
Ivonne bertanya, “Apa Ibu mencari Tabib untuk menyembuhkanmu?”
“Ya, tapi aku tidak mau bekerja sama, Ibuku begitu marah.” Kata Ronald.
Ronald mengusap wajah Ivonne dengan lembut, “Tidak marah lagi kan?”
“Aku tidak marah, aku sudah bilang aku tidak akan marah malam itu.” Ivonne turun dari atas tubuh Ronald dan berkata sambil tersenyum.
Gantian Ronald yang menekan di atas tubuh Ivonne, “Bohong, aku tidak percaya pada wanita lagi.”
Memang yang dikatakan Yanto benar, hanya ada setengah kebenaran dari perkataan wanita.
Sebenarnya pada saat itu tidak persis seperti itu, waktu itu ada dua pelayan yang bisa dipilih Ronald dan Ronald memilih yang lain, Ibunya merasa pelayan itu tidak baik jadi menggantinya.
Saat itu Ronald memiliki pemikiran dan kepribadiannya juga sedang dalam tahap pembentukan, Ronald ingin membuat keputusan sendiri, Ronald mulai merasa tidak senang pada sikap Ibunya yang mendominasi dan secara tidak sadar melawannya.
Karena ingin menentang Ibunya jadi Ronald sengaja tidak menyentuh pelayan itu, tentu saja juga karena pelayan itu sangat jelek.
Ibunya ternyata benar-benar berpikir bahwa Ronald tidak bisa melakukannya, dalam beberapa tahun berikutnya, Ronald juga menolak untuk melakukan perawatan. Karena begitu melakukan perawatan maka akan ketahuan oleh Ibunya, dan yang paling penting Ronald tidak bisa mengakui bahwa dirinya sengaja membohongi Ibunya, ini juga yang menyebabkan Ronald tidak memiliki selir atau selir pelayan di sisinya selama bertahun-tahun ini.
Setelah kejadian di kediaman Tuan putri tersebar, Ibunya langsung tahu bahwa Ronald dijebak dan tidak bersalah, karena Ibunya masih tidak percaya bahwa Ronald tertarik pada wanita.
Ronald tidak bisa menahan tawanya.
Ivonne seketika tersadar, menatap pria yang berbaring di atas tubuhnya yang sedang tersenyum aneh, “Apa yang kamu tertawakan?”
“Tidak ada!” Ronald menarik kembali senyumnya dan kembali membenamkan kepalanya.
Ivonne merasa Ronald sedikit aneh.
Dan juga merasa masa lalu Ronald tampak sangat mencurigakan.
Tapi Ivonne sudah belajar pintar, tidak akan menanyakan masa lalu, itu semua hanyalah masa lalu, yang dibutuhkan Ivonne sekarang adalah melihatnya dengan cermat, tidak, lebih tepatnya mengawasi dengan cermat.
Keesokan harinya, Ronald kembali bekerja dan Ivonne pergi ke Istana untuk melaporkan kondisi penyakit Indra.
Kaisar Mikael tentu saja tidak akan menemui Ivonne sepagi itu, Ivonne kemudian berkunjung ke Istana Paduka Kaisar.
Lucky menyambutnya masuk ke dalam, sekarang di tubuh Ivonne tercium bau anjing, Lucky makin menyukainya.
Paduka Kaisar sedang minum teh, duduk santai di halaman bahkan menyilangkan kedua kakinya.
Ivonne melangkah maju untuk memberi hormat, pandangan mata pria tua itu memicing, “Hei, bukankah ini Permaisuri Ivonne? Orang terkenal!”
Begitu Ivonne mendengar perkataan yang penuh kesinisan dan keluhan ini, Ivonne kemudian berlutut dan mengaku bersalah, “Beberapa hari ini aku sibuk merawat penyakit Raja Indra dan lalai memberi kunjungan pada Paduka Kaisar, mohon Paduka Kaisar memaafkannya!”
Paduka Kaisar tidak benar-benar marah kemudian bertanya, “Bagaimana keadaan Indra?”
__ADS_1
“Menjawab pertanyaan Paduka Kaisar, kondisinya sudah terkendali dan tidak akan menularkan ke orang lagi.” Kata Ivonne.
“Benarkah?” Paduka Kaisar sangat terkejut kemudian berkata sambil memandang Ivonne, “Kamu benar-benar memiliki kemampuan, Tabib Istana saja tidak dapat menyembuhkannya tapi kamu bahkan bisa menyembuhkannya hanya dalam waktu lebih dari setengah bulan saja.”
“Masih belum sembuh, penyakitnya hanya dikendalikan untuk sementara, masih butuh meminum obat selama setengah tahun.”
“Hanya perlu meminum obat selama setengah tahun, itu adalah hal baik.” Paduka Kaisar berkata dengan senang.
Ivonne berkata, “Ya, nyawa itu sangat berharga!”
Ivonne maju selangkah kemudian berkata, “Bagaimana kesehatan Paduka Kaisar akhir-akhir ini?”
“Hari ini tidak tahu mengapa kepalaku sakit, kamu kemarilah dan pijat kepalaku.” Kata Paduka Kaisar dengan wajah sedih.
Ivonne tentu saja harus memeriksanya terlebih dahulu, mendengarkan detak jantung, memeriksa denyut nadi, melihat lidah, melihat mata dan juga raut wajahnya, setelah melakukan pemeriksaan itu kemudian Ivonne berputar ke belakang Paduka Kaisar, menekan jari-jarinya di dahi dan pelipis Paduka Kaisar dan mulai memijatnya.
Paduka Kaisar memejamkan mata dan menikmatinya.
Kasim Artur datang dengan membawa kue, melihat Ivonne sedang memijat kepala Paduka Kaisar kemudian dia bertanya, “Ada apa dengan Paduka Kaisar?”
