Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan

Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan
Bab 77. Badai Di Keluarga Cui


__ADS_3

Kemarahan di wajah Gilang perlahan-lahan redup, duduk di kursinya, tapi raut wajahnya masih suram, “Ini adalah kesempatan terakhir, jika kamu tidak mengatakannya, maka posisi sebagai Permaisuri Raja Oscar kamu sudah tidak perlu mendudukinya lagi, yang dimiliki oleh Keluarga Cui adalah gadis yang patuh.”


“Kakek, dengarkan perkataanku, aku tidak pernah bermaksud untuk …” Clara terisak, air matanya menyelinap dari sudut matanya, benar-benar terlihat begitu menyedihkan, siapa pun yang melihat tampilannya yang begitu menyedihkan ini sudah pasti akan melunak hatinya.


Sayang sekali, Gilang tidak, dia tidak pernah percaya pada air mata.


“Simpan air matamu, keluar!” Gilang berkata dengan dingin.


Wajah Clara akhirnya menunjukkan ekspresi ketakutan dan penyesalan, bergegas berkata, “Kakek, aku salah, aku yang salah. Aku tidak seharusnya memanfaatkan hubunganmu dengan Bibi Vera, memang aku yang memintanya untuk memberi racun pada obat Paduka Kaisar, aku hanya takut Paduka Kaisar sembuh maka Ronald akan mendapatkan kekuasaan lagi, aku melakukan ini karena memikirkan situasinya secara keseluruhan.”


“Bagaimana kamu bisa mengetahui hubunganku dan Bibi Vera?” Suara Gilang begitu dingin, dirinya tenggelam dalam aura ingin membunuh.


Clara belum pernah melihat ekspresi yang begitu mengerikan di wajah Kakeknya itu, dia begitu ketakutan hingga bibirnya gemetar, mengatakan segalanya, “Nenek yang mengatakannya, masalah ini juga diperintahkan oleh Nenek. Selama mengatakan bahwa itu adalah maksudmu maka Bibi Vera juga akan melakukannya demi dirimu walaupun akan kehilangan nyawanya, aku awalnya juga tidak mempercayainya, tapi aku mengatakan seperti itu pada Bibi Vera itu, dia langsung setuju. ”


Setelah selesai berbicara, Clara bergegas berkata, “Kakek, Bibi Vera tidak akan pernah mengatakan siapa yang ingin membunuh Paduka Kaisar, dan dia tidak akan pernah menyeretmu, kamu tenang saja.”


Gilang memejamkan matanya, sama sekali tidak terlihat emosi apapun di wajahnya, seakan itu seperti orang-orangan kayu.


Hati Clara sangat gelisah, memainkan tangannya, tidak tahu harus berbuat apa.


Sekian lama, Gilang baru membuka matanya, pandangan matanya begitu tenang, “Mengenai masalah Ronald yang ingin mengambil adikmu sebagai selir, apa pendapatmu?”


Clara bergegas berkata, “Kakek, ini benar-benar tidak boleh.”


“Kenapa tidak?” Tanya Gilang dengan dingin.


Clara terpaku sejenak, “Adik adalah anak dari istri sah, bagaimana bisa dijadikan selir?”


“Hendra datang dan berkata, bisa membiarkan Ivonne melepaskan posisinya, maka saat itu Adikmu menjadi Permaisuri sah.”


Clara terkejut dan tertegun, “Hendra berkata seperti itu?”


“Tapi, Ivonne menentang, Kaisar berkata bahwa dia menghormati maksud Permaisuri Ivonne, jadi, masalah mengenai Adikmu dan Ronald itu dibatalkan.”

__ADS_1


Clara menghela nafas lega, “Baguslah kalau begitu, di saat penting seperti ini, lebih baik mengurangi masalah dibanding menambah masalah.”


Gilang dengan datar berkata, “Ya, karena itu aku memutuskan Adikmu akan melayani Raja Oscar bersama denganmu.”


“Apa?” Clara jatuh terduduk di lantai, wajahnya sangat pucat.


Clara bergegas kembali berlutut, berkata dengan tegas, “Tidak, Kakek, Ivonne akan setuju, dia tidak bisa tidak setuju, aku jamin, Ronald pasti akan menikahi Adik sebagai Permaisuri sah.”


Gilang berkata tanpa berekspresi. “Ini adalah kesempatan terakhirmu, aku tidak peduli cara apa pun yang kamu gunakan, harus bersih dan rapi, tentu saja, aku berharap mendapatkan kabar baik, jika kamu tidak menanganinya dengan baik, atau malah membuat masalah, posisimu sebagai Permaisuri Raja Oscar ini akan diserahkan.”


Dengan kata lain, Kakeknya berharap Ivonne secara sukarela menarik diri, dan jika benar-benar harus bertindak, maka tidak boleh meninggalkan jejak.


Clara berkata, “Kakek tenang saja, aku akan melakukannya dengan baik.”


Gilang melambaikan tangannya, wajahnya tampak lelah, “Pergilah.”


“Aku undur diri!” Clara membungkuk hormat kemudian undur diri.


Ketika Clara baru pergi, Gilang kemudian memanggil orang masuk dan dengan datar berkata, “Aku tidak ingin mendengar ada orang yang membicarakan Vera, kirimkan semangkuk obat ke tempat Nyonya besar.”


