Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan

Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan
Bab 159. Pergi Berjalan-Jalan


__ADS_3

Ronald tidak menyadari perubahan ekspresi Ivonne, Ronald berguling dan menekan Ivonne di bawah tubuhnya, “Ini tidak bisa dikendalikan olehmu, ini adalah takdir anak itu dengan kita.”


Ketika tirai ditarik dan lengannya dilambaikan, lilin di ruangan itu kemudian padam.


“Bisakah beristirahat hari ini?” Dalam kegelapan hanya terdengar suara permohonan Ivonne.


“Beristirahat setelah melewati 2 tahun.” Bibir Ronald membungkamnya, sama sekali tidak memberi Ivonne ruang untuk berbicara.


Seluruh ruangan itu dipenuhi dengan kelembutan!


Keesokan harinya, Stanley dan istrinya datang bertamu ke kediaman Ronald.


Ronald pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya, mengobrol dengan Stanley di ruang tamu, Ivonne berjalan-jalan di taman dengan Istri Stanley.


Istri Stanley sepertinya memiliki masalah berat.


“Kakak kenapa?” Ivonne bertanya, mengulurkan tangan dan menepuk punggungnya sekilas, punggung dan pinggang Ivonne benar-benar pegal.


“Tidak apa-apa.” kata Permaisuri Stanley dengan datar, melirik Ivonne sekilas dan berkata, “Apakah pinggangmu baik-baik saja? Kenapa menepuknya terus menerus?”


“Tidak apa-apa!” Ivonne menarik kembali tangannya dan menjawab dengan ringan.


Permaisuri Stanley tertawa dan berkata, “Sudahlah, memangnya siapa yang tidak pernah mengalaminya?”


Ivonne berkata, “Kakak terlalu banyak berpikir, aku hanya lelah.”


“Aku mengerti.” Permaisuri Stanley menunjuk ke bangku batu di depan, “Duduklah sebentar, aku tidak mau berjalan lagi, sudah tidak bisa bergerak.”


Ivonne menemaninya ke sana.


Setelah duduk, Permaisuri Stanley tiba-tiba bertanya pada Ivonne, “Kudengar kamu tidak mengizinkan Ronald menikah dengan Steffie.”


Ivonne benar-benar difitnah.


“Ya, aku tidak mengijinkan Ronald menikah dengannya.”


Permaisuri Stanley menatapnya dengan tidak percaya, “Kamu benar-benar berani melakukan itu?”


Ivonne teringat sebelumnya dia pernah mendengarkan bahwa Istri Stanley ini juga harus mencarikan selir untuk Kak Stanley, kemudian Ivonne berkata, “Itu juga hal yang tidak berdaya, siapa yang mau berbagi suami dengan wanita lain?”


“Tapi semuanya memang seperti itu!” Gumam Istri Stanley.


“Tapi aku tidak rela.”


Istri Stanley menatap pada Ivonne, “Apa gunanya kamu tidak rela? Jika kamu tidak rela maka seseorang akan mencarikan selir untuknya, bukankah lebih baik jika dirimu yang memilihkan untuknya.”


Ivonne menatapnya dan berkata, “Jadi, kamu akan mencarikan selir untuk Kak Stanley?”


Istri Stanley mengangguk, “Aku sedang mencarinya.”

__ADS_1


Istri Stanley tiba-tiba menghela nafas, “Aku sudah menikah dengan Stanley selama bertahun-tahun, dan sampai sekarang masih belum melahirkan seorang putra, jika itu adalah orang lain, mungkin sudah memiliki tiga atau empat selir untuk dipeluk.”


Ivonne ingat Istri Stanley ini hanya melahirkan putri.


“Apa Kak Stanley memintanya?” Tanya Ivonne.


Permaisuri Stanley menggelengkan kepalanya, “Tidak.”


