
Tabib Kerajaan benar-benar tidak mengerti apa yang membuat Yang Mulia begitu marah? Apa dia tidak mengerti aritmatika?
Hamil selama 10 bulan ditambah masa nifas bukankah totalnya 11 bulan? Jika ingin dihitung secara ketat seharusnya 12 bulan, tapi karena memandang Ronald itu sudah dikurangi satu bulan.
Yanto mengerti jadi dia bergegas mendesak Tabib Kerajaan, “Tabib, silakan lanjutkan.”
Tabib Kerajaan itu menatap sekilas pada Yanto kemudian melanjutkan: “Yang kedua juga sangat penting, Permaisuri tidak boleh bergerak untuk sementara, dia harus beristirahat di ranjang dan juga harus meminum resep yang akan kuresepkan nanti.”
“Baik, sudah kuingat.” Kata Yanto.
“Ketiga …” Tabib Darien terlihat serius, melihat sekeliling pada orang-orang di dalam ruangan kemudian berkata dengan pelan: “Ini juga sangat penting, harus diingat semua makanan Permaisuri harus diurus oleh orang yang bisa dipercaya, semua wewangian yang ada di kediaman harus dihilangkan, di pakaian juga tidak memerlukan wewangian, semuanya harus diperiksa dengan cermat berkali-kali. Bahkan walaupun benda yang diberikan dari Istana, begitu keluar dari Istana tidak selalu diawasi setiap waktu jadi tetap harus diperiksa dengan ketat. Selain makanan yang ada di sini sebisa mungkin Permaisuri jangan memakan makanan yang diberikan oleh siapapun. Harus diingat.”
Ekspresi Ronald juga berangsur-angsur menjadi serius.
Perkataan terakhir Tabib Kerajaan itu memiliki maksud apa, Ronald mengerti dengan sangat jelas.
Jika hanya memiliki hubungan biasa maka perkataan ini tidak perlu dikatakan oleh Tabib Istana.
Ronald menarik kembali amarahnya kemudian dengan hormat berkata: “Tabib Darien, semua obat-obatan nantinya akan diurus olehmu, aku akan memasuki Istana untuk meminta ijin pada Ayah memintamu tinggal di sini sementara waktu.”
“Baik!” Kata Tabib Darien kemudian menatap Ivonne dan mengehela nafas: “Kaisar pasti akan sangat bahagia, Permaisuri, aku akan melakukan yang terbaik untuk mempertahankan bayi di dalam perutmu.”
Ivonne menatap ke semua orang yang ada di ruangan, semua orang begitu serius dan tegang, memikirkan pemikirannya tadi, Ivonne merasa malu dan merasa amat sangat bersalah.
“Terima kasih!” Ivonne berkata dengan lembut.
Pikiran Ivonne sangat rumit.
Bibi Vera menatap Tabib Kerajaan dan berkata, “Mengenai kehamilan Permaisuri apa pantas untuk mengumumkannya?”
“Diumumkan atau tidak itu adalah keputusan Yang Mulia dan Permaisuri, hanya saja sepertinya hal ini juga tidak dapat disembunyikan, pihak Istana sudah pasti harus diberitahu, aku tidak berpikir pihak Istana tidak akan menyuruh orang untuk datang kemari dan lagi banyak orang memiliki mata yang tajam, tidak mungkin mereka tidak melakukan sesuatu.”
Bibi Vera menjadi cemas, “Tapi jika berita ini diumumkan …”
Bibi Vera tidak menyelesaikan kalimatnya, semua orang tampaknya mengerti.
Seberapa besar berita kehamilan Permaisuri?
Terutama setelah berita kehamilan palsu Permaisuri Clara yang membuat kebahagiaan orang-orang di Istana hancur seketika.
__ADS_1
Tabib Kerajaan berkata: “Bibi berkata bahwa Permaisuri pernah meminum sup golden purple, lebih baik mengatakan hal itu.”
“Hanya saja jika begitu orang luar pasti akan bertanya-tanya sebenarnya apa yang Permaisuri lakukan hingga diberi minum sup golden purple.” Bibi Vera memikirkan reputasi Ivonne, sup golden purple ini biasa diberikan untuk para tahanan secara paksa.
“Cari saja alasan, salah memberikannya atau alasan lain, alasannya itu tidak masalah, dan juga bisa mengatakan mengenai kondisi Permaisuri yang tidak stabil dan perlu beristirahat.”
Jika mengatakan kondisi lemah seperti itu sebenarnya demi ditukar dengan hari-hari yang lebih tenang.
Setelah kehamilan Ivonne diumumkan, banyak pasang mata yang tertuju pada Kediaman Ronald.
Jika kondisi sang Permaisuri tidak terlalu baik malah akan membuat semua orang merasa beruntung dan merasa tidak perlu mengambil risiko untuk melakukan sesuatu padanya, janin itu mungkin tidak akan dapat dipertahankan.
Intinya kondisinya sekarang tidak jelas, semakin banyak informasi yang dilemparkan keluar malah akan membuat situasi di dalam kediaman Ronald semakin stabil.
Bibi Vera segera berkata pada Yanto: “Tuan Yanto, besok pagi Anda harus memberikan perintah tegas pada semua pelayan yang ada di kediaman, selain berita yang kita keluarkan sama sekali tidak diizinkan untuk membicarakan apapun di luar, jika sembarangan berbicara maka akan diusir dari kota.”
Yanto berkata: “Bibi jangan khawatir, aku akan memanggil semua bawahanku besok pagi dan memberi perintah.”
