
Nenek Ivonne menganggap dirinya tidak mendengar kata-kata itu, meminta Bibi Sunny untuk bersiap. Hendra tahu Ibunya ini pasti akan memikirkan masa depannya jadi tidak lagi banyak berbicara lalu dirinya undur diri.
Benar-benar seperti yang ditebak Hendra.
Ketika orang-orang dari pihak Hendra pergi berkunjung, Ronald tidak mengizinkan Ivonne untuk bertemu, tapi tahu bahwa Ivonne peduli pada Neneknya, kali ini Nenek Ivonne sendiri yang pergi ke sana dan juga datang walaupun sedang sakit jadi tidak mungkin tidak menemuinya.
Ronald sendiri yang menyambutnya secara pribadi, memberi hormat kemudian memanggilnya dengan sebutan Nenek.
Nenek Ivonne lahir di kota jadi dirinya tahu akan etiket, memapah pada Ronald dan berkata: “Yang Mulia tidak perlu begitu sopan.”
Nenek Ronald adalah Ibu Suri pada saat ini, walaupun dekat tapi tetap saja harus mengikuti aturan dan tidak boleh berlaku seenaknya.
Mengenai panggilan ini, Ronald sudah mengucapkannya jadi Nenek Ivonne juga tidak mengatakan apa-apa, jika tidak maka akan terasa canggung.
Ronald tersenyum dan mengundang Nenek Ivonne masuk ke dalam, ketika Ivonne mendengar Neneknya datang, dia langsung ingin bangkit untuk duduk.
Ronald bergegas menghampiri dan berkata, “Tidak boleh bangun, berbaring saja, Nenek juga bukan orang luar. ”
Ivonne mengeluh, “Pinggangku hampir patah karena berbaring terus menerus.”
“Aku akan memijatnya nanti, kamu mengobrollah dulu dengan Nenek sebentar, aku akan pergi ke birokrat.”
Jika harus mengatakan seseorang yang tidak dibencinya di keluarga Hendra, maka itu hanyalah Nenek Ivonne.
Karena Nenek Ivonne yang datang, Ronald merasa tenang, nenek dan cucu itu ingin saling mengobrol, tidak nyaman jika Ronald hadir di sana, tapi jika tidak menyambut juga itu tidak baik, Ronald akhirnya mengambil kesempatan untuk pergi sebentar ke birokrat.
Ivonne sangat ingin Ronald pergi sebentar, berbaring selama dua hari di bawah pengawasan Ronald yang ketat, Ivonne sudah hampir gila.
Setelah Ronald pergi, Nenek duduk di samping ranjang dan berkata dengan puas: “Dia sangat baik padamu.”
Ivonne menatap Neneknya dan tidak menjawab perkataannya, hanya mengerutkan kening dan berkata: “Penyakit Nenek masih belum sembuh, tidak boleh bepergian jauh.”
Nenek mengulurkan tangan dan mengelus rambut Ivonne, berkata dengan ringan: “Nenek juga tidak datang dengan berjalan kaki, Nenek datang dengan menduduki kereta kuda.”
Ivonne berkata: “Kereta kuda itu berguncang, bukankah ini akan lebih melelahkan?”
Nenek mendengus sekilas dan berkata, “Kenapa? Tidak senang Nenek datang?”
Ivonne tersenyum, “Bagaimana mungkin? Tentu saja aku senang Nenek datang, aku tidak tega padamu.”
“Sudahlah, jangan berpura-pura patuh, bagaimana kondisimu? Apa reaksinya begitu besar?” Nenek mengerutkan kening melihat wajah Ivonne yang begitu pucat.
“Mual, pusing!” Ivonne berkata dengan getir, “Selain itu Tabib Kerajaan juga mengingatkan untuk tidak boleh turun dari ranjang, selain untuk mandi aku tidak bisa pergi ke mana pun.”
