Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan

Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan
Bab 163. Tenda Pembagian Bubur Runtuh


__ADS_3

Clara tidak melihat Ivonne dan adiknya yang berada di gerbang kota, Clara dikawal oleh pelayan dan juga Bibi masuk ke dalam, mereka tidak segera membagikan bubur tapi sebaliknya Bibi itu maju dan berbicara pada orang-orang yang menunggu untuk memakan bubur.


“Tolong semuanya tenang, semua orang akan dibagikan bubur sebentar lagi. Selain bubur Permaisuri juga meminta orang untuk menyiapkan roti daging, nantinya juga akan dibagikan, tunggu ketika roti daging itu tiba, maka akan dibagikan bersamaan dengan bubur.”


Begitu mendengar ada roti daging, semua orang seketika bersorak, kegelisahan tadi hilang dalam sekejap.


Setelah menunggu sebentar, kemudian kereta kuda datang perlahan.


Beberapa wanita terhormat dikawal turun dari kereta kuda, dan masih ada beberapa gadis pelayan, satu demi satu datang ke tenda dan menyapa Clara.


Selain Steffie dan Rebecca, Ivonne sama sekali tidak mengenal yang lainnya, kemudian Ivonne berbalik dan bertanya pada Letty, “Siapa mereka?”


Letty melihat sekilas kemudian berkata, “Kecuali Nyonya yang mengenakan sutra kuning aprikot, sisa lainnya aku tidak mengenalnya.”


“Siapa wanita yang mengenakan pakaian kuning itu?” Ivonne bertanya.


“Itu adalah Ibu dari Permaisuri Clara, Nyonya Nita Chu.” Kata Letty.


Cecil memicingkan matanya untuk melihat sekilas, “Selain itu aku mengenali dua orang lainnya, yang mengenakan pakaian ketat itu adalah Nyonya Valen Liang, menantu dari Tuan Joshua, orang lainnya adalah…”


Cecil menatap ke arah Ivonne, “Apa kamu tidak mengenalnya? Itu adalah Permaisuri Ralph dan juga Putri Karen.”


Ivonne terpaku untuk beberapa saat, “Benarkah?”


Ivonne pernah bertemu dengan Permaisuri Ralph di Istana Pearlhall, tapi pada saat itu, semua pikiran Ivonne terpaku pada proses pengobatan, sama sekali tidak memperhatikan yang lainnya. Mengenai Putri Karen, Ivonne belum pernah melihatnya tapi Ivonne hanya tahu bahwa dia adalah putri dari Raja Ralph.


Ketika Clara ingin melakukan pertunjukkan, dia pasti ingin membawa beberapa orang yang berpengaruh, dan para Nyonya besar ini merupakan orang-orang yang memiliki pengaruh absolut di kota ini.


Ketika Ivonne melihat Clara memberi hormat pada para Nyonya itu, jika melihat dari gerbang kota, Ivonne hanya merasa wajah Clara itu buram, seolah-olah sedang mengenakan topeng.


Meskipun tahu bahwa ini hanyalah pertunjukan saja, tapi Ivonne malah merasa tidak bahagia.


Karena orang-orang ini sudah menunggu terlalu lama.


Melakukan pertunjukkan juga harus ada batasnya.


Orang yang sangat lapar cenderung mudah membuat masalah.

__ADS_1


“Ayo kita pergi, tidak ada yang bisa dilihat lagi.” Cecil tidak ingin menonton Clara yang melakukan pertunjukkan, setelah kejadian yang berurusan dengan Daniel, Cecil merasa tidak ada orang yang baik di keluarga Chu.


Ivonne bergumam pada dirinya sendiri, “Aku hanya khawatir akan terjadi masalah.”


“Tidak peduli masalah apa yang terjadi, tidak ada urusannya…” Cecil tiba-tiba menoleh ke belakang, “Terjadi masalah? Baik, mari kita lihat masalah apa yang akan terjadi?”


Letty tersenyum, Nona Cecil benar-benar menarik.


Clara sepertinya melihat Ivonne di kejauhan, pandangan matanya melotot.


Seharusnya dia mengenal Ivonne, karena Clara menatapnya selama beberapa detik baru perlahan-lahan mengalihkan pandangannya, kemudian dia menundukkan kepalanya dan berbicara pada Steffie dan Rebecca, tidak lama Steffie dan Rebecca mengangkat kepala mereka ke arah Ivonne dan yang lainnya.


Sekujur bulu kuduk Cecil berdiri tegak, menggertakkan giginya dan berkata, “Dua pelacur itu, suatu hari nanti aku akan merobek mulut mereka.”


Tatapan mata Ivonne jatuh ke wajah Steffie.


Fitur wajahnya jauh lebih dalam dan jelas dibanding Clara, sebenarnya kakak beradik itu sangat mirip, tapi wajah Clara memakai riasan yang sangat ringan dan ditambah dengan senyum lembut, membuat orang lebih memperhatikan sikap dan temperamennya dan tidak terlalu peduli pada penampilannya.


