
Rendi melindungi kepalanya dan pergi keluar, setelah dipukuli dia harus menjadi pengawal untuk sang Permaisuri.
Ivonne duduk di kereta kuda, melihat Rendi yang berjalan keluar dengan ekspresi sedih lalu menaiki kereta. Ivonne berkata: “Kamu ikut?”
“Yang Mulia menyuruhku mengendarai kerata kuda ini untuk mengantar Permaisuri ke Istana.” Kata Rendi dengan suara pelan.
Ivonne tersenyum, “Kenapa? Kamu dimarahi lagi?”
Rendi tidak berani mengeluh, “Mulutku ini memang selalu suka membuat Yang Mulia marah.”
Ivonne menurunkan tirai kemudian tertawa, keberadaan Rendi benar-benar untuk pelampiasan amarah saja.
Rendi diam-diam menyibak tirai dan menjulurkan kepalanya masuk ke dalam, “Permaisuri, tempat yang baru saja kamu tanyakan tadi, aku akan membawamu ke sana lain hari.”
Sulit untuk melayani Yang Mulia, lebih baik Rendi menyenangkan Permaisuri, jika terjadi sesuatu nantinya maka Permaisuri masih bisa mempertahankannya.
Bibi Vera berkata, “Sepertinya kamu ini sudah benar-benar tidak ingin bekerja lagi, Permaisuri hanya bercanda dan kamu menganggapnya serius? Jika kamu mengatakannya di luar sana maka lidahmu akan dipotong, tidak heran Yang Mulia selalu memukulimu, kamu pantas mendapatkannya.”
Rendi perlahan-lahan menoleh, ada kesedihan yang sangat terlihat jelas di hatinya.
Sebenarnya siapa yang disinggungnya akhir-akhir ini? Dirinya selalu dimarahi!
Kereta kuda itu melaju di jalan Jade, roda kereta bergulir dan mengeluarkan suara yang aneh, Ivonne mendengar ada sesuatu yang salah kemudian berkata: “Rendi …”
Tiba-tiba terdengar suara keras dari kereta kuda kemudian seluruh kereta kuda itu terbalik.
Untungnya Rendi merespon dengan cepat, dia segera melompat turun dan mengangkat satu sisi kereta kuda, dengan cemas berkata: “Permaisuri cepat turun, kereta kuda ini akan hancur.”
Bibi Vera membantu Ivonne, bergegas turun dari kereta kuda, tidak lagi mempedulikan keanggunan sikapnya, takut jika Rendi tidak bisa menahan dan kereta kuda ini akan jatuh.
Ketika Rendi melihat kedua orang itu sudah keluar dari kereta kuda dia baru bisa merasa lega, dengan marah menatap ke arah kereta kuda dan berkata: “Kereta kuda ini sebelumnya memang memiliki masalah, Yang Mulia menyuruhku untuk membetulkannya dan aku lupa, gawat, kali ini Yang Mulia pasti akan membereskanku.”
Bibi Vera menghela nafas, “Bisakah kamu melakukan sesuatu dengan lebih baik? Cepat atau lambat Yang Mulia benar-benar akan mengusirmu.”
Rendi melihat sekeliling, “Aku akan kembali untuk mengganti kereta kuda lebih dulu, hei? Di mana roda keretanya? Harus memasang roda kereta dulu baru bisa membawa kereta kuda ini, kalau tidak maka akan menghalangi jalan orang lain.”
Setelah roda kereta menghilang, kereta ini teronggol menghalangi di tengah jalan.
Ketika sedang berbicara, mereka melihat kereta kuda beratap biru yang datang dengan cepat.
Sebelum kereta kuda itu tiba, kusir kereta itu bergegas berhenti dan berteriak berkata: “Apa-apaan kalian? Jangan menghalangi jalan!”
Begitu Rendi melihatnya, raut wajahnya berubah, “Gawat, itu adalah Tuan Gilang.”
Bibi Vera membalikkan tubuhnya dan memunggungi kereta kuda, raut wajahnya dingin.
Ivonne pernah bertemu sekali dengan Gilang, saat itu sepertinya dia sedang berada di luar ruang kerja kerajaan dan Tuan Gilang ini sama sekali tidak memberikan raut wajah yang baik pada Ivonne.
__ADS_1
Pria tua kurus tapi begitu berwibawa itu memiliki mata yang tajam seperti pedang.
Apa dia begitu rendah hatinya ketika bepergian? Hanya ada satu kusir kereta yang menemani, tidak ada penjaga yang membuka jalan dan juga tidak ada kuda tinggi besar yang mengikuti.
Dan lagi kereta kuda ini tidak begitu mewah, jika orang yang tidak tahu mungkin akakn mengira ini adalah kereta kuda yang disewa oleh keluarga kecil.
Seseorang yang menjadi sekretaris negara itu adalah orang yang membawahi lebih dari sepuluh ribu orang, sikap rendah hati seperti ini benar-benar mengejutkan Ivonne.
Rendi melangkah maju dan berkata, “Tuan Gilang, aku adalah pengawal dari kediaman Yang Mulia Ronald yang sedang mengantar Permaisuri ke istana untuk berpartisipasi dalam perjamuan, aku tidak tahu bahwa kereta kuda ini tiba-tiba rusak hingga menghalangi jalan untuk sementara, tolong Tuan tunggu sebentar".
Gilang membuka tirai kemudian melirik sekilas dengan datar, ternyata Ivonne benar-benar ada dan sedang berdiri di luar, Gilang juga tidak enak untuk duduk di dalam kereta kuda jadi dia turun.
Memerintahkan kusir kereta dan berkata, “Pergilah membantu pengawal ini.”