Dia memandang Ivonne dan berkata, “Dengar, sekarang Kaisar sedang melihat siapa yang bisa melahirkan seorang putra maka akan langsung diangkat menjadi pangeran mahkota, tidak tahu apa yang sedang terjadi, begitu banyak pangeran tapi tidak ada yang memiliki keturunan laki-laki.”


Ivonne teringat perkataan Kaisar, apa yang dikatakan Istri Stanley ini mungkin benar-benar adalah pemikiran Kaisar.


Hanya saja tidak memilih berdasarkan yang paling tua, tidak memilih yang merupakan keturunan langsung, tidak memilih yang paling baik, hanya memilih yang memiliki keturunan seorang putra?


Kaisar tidak berpikir para pangeran tidak dapat memiliki keturunan seorang putra bukan.


Lalu apa maksud perkataan yang dikatakan Kaisar secara langsung padanya itu?


Pikiran pria benar-benar sangat sulit ditebak!


Ivonne berkata pada Permaisuri Stanley, “Jika tidak ada yang memaksamu untuk mencari selir untuk Kak Stanley maka kamu tidak perlu menambah masalah untuk dirimu sendiri, pria itu adalah milikmu, apa kamu berpikir jika mencarikannya selir maka hanya akan memberikan setengah suamimu itu padanya? Tidak, tapi akan kehilangan keseluruhan, jika bukan satu-satunya maka jangan menginginkannya.”


Permaisuri Stanley menatap Ivonne sekian lama kemudian baru perlahan-lahan berkata, “Sejujurnya aku dulu sangat tidak menyukaimu.”


“Aku juga tidak menyukai diriku yang dulu.” Ivonne berkata dengan tulus.


Ivonne tahu dirinya tidak bisa membujuknya, ada beberapa pemikiran yang sangat mengakar dan tidak bisa diubah dalam semalam.


Setelah mengantarkan Stanley dan Istrinya, Ronald membawa Ivonne ke kediaman Indra.


Seperti biasanya, Ivonne memeriksanya lebih dulu baru memberi obat, berbicara beberapa saat kemudian sudah bisa pergi.


“Atau tidak kita pergi berjalan-jalan saja.” Ivonne melihat waktunya masih pagi, dan juga sangat jarang Ronald bisa menemani dirinya seperti ini, begitu lama datang kemari, melewati jalan besar beberapa kali, tapi Ivonne sama sekali belum pernah berjalan-jalan.


Suasana hati Ronald juga sangat baik, keduanya berjalan-jalan dengan perlahan.


Letty dan Rendi mengikuti di belakang, berjalan tanpa tergesa-gesa.


Ivonne tidak tahu banyak mengenai Dinasti Tang Utara, tapi melihat kemakmuran di kota ini, sepertinya Dinasti Tang utara ini sangat kaya.


Berjalan-jalan dari toko ke toko, toko makanan, toko perhiasan, toko sutra, toko obat, bahkan toko yang menjual perlengkapan pemakaman juga dimasuki untuk dilihat, membuat Letty sangat ketakutan dan berpikir, mengapa sang Permaisuri begitu gila? Yang dijual di tempat itu bukanlah barang-barang yang digunakan oleh orang yang masih hidup.


Tapi Ivonne sangat senang dan penasaran, ini adalah kontak nyata pertamanya dengan adat setempat di tempat ini.


Toko perlengkapan pemakaman ini didekorasi dengan sangat mewah, ketika Ivonne menanyakan harganya, barang-barang di dalam benar-benar sangat mahal.


“Barang di toko ini begitu mahal, apa ada orang yang membelinya? Orang biasa tidak akan mampu membelinya bukan?”


“Sepertinya ini adalah bisnis untuk orang berada, ada beberapa orang yang mungkin tidak berbakti pada orangtuanya ketika orangtuanya masih hidup tapi mereka bersedia menghabiskan banyak uang setelah orangtuanya meninggal.” Kata Ronald dengan datar.

__ADS_1


Ivonne juga berpikir demikiran, melihat orang-orang yang datang dan pergi adalah orang dengan pakaian mewah, kemudian Ivonne berkataepada Ronald, “Kota ini benar-benar makmur, bahkan pengemis pun tidak ada.”


