutnya kemudian mengangguk.


Mutiara yang diberikan pada Ratu itu dikirim ke hadapan Kaisar.


Dikirim oleh Bibi Bertha, Bibi Bertha dengan suara pelan berkata, “Ratu berkata, Ibu Suri masih belum memiliki Mutiara Selatan ini, Ratu benar-benar tidak berani menerima hadiah besar dari Permaisuri Ivonne, dan juga Ratu tidak bisa memenuhi permintaan Permaisuri Ivonne.”


Kaisar Mikael menatap Mutiara Selatan itu, “Permintaan apa yang diminta oleh Permaisuri Ivonne yang tidak bisa dipenuhi oleh Ratu?”


Bibi Bertha berkata, “Permaisuri Ivonne tahu bahwa Ratu sangat menghargai Mutiara Selatan ini, jadi memberikan Mutiara Selatan ini pada Ratu dan meminta Ratu untuk mengatakan beberapa kata baik mengenai Raja Ronald di depan Kaisar, membiarkan Yang Mulia Ronald pergi ke Kementerian Perang untuk berlatih.”


“Kementerian Perang?” Kaisar Mikael tertawa dingin, “Sudah, aku tahu, kamu pergilah.”


Bibi Bertha membungkuk hormat dan mengundurkan diri.


Begitu Bibi Bertha pergi, raut wajah Kaisar Mikael agak suram, meraih Mutiara Selatan dan melemparkannya ke sudut ruangan, berkata dengan dingin, “Apa-apaan? Ronald masih tidak berubah!”


Kasim David melihat kemarahan Kaisar Mikael, bergegas memungut Mutiara Selatan itu dan berkata membujuk, “Mohon Kaisar jangan marah, takutnya ini mungkin bukan maksud Raja Ronald”


“Di kediaman Ronald, Ivonne tidak memiliki hak untuk membuat keputusan, Ivonne hanya akan bersikap patuh.” Makin memikirkannya Kaisar Mikael makin marah, bahkan perasaan baik terhadap Ivonne itu juga lenyap. “Ivonne itu polos, apakah dia menginginkan posisi sebagai Istri dari Pangeran Mahkota? Waktu itu menggunakan trik tak tahu malu menjebak dan memaksa Ronald untuk menikahinya, apa itu diarahkan pada Ronald dan bukannya posisi Istri Putra Mahkota?”


Kasim David terpaku, Kaisar tahu bahwa Raja Ronald dijebak pada saat itu? Lalu mengapa Kaisar marah pada Raja Ronald? Dan juga memberi perintah agar Raja Ronald menikahi Nona Ivonne.


“Kaisar, karena Anda tahu bahwa Raja Ronald itu dijebak, mengapa kamu bersikap begitu dingin pada Raja Ronald?” Kasim David bertanya.


Kemarahan Kaisar Mikael masih belum hilang, “Satu adalah Hendra, satu adalah Ivonne, orang yang terguling dan masuk ke dalam pasir, begitu tidak berguna, untuk apa aku memberikan harapan terhadapnya?”


Kasim David melihat Kaisar begitu emosional, tidak berani membujuk.


Bagaimana temperamen majikannya, Kasim David tahu dengan sangat jelas, jika masih lanjut berkata saat ini, itu sama saja menambah minyak ke dalam api.


Mengenai masalah ini, Kasim David sebenarnya merasa sedikit aneh, tapi karena dari pihak Ratu yang mengatakanannya adalah orang yang kredibel, dan lagi Kaisar juga percaya pada Ratu, Bibi Bertha juga adalah orang kepercayaan Ratu, sangat patuh terhadap aturan istana, jika itu bukan kebenaran, sepertinya Bibi Bertha tidak berani berkata sembarangan.


Raut wajah Kaisar Mikael sangat muram, tidak berniat untuk melepaskan masalah ini, menginginkan posisi Pangeran Mahkota, ini sudah menyentuh batasnya.


Dia boleh menyukai Ronald, tapi tidak bisa diperlakukan seperti ini.


“Karena Permaisuri Ivonne tidak menyukai hadiah Mutiara Selatan dariku, maka ambil kembali, dan juga bawa kembali juga surat hutang itu.” Kaisar Mikael berkata dengan datar.


Kasim David menerima perintah, “Baik!”

__ADS_1


Ivonne menenangkan diri sejenak di danau kembali ke Istana dan duduk di tangga batu di luar untuk sementara waktu, kemudian Kasim David tiba.


“Permaisuri!” Kasim David memberi hormat, memandang Permaisuri di hadapannya, tadinya memiliki kebanggaan, tapi karena terlalu memiliki ambisi, tidak bisa bersabar, sayang sekali.


“Kasim David!” Ivonne juga balas menyapa.


Kasim David berkata dengan raut wajah serius, “Kaisar memerintahkanku daang kemari untuk mengambil kembali Mutiara Selatan dan juga surat hutang yang dihadiahkan pada Permaisuri.”


Ivonne sama sekali tidak terkejut dan berkata, “Mutiara Selatan hanya tersisa 1.”


“Oh?” Kasim David pura-pura tidak tahu, “Mengapa hanya ada satu yang tersisa?”


“Yang satunya hilang.” Kata Ivonne.


Kasim David tersenyum datar, memainkan trik, mana mungkin bisa menipu Kaisar? Benar-benar tidak mengerti situasi.


Kasim David memandang Raja Ronald, berkata mengingatkan, “Apakah Permaisuri memberikannya pada orang lain? Pikirkan baik-baik? Kaisar tidak bisa dibodohi.”


“Memang hilang.” Kata Ivonne.


Wajah Kasim David tiba-tiba menjadi sangat tidak enak dilihat, Ivonne bukanlah orang yang pintar.


Yanto mendengarkan pembicaraan ini dan segera pergi untuk melaporkan pada Ronald, ekspresi Ronald tampak dingin, “Minta Kasim David masuk kemari.”


Yanto melangkah keluar, mengangkat tangannya ke Kasim David dan berkata, “Kasim David, Anda telah bekerja keras, Yang Mulia mengundangmu masuk untuk minum teh.”


Kasim David melambaikan tangannya, “Tidak perlu, aku sedang bertugas.”


“Memang sedang bertugas, tapi Mutiara Selatan ini tidak bisa dikembalikan saat ini juga, lebih baik masuk dan mendiskusikannya?” Yanto dengan tulus menatap pada Kasim David.


Kasim David mengingat Raja Ronald juga adalah anak yang dilihatnya tumbuh dewasa, jika benar memiliki pemikiran seperti itu, itu benar-benar keterlaluan.


Kasim David harus mengingatkan beberapa kata padanya.


Jadi dia berkata, “Baiklah, sepanjang jalan kemari aku juga haus, sepertinya jika meminum teh sebentar juga tidak akan menunda terlalu banyak waktu.”


“Ya!” Yanto menghela nafas lega, bergegas mengantar Kasim David untuk masuk ke dalam.


__ADS_1


__ADS_2