Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan

Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan
Bab 133. Melampiaskan Gairah Yang Mulia


__ADS_3

Peter terdiam untuk beberapa saat, kemudian berkata dengan pelan, “Kekuasaan adalah segalanya!”


“Segalanya?” Ivonne tersenyum ironis. “Sepertinya tidak seperti itu, aku mengenal banyak orang yang memiliki kekuasaan, tapi mereka tidak memiliki segalanya.”


“Kekuasaan itu tidak ada akhirnya.”


Ya, setelah menjadi Kaisar, kemudian ingin menjadi lebih tinggi dari langit, kekuasaan itu, mana mungkin ada akhirnya?


Tidak tahu apa Ronald juga akan seperti itu?


Ivonne bertanya pada Peter, “Aku melihat kamu memiliki hubungan yang baik dengan Ronald, apa kalian sudah lama saling mengenal?”


Peter tersenyum, “Bisa dikatakan tumbuh besar bersama.”


“Hubungan pertemanan sejak kecil, itu sangat berharga. Jadi mengenai hubungannya dan Clara, kamu juga tahu?”


“Ya, tahu semuanya.” Peter menatap Ivonne dengan tatapan samar, “Apa yang ingin ditanyakan Permaisuri?”


“Tidak ada yang ingin ditanyakan, aku tidak ingin tahu mengenai urusan mereka.” Kata Ivonne.


Peter sedikit terkejut.


“Kupikir Permaisuri ingin mengetahui apa yang dipikirkan oleh Yang Mulia Ronald di dalam hatinya.”


Ivonne berbalik dan tersenyum padanya, “Tidak mencari masalah adalah motto hidupku.”


Peter menatap Ivonne sambil berpikir. Tidak mencari masalah? Apa mengetahui masalah antara Ronald dan Clara itu bisa dibilang mencari masalah? Kecuali jika Ivonne ingin mencari masalah dengan mereka berdua, jika tidak maka itu tidak ada masalah sama sekali.


Ivonne berkata, “Tidak ingin berjalan lagi, aku lelah, aku akan naik ke kereta kuda.”


Peter membuka tirai untuk Ivonne, “Permaisuri, hati-hati.”


“Terima kasih!” Ivonne menaiki kereta kuda, memegang tirai dan memandang ke arah Peter, “Terima kasih karena mengantarku, Tuan Peter.”


“Ini perintah Kaisar!” Kata Peter dengan datar.


Ivonne menurunkan tirai, memejamkan matanya dan beristirahat, mencoba untuk tidak memikirkan hal-hal menjengkelkan yang ada di benaknya.


Ronald malam ini pulang sedikit lebih awal dari Ivonne, Ronald ingin menjemput Ivonne tapi memikirkan penolakan Ivonne, kemudian memikirkan kelakukannya yang terburu-buru semalam, merasa segala sesuatunya sudah menyimpang dari jalur yang ada, jadi Ronald harus merenungkan pemikirkannya.


Karena itu, meskipun Ronald tahu Ivonne masih belum pulang, dia juga tidak pergi ke kediaman Indra.


“Yang Mulia, kamu sudah kembali!” Rendi tersenyum dan menyapa di depan pintu, senyumnya itu sangat lebar dan sangat menyilaukan.


Rendi hari ini menemaninya pergi bekerja, tapi di malam hari dia pergi lebih dulu karena mengatakan ada urusan.

__ADS_1


Ronald memandangi dua lingkaran hitam di mata Rendi dan merasa marah, langsung berjalan lurus masuk ke dalam.


Rendi mendengus dan tersenyum pahit, benar-benar tidak mudah melayani majikannya ini.


Ada senyum puas di wajah Rendi, tidak lama lagi, Yang Mulia akan menghargainya.


Ronald kembali ke Paviliun Eternity, Ria ada di depan pintu, tatapan matanya sedikit canggung, “Yang Mulia, kamu sudah kembali, apa sudah makan?”


“Belum!” Ronald menaiki tangga batu dan berkata dengan datar.


“Itu … kebetulan, makanan sudah disiapkan di dalam.” Ria menatap mata Rendi yang datang mengikuti, ada kekhawatiran di matanya, jika melakukan ini apa benar-benar pantas? Apa Yang Mulia tidak akan marah?


Ria sangat gelisah, tapi Rendi berkata hal ini sudah disetujui oleh Tuan Yanto.


Tuan Yanto tidak pernah melakukan kesalahan dalam melakukan sesuatu, Ria mencurigai Rendi, tidak ada alasan dirinya mencurigai Tuan Yanto.


Namun, Tuan Yanto tidak terlihat sejak semalam, tidak tahu dia pergi ke mana.


Benar-benar membuat orang khawatir.


Ketika Ronald memasuki Paviliun Eternity, Ronald mencium bau di dalam ruangan, Ronald mengerutkan keningnya, ketika ingin memanggil Ria, Ronald melihat di balik tirai penutup keluar dua orang wanita penggoda yang mengenakan pakaian berwarna merah muda, pakaian mereka sangat terbuka, kerahnya ditarik hingga ke bagian dada, memperlihatkan setengah bagian dada mereka, ada gambar mawar merah di atas kulit dada yang halus itu.