Kusir itu mendapatkan perintah kemudian pergi bersama Rendi.
Gilang juga menghampiri kemudian memberi salam dengan hormat: “Permaisuri!”
“Aku memberi salam untuk Tuan Gilang!” Di hadapan orang ini, Ivonne tidak berani bersikap tidak sopan, orang ini bersikap sopan hanya karena memberi muka untuk anggota kerajaan dan bukannya karena melihat Ivonne.
“Permaisuri terlalu segan!” Gilang berkata dengan datar, pandangan matanya jatuh ke arah sosok Bibi Vera.
Bibi Vera tahu Gilang menghampiri, dia hanya bisa membalikkan tubuhnya perlahan kemudian dengan hormat berkata, “Budak memberi salam pada Tuan Gilang.”
Tatapan mata Gilang terfokus di wajahnya, “Bibi Vera, sudah lama tidak bertemu.”
“Lumayan, apa kamu sekarang bertugas di samping Permaisuri?” Gilang berkata dengan nada dingin tapi yang terdengar di telinga Ivonne nada bicaranya itu begitu segan.
“Ya!” Kata Bibi Vera tapi tidak pernah menatap lurus ke arah Gilang.
Gilang malah terus menatapnya lekat.
Tiba-tiba Ivonne merasa dirinya itu pengganggu di sana jadi dia melangkah mundur.
Ivonne tahu di antara Bibi Vera dan Tuan Gilang ada beberapa … keterikatan, tapi Ivonne tidak tahu dengan jelas.
Namun sebelumnya Ivonne berpikir itu adalah hal yang sudah lama, sepertinya mereka berdua juga sudah tidak memikirkannya lagi.
Terutama Gilang yang memiliki posisi begitu tinggi sekarang, mana mungkin dia akan ingat bahwa hatinya pernah tergerak pada seorang gadis pelayan istana ketika dirinya masih muda?
Namun, melihat matanya sekarang sepertinya tidak demikian.
Kusir kereta kuda dan Rendi menarik kereta kuda itu ke samping untuk membuka jalan.
Kusir itu berjalan menghampiri dan berkata: “Tuan, sudah bisa pergi.”
Gilang mengangguk pelan kemudian berkata pada Ivonne: “Aku undur diri dulu.”
__ADS_1
“Selamat jalan Tuan!” Kata Ivonne.
Gilang tidak segera berbalik badan tapi menatap Bibi Vera bahkan pandangan matanya melembut, “Jaga dirimu Bibi Vera.”
“Tuan juga!” Kata Bibi Vera, dibandingkan dengan Gilang, Bibi Vera terlihat lebih acuh.
Gilang kembali menatap dalam ke arah Bibi Vera kemudian baru berbalik badan dan pergi.
Menaiki kereta kuda, Gilang menatap sekilas pada Bibi Vera sebelum menurunkan tirainya.
Kereta kuda itu melewati Bibi Vera, tirai itu sudah tidak terangkat lagi, kemudian kereta kuda itu melaju perlahan.
Bibi Vera menundukkan kepalanya, berdiri di samping, raut wajahnya tampak dingin.
Rendi sudah selesai memperbaiki kereta kuda kemudian berkata: “Untuk sementara bisa dipakai untuk pergi ke istana, setelah tiba di istana aku akan kembali memperbaikinya.”
Ivonne dan Bibi Vera kembali menaiki kereta kuda.
Bibi Vera sangat diam sepanjang jalan, Ivonne juga tidak bertanya karena itu adalah privasi jadi dirinya segan untuk menanyakannya.
Akhirnya ketika sudah akan mendekati istana, Bibi Vera tiba-tiba berkata, “Apa ada yang ingin Permaisuri ketahui?”
“Apa Bibi memiliki sesuatu untuk dikatakan?” Tanya Ivonne.
Bibi Vera berpikir sesaat kemudian menggelengkan kepalanya, “Tidak ada.”
Ivonne tersenyum, “Kalau begitu aku tidak punya hal yang ingin kutanyakan.”
Kereta kuda sudah mencapai gerbang istana, keduanya turun dari kereta kuda, memasuki gerbang Istana dan berjalan ke depan dengan perlahan.
Bibi Vera akhirnya sudah tidak bisa menahannya, “Aku selalu memiliki pertanyaan di dalam hatiku, kuharap Permaisuri bisa membantuku untuk menjawabnya.”
“Silakan Bibi katakan.” kata Ivonne.
Bibi Vera memandang Ivonne, “Aku pernah mencelakai Permaisuri, Paduka Kaisar mengirimku ke kediaman Permaisuri untuk menerima hukuman dari Permaisuri, tapi mengapa Permaisuri bukannya menghukumku tapi memperlakukanku dengan baik? Jangan katakan alasan yang sebelumnya itu karena aku merasa itu tidak sesuai.”
Alasan apa yang dulu dikatakannya? Ivonne bahkan sudah lupa.
Sepertinya Paduka Kaisar tidak rela menghukum Bibi Vera jadi dia mengirimnya keluar.
Berkata Ivonne boleh menghukumnya sesuka hati tapi jika benar dihukum maka Paduka Kaisar pasti tidak senang karena Bibi Vera adalah orang yang telah melayani Paduka Kaisar selama bertahun-tahun.
Mengenai mengapa Ivonne tidak menghukum Bibi Vera? Sebagian besar dikarenakan alasan ini.
Tapi jika harus menghadapinya, paling-paling Paduka Kaisar hanya akan marah untuk sementara waktu.
Tapi mengapa tidak menghukum Bibi Vera?
__ADS_1