“Kalau begitu kamu harus berbaring dengan patuh, mana mungkin begitu mudahnya menjadi seorang Ibu? Bukankah harus menderita?” Nenek berkata dengan pelan tapi tatapan matanya itu begitu khawatir dan tidak tega.
__ADS_1
Ivonne memegang tangan Neneknya, “Apa Ayah yang memintamu kemari?”
“Dia tidak memintaku Nenek juga tetap akan datang untuk mengingatkanmu beberapa kalimat, jangan sampai kamu tidak patuh.” Kata Nenek Ivonne.
Ivonne mengeluh, “Tidak perlu diingatkan juga sekarang banyak orang di sini yang mengawasiku, aku tidak ingin bersikap patuh juga tidak bisa.”
“Ronald melakukan itu demi kebaikanmu, jangan bersikap memberontak.” Dari perkataan tadi Nenek Ivonne bisa melihat bahwa cucu menantunya itu cukup bersikap baik pada Ivonne.
Tidak peduli apakah itu dikarenakan Ivonne hamil atau hal lainnya, yang pasti Ronald memiliki hati seperti itu.
“Aku tahu dia melakukannya demi kebaikanku jadi aku mendengarkan perkataannya.” Ivonne tersenyum dan berkata, “Lalu apa yang ingin Nenek ingatkan? Nenek katakan saja, aku pasti akan melakukannya.”
Nenek Ivonne menghela nafas dan menatap Ivonne, “Tidak ada yang perlu diingatkan lagi.”
Sebenarnya Nenek Ivonne khawatir, dia ingin datang untuk melihat keadaan Ivonne, dan ingin melihat bagaimana Ronald memperlakukan Ivonne, sekarang dia sudah melihatnya jadi tidak ada yang bisa dikatakan lagi.
Ada Tabib Kerajaan di sini, mengenai hal yang perlu diperhatikan tentu saja Tabib Kerajaan sudah mengingatkannya.
Setelah terdiam beberapa saat Nenek Ivonne kemudian berkata: “Hanya satu kalimat, Nenek masih harus mengoceh padamu, sebagai calon Ibu pasti akan ada banyak kesulitan yang harus kamu alami tapi itu semua setimpal, jadi kamu bersabar dan akan bisa melewatinya.”
Ivonne tahu Neneknya khawatir akan dirinya, hatinya terharu.
Mereka berbicara untuk beberapa saat kemudian Nenek Ivonne berkata bahwa dirinya sudah akan pergi.
Nenek Ivonne itu tidak bisa dipaksa jadi Ivonne meminta Bibi Vera untuk mengantarkan Neneknya keluar.
Keluar dari pintu, Nenek Ivonne memberi hormat pada Bibi Vera dan berkata, “Cucuku itu tidak mengerti apa-apa, tidak bisa melakukan apa pun untuk orang lain, kuminta Bibi untuk menjaganya.”
Bibi Vera terkejut kemudian bergegas memapah Nenek Ivonne, “Nyonya tidak perlu bersikap terlalu sopan seperti itu, aku benar-benar tidak mampu menerimanya, Nyonya tenang saja, aku memiliki budi pada Permaisuri, aku pasti akan menjaganya dengan baik.”
“Terima kasih Bibi, Bibi adalah orang Istana, berpengetahuan luas, memiliki sikap tenang, jika ada dirimu yang menjaganya maka aku bisa merasa tenang.” Kata Nenek Ivonne.
Bibi Sunny dan sipir kereta kuda membantu Nenek Ivonne menaiki kereta kuda.
Kembali ke kediaman Hendra, Hendra sudah bergegas keluar untuk membantu memapah Ibunya, “Ibu, apa kamu bertemu dengannya?”
Langkah Nenek Ivonne terhuyung-huyung, menarik napas berkali-kali, “Ya.”
Hendra begitu gembira, “Apa bertemu dengan Ronald?”
Bibi Sunny menjawab, “Tuan Hendra, Yang Mulia Ronald sendiri yang secara pribadi menyambut Nyonya.”
