Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan

Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan
Bab 116. Kalau Begitu Apa Yang Harus Dilakukan


__ADS_3

Timothy menghela nafas, ini seperti orang berpendidikan yang bertemu dengan orang tidak berpendidikan, penjelasan apapun yang diucapkan juga tidak berguna.


“Karena Kaisar telah memerintahkan Permaisuri Ivonne untuk memasuki Istana dan bukannya memanggil Permaisuri Clara, dapat dilihat bahwa Kaisar tidak peduli siapa yang salah di antara dua Permaisuri itu, masalah kecil seperti ini, Kaisar seharusnya tidak perlu mengurusnya.”


“Sedikit masuk akal, lanjutkan, apa alasanku memanggil Permaisuri Ivonne kemari?” Kaisar Mikael meminum teh, posturnya sangat santai.


“Tidak ada alasan, begitu Permaisuri Ivonne ini memasuki Istana, begitu dia datang di depan Istana, dia sudah merupakan pendosa besar, diputuskan sebagai pendosa besar, dia tidak boleh membantah, jika tidak Kaisar akan menetapkan dosanya.”


“Apa ini adalah idemu?”


“Ini adalah dugaanku.”


“Ini adalah idemu!”


“… ini adalah ideku.”


Mengapa ide tercela seperti itu menjadi dia yang mengeluarkannya? Jelas-jelas Kaisar yang memikirkannya.


Kaisar Mikael memuji, “Idemu ini sangat bagus, aku akan menanyakan dosanya terlebih dulu, jika ingin lepas dari dosanya, maka dia hanya bisa pergi untuk menyembuhkan penyakit Indra, jika bisa menyembuhkannya maka dosanya akan dikurangi, jika tidak bisa maka aku akan berbuat budi, membiarkannya hidup untuk sementara waktu, jika terjadi sesuatu lagi di kemudian hari baru akan menuntutnya, gagasanmu ini benar-benar bagus!”


“Kaisar terlalu memuji, aku hanya memikirkan untuk Kaisar.” Timothy kembali menyiapkan papan catur, “Main lagi?”


Kaisar Mikael melambaikan tangannya, “Main apa lagi? Kamu ini sebagai Menteri mengapa begitu santai? Tiap harinya bukannya melakukan pekerjaan dengan benar tapi malah datang ke tempatku terus, menjadi seorang pemuda harus rajin, kembalilah dan perbanyak pengetahuanmu, jadilah pemuda yang berporensi demi diriku.”


Timothy hanya bisa bangkit dan undur diri, menjadi orang yang disukai di samping Kaisar, benar-benar sangat sulit.


Setelah dua jam, Ivonne sudah berlutut di ruang kerja kerajaan.


Kaisar berkata padanya, “Sebagai seorang Permaisuri, tutur kata dan tingkah laku mewakili keluarga kerajaan, kamu pergi menjenguk Raja Indra, bukannya peduli dengan kondisinya, tapi malah saling membunuh dengan Permaisuri Clara, apa kamu tahu seberapa besar dosamu?”


Suara Ivonne hampir mendekati ngeri, “Aku tahu aku bersalah, mohon Kaisar berbelas kasih.”


Jika hanya menegurnya saja, Ivonne merasa Kaisar terlalu serius.


Tapi melakukan perlawanan besar dan berusaha untuk membunuh, Ivonne tahu bahwa Kaisar memiliki maksud.


Tapi, tetap saja Ivonne harus mengatakan agar Kaisar berbelas kasih.


Kaisar Mikael marah, “Berbelas kasih? Bagaimana aku harus berbelas kasih? Kamu bukan pertama kalinya melakukan hal-hal gegabah seperti itu, jika bukan karena Paduka Kaisar memohon untukmu, aku sudah memenggal kepalamu.”


“Aku takut, mohon Ayah berbelas kasih!”


