
Ketika kereta kuda kembali ke kediaman Ronald, Ivonne sudah muntah hingga tidak memiliki tenaga.
Tubuhnya begitu lemas hingga digendong oleh Ronald dan dibawa masuk ke dalam, Peter mengikuti sambil menundukkan kepalanya dengan sedih. Siapa yang akan mengira Permaisuri Ivonne yang biasanya begitu sehatnya itu bisa begitu lemahnya, jika dikarenakan Permaisuri Ivonne begitu marah dan terjadi sesuatu padanya maka Peter seumur hidup tidak usah berharap untuk menikahi Cecil.
Tabib datang.
Ronald membelai wajah Ivonne dan berkata dengan cemas: “Tidak apa – apa, biarkan Tabib memeriksa.”
Ivonne merasa tidak nyaman dikarenakan muntah, mana mungkin masih memikirkan dirinya masih marah pada Ronald? Melihat wajah Ronald yang biru dan bengkak, Ivonne kemudian berkata: “Kamu gantilah pakaian lebih dulu dan bersihkan wajahmu, hilangkan bau alkohol di tubuhmu, bau itu membuat perutku sangat tidak nyaman.”
Ronald bergegas melangkah mundur, “Aku tidak akan dekat-dekat, tunggu Tabib memeriksamu maka aku akan pergi berganti pakaian.”
“Pergi ke luar!” Ivonne melotot pada Ronald.
Ronald berdiri di posisi itu tempat angin berhembus tapi bau alkohol menyebar dan membuat Ivonne kembali mual.
Ronald hanya bisa mundur keluar dan berdiri di sebelah Peter, keduanya saling melotot sekilas lalu Ronald mendengus dan berkata: “Aku akan membantaimu jika terjadi sesuatu padanya.”
Peter juga tidak mau kalah, “Ini semua salahmu.”
Ronald sangat marah, “Masih mengatakan itu salahku? Aku memerintahkan Rendi untuk memberitahumu datang kemari untuk menyelidiki perbuatan curang mereka, tapi kamu malah langsung menyerang tanpa mengatakan apa-apa, sebenarnya siapa yang salah?”
Ada nyala api di tatapan mata Peter, “Aku tanya padamu, apa tujuanmu meminta mereka semua berkumpul?”
“Bermain kartu!” Ronald berkata dengan dingin: “Kenapa? Apa bermain kartu itu menyinggungmu?”
Peter berkata dengan marah: “Bukan untuk bermain kartu, kamu ingin mencari suami untuk Cecil, bersahabat selama bertahun-tahun jika kamu tidak mempedulikanku itu tidak masalah tapi kamu malah mencari sekelompok pria tidak berguna untuk Cecil, orang-orang itu hanya tahu bermain saja bermain dan berbuat seenaknya, apa kamu ingin mencelakai Cecil?”
Ronald berkata dengan marah: “Siapa yang tahu mereka memiliki sifat seperti itu? Aku tidak mengenal mereka, aku hanya meminta orang untuk memperkenalkan pria dari keturunan berada.”
Ivonne yang berada di dalam mendengar perdebatan mereka, dirinya sudah tidak bisa menahannya kemudian mengambil bantal lalu melemparkannya keluar dengan kencang, “Tutup mulut kalian!”
Ronald dan Peter melihat bantal yang dilemparkan keluar dan seketika terdiam bahkan mereka tidak berani bernafas dengan kencang.
Tabib berada cukup lama di dalam, setelah memeriksa nadi kemudian bertanya dengan hati-hati.
Ronald begitu cemas menunggu di luar, menyembulkan kepalanya ke dalam dan bertanya: “Tabib, apa sudah mengetahui penyebabnya? Apa karena terlalu banyak makan?”
“Diam!” Tabib itu kesal dan memeriksa denyut nadi Ivonne sekali lagi, bukan karena Tabib itu tidak berpengalaman, denyut nadi ini dapat didiagnosis oleh Tabib tapi dikarenakan sudah sering keluar masuk kediaman Ronald, apa mungking dia tidak tahu seberapa penting saat ini?
Tidak boleh ada kesalahan yang terjadi terhadap denyut nadi ini, begitu terjadi kesalahan maka nyawanya ini bisa melayang.
Ronald terdiam dikarenakan teriakan Tabib, wajahnya bahkan sudah pucat.
__ADS_1
Ronald belum pernah melihat Tabib yang begitu galak, sepertinya kondisinya tidak begitu baik.
Ivonne juga menjadi gelisah kemudian berkata, “Tabib, sepertinya lambungku yang sakit, aku makan dan minum tidak teratur akhir-akhir ini, resepkan saja obat untuk perutku.”
Tabib itu meminta Ivonne untuk diam, “Permaisuri tolong jangan berisik, tunggu aku untuk memeriksa denyut nadi ini lagi.”
Ivonne melihat ke arah Tabib, “Tabib, kamu sudah memeriksanya 5 kali.”
“Baru 5 kali? Harus diperiksa lagi.” Tabib itu benar-benar serius meragukan kemampuannya.
Ivonne menarik tangannya, “Sudahlah, tidak usah diperiksa lagi, katakan saja penilaianmu.”
Tabib itu ragu-ragu sejenak dan bertanya, “Tidak tahu sudah berapa lama Permaisuri tidak datang bulan?”
Ivonne berkata: “Tidak tahu, sepertinya sudah lama tidak datang.”