Hendra bahkan makin gembira, “Bagus sekali, benar-benar bagus sekali.”
Ketika Nenek Viona mendengar perkataan itu, raut wajahnya sedikit tidak baik, dia tertegun untuk sejenak kemudian tersenyum dan berkata: “Memang jika Kakak yang muncul itu yang terbaik, tentu saja Yang Mulia Ronald akan lebih memberi penghormatan.”
__ADS_1
Perkataan ini begitu sinis.
Nenek Ivonne mengabaikannya.
Hendra juga mengabaikannya, dia memapah Ibunya dan bertanya, “Apa Ibu membicarakannya pada Ronald?”
Nenek Ivonne duduk, pelayan menyajikan secangkir teh kemudian Nenek Ivonne meminum beberapa teguk, ketika Hendra sudah sedikit tidak sabar menunggu, Nenek Ivonne berkata dengan perlahan: “Yang Mulia ingin aku mengatakan sesuatu padamu, masih ada beberapa bulan sebelum akhir tahun, memintamu menempatkan pikiranmu di birokrat, jika kamu memiliki sikap yang benar maka Yang Mulia baru bisa membicarakan hal baik mengenaimu.”
Hendra sedikit kecewa setelah mendengarkan pernyataan ini, “Bersikap benar? Bagaimana caranya?”
Nenek Ivonne berkata dengan nada tegas, “Tidak memiliki pemikiran untuk mendaki kekuasaan saja, hanya perlu melakukan pekerjaanmu dengan benar, itu yang dimaksud bersikap yang benar, kamu sudah tidak memiliki prestasi politik, jika ingin Ronald mengatakan hal baik mengenaimu setidaknya juga harus ada tindakan darimu.”
Hendra berpikir dan merasa itu ada benarnya, dirinya harus melakukan sesuatu.
Hendra menampilkan ekspresi menerima pengajaran, “Aku mengerti, lain kali ketika Ibu pergi mohon Ibu memberitahu Ronald.”
Nenek Ivonne menatapnya putranya yang seperti itu, hatinya benar-benar sangat marah.
Nenek Ivonne menghela nafas lalu berkata pada Bibi Sunny: “Bantu aku kembali ke kamar.”
Hendra maju untuk membantu tapi Nenek Ivonne menyingkirkan tangannya, “Lakukanlah pekerjaanmu.”
Hendra kemudian memerintahkan Bibi Sunny untuk merawat Ibunya baik-baik kemudian dirinya berbalik dan keluar.
Nenek Ivonne tidak mengatakan apa-apa sepanjang jalan kembali ke kediamannya, ketika sampai di depan gerbang, dia berkata dengan pelan: “Bantu aku untuk memakan obatku.”
Bibi Sunny sedikit terkejut, “Obat?”
“Hari ini belum meminum obat.” Kata Nenek Ivonne.
Bibi Sunny berkata dengan gembira: “Baik.”
Nenek Ivonne tidak pernah mengatakan bahwa dirinya ingin meminum obat.
Apa matahari akan terbit dari Barat hari ini?
Setelah memasuki ruangan, Nenek Ivonne berkata dengan suara dalam: “Tubuhku ini harus bertahan demi Ivonne, setidaknya harus hidup selama dua tahun lagi.”
Bibi Sunny menangis dikarenakan gembira, “Jika Nyonya bisa berpikir seperti itu maka benar-benar baik.”
Hati Nenek Ivonne benar-benar sedih.
Saat ini berapa banyak orang di kediaman Hendra ini yang peduli pada Ivonne? Keluarganya ini apa bisa dibilang sebagai dukungan? Sampai sekarang saja tidak ada yang peduli apa Ivonne baik-baik saja atau tidak tapi hanya ingin mendapat keuntungan dari kehamilan Ivonne.
Karena dirinya tidak bisa mati, maka dia akan hidup dan hidup dengan memiliki tujuan.
__ADS_1