“Dibanding memohon seperti ini, lebih baik merenungkan, bagaimana cara untuk meringankan dosamu!” Kaisar Mikael berkata dengan dingin.


“Aku ini bodoh, benar-benar tidak tahu bagaimana cara untuk meringankan dosa, tolong Ayah memberikan petunjuk.”

__ADS_1


Kaisar Mikael berdeham, “Pergilah ke kediaman Indra, sembuhkan penyakitnya baik-baik, jika sudah disembuhkan, aku akan memaafkanmu dan menganggapmu tidak bersalah.”


Tebakan Ivonne tepat, dengan tidak berdaya berkata, “Ayah, kondisi penyakit Raja Indra, aku tidak tahu apa-apa, benar-benar tidak berani untuk merawatnya, jika tidak merawatnya dengan baik…”


Kaisar Mikael dengan sungguh-sungguh berkata, “Dengarkan, jika kamu tidak dapat menyembuhkannya, maka aku harus mempertanyakan dosamu, kamu jangan mengatakan bahwa kamu difitnah, aku harus memberikan sebuah penjelasan pada semua orang, mengenai masalah danau, jika bukan kamu, maka itu adalah Clara, sudah pasti akan ada seseorang yang menaggungnya.”


Ivonne dengan tidak senang bertanya, “Mengapa bukan Permaisuri Clara?”


Kaisar Mikael memainkan bola besi, mencibir dan bertanya, “Ya, kenapa bukan Permaisuri Clara?”


Apa kamu tidak memiliki kesadaran diri? Kamu dan keluarga Cui benar-benar saling bertentangan.


Ivonne terpaku, Kaisar menindas yang baik dan takut pada yang jahat, tabu terhadap keluarga Cui, sudah membereskan Daniel, untuk sementara waktu tidak berani kembali menyentuh keluarga Cui.


nekad tidak bisa begini, dia masih harus menemukan alasan yang bagus untuk Kaisar.


“Aku dan Permaisuri Clara jatuh ke dalam air, semua orang berkata aku yang mendorongnya, orang keluarga Cui sudah pasti akan mempercayainya, Ayah bertanya padaku mengenai dosaku terlebih dulu, tidak peduli Keluarga Cui bersedia atau tidak, mereka tidak bisa mencariku untuk memperhitungkan dendam secara pribadi, Ayah berusaha melindungiku dari mereka, aku benar-benar terharu, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk merawat penyakit Raja Indra.”


Kaisar Mikael berkata dengan nada tegas, “Karena kamu yakin dapat menyembuhkan Raja Indra, maka aku akan memberimu kesempatan, pergilah dan segera bereskan kotak obat milikmu.”


Menyembuhkan? Mata Ivonne tertegun.


“Pergi!” Kaisar Mikael memberi peringatan dengna padangan matanya, tidak perlu banyak omong kosong.


Keluar dari istana, Ivonne akhirnya menghembus nafas lega.


Ivonne tidak yakin apakah dia bisa menyembuhkan penyakit Raja Indra atau tidak.


Meskipun pada akhirnya memutuskan tidak boleh mengambil resiko, tapi hatinya tetap merasa gelisah, selalu teringat akan masalah ini, sangat tersiksa.


Sekarang Ivonne tidak memliki jalan untuk mundur, tapi itu malah adalah hal yang baik.


Ivonne percaya jika tidak bisa disembuhkan, Kaisar juga tidak akan benar-benar bertindak padanya, hanya saja takutnya Ivonne akan menerima kemarahan dari Selir Renata.


Selir Renata… Kepala Ivonne terasa sakit, Selir Renata tidak baik untuk diprovokasi.


Ivonne kemudian pergi ke Istana Pearlhall.


Orang tua itu terlihat sangat bersemangat, sedang mengerjakan seni kayu di dalam Istana.


Ketika Ivonne masuk, Kasim Artur sedang memegang gergaji di tangannya, dan Paduka Kaisar sedang memegang penggaris untuk mengukur batang kayu besar.


