
Setelah Ivonne membantunya untuk melakukan infus, dia kembali untuk menyeka tubuhnya dan mengganti pakaiannya, kemudian melihat Clara yang membawa pelayannya memasuki kediamannya.
Clara mengenakan gaun bersulam ramping yang dibordir, lengan baju dan bagian pinggang berwarna sama, menampilkan pinggangnya yang ramping yang begitu memukau orang lain.
Rambutnya mengenakan hiasan phoenix jade emas, telinganya yang putih memakai anting-anting lentera kecil berongga emas. Ketika bergerak, anting-anting itu mengenai kulit dan mengeluarkan bunyi gemericik pelan.
Oscar melihat Clara datang, tersenyum lembut, maju dan menggandeng tangannya, “Apa lelah menaiki kereta kuda?”
Clara membalasnya dengan lembut berkata: “Tidak lelah.”
Kedua jari mereka saling tertaut, bersama-sama menaiki tangga batu.
Ivonne berdiri di depan pintu, menatap Clara dengan datar.
Clara menarik tangannya yang digenggam Oscar, membungkuk pada Ivonne. “Aku memberi salam pada Permaisuri.”
“Hmm!” Jawab Ivonne sekilas.
Oscar marah, menurut etiket, dia harusnya membalas salamnya dan bukan hanya mengatakan Hmm saja.
Hmm apanya? Begitu sombongnya?
Clara mengulurkan tangannya untuk menahan tangan Oscar, tersenyum dan menggelengkan kepalanya, menunjukkan untuk tidak mempermasalahkannya.
Oscar melihat Clara yang begitu mengerti situasi, tanpa sadar mengasihani Ronald, dia ternyata menikahi wanita seperti ini menjadi Istrinya, benar-benar sangat disayangkan.
“Ayo kita masuk!” Oscar ingin menggenggam kembali tangan Clara, tapi Clara sudah terlebih dulu melangkah masuk.
Ivonne tidak ikut masuk, tapi hanya melihat di depan pintu, menyaksikan dan mendengarkan dengan tenang.
Clara berjalan ke tepi ranjang, dengan pandangan khawatir berkata, “Apa Yang Mulia baik-baik saja?”
Pandangan matanya tertuju pada luka di alisnya, jantungnya terkejut.
Bahkan sudah seperti ini saja, dia masih begitu tampan hinga membuat jantungnya berdetak kencang.
Pria ini, mengapa tidak berjuang sedikit? Jika dia bisa menjadi pangeran mahkota, maka apa dia akan seperti ini?
Hatinya seketika sedih, tatapan matanya yang memandang Ronald tanpa sadar berduka.
Ronald tampak sangat tenang, bahkan tersenyum tipis, “Tidak masalah, terima kasih kamu sudah menjengukku.”
“Kamu dan aku … kita bagai saudara, perkataan terima kasih ini kamu tidak harus mengatakannya.” Clara menghela nafas, wajah cantik itu meneteskan air mata tapi tidak merusak riasannya, dia sedih.
Oscar berdiri di belakangnya, tidak melihat ekspresi Clara.
Ronald ragu terhadap perkataan Clara, senyum di bibirnya membeku.
__ADS_1
“Orang macam apa yang begitu kejam?” Tanya Clara.
Oscar dengan dingin berkata: “Jika tahu itu siapa, aku tidak akan melepaskannya.”
Clara menoleh menatapnya sekilas, ada sedikit ketidakberdayaan di matanya, kemudian kembali berbalik dan memandang Ronald, “Apa Yang Mulia tahu siapa itu itu? Pembunuh yang begitu kejam ini, untuk apa dia melakukannya?”
Pandangan mata Ronald menjadi suram, “Tidak tahu.”
Clara agak bingung, “Bahkan Yang Mulia tidak tahu? Apa penyelidikan dari Jingzhaofu sudah keluar?”
“Belum ada yang melaporkan.” Oscar menjawab.
Clara menjawab sekilas, kemudian berdiri dan tidak tahu harus berkata apa.
Sebaliknya Ronald perlahan menutup matanya, seolah dia mengantuk.
Oscar melihat kondisinya kemudian berkata: “Clara, kamu kembalilah lebih dulu, Kak Ronald sudah harus istirahat.”
Clara mengambil napas dalam-dalam, melihat Ronald dan berkata: “Jika Yang Mulia tahu siapa yang melakukannya, maka harus mengatakannya.”
Ronald tidak mengatakan apa-apa, seolah-olah dia sudah tidur.
Oscar menatap Clara sekilas, mengapa dia tampaknya sangat peduli tentang si pembunuh itu? Malah tidak menanyakan kondisi luka Kak Ronald.
“Ayo pergi!” Oscar berkata sambil menggandeng tangan Clara.
Di depan pintu, Clara berdiri dan memandang Ivonne, “Rawat Yang Mulia baik-baik, jangan membuatnya tidak senang.”
Ivonne dengan datar berkata: “Kamu terlalu ikut campur.”
