
Ronald setengah berjongkok di depan ranjang, mengulurkan tangan memeluk kepala Ivonne, membelai wajahnya. Tidak mengatakan sepatah kata penghiburan apapun, hanya sesekali mencium wajah dan dahi Ivonne dengan cemas.
Ivonne merasakan kecemasan Ronald, Ivonne berusaha keras untuk menahannya, tanpa sadar dia merintih. Ini benar-benar sangat menyakitkan, Ivonne membuka mulutnya kemudian mengambil napas dalam-dalam.
Ivonne seperti itu selama satu jam, pada akhirnya Ivonne sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit, tubuhnya menggeliat karena rasa sakit, keringat dingin memenuhi seluruh tubuhnya. Keringat di dahi mengucur deras, bercampur dengan air mata yang tak bisa ditahannya.
“Sakit…” Giginya gemetar, bahunya yang paling sakit, ujung panah itu menembus tulang, sepertinya tulang Ivonne retak, rasa sakit itu menerjangnya.
Ronald mengusap air mata Ivonne, mendengar Ivonne merintih kesakitan, hati Ronald juga merasa sakit, dia menoleh dan berkata dengan marah pada Tabib, “Cepat pikirkan cara!”
“Pil Golden Purple.” Tabib Istana benar-benar tidak berdaya, berlutut dan berkata, “Yang Mulia masih memiliki pil Golden purple bukan? Pil itu bisa menahan rasa sakitnya.”
“Dari mana aku masih memiliki pil itu?” Ronald berteriak, seperti seekor singa yang mengamuk. Pil Golden purple milik Oscar dan juga Raja Ralph saja sudah dimakan olehnya.
Saudara-saudaranya yang lain, Ronald tidak berpikir akan ada yang mau memberikannya padanya.
“Aku akan pergi memintanya pada Indra!” Ronald tiba-tiba teringat akan Indra, Ronald teringat tapi Ivonne menggunakan semua kekuatannya untuk meraih salah satu jari Ronald, dengan putus asa dan menatapnya dengan ketakutan, “Jangan … pergi, jangan tinggalkan aku!”
Yanto dengan cepat berkata, “Aku yang akan pergi memintanya.”
Yanto bergegas keluar, pil Golden purple ini adalah obat penyelamat, Indra harusnya akan memberikannya, tapi jika Selir Renata ada di sana, apa dia akan memberikannya?
Yanto ingin pergi untuk meminta perintah dari Kaisar Mikael, tapi Kaisar Mikael sudah kembali ke Istana, dia hanya tinggal sesaat di tempat Stanley kemudian pergi.
Jika pergi ke istana dulu baru memintanya, maka akan menunda waktu, Permaisuri benar-benar sangat merasa kesakitan, sudah tidak bisa menunda waktu lagi.
Karena itu Yanto langsung bergegas mengendarai kuda pergi ke kediaman Indra.
Ini sudah jam 9 pagi, jika biasanya Ivonne harusnya sudah tiba di kediaman Indra.
Tapi Renata hari ini menunggu Ivonne begitu lama dan masih tidak melihat Ivonne datang, Indra juga bersiap untuk meminum obat pertamanya, meskipun masih ada obat di sini, tapi bukankah tiap harinya Indra harus disuntik?
“Tidak tahu mengapa Ivonne masih belum datang.” Renata berkata di depan Indra dengan tidak bisa menahan amarahnya.
Indra dengan tenang berkata, “Mungkin dia memiliki urusan penting jadi kedatangannya agak tertunda.”
__ADS_1
“Ya, mungkin tertunda.” Renata teringat masalah Indra yang diracuni kemarin, hatinya masih merasa tidak tenang.
Ketika sedang panik, Renata mendengar bawahannya melaporkan bahwa pengurus kediaman Ronald datang dan mengatakan ada masalah penting.
Renata terpaku, “Pengurus kediaman Ronald? Bukan Permaisuri Ivonne yang datang? Apa dia datang untuk mengantarkan obat? Persilahkan dia masuk.”
Renata mengira karena Ivonne bisa menggunakan alat suntik maka Ivonne juga bisa mengajari orang lain untuk menggunakannya, mungkin Ivonne benar-benar memiliki urusan hari ini yang tidak bisa ditunda, jadi Ivonne meminta pengurus kediamannya datang untuk memberi suntikan pada Indra.
Ketika Yanto masuk, dia segera berlutut dan nada suaranya penuh dengan rasa cemas, “Aku memberi hormat pada Selir Renata, memberi hormat pada Yang Mulia Indra.”
Renata kemudian berkata, “Berdirilah, apa Permaisuri Ivonne memintamu datang untuk memberikan suntikan pada Indra?”
Yanto tidak bangun, masih berlutut di lantai, dia bergegas masuk ke dalam dan nafasnya sekarang masih belum stabil, “Tidak, tidak, Selir Renata, Yang Mulia Indra, aku datang karena mendapat perintah Yang Mulia Ronald, dia ingin meminta pil Golden Purple milik Yang Mulia Indra.”
Ketika Renata mendengar kata-kata itu, dia langsung menolak, “Pil Golden purple? Tidak bisa, itu adalah obat penyelamat yang penting, tidak bisa diberikan padamu.”
Pil Golden purple sudah tidak ada lagi di Istana, setiap pangeran hanya memiliki satu, bisa menyelamatkan hidup dalam waktu kritis, bagaimana mungkin Renata memberikannya pada orang lain?