“Paduka Kaisar, apa yang sedang kamu buat?” Ivonne bertanya dengan penasaran.


Paduka Kaisar mendongak, wajahnya berkeringat dan kemerahan, dengan cukup bangga berkata, “Tebaklah!”

__ADS_1


“Ini, apa sedang membuat tiang jemuran?” Ini adalah sepotong kayu panjang, dibulatkan, dan bagus untuk dijadikan gantungan baju.


“Tiang jemuran itu benda macam apa?” Paduka Kaisar berkata dengan marah.


“Kalau begitu apa ini?” Ivonne memandangi sepotong kayu yang bercabang di atasnya, apa ini bukan tiang jemuran?


“Tidak tahu? Ini adalah hadiah untukmu.” Kata Paduka Kaisar.


Ivonne terkejut, “Untukku?”


Memberikannya perhiasan dan semacamnnya itu baik, emas, perak dan lainnya juga tidak masalah, apa maksudnya sepotong kayu ini?


“Ini disebut tongkat kerajaan, jika Ronald menindasmu nanti, selama kamu membawa tongkat kerajaan ini dan membalasnya, apa kamu suka?”


Paduka Kaisar meletakkan penggaris dan mengambil gergaji di tangan Kasim Artur, mulai bekerja, “Terlalu panjang tidak akan cocok, tiga kaki adalah yang paling cocok.”


Pandangan mata Ivonne bersinar, “Suka, sangat menyukainya.”


Mana bisa emas dan perak menang dari benda ini?


Kasim Artur tersenyum dan berkata, “Ini bukan hanya tongkat kerajaan, tapi juga bisa memukul orang tidak masuk akal yang menyeret orang lain masuk ke dalam danau.”


Ivonne berteriak sekilas, “Kasim Artur, perkataanmu ini…”


Kasim Artur mengangkat bahu, “Ini adalah kata-kata asli Paduka Kaisar, aku mana berani seperti itu.”


Ivonne tersentuh, memperhatikan pria tua yang lelah seperti itu, apa membuat sebuah tongkat kayu begitu lelahnya?


“Kamu tahu bahwa aku ditindas?”


“Apa ada hal di dunia ini yang tidak kuketahui? Kamu benar-benar tidak berguna dalam hal ini, aku malu dikarenakanmu.” Paduka Kaisar memendekkan tongkat kayu, membawanya kemudian duduk, mengambil sebuah gambar.


Ivonne duduk di sebelahnya, memperbaiki potongan kayu untuknya, “Aku tidak bisa mencegahnya.”


“Jadi kamu tidak bisa membunuhnya?”


“Bukankah itu tidak baik? Lagipula itu adalah sebuah nyawa, sedikit-sedikit berkata membunuh, itu sangat tidak beradab.” Keluhan di ruang kerja kerajaan seketika muncul, Ivonne merasa dirinya benar-benar gampang dibujuk, sedikit kebaikan saja, bisa membuatnya bersedia untuk terus bekerja demi keluarga kerajaan.


“Dunia memang seperti itu, jika kamu tidak membunuh orang, maka orang lain akan membunuhmu.” Paduka Kaisar mendongak, menatapnya menilai, “Tapi, mengenai masalah Daniel, kamu melakukannya dengan baik.”


“Tidak berani, itu karena Yang Mulia yang pandai memperhitungkannya.”


“Benar-benar menganggap itu benar.” Paduka Kaisar mendengus, “Masalah ini tidak seharusnya ditangani seperti itu, kemenangan kali ini, itu karena bergantung pada sedikit keberuntungan, jika kamu melewatkan keberuntungan ini, kamu bahkan tidak akan tahu bagaimana dirimu mati.”


Ivonne penasaran, “Jika tidak melakukan seperti itu, kalau begitu apa yang harus dilakukan?”

__ADS_1


__ADS_2