Oscar marah, takut Ivonne akan mengatakan perkataan yang lebih buruk lagi, jadi dia menarik Clara kemudian berkata: “Pergilah, jangan pedulikan dia, bukankah Paduka Kaisar yang memintanya kembali untuk merawat Kak Ronald? Jadi dia bisa melakukannya.”
Pandangan mata Clara terpaku, tapi dia telah ditarik oleh Oscar.
Ivonne melihat ke arah yang mereka tuju, mendengar Clara bertanya pada Oscar, “Apa Paduka Kaisar yang memanggilnya kembali untuk merawat Kak Ronald?”
Oscar malah bertanya: “Mengapa kamu selalu menanyakan mengenai si pembunuh?”
Clara menghela nafas, “Aku berpikir demi dirimu, ada orang yang ingin membunuh Kak Ronald, pasti akan ada orang juga yang ingin membunuhmu, aku khawatir padamu, mengapa kamu tidak mengerti.”
Ivonne menutup pintu, memblokir pembicaraan pasangan itu.
Perlahan melangkah maju, menjulurkan kepalanya melirik orang di atas ranjang, matanya terpejam, tapi nafasnya tidak teratur, dia tidak tertidur.
Tidak tahu apa dia mendengarkan perkataan Oscar dan Clara tadi, dipisahkan oleh jarak, seharusnya dia tidak mendengarnya.
Tapi raut wajahnya begitu tidak enak dilihat.
__ADS_1
“Apa yang kamu lihat?” Ronald tiba-tiba membuka matanya, menatapnya sekilas dengan kejam.
“Tidak ada!” Ivonne bangkit kemudian mengambil tikar untuk berbaring di depan ranjang, duduk setengah jongkok, seperti pose sedang berlatih yoga.
Ronald tidak mempedulikannya, dia juga tidak tidur, membuka matanya tidak tahu apa yang dia pikirkan.
Ivonne juga sedang memikirkan hal-hal, memikirkan kotak obat.
Awalnya Ivonne mengira hanya obat di laboratoriumnya saja yang akan muncul di kotak obat, tapi ternyata tidak, selama dia menginginkan obat apa, maka akan muncul di kotak obat itu.
Mengapa kotak obat ini sangat menakjubkan? Mungkinkah kotak obat itu yang menghubungkan antara dua dunia?
Namun, ini tidak masuk akal, obat di dalam kotak obat itu berubah-ubah, seperti ada seseorang yang mengendalikan, siapa yang mengendalikan kotak obat itu?
“Aku tidak mengucapkan perkataan itu padanya.”
Ketika sedang berpikir macam-macam, suara Ronald tiba-tiba terdengar di telinganya.
Ivonne tertegun sesaat, “Apa?”
Ronald menatapnya, ingin berbicara tapi kemudian berhenti, pada akhirnya, menolehkan wajahnya dan berbalik, tidak lagi menatap Ivonne, dan juga tidak mengatakan apa-apa lagi.
Dasar aneh!
Ivonne tidak mempedulikannya, merasa kotak obat itu tidak masuk akal, maka dia tidak memikirkannya, lebih baik mengeluarkannya dan mempelajarinya.
Membuka kotak obat, mengeluarkan semua obat yang ada di dalam dan meletakkannya di lantai, memastikan sudah mengosongkan kotak obat itu kemudian menutup kembali kotak obat itu, dalam hati bergumam, salep wasir!
Perlahan membukanya, tidak ada apa-apa di dalam.
Ini sangat jelas, kotak obat ini bukan dikendalikan olehnya.
Ivonne tersenyum, merasa dirinya benar-benar kurang kerjaan, kemudian dia mengembalikan obat dan mengaturnya kembali, ketika dia akan menutup kotak obat, dia melihat di samping lapisan kapas, terdapat salep wasir di sana.
“Sial bagai melihat hantu!” Ivonne tanpa sadar berteriak terkejut.
Satu tangan terjulur dari ranjang dan wajah Ivonne mendapatkan tamparan.
Ivonne melompat bangun, dengan kemarahan dari lubuk hatinya, tidak mempedulikan luka di wajah Ronald, dia membalas tamparannya dan dengan dingin berkata, “Pergi matilah!”
Setelah selesai berbicara, Ivonne membawa kotak obat itu dan pergi keluar.
Ivonne menyerah, tidak ingin menyelamatkan orang itu, benar-benar keterlaluan.
Ronald melihat suasana hati Clara yang buruk tapi malah melampiaskan padanya, pria apa itu? Orang semacam ini, Ivonne malah menghabiskan banyak upaya untuk datang dan menyelamatkannya, lebih baik membiarkannya mati.
Membuka pintu, Yanto dan Rendi ada di depan pintu, mereka mendengar suara tamparan itu, tapi ketika mereka ragu apa ingin masuk, Ivonne sudah berjalan keluar.
__ADS_1
Melihat cetakan telapak tangan di wajah Ivonne, Rendi merasa lega, yang dipukul bukanlah Yang Mulia, tapi Ivonne, untunglah.