Mereka berjalan maju, meliukkan badan mereka dan bergerak dengan menggoda, Ronald masih belum bereaksi, kedua orang itu sudah merangkul lehernya, satu di kiri dan satu di kanan, kemudian mereka mencium pipi Ronald.


“Yang Mulia, kami hari ini datang untuk melayanimu!” Suara menggoda itu terdengar di samping telinga.


Pada saat itu, Ronald hanya merasa amarahnya benar-benar memenuhi dirinya, kemudian menerjang ke otaknya, Ronald berteriak dengan keras, “Rendi!”


Rendi sedang menunggu dengan gembira di depan pintu.


Mendengar teriakan Ronald, Rendi berpikir petir sedang bergemuruh, jadi dia bergegas mendongak dan menatap ke arah langit.


Raut wajah Ria yang berada di sebelahnya seketika berubah dan bergegas masuk.


Rendi kemudian baru bereaksi, segera mengikuti masuk ke dalam. Ada apa? Apa terlalu jelek? Yang Mulia tidak menyukainya? Tapi, orang di sana berkata kedua wanita ini sudah merupakan yang tercantik.


Rendi sudah berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk Yang Mulia Ronald.


Setelah badai di dalam kediaman, Rendi membawa dua gadis dari rumah bordil itu berjalan keluar.


Ketika berjalan di koridor, Peter dan Ivonne berjalan masuk ke dalam.


Ivonne memandangi dua wanita yang dibawa oleh Rendi, keduanya tidak seperti wanita baik-baik, riasannya tebal, aromanya harum, sikapnya canggung, Ivonne sedikit menaikkan alisnya, ini merupakan kejadian yang tidak biasa.


Yang paling penting adalah …

__ADS_1


Ivonne berjuang untuk mengalihkan pandangan matanya dari dada mereka, ukuran itu sepertinya sedikit berlebihan.


Tidak menyangka Rendi yang kelihatan polos ini ternyata menyukai gadis yang seperti ini.


Tapi, mana ada pria yang tidak menyukai wanita berdada besar?


Ivonne berdeham, menyadarkan Peter yang pandangan matanya terus menatap lurus ke arah dada wanita itu.


Peter bergegas menarik kembali pandangan matanya, kemudian bertanya pada Rendi dengan raut wajah serius, “Rendi, ini adalah kediaman Raja Ronald, bagaimana bisa kamu membawa orang masuk ke sini dengan sembarangan?”


Rendi sudah akan menangis, “Itu adalah maksud dari Tuan Yanto, dia ingin menurunkan gairah Yang Mulia.”


Rendi sudah bertanya pada Tuan Yanto semalam, Tuan Yanto sudah setuju, dan lagi uang itu juga diberikan oleh Tuan Yanto, mengapa Yang Mulia hanya memarahinya saja?


Kali ini, dirinya sudah pasti akan diganti.


Ivonne memandang Rendi, “Yanto ingin menurunkan gairah Yang Mulia?”


Dari kejauhan, Yanto menjulurkan kepalanya dari balik pohon, kemudian memaki dalam hati, Rendi bodoh, apa ada orang sepertimu yang berbicara seperti itu?


Rendi mengangguk, “Ya, aku harus mengantarkan mereka kembali, Yang Mulia benar-benar tidak mudah untuk dilayani akhir-akhir ini.”


Setelah selesai berbicara, Rendi pergi dengan membawa kedua wanita itu.


Dua wanita cantik berjalan melewati sisi Peter, melambaikan tangan dan meninggalkan senyum menawan pada Peter.


Peter kemudian berkata, “Benar-benar sangat cantik!”


“Tuan Peter, kamu sudah bisa menarik kembali pandangan matamu.” Ivonne dengan raut wajah tanpa ekspresi menatap Peter yang memandangi wanita cantik itu.


Harus diakui, kedua wanita itu benar-benar sangat cantik dan menawan, pria mana yang akan tahan ketika melihatnya, bahkan reaksi Peter saja sudah seperti ini.


Ivonne tersenyum dan berjalan perlahan ke dalam.


Ivonne, kamu benar-benar bodoh!


Ronald mendekatinya itu memiliki begitu banyak kemungkinan, tapi Ivonne malah berkata pada dirinya sendiri bahwa Ronald sepertinya sedikit menyukainya?


Peter melihat sosok Ivonne yang kecewa, merasa sebaiknya dia tidak masuk untuk bertemu dengan Yang Mulia, sepertinya akan ada masalah besar yang terjadi di sini.


Peter salah besar, kediaman Ronald ini sangat tenang.


Ivonne kembali ke kamar, kemudian meminta Letty mempersiapkan air panas untuk mandi.


Setelah mandi, Ivonne makan sangat banyak, setelah makan, Ivoone berjalan-jalan di halaman dengan membawa Becky, Becky sangat senang dan terus berputar mengelilingi Ivonne, luka di tubuhnya sudah hampir pulih sepenuhnya.

__ADS_1


Ivonne duduk dan memeluk kepala Becky, “Becky, hatiku sedikit sakit.”


__ADS_2