
Steffie sedih, “Sebelumnya, Ibu malah berkata aku akan menikah dengan Raja Ronald, aku tidak ingin menikah dengan Raja Ronald. Dan lagi jika menikah dengannya aku malah menjadi selir, aku tidak mau menjadi selir.”
Pandangan mata Clara bercahaya, kemudian berkata, “Raja Ronald itu baik, Ibu Suri tidak akan terlalu mempersulit Permaisuri Raja Ronald, karena Ibu dari Raja Ronald adalah keponakan Ibu Suri. Dengan adanya hubungan ini, Ibu Suri akan lebih toleran terhadap orang-orang dari kediaman Raja Ronald. Kamu lihatlah Permaisuri Ivonne itu, setelah menikah dia jarang datang ke Istana untuk memberi salam, tapi Ibu Suri tidak pernah membicarakannya.”
“Raja Ronald…” Di dalam benak Steffie perlahan-lahan muncul sosok seorang pria tampan, terakhir kali Steffie melihatnya adalah ketika berada di gerbang kota. Saat itu, Raja Ronald kembali ke kota setelah memenangkan pertarungan, menunggang kuda yang tinggi, memakai jirah besi berwarna emas, benar-benar gagah.
Sebenarnya sejak kecil dia sudah mengenal Raja Ronald, pada saat itu Raja Ronald sering berkunjung ke rumah, tapi semua orang tahu bahwa dia datang kemari untuk menemui Kakak.
Steffie berkata dengan lemah, “Aku tidak mau menikah dengan Raja Ronald.”
Clara tercengang, “Kenapa?” Clara sebenarnya tahu pemikiran Adiknya, dulu ketika Ronald sering datang kemari, Steffie diam-diam bersembunyi di balik pintu dan melihatnya.
“Dia menikahi putri dari keluarga Hendra, Ivonne, wanita seperti ini saja dia nikahi, aku tidak memandangnya.” Kata Steffie.
“Dia dijebak oleh keluarga Ivonne, terpaksa melakukannya, dan lagi Kakek berkata jika kamu bersedia menikah, maka akan meminta Raja Ronald untuk menceraikan Ivonne.”
Steffie menatap Clara, sudut bibirnya terangkat, “Mengapa Kakak terus membujukku untuk menikah dengan Raja Ronald?”
Clara berkata, “Ini demi kebaikanmu, Raja Ronald adalah pria baik yang langka, kamu akan bahagia jika menikah dengannya.”
Steffie tertawa dingin, “Benarkah? Begitu baik mengapa kamu tidak menikah dengannya?”
Pandangan Clara berubah suram, “Itu karena dia sudah menikah dengan Ivonne.”
“Mengapa Hendra bisa bertindak di kediaman Putri waktu itu? Bukankah Kakak membantunya dari belakang?” Steffie berkata sinis.
Clara terkejut, “Apa yang kamu bicarakan?”
Steffie mengangkat bahu, “Sebelum Kakak menikah, aku tidak terpisah denganmu, apa yang kamu pikirkan dalam hatimu, apa yang kamu lakukan, aku tahu dengan sangat jelas, aku tidak mengatakannya tidak berarti aku bodoh, Kakak pulanglah, tidak perlu membujukku, jika aku mau menikah dengan Raja Ronald, itu karena aku bersedia untuk menikah, tapi sudah pasti bukan karena maksud pikiranmu itu makanya aku menikah, yang diketahui oleh orang di luar adalah Raja Ronald bersalah padamu, tapi hanya aku yang tahu karena hatimu yang berubah terlebih dulu.”
Clara sangat terkejut hingga dia tidak bisa berkata-kata, menatap lekat pada Adiknya yang dikiranya tidak memilikki otak, tapi tidak disangka pikirannya begitu teliti.
Clara tiba-tiba teringat apa yang dikatakan Neneknya, di keluarga Cui, tidak ada wanita yang meiliki pemikiran sederhana.
__ADS_1
Seperti ketenangan dan kewaspadaan Clara yang merupkan kamuflase, dan Steffie, sifatnya yang egois dan seenaknya itu adalah kamuflase, pikiran macam apa yang tersembunyi di balik kamuflase ini? Clara sangat terkejut.
Ada seorang pelayan yang bergegas masuk, “Permaisuri, Nona Steffie, terjadi sesuatu pada Nyonya besar.”
Clara terkejut, dengan pucat bertanya, “Apa yang terjadi?”
Pelayan itu juga sangat ketakutan hingga wajahnya pucat, kemudian berkata, “Tadi Nyonya besar meminum semangkuk sup, setelah sup itu diminum, dia muntah darah, sekarang dia pingsan.”
Clara bagai kehilangan jiwanya, bergumam berkata, “Ya Tuhan!”
Seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya, suaranya tidak bisa dikeluarkan, napasnya sesak, dia merasa dunianya berputar, pandangannya menggelap kemudian pingsan.
Ketika Clara sadar, dia sudah berada di kediamannya.
Oscar duduk di sebelahnya, menatapnya dengan cemas, “Sudah sadar?”
Clara bergegas bangkit meraih tangan Oscar, sekujur tubuhnya gemetar, “Bagaimana keadaan Nenek?”
Oscar memeluknya, menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkan, “Tenang saja, dia baik-baik saja, hanya tenggorokannya terluka, sudah tidak bisa bicara lagi di kemudian hari.”
Clara terkejut seperti orang gila, menangis kemudian tertawa, “Benar-benar kejam, benar-benar sangat kejam.”
Oscar menatapnya dengan bingung, “Kenapa? Siapa yang kejam?”
Clara teringat akan mata dingin Kakeknya itu, kemudian teringat kekejamannya ini, Istrinya selama bertahun-tahun, hanya mengucapkan perkataan buruk mengenai Bibi Vera bahkan diracuni sampai bisu.