“Kepalanya sakit.” Kata Ivonne.
“Sakit kepala?” Kasim Artur bergegas meletakkan kue dan bertanya dengan nada cemas, “Paduka Kaisar, apa baik-baik saja? Mengapa aku tidak mendengar Paduka mengatakan sakit kepala tadi?”
Paduka Kaisar melotot menatapnya, “Apa bahkan jika aku membuang gas juga harus memberitahumu?”
Kasim Artur kemudian berkata, “Itu tidak perlu.”
Ivonne tersenyum, tapi tangannya memijat Paduka Kaisar dengan keras.
Orang tua itu sebenarnya sama seperti anak-anak, membutuhkan perhatian dan cinta dari orang lain.
Setelah memijat untuk beberapa waktu, Paduka Kaisar meminta Ivonne duduk dan memberinya sepotong kue.
“Apa lukamu sudah sembuh?” Paduka Kaisar bertanya sambil memandangnya.
“Sudah sembuh!” Ivonne memakan kue dan menjawab sambil tersenyum.
“Benar-benar bodoh, kenapa tidak mati?” Mulut Paduka Kaisar ini memang selalu beracun.
Ivonne mengerucutkan bibirnya, “Tidak berhasil mati.”
Ivonne sudah tahu dia sudah pasti akan dimarahi jika datang kemari.
Paduka Kaisar melototkan matanya, “Terakhir kali kamu datang kemari, aku sudah berkata padamu bahwa kamu harus memikirkan segalanya hingga kemungkinan yang terburuk, apa otakmu itu cacat? Tidak tahu bahwa kuncinya adalah penyakit Indra?”
Ivonne menghela nafas, kata “otaknya cacat” ini sudah sedikit keterlaluan.
__ADS_1
“Aku tahu, hanya ceroboh untuk sesaat.” Ivonne memang harus dimarahi, sebenarnya hari itu ketika Indra diracuni Ivonne sudah seharusnya waspada.
Tapi pada saat itu dia berpikir bahwa Indra yang diincar dan tidak berpikir bahwa dirinya yang diincar.
“Jika terlalu ceroboh maka nyawamu akan hilang.” Paduka Kaisar melambaikan tangannya, sudahlah, dirinya terlalu malas untuk mempedulikannya, ada beberapa orang yang tidak bisa belajar untuk menjadi pintar seumur hidup, dan Ivonne adalah orang yang seperti itu.
Hanya ada satu akhir untuk orang semacam ini yaitu akan mati dengan bodoh.
Setelah beberapa kata penghinaan dari Paduka Kaisar, kemudian ada Kasim dari ruang kerja kekaisaran yang datang dan berkata, “Permaisuri, Kaisar memanggilmu.”
Ivonne menjawab sekilas, bangkit bangun kemudian ingin mengundurkan diri.
Paduka Kaisar kemudian berkata, “Tunggu sebentar!”
Ivonne menatap ke arah Paduka Kaisar, bertanya dengan sengaja, “Apa lagi yang ingin diperintahkan oleh Paduka Kaisar?”
Paduka Kaisar berkata pada Kasim Artur, “Berikan beberapa batu itu padanya.”
Kasim Artur kemudian menjawab, “Baik, aku tahu Paduka pasti menyimpannya untuk Permaisuri.”
Ivonne tersenyum dan berkata, “Lihatlah, untuk apa Paduka Kaisar begitu segan? Aku bahkan tidak membawa apa-apa ketika datang kemari.”
“Baguslah jika kamu tahu, jika lain kali kamu datang dengan tangan kosong, berhati-hatilah pada telingamu!” Paduka Kaisar menatap Ivonne sekilas dengan marah, pemberian dan yang didapatkan tidak sebanding, benar-benar membuat orang merasa marah.
“Ya, pasti tidak lupa!” Ivonne mendengarkan ajaran kemudian menatap ke dalam.
Kasim Artur keluar dengan membawa kotak kayu cendana di tangannya, berjalan ke hadapan Ivonne kemudian membukanya.
Ivonne begitu terkejut seakan dagunya sudah hampir terjatuh, di dalam kotak itu terdapat tiga jenis batu giok, semua batu itu bulat dan transparan, dibuat menjadi bentuk bulat sempurna, masing-masing seukuran bola tenis meja.
Ivonne di kehidupan sebelumnya sama sekali tidak paham mengenai perhiasan, tapi dia memiliki kesukaan khusus pada batu giok.
Jika berada di jamannya, batu giok tanpa cacat ini akan bernilai setidaknya ribuan dolar.
“Bersihkan air liurmu, bawa mainan ini pergi.” Kata Paduka Kaisar dengan datar.
Tidak berguna, bukankah ini hanya beberapa batu saja? Apa perlu terkejut seperti ini?
“Ini terlalu berharga.” Ivonne tahu Paduka Kaisar ingin memberinya hadiah, tapi tidak menyangka akan begitu berharga, Ivonne benar-benar tidak bisa menerimanya.
“Terimalah, di kemudian hari berikan masing-masing satu pada anakmu!” Paduka Kaisar menatap sekilas ke arah perut Ivonne, “Anggap saja itu adalah hadiah yang kuberikan lebih awal pada mereka.”
Ivonne terpaku, “Aku juga tidak bisa melahirkan 3 anak, itu begitu banyak.”
“Wanita apa yang tidak bisa melahirkan tiga anak? Anjing saja bisa melahirkan tujuh sampai 8 anak dalam satu kali kandungan, apa kamu tidak sebanding dengan anjing?”
Ivonne menatap marah sekilas ke arah Lucky, memang benar-benar tidak sebanding.
__ADS_1