Indra menopang tubuhnya, “Yanto, mengapa kamu menginginkan pil itu? Apa terjadi sesuatu pada Kak Ronald?”
Renata dan Indra begitu terkejut, Renata bangkit dan berkata dengan cemas, “Permaisuri Ivonne diserang? Siapa yang melakukannya?”
Yanto menggelengkan kepalanya, “Ini masih diselidiki, tapi jelas pihak itu ingin membunuh Permaisuri agar tidak bisa menyembuhkan Yang Mulia Indra, jika Permaisuri meninggal maka Yang Mulia Indra juga tidak bisa diselamatkan.”
Yanto tidak tahu apa benar seperti itu, tapi masalah ini sudah seperti ini dia hanya bisa berkata seperti itu sekarang.
Renata terkejut, wajahnya seketika pucat.
“Ibu, cepat pergi dan ambil pil itu, kusimpan di kotak di dalam laci.” Kata Indra dengan cemas.
Pikiran Renata sangat kacau, dia bangkit dengan linglung dan berjalan ke depan laci lalu mengeluarkan sebuah kotak berwarna emas.
Renata ragu-ragu sejenak, tiba-tiba menggelengkan kepalanya, “Tidak, tidak, jika bahkan Ivonne saja diserang maka sudah pasti juga akan bertindak pada Indra, aku tidak bisa memberikan pil ini padanya.”
Indra panik, “Ibu, jika bukan karena Kak Ivonne, aku sudah meninggal sejak awal, dan lagi jika kali ini terjadi sesuatu pada Kak Ivonne maka aku juga tidak bisa hidup.”
__ADS_1
Renata menggelengkan kepalanya, pikirannya kacau, begitu terkejut akan berita mengenai Ivonne yang diserang oleh pembunuh, “Tapi sekarang kamu sudah jauh lebih baik dibanding sebelumnya, bisa meminta Tabib Istana untuk terus merawatmu, kamu bisa sembuh.”
Tidak bisa menyalahkan Renata yang egois, semuanya ini tidak lebih penting daripada nyawa putranya.
Yanto hanya bisa memohon pada Indra, “Yang Mulia, ini semua jika ingin dikatakan juga dikarenakan olehmu, Permaisuri awalnya juga tidak akan kenapa-kenapa, karena dia ingin merawat penyakitmu jadi dia baru bisa seperti ini.”
Renata marah kemudian berkata, “Diam, tutup mulutmu, Ivonne juga merawat Indra dengan memiliki niat tertentu, dia hanya ingin mencapai kesuksesan.”
“Selir Renata tidak bisa berkata seperti itu, Permaisuri Ivonne tidak pernah berpikir untuk mencapai kesuksesan, penyakit Paduka Kaisar disembuhkan olehnya, penghargaannya itu sudah cukup besar.” Yanto memandang pil Golden Purple yang ada di tangan Renata, dia sangat ingin menerjang untuk mengambilnya.
Indra juga marah, “Ibu, jika kamu ingin aku menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih, bagaimana aku bisa menjalani hidup di kemudian hari di dunia ini? Lebih baik aku mati saja.”
Ketika Renata mendengar kata mati, dia sangat ketakutan, bayangan kematian telah menutupi dirinya untuk waktu yang sangat lama.
Renata sudah merasa putus asa selama tiga tahun terakhir.
Hanya saja dalam beberapa hari terakhir dirinya seakan melihat fajar.
Dan fajar ini diberikan oleh Ivonne.
Hatinya sangat rumit, Renata tidak takut menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih, Renata hanya peduli akan nyawa putranya.
Tapi siapa yang memberi Renata harapan ketika dirinya putus asa?
Yanto mengertakkan giginya, dengan sedih berkata, “Selir Renata, meskipun Kaisar yang memerintahkan Permaisuri datang untuk merawat penyakit Yang Mulia Indra, tapi itu tidak harus disembuhkan, Permaisuri seharusnya juga tidak perlu memiliki konflik dengan Permaisuri Juno, tapi karena Permaisuri Ivonne takut Permaisuri Juno akan mempengaruhi kondisi Yang Mulia Indra, Permaisuri Ivonne tidak ragu untuk berselisih dengan Permaisuri Juno, apa itu dikarenakan dia ingin mencari kesuksesan?”
Renata menghela nafas panjang kemudian menyerahkan pil itu pada Yanto, meskipun Renata tidak rela tapi wajahnya merasa lega, “Sudahlah, hidup dan mati itu takdir, setelah menyerahkan pil Golden purple ini, bisa dikatakan antara Indra dan Ivonne sudah tidak ada hutang budi lagi.”
Sebenarnya tidak bisa dikatakan tidak ada hutang budi, Renata tahu dengan jelas, bencana yang dialami oleh Ivonne ini memang dikarenakan Indra.
Namun, lebih baik Renata berkata lebih dulu dibandingkan nantinya akan terbelenggu dengan moralitas di kemudian hari.
Ini adalah cara Renata dalam melakukan sesuatu, dia bukan sengaja ingin berbuat seperti itu, tapi jika bisa maka tidak masalah, yang pasti dirinya tidak boleh dirugikan.
Mana mungkin Yanto masih memikirkan apa maksud di balik perkataan Selir Renata? Setelah mendapatkan pil itu, dia bergegas berterima kasih dan segera pergi.
__ADS_1