Bibi Vera kembali melanjutkan: “Orang yang melayani di samping Permaisuri adalah Bib Linda, Bibi Vonny, Letty, Ria dan juga aku, selain kami berlima tidak ada yang boleh mendekati Permaisuri.”
Ronald juga memerintahkan: “Rendi, mulai besok kamu tidak perlu mengikutiku, tinggallah di rumah untuk berjaga, ingat, setiap kali ada tamu harus memberitahu Yanto dan Bibi Vera terlebih dulu, hanya ketika ada mereka berdua di tempat maka baru boleh mempersilahkan orang itu masuk, dan kamu juga harus ingat bahwa tidak semua orang yang boleh dibiarkan masuk ke dalam.”
Jika berita kehamilan menyebar, para Raja dan Permaisuri, para Tuan Putri, dan juga para kerabat lainnya itu akan datang kemari.
“Aku mengerti!” Kata Rendi dengan lantang.
Yanto menatap Rendi dan berkata mengingatkan: “Kamu kali ini tidak boleh membuat kesalahan, mengerti?”
“Aku mengerti, Tuan Yanto tenang saja, aku pasti akan melindungi majikan kecilku itu.” Rasa tanggung jawab Rendi tiba-tiba muncul, memikirkan sang Permaisuri akan memiliki anak, Rendi merasa begitu bersemangat.
Bahkan lebih bersemangat dibanding ketika Istri akan melahirkan, meskipun Rendi sendiri masih belum memiliki Istri.
Tabib Kerajaan itu mengusir semua orang dan berkata bahwa sang Permaisuri membutuhkan istirahat.
Akhirnya semua orang di ruangan itu pergi, Ronald berbaring di sisi Ivonne sambil memeluknya dengan hati-hati.
Perlahan merentangkan tangannya di perut Ivonne dari samping kemudian berbisik: “Kamu sudah bekerja keras.”
Ivonne menoleh menatap Ronald, Ronald tampak begitu tulus dan juga begitu takut, Ivonne belum pernah melihat Ronald yang tulus seperti ini sebelumnya.
__ADS_1
Ivonne mengulurkan tangan membelai sudut-sudut mata Ronald yang bengkak, tatapan matanya suram dan bertanya dengan suara serak: “Apa kamu bahagia?”
“Tidak hanya bahagia tapi merasa ini nyata.” Ronald memegang tangan Ivonne dan menempelkannya ke bibirnya.
“Nyata?” Ivonne bingung.
Ronald tersenyum dan mengangkat alisnya, “Ya, nyata, merasa kamu tidak akan bisa melarikan diri lagi.”
“Mengapa aku harus melarikan diri?” Ivonne bingung.
Ronald memandangnya, tatapan matanya berangsur-angsur menjadi hampa, “Aku tidak tahu, hatiku selalu berpikir demikian, merasa kamu akan meninggalkanku suatu hari nanti.”
Ivonne terkejut, “Mengapa kamu berpikir begitu?”
“Mungkin karena kamu tiba-tiba mengerti ilmu pengobatan, tiba-tiba memiliki kotak obat, dan juga tiba-tiba berubah menjadi orang yang berbeda, sebenarnya aku terlalu takut untuk menyelidikinya, sejak hubungan kita berdua membaik, kapan kamu melihatku menanyakan mengenai hal ini lagi?”
“Kamu masih menanyakannya dua hari lalu, kamu mengatakan aku memiliki sesuatu yang disembunyikan darimu, kita juga berdebat mengenai pil golden purple dan kotak obat.” Kata Ivonne.
“Aku tidak berani menggali lebih dalam dan hanya bertanya saja, aku hanya ingin tahu tapi juga takut untuk tahu.” Ronald menghela nafas lega, “Tapi sekarang aku lega, kamu hamil dan memiliki kekhawatiran mengenai anak jadi kamu tidak akan pergi, hal itu tertulis di buku, ketika Dewi turun ke dunia manusia dan memiliki anak, Dewi itu bahwa tidak rela untuk pergi.”
“Apa-apaan? Aku bukan Dewi.” Ivonne tertawa.
Ronald juga tertawa, “Aku tidak tahu, tapi terkadang aku bisa berpikir sembarangan, aku pernah menebak kemungkinan itu, lagipula kotak obat itu memang sangat aneh dan luar biasa.”
“Kamu menebak banyak kemungkinan?” Ivonne sedikit tersentuh, Ivonne selalu merasa Ronald selalu bermusuhan dengannya tapi tidak menyangka Ronald ternyata memikirkan hal-hal ini secara pribadi.
“Ya, ketika hening aku kadang memikirkan sebenarnya siapa dirimu.”
“Aku Ivonne!” Ivonne terpaku sesaat.
Ronald menatap Ivone dengan dalam, “Ya, kamu adalah Ivonne, Ibu dari anakku.”
Ivonne menghela nafas pelan dalam hati, sebenarnya Ronald percaya atau tidak?
Apa lagi yang Ronald tebak dalam hatinya?
“Jangan berpikiran macam-macam lagi di kemudian hari, menggunakan otakmu hingga rusak pun kamu tidak bisa menebak kemungkinan lain selain aku adalah Ivonne.” Kata Ivonne.
Ronald menolehkan kepalanya, “Jadi, benar-benar bukan Dewi?”
__ADS_1
Ivonne tertawa sambil memaki, “Dewi apanya? Omong kosong!”
Ronald menghela nafas lega, “Aku tahu kamu bukan, kamu yang seperti ini mana mungkin adalah seorang Dewi? Hampir saja kamu menghancurkan imajinasiku mengenai Dewi.”