Steffie benar-benar menang dengan penampilannya, bibir merahnya merekah, secantik bunga mawar, begitu mendominasi dan dingin.


Bahkan jika wanita melihatnya pun hatinya juga akan merasa tergerak.


Tentu saja tidak ada orang baik di keluarga Chu, tapi ini bukan alasan mengapa Cecil membenci Steffie.


Cecil membenci Steffie karena Steffie tidak menganggap siapa pun di matanya, tidak memandang apa-apa.


Dan Steffie jelas memiliki kualifikasi ini.


Cecil enggan mengakui tapi dirinya cemburu dengan kesombongan Steffie.


Roti daging akhirnya dikirimkan.


Ada orang yang berteriak, “Pembagian bubur dimulai, tolong berbaris.”


Tidak ada yang berbaris lagi.


Semua orang bergegas maju, mereka hanya menatap pada roti daging yang baru saja dikirim itu.

__ADS_1


Roti daging itu mengepul dengan aroma daging yang semerbak, dari pagi sampai siang, orang-orang sudah menggila dikarenakan lapar, mana mungkin mereka peduli akan antrian? Mereka hanya ingin mendapatkan satu atau dua roti daging dan bergegas pergi.


Ketika Clara melihat orang-orang itu sudah tidak mendengarkan perkataan orang yang membagikan bubur, Clara berpikir ingin mengucapkan beberapa kata untuk menenangkan emosi semua orang.


Bagaimanapun ketika Clara baru tiba, semua orang bersorak untuknya, Clara berpikir itu adalah pemikiran rakyat yang menghormati dan mencintainya.


Tentu saja para rakyat ini akan mendengarkan perkataannya.


Clara keluar dan menghalangi di depan roti, ketika ingin mencoba berbicara Clara malah didorong pergi, kakinya terkilir dan terjatuh ke tanah.


“Beraninya!” Penjaga yang mengawal Clara bergegas menghampiri ketika melihat Clara didorong jatuh ke bawah, menampar orang yang mendorong Clara hingga orang itu berdiri tidak stabil, kemudian tubuh orang itu terjatuh ke belakang di tumpukan roti daging hingga semua roti itu terjatuh ke tanah.


“Hentikan pembagian buburnya, hentikan pembagian buburnya!” Penjaga itu berteriak kepada orang yang membagikan, begitu orang-orang ini membuat keributan maka tidak akan dapat dikendalikan.


Orang-orang itu sudah begitu kelaparan hingga emosi mereka begitu tinggi, ketika melihat roti itu terjatuh di tanah dan juga pembagian bubur dihentikan, mana mungkin mereka masih bisa bersabar?


Tempat kejadian itu benar-benar sangat kacau.


Banyak orang yang bergegas menerjang ke dalam tenda, beberapa orang ada yang berusaha menghentikan mereka dan juga terjadi konflik fisik, para penjaga juga datang untuk membantu.


Para Nyonya besar itu bergegas dievakuasi, suasana sangat kacau, tenda itu dikelilingi banyak orang, ke mana mereka bisa pergi?


Ivonne memandang dari kejauhan dan mengerutkan keningnya, “Itu terlalu berbahaya.”


“Ya.” Cecil juga merasa khawatir, karena kekacauan itu tampak sangat mengerikan, ada orang yang didorong ke tanah, orang-orang di belakangnya juga terinjak-injak, “Apa yang bisa dilakukan?”


Ivonne bergegas menuruni menara dan berjalan ke arah tentara yang ditempatkan di depan pintu gerbang, “Cepat pergi untuk membantu, akan terjadi masalah, tenda itu tidak akan bisa menahannya.”


Penjaga gerbang kota tentu saja melihatnya, dia tidak mengenal Ivonne kemudian dia berkata, “Mengenai masalah ini, jika ikut campur dan ada nyawa yang melayang maka harus ada orang yang menanggung konsekuensinya.”


“Apa maksud perkataanmu?” Raut wajah Ivonne menggelap, “Bagaimana jika yang mati adalah orang miskin?”


Tentara itu terpaku, melihat ke arah sana dan raut wajahnya perlahan menjadi serius, melambaikan tangannya kemudian berkata, “Ronnie, bawa beberapa orang untuk ikut bersamaku.”


Tentara itu membawa beberapa orang ke sana, kemudian terdengar suara keras, tenda itu rubuh.


Tenda itu dibangun dengan menggunakan bambu dan kayu, sangat sederhana dan hampir tidak memiliki fondasi, hanya ditopang oleh kayu panjang di keempat sisinya, namun jika salah satu dari kayu panjang itu rusak karena tenda itu sudah pasti akan rubuh.

__ADS_1


Inilah yang tadi dilihat dan dikhawatirkan Ivonne di gerbang menara tadi, seperti yang Ivonne duga, tenda itu akhirnya runtuh.


__ADS_2