
Ronald bertanya pada pelayan itu, “Patung yang dikirimkan itu berbentuk seperti apa? Apa warnanya?” Pelayan itu tadi begitu terkejut dan sudah hampir menangis, sekarang ketika Ronald bertanya, dirinya benar-benar sama sekali tidak tahu, setelah ragu-ragu cukup lama, pikirannya kosong dan perkataannya tergagap.
“Itu … aku, aku tidak ingat, seharusnya adalah giok putih giok.”
Ronald tertawa dingin dan menatap ke arah Permaisuri Juno, “Kakak ipar, sepertinya kamu menganggapku bodoh di matamu, orang yang bisa kamu bodohi dengan asal.”
Tatapan mata Permaisuri Juno menggelap, “Apa maksud dari perkataanmu?”
“Tidak ada maksud apa-apa, mari kita lanjutkan penyelidikan mengenai kasus ini.” Ronald berbalik badan, tatapan mata Permaisuri Juno sedikit dingin, mengepalkan tinjunya dengan erat dan perlahan-lahan melepaskannya.
“Bibi Gina, kamu harusnya tahu salahmu!” Permaisuri Juno berteriak dengan tegas.
Bibi yang tadi ingin memukul pelayan itu seketika langsung berlutut, wajahnya pucat. Bibi Gina adalah Bibi yang dibawa oleh Permaisuri Juno ketika dirinya menikah, Bibi Gina sangat dekat dengan Permaisuri Juno, kebanyakan ide itu berasal dari Bibi Gina.
Kali ini, Ronald tidak menunggu Permaisuri Juno berbicara, Ronald langsung berteriak: “Di mana pengawal?”
Ada dua orang pengawal di luar yang masuk ke dalam, “Ya!”
Ronald berkata dengan dingin, “Bawa Bibi Gina dan pukul 30 kali dengan tongkat.”
Permaisuri Juno melirik Bibi Gina sekilas dengan sakit, bibirnya bergerak tapi tidak berkata memohon, hanya mengangkat tangannya dan membiarkan pengawal itu membawa Bib Gina pergi.
Permaisuri Juno tersenyum dingin, “Apa perlu? Apa kamu perlu begitu perhitungan dengan seorang pelayan?”
“Jika jarum tidak menancap di daging maka Permaisuri Juno tidak akan pernah tahu rasa sakitnya.” Ronald menghela nafas lega kemudian suasana hatinya seketika menjadi ringan.
__ADS_1
Permaisuri Juno menatap Ronald dan menggelengkan kepalanya, “Aku tidak menyangka kamu bisa begitu tidak berguna, hal seperti ini adalah hal yang biasa terjadi di kalangan rakyat, tapi perang antar wanita tidak pernah melibatkan pria, kamu bertindak seperti ini apa tidak takut kehilangan reputasimu.”
Tatapan mata Ronald meenjadi dingin, “Jarang sekali Permaisuri Juno berkata dengan begitu terus terang, kalau begitu aku juga akan berbicara terus terang, selama itu melukai Ivonne baik secara fisik maupun tidak maka artinya bertentangan denganku, tidak ada yang namanya perang antar wanita, kamu bertindak pada Ivonne maka artinya kamu melawanku.”
Permaisuri Juno tiba-tiba tertawa kemudian menyeka sudut matanya dengan tangannya, “Ini konyol, benar-benar konyol, apa kamu lupa apa yang terjadi di kediaman Tuan Putri waktu itu? Bagaimana Ivonne menjebakmu? Dia yang membuatmu tidak bisa menikah dengan Clara, tidak bisa mendapat dukungan dari keluarga Chu, apa kamu tidak membencinya?”
Ronald tertawa, “Benci, jadi Ivonne musuhku seumur hidup, siapa pun yang ingin menyentuhnya harus melewatiku terlebih dahulu.”
Permaisuri Juno tersenyum dingin, “Ronald, apa yang kamu pikirkan itu aku tahu dengan sangat jelas, sekarang Ivonne mendapat perhatian dari Paduka Kaisar dan dia juga hamil, itu pasti memiliki nilai yang besar untukmu, tidak tahu apa Permaisuri Ivonne tahu mengenai hal ini? Atau dia begitu bodohnya berpikir bahwa dirimu benar-benar mencintainya? Apa aku mencari seseorang untuk mengingatkannya?”
“Terserah!” Ronald tertawa, “Takutnya tindakan Kakak ipar yang sok tahu itu akan sia-sia, jika Kakak punya waktu luang bukankah lebih baik mencari sebuah tanah yang baik untuk dirimu sendiri.” Setelah berkata seperti itu Ronald berbalik dan pergi.
Permaisuri Juno tersenyum, menatap punggung Ronald yang menghilang dengan cepat.
Senyum di wajahnya berangsur-angsur membeku, tatapan matanya dipenuhi kebencian.
Bibi Gina adalah orang yang paling dekat dengan Permaisuri Juno, di sampingnya harus ada Bibi Gina yang melayani, bersama selama 10 tahun, meskipun mereka adalah majikan dan pelayan tapi sudah seperti Ibu dan anak, Ronald tahu hal ini dengan sangat baik dan bersikap begitu kejamnya.