Clara tiba-tiba merasa sangat takut.
Meringkuk dalam pelukan Oscar, Clara menangis, “Nenek sudah tua, mendapatkan bencana seperti ini, itu benar-benar sangat menyedihkan.”
Oscar mengelus rambutnya untuk menenangkannya, “Aku sudah bertanya, salah seorang pelayan salah memberikan obat sebagai sup kemudian memberikannya untuk Nenekmu, Nenekmu tubuhnya lemah tidak bisa menerimanya, menyebabkannya kehilangan suaranya, nanti akan berkonsultasi dengan Tabib, tidak apa-apa.”
Hati Clara langsung memaki kebodohan Oscar, bahkan alasan yang tidak masuk akal seperti ini pun dia percaya.
__ADS_1
Orang yang begitu sederhana dan bodoh ini, bagaimana bisa diandalkannya di masa depan? Bagaimana bisa memenangkan posisi sebagai Pangeran Mahkota? Untuk pertama kalinya, Clara merasa bahwa dirinya mungkin telah memilih orang yang salah.
Jika itu adalah Kak Ronald, dia harusnya sudah memahami ada yang tidak beres dengan semua ini, dan juga mengambil tindakan pencegahan untuk membuatnya merasa aman.
Memikirkan Ronald, hati Clara sakit.
Ketika Clara menjebaknya waktu itu, dia terpaksa, karena Kakeknya saat itu memutuskan untuk sepenuhnya membantu Oscar, ditambah Paduka Kaisar yang sakit parah dan tidak mempedulikan Kak Ronald, Clara hanya bisa menahan sakit dan menyerah akan dirinya.
Clara tidak mau menanggung kejahatan karena rasa bersalahnya, hanya bisa diam-diam mengirim orang untuk mendekati Nenek Viona, membuat agar Nenek Viona bisa membujuk Hendra, ketika menjalankan rencana di Kediaman sang Putri, Clara juga sengaja menciptakan peluang untuk Ivonne, hanya saja saat itu dia berpikir, bahkan jika Kaisar ingin menjaga martabatnya, paling-paling dia akan meminta Kak Ronald untuk menjadikan Ivonne sebagai selirnya, tidak disangka, malah langsung menjadikannya Permaisuri sah.
Mengenai hal ini Clara membencinya untuk sekian lama, tapi setelah menikah dengan Oscar, dia lupa untuk sejenak, bagaimana dia bisa tahu bahwa situasinya berubah seperti hari ini?
Oscar tidak tahu apa yang Clara pikirkan dalam hati, hanya merasa tubuh Clara semakin lemas, mengetahui bahwa Clara khawatir mengenai kondisi neneknya, Oscar makin memeluknya dengan erat.
Kediaman Hendra.
Hendra benar-benar marah akhir-akhir ini, tadinya sudah akan mendapatkan apa yang diinginkannya yaitu menemui Gilang, jika hubungan kedua keluarga ingin diperbaiki, hanya perlu Ivonne untuk menyerahkan posisi Permaisurinya, Hendra juga berjanji, mengatakan bahwa Ivonne pasti akan bersedia, tetapi dia masih belum merencanakannya, hanya meminta Nenek Viona untuk menyebarkan beberapa desas-desus, Gilang sudah datang ke Istana untuk menemui Kaisar, mengetahui berita bahwa Ivonne menentang untuk mengambil selir, apalagi memberikan posisi sebagai Permaisuri.
Ketika Hendra kembali pergi ke kediaman Cui untuk mencari Gilang, bahkan dia sudah tidak bisa memasuki pintu gerbang.
Tidak hanya itu, penilaian departmen resmi akan segera dimulai, atasannya mengatakan kepadanya bahwa Departemen resmi bertanggung jawab untuk menilainya.
Departemen resmi ini adalah kekuasaan keluarga Cui, Hendra tahu bahwa ini adalah peringatan dari Gilang untuknya.
Semakin Hendra berpikir, dia semakin merasa ada yang tidak beres, sekarang dia masih memiliki kesempatan untuk memperbaikinya, dia harus memanggil Ivonne pulang, dia akan menegurnya, yang terbaik adalah Ivonne menyerahkan posisi Permaisuri dengan patuh.
Hendra segera memerintahkan orang untuk pergi ke kediaman Ronald, masih mengandalkan alasan Neneknya yang sakit, memanggil Ivonne pulang ke rumah.
Siapa sangka, orang yang membawa pesan itu melaporkan bahwa Permaisuri Ivonne harus merawat Yang Mulia Ronald yang belum sembuh, tidak bisa pulang ke rumah, meminta Ayahnya untuk memanggil tabib untuk memeriksa penyakit Neneknya.
Hendra sangat marah, tanpa menghiraukan identitasnya dia tiba-tiba memaki dengan keras di ruang kerja, “Apa dia sudah hebat? Merawat Yang Mulia? Dia menikah dan bertemu berapa kali dengan Yang Mulia, apa dirinya sendiri tidak tahu? Benar-benar kurang ajar, kamu segera katakan padanya, jika dia tidak pulang, maka dia akan ada saat di mana dia menangis.”
Bawahannya hanya bisa membawakan pesan itu lagi.
__ADS_1
Tabib Istana yang bermarga Chao yang tinggal di kediaman Ronald, Ivonne memiliki masalah dengan nada bicaranya, dia mendengar namanya menjadi Tabib Chao, sekarang Tabib Chao tiap harinya hanya merawat luka Ronald, lukanya perlahan sudah mengering, ketika Tabib itu melihat jahitan di lukanya, dia merasa terkejut, jika ini sebagai gadis penyulam, maka sudah pasti akan langsung bisa dibandingkan dengan para gadis penyulam di Istana.