Ronald menggelengkan kepalanya, “Orang-orang yang datang untuk membeli barang di jalan ini semuanya adalah anggota keluarga dari keluarga yang berada.”


“Ternyata begitu. Kalau begitu ayo kita pergi ke tempat lain.”


“Jangan pergi lagi, berjalan-jalan di sekitar sini saja.” Kata Ronald.


Ivonne kemudian berkata, “Aku ingin melihat-lihat, ayo pergi.”


Rendi kemudian berkata, “Permaisuri, di sini adalah tempat paling makmur di kota ini, tempat lainnya tidak ada yang bisa dilihat.”


“Tidak masalah, berjalan-jalan saja, aku ingin melihat sesuatu yang berbeda.” Ivonne berkata dengan bersemangat.


Ronald berpikir kemudian meminta Ivonne menaiki kereta kuda dan membawanya ke suatu tempat.


Butuh sekitar setengah jam berkendara sebelum kereta kuda itu berhenti.


Sebelum turun dari kereta kuda, Ronald berkata padanya, “Ikuti aku dengan baik, ada banyak orang di sini, dan juga banyak pengemis serta pencopet.”


Ivonne mendengar suara orang-orang di luar, sepertinya di sini benar-benar ramai, kemudian Ivoone berkata, “Baik, aku mengerti.”


Tirai dibuka, Ivonne berpikir dirinya akan melihat sebuah jalan besar.


Tapi bukan.


Ronald membantunya turun dari kereta kuda, tepat di depan Ivonne melihat jalan yang sempit dan penuh sesak, toko-toko berada di satu sisi dan penjual kecil di sisi lain.


Benar-benar ada banyak orang di sini, begitu ramai.


Orang-orang di sini sudah tidak monoton seperti tadi, ada yang memakai pakaian biasa, ada yang memakai pakaian compang-camping, dan juga ada yang memakai pakaian mewah. Melihat dengan lebih teliti, sebenarnya juga bukan pakaian mewah, hanya saja terdapat berbagai corak dan juga berbagai warna.


Para pedagan kecil berteriak menjajakan barangnya, pemilik toko juga berteriak di depan pintu, semua yang diucapkannya terdapat 1 tema yang sama yaitu murah.


Ada banyak pengemis yang duduk di pinggir jalan, tapi mereka tidak mengambil inisiatif untuk mengemis, hanya duduk di sana dan menyaksikan orang-orang yang lewat.


Terkadang ada orang yang melemparkan roti kukus dan akan diperebutkan dengan gilanya oleh mereka.


Ivonne melihat seorang pengemis, dia tidak bisa menang berebut dengan pengemis lain, kemudian dia memeluk pengemis lain dan mengulurkan mulutnya untuk menggigit roti itu, pada akhirnya pengemis itu ditampar, tapi dia malah tersenyum puas dan memakan roti kukus itu.


Pengemis itu kemudian mundur dengan perlahan, Ivonne baru menyadari bahwa dia hanya memiliki satu kaki, Ivonne memandang ke arah pengemis itu lagi dan ingin Rendi memberikan sedikit uang padanya.


Rendi dengan sadar diri pergi membeli roti dan membawa begitu banyak, membagikan dua roti untuk masing-masing pengemis itu.


Ivonne bingung, “Mengapa mereka mengemis di sini? Orang-orang di sini tidak terlihat kaya, jika mereka pergi ke jalan yang tadi, bukankah mereka masih bisa mendapatkan uang?”


Ronald berkata : "Satu, mereka diusir, tidak diperbolehkan pergi. Dua, tidak semua orang kaya memiliki belas kasih, mungkin mereka akan memberikan beberapa roti, tapi selalu ada beberapa orang yang suka menindas orang-orang yang lemah bahkan hingga mati hanya demi dirinya bisa tersenyum dengan puas.”


Ini benar-benar sangat kejam.

__ADS_1


__ADS_2