Permaisuri Juno menyeret tubuhnya yang sakit untuk melihat kondisi Bibi Gina, ketika melihat punggung Bibi Gina yang penuh darah, Permaisuri Juno begitu marahnya hingga hampir memuntahkan darah.
Bibi Gina menangis: “Permaisuri, kamu tidak perlu bersedih untukku, penyakitmu itu tidak memperbolehkanmu untuk marah, aku baik-baik saja.”
Hati Permaisuri Juno sakit dan juga marah, menggertakkan giginya dan berkata: “Aku pasti akan membalaskan dendammu.”
Bibi Gina menarik napas dan berkata, “Tidak disangka Yang Mulia Ronald bertindak begitu besar hanya karena hal kecil, ini awalnya bukanlah hal yang besar, bahkan jika tahu pun paling-paling hanya memaki beberapa kata dengan marah. Tapi Yang Mulia Ronald malah datang kemari dengan berpura-pura menggunakan kasus Selir Liana, Permaisuri, kamu harus berhati-hati padanya, dia sudah memegang kelemahanmu, masalah mengenai Selir Liana, dia tahu dengan sangat jelas.”
__ADS_1
Permaisuri Juno berkata dengan dingin, “Sekarang dia memiliki harapan menjadi Pangeran mahkota jadi wajar saja tidak takut, tapi tindakannya hari ini semua tergantung pada perut Ivonne, jika anak di perut Ivonne tidak ada, apa lagi yang bisa dia banggakan?”
Bibi Gina terkejut dan berkata: “Permaisuri, kamu benar-benar tidak boleh melakukannya, berapa banyak pasang mata di Istana yang sedang mengawasi sekarang? Jika ketahuan maka tidak ada ruang untuk membalikkan keadaan, itu benar-benar tidak baik.”
Permaisuri Juno berkata dengan suara dalam: “Kamu tenang saja, aku tidak akan bertindak pada Ivonne, kudengar janinnya tidak stabil karena pernah meminum sup golden purple, jika meminum sup golden purple maka janin itu tidak akan dapat dipertahankan, aku tidak perlu bertindak dan hanya perlu membuatnya marah saja, atau meminta orang untuk menakut-nakutinya saja, kita hanya perlu duduk dan menunggu keberhasilan.”
Bibi Gina berkata dengan kejam: “Ya.”
Ronald kembali ke kediamannya dalam suasana hati yang baik, Yanto sedikit khawatir dan berkata: “Permaisuri Juno itu adalah orang yang licik dan kejam, kamu memprovokasinya kali ini takutnya dia tidak akan diam saja.”
Ronald berkata: “Jika aku tidak memprovokasinya apa dia akan menyerah dan diam saja? Apa dia dapat melihat Ivonne melahirkan dengan lancar? Itu tidak mungkin, lagipula sudah dipastikan seperti itu jadi bukankah lebih baik aku bertindak lebih dulu? Menakuti-nakutinya lebih dulu.”
Yanto memikirkannya dan itu ada benarnya juga, bagaimanapun juga sudah pasti akan diserang.
Ivonne sama sekali tidak tahu mengenai masalah ini, dirinya masih muntah dengan begitu hebatnya sepanjang hari. Ivonne benar-benar merasa kagum pada Ibunya, tidak tahu apa ibunya ketika hamil juga begitu menderita? Jika iya maka Ivonne benar-benar merasa bersalah karena dirinya sudah meninggal sebelum dapat membalas budi pada Ibunya.
Muntah hingga merasa tidak nyaman, Ivonne benar-benar tidak tertarik pada makanan. Bau apapun membuatnya muntah dengan begitu hebatnya.
Hari ini dengan tidak mudah akhitnya berhasil memakan bubur, hasilnya Ivonne kembali muntah seakan organ dalam tubuhnya sudah berpindah tempat. Ivonne berbaring di ranjang, dengan wajahnya yang pucat itu menatap ke arah Ronald yang begitu cemas tapi tidak berdaya kemudian berkata: “Bunuh saja aku, aku sudah tidak ingin hidup lagi.”
Ronald dengan pelan menepuk-nepuk dadanya, “Jangan bicara, tutup matamu dan istirahatlah.”
Ronald sangat cemas hingga hampir gila, dia ingin membunuh, benar-benar ingin membunuh anak yang ada di dalam perut itu. Jika bukan karena Tabib sudah mengatakan padanya sebelumnya bahwa jika anak itu digugurkan malah akan kehilangan nyawa sang Ibu, Ronald pasti sudah akan bertindak.
Ada bayi kecil yang tinggal di dalam tubuh Ivonne, di dalam tubuh Ronald tinggal seekor monster. Monster ini tidak menggigit orang lain tapi hanya menggigitnya, mengigit hingga menghancurkan hatinya hingga membuatnya kesakitan.
__ADS_1
Ivonne memejamkan matanya, rasa pusingnya itu tidak akan hilang hanya dengan memejamkan mata, tapi sebaliknya malah bertambah buruk, Ivonne harus membuka matanya tapi dirinya benar-benar mengantuk dan lelah, merasa dirinya bahkan tidak punya kekuatan untuk bernapas.
Saat membuka matanya dan menutup matanya, Ivonne merasa nyawanya sedikit demi sedikit menghilang. Air matanya mengalir dari sudut matanya, jantungnya begitu rapuh, Ivonne merindukan orangtuanya, merindukan rumahnya, merindukan segalanya.