“Dia adalah orang yang cerdas, ketika dia melihat akhir dari Neneknya, dia akan menutup mulutnya dengan erat.” Gilang memejamkan matanya dan menarik kembali aura membunuh di pandangan matanya.


Clara meninggalkan ruang kerja, dia tidak segera pergi, sebaliknya dia malah pergi ke tempat adiknya, Steffie.


Steffie sudah mencapai umur untuk menikah, wajahnya sangat mirip dengan Clara, tapi Steffie lebih terlihat sombong, tidak setenang dan sesabar Clara.


Ketika Steffie lahir, Kakeknya sembuh dan juga pangkatnya naik, karena itu, Steffie sangat disayang dan dimanja sejak kecil, bahkan tingkat rasa sayang itu tidak kalah dari anak laki-laki yang dilahirkan oleh istri sah.


Clara bahkan curiga, Kakeknya sebenarnya sejak awal tidak berpikir ingin membiarkan Adiknya menjadi selir Ronald, jika Adiknya menikah dengan Ronald maka posisi sebagai Istri sah cepat atau lambat juga akan didapatkannya.


Jadi, Clara tidak boleh membiarkan Steffie menikah dengan Ronald sebagai selir, ini secara langsung mengancam posisinya sebagai Permaisuri sah, Kakeknya memandang dirinya itu karena dirinya memiliki emosi tenang, sekarang dirinya malah membuat masalah, sulit untuk menjamin bahwa Kakeknya tidak meninggalkannya.


Ketika memikirkan hal ini, Clara menjadi makin khawatir, tapi ketika melihat Steffie, Clara masih mengangkat senyum hangat sebagai seorang Kakak.

__ADS_1


“Kak.” Steffie sangat senang ketika melihat Clara pulang, merangkul lengannya kemudian berjalan masuk ke dalam, wajah cantik itu merona merah, sepertinya dia tidak diam di dalam ruangan, “Aku akan menunjukkan padamu mainan baruku.”


Clara mencium bau amis darah, terhadap hobi adiknya ini, Clara mengetahuinya, hanya saja kali ini tidak tahu siapa yang disulitkan olehnya.


Benar saja, ketika Clara ditarik masuk, dia melihat seorang pelayan kecil sedang berlutu di lantai, pelayan itu baru berusia 13 atau 14 tahun, ada sebuah mangkuk di atas kepalanya, di dalam mangkuk itu diisi dengan air jernih.


Ketika pelayan itu melihat ada orang yang datang, dia sedikit bergerak, tidak menyangka air itu terjatuh beberapa tetes, Steffie kemudian mengambil cambuk di atas meja dan mengarahkan padanya, berteriak berkata, “Berlutut!”


Pelayan itu kesakitan, perlahan-lahan berlutut, wajahnya memerah, air matanya berlinang, tidak berani meneteskannya.


Sudah ada beberapa mangkuk yang pecah di lantai, dan juga lantainya sudah basah, sepertinya pelayan ini sudah banyak menderita tadi, di wajahnya juga terdapat beberapa bekas tanda cambukan.


“Menyenangkan bukan?” Steffie menatap Clara dengan sikap puas diri dan dengan bangga memamerkannya.


Clara berkata dengan penuh kasih sayang, “Jika kamu merasa itu menyenangkan maka itu menyenangkan.”


Steffie duduk, melemparkan cambuknya, “Sebenarnya itu sama sekali tidak menyenangkan, tapi aku benar-benar bosan, Kakek tidak mengijinkanku keluar.”


Steffie melotot sekilas pada pelayan itu, “Keluar!”


Pelayan itu seakan mendapat hadiah besar, bergegas menurunkan mangkuk dan memberi hormat kemudian keluar.


Sisa pelayan lainnya bergegas membersihkan ruangan, menghidangkan teh dan makanan ringan kemudian menutup pintu untuk membiarkan kakak beradik itu mengobrol.


Clara berpikir sejenak, kemudian baru bertanya sambil tersenyum, “Adik, Kakek ingin menikahkanmu, apa kamu tahu?”


“Tahu!” Wajah Steffie dingin, “Tapi aku tidak ingin menikah terlalu dini.”


“Perkataan Kakek, tidak pernah ada orang yang bisa menentangnya.” Clara menghela nafas dengan lembut, “Mengapa Kakak bersedia menikah begitu cepat? Aku sangat ingin menemani Nenek, di rumah adalah mutiara, tapi setelah menikah dengan orang lain …”


“Kenapa? Apa Kakak ipar tidak bersikap baik pada Kakak? Aku malah merasa Kakak Ipar sangat baik terhadap Kakka, setiap kali Kakak pulang, dia selalu menemanimu.” Steffie bertanya dengan serius.


Clara tersenyum pahit, “Itu hanyalah di permukaannya saja, sebagai menantu keluarga kerajaan, mana mungkin benar-benar bebas? Ada begitu banyak aturan dalam kediaman, ada begitu banyak orang yang mengawasi, jika melakukan kesalahan, maka akan segera dilaporkan ke Istana, teguran dari sang Ratu juga akan segera menghampiri.”

__ADS_1


Steffie terkejut, “Apa begitu tegasnya?”


“Bukankah seperti itu? Jika memiliki keluhan juga tidak boleh memberitahu Kakek, dan juga Kakek tidak boleh ikut campur dalam masalah keluarga kerajaan.”


__ADS_2