Letty yang ada di sebelah berkata: “Siklus Permaisuri tidak normal, tadinya ingin mencari Tabib untuk menyesuaikan kondisi tubuh Permaisuri dan meminta Tabib untuk memeriksa, tapi jika datang bulannya ini tidak normal kenapa bisa muntah?”
Bibi Vera yang berada di samping mendengar perkataan itu dan seketika terpaku, menatap ke arah Ivonne dan kemudian menatap ke arah Tabib, “Tabib!”
Tabib itu ragu-ragu sejenak dan berkata, “Itu, aku masih harus memeriksa nadinya sekali lagi. ”
“Tidak perlu …” Sebelum Ivonne selesai berbicara, Bibi vera sudah melangkah maju dan menarik tangan Ivonne dan diarahkan ke Tabib, “Tabib, periksa dengan cermat, tidak boleh ada kesalahan.”
Sudut bibir Bibi Vera berkedut kemudian berteriak dan berkata: “Rendi, tolong bawa plat Yang Mulia Ronald ke Istana dan minta Tabib Darien untuk datang kemari.”
“Baik!” Rendi menerima perintah dan segera keluar.
Wajah Ronald pucat, ingin masuk tapi takut aroma alkohol di tubuhnya akan membuat marah Ivonne, jadi dirinya meminta Bibi Vera keluar, “Bibi, Ivonne kenapa? Apa tidak masalah?”
Bibi Vera berkata dengan serius: “Mungkin sedikit bermasalah, tunggu Tabib Kerajaan datang lebih dulu saja, Yang Mulia cepatlah ganti pakaianmu, nanti tidak boleh tidak ada orang di sekitar Permaisuri.”
Ronald bergitu terkejut hingga hatinya hancur, dengan linglung menatap sekilas pada Ivonne yang ada di dalam kemudian berlari untuk mandi dan membersihkan tubuhnya.
Yanto juga dipanggil bangun dan dirinya hanya tahu bahwa sang Permaisuri sakit dan tidak tahu apa penyakitnya, Yanto sedikit panik ketika melihat semua orang begitu panik.
Tabib tidak berani mengatakannya, bukan karena memeriksa denyut nadi itu sulit tapi dirinya tidak boleh membuat kesalahan.
Apalagi mengenai kehamilan Permaisuri, yang terbaik adalah membiarkan Tabib Kerajaan yang memastikannya.
Semua ini begitu aneh.
Hati Bibi Vera amat sangat terkejut.
__ADS_1
Dia juga sedikit tidak percaya jadi meminta Tabib untuk tidak mengatakannya terlebih dahulu.
Sejauh yang dia tahu, Permaisuri meminum sup Golden Purple.
Obat apa itu sup Golden Purole? Hanya berbeda satu kata dengan pil Golden Purple, meskipun sama-sama merupakan obat yang dapat mempertahankan hidup untuk sementara waktu, tapi memiliki efek kerusakan pada tubuh yang sangat besar, bahkan jika meminum obat penawar setelahnya pun kondisi tubuh tidak mungkin dapat kembali seperti semula dalam kurun waktu 3 hingga 5 tahun ke depan.
Sampai sekarang jarak waktu Permaisuri meminum obat itu tidak lebih dari 3 bulan, jadi hampir tidak mungkin Permaisuri bisa hamil.
Peter duduk di tangga batu di depan pintu, wajahnya benar-benar sangat pucat, dirinya merasa kebahagiaan sisa hidupnya akan dihancurkan oleh Ronald.
Permaisuri Ivonne sudah pasti akan menentang dirinya yang ingin menikah dengan Cecil.
Ya, seorang pengawal kekaisaran yang berkelahi dengan seorang Pangeran di jalan apa bedannya dengan para tuan muda yang hanya tahu cara bermain dan bersenang-senang?
Ivonne melihat raut wajah Tabib dan juga Bibi Vera, dirinya sudah bisa menebak sebagian.
Ivonne amat sangat terkejut.
Ivonne tidak bisa melihat Peter, kalau tidak Ivonne akan tahu bahwa wajahnya itu sepucat wajah Peter.
Berharap itu tidak benar.
Jika Ivonne hamil pada saat ini maka akan merepotkan, berapa banyak orang yang akan mengincar perutnya ini.
Memikirkan Selir Liana yang mati dengan begitu mengenaskan di Kediaman Raja Juno membuat jantung Ivonne bergidik.
Ketika Ronald sudah selesai membersihkan dirinya, Ronald juga mengeramas rambutnya dan Ronald datang menghampiri dengan rambutnya yang masih basah.
Ivonne melihat tampang Ronald yang terlihat gugup, menghela nafas kemudian duduk dan membantu Ronald untuk menyeka rambutnya.
“Kamu berbaring saja…”
“Diam!” Kata Ivonne dengan marah.
Ronald menatap Ivonne dengan cemas, “Apa kamu masih merasa tidak nyaman? Apa sudah lebih baik? ”
“Sudah jauh lebih baik, jauh lebih baik ketika tidak mencium bau alkoholmu.” Ivonne menyeka rambut Ronald dengan kencang hingga membuat rambut Ronald seperti sarang ayam.
Ronald seperti anak kecil yang melakukan kesalahan, duduk dengan patuh di samping ranjang dan membiarkan Ivonne menyeka rambutnya.
Bibi Vera membawa bubur dan berkata: “Permasuri muntah begitu banyak sudah pasti perutmu kosong, makanlah lebih dulu.”
“Benar, makanlah lebih dulu!” Ronald mengambil bubur itu kemudian meminta Ivonne untuk duduk, “Aku akan menyuapimu.”
__ADS_1