
Ronald dengan cemas menunggu Ivonne di depan gerbang istana.
Tidak tahu apa Ivonne dimarahi atau tidak? Tidak tahu apa Ivonne dihukum atau tidak? Tubuh Ivonne itu benar-benar tidak bisa menahan hukuman.
Rendi melihat Ronald yang terus mondar-mandir kemudian berkata, “Tuan, atau kita masuk ke dalam istana saja? Mulut Permaisuri itu beracun, mudah menyinggung orang dan jika membuat marah Kaisar maka akan gawat.”
“Jangan berisik, seharusnya tidak akan sampai seperti itu!” Ronald menaruh tangannya di belakang, mengapa Ivonne masih tidak keluar? Bahkan jika mendapat hukuman pun harusnya sudah selesai, kalau Ivonne tidak bisa berjalan sendiri keluar bukankah setidaknya akan diangkat keluar?
Rendi kemudian berkata, “Sulit untuk mengatakannya, jika Permaisuri sudah marah maka dia akan menyerang siapapun, jika menyinggung Kaisar, tidak masalah jika dihukum hanya takut …”
Ronald berteriak marah pada Rendi, “Rendi, apa lidahmu itu akan sakit jika tidak berbicara sebentar saja?”
Rendi berkata dengan pelan: “Aku ini hanya khawatir.”
Begitu Rendi khawatir dirinya akan sembarangan berbicara lalu akan mudah mengatakan hal-hal yang negatif.
Rendi juga tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Akhirnya Ronald melihat Bibi Vera berjalan keluar bersama Ivonne.
Ivonne memakai pakaian berwarna merah, mengangkat kepalanya berjalan dengan langkah yang mantap, seperti ayam jago yang baru saja memenangkan pertarungan.
Hati Ronald yang sedari tadi cemas akhirnya lega, Ronald bergegas menghampiri dan kemudian meraih lengan Ivonne, memeriksanya dari atas ke bawah, “Tidak dihukum?”
Ivonne memutar bola matanya pada Ronald, “Apa ada orang yang berbicara seperti dirimu? Kamu begitu ingin aku dihukum?”
“Aku khawatir padamu!” Ronald menghela nafas lega kemudian membantu Ivonne menaiki kereta kuda, “Hati-hati.”
Ivonne tersenyum, “Kenapa? Dalam sekejap aku diperlakukan sebaik ini? Aku tidak pernah dilayani begitu baik olehmu sebelum memasuki istana.”
Ivonne duduk di kereta kuda kemudian Ronald juga masuk dan duduk, memeluk Ivonne kemudian bertanya: “Bagaimana? Apa yang dikatakan Ayah? Apa dia marah?”
“Marah, aku sangat takut hingga tidak berani berbicara, tapi kemudian Ayah juga meredakan amarahnya, tidak jelas.” Ivonne berkata memutar bola matanya.
“Bagaimana kamu mengatakannya?” Ronald bertanya, “Apa kamu mengatakannya seperti yang kuajarkan padamu?”
Ivonne mengangguk, seperti seorang siswa yang sangat patuh, “Aku sudah mengatakan semua yang kamu ajarkan dan aku juga menambah beberapa kata sendiri.”
“Menambah beberapa kata?” Mengapa perkataan ini begitu ambigu?
__ADS_1
“Ya, aku mengatakan para rakyat menuduh Clara, mengatakan Clara hanya ingin mendapatkan nama baik dengan membagikan bubur, aku mengatakan jika tidak menghukum Clara maka dia tidak akan tahu untuk bertobat dan akan terus melakukan kesalahan, nantinya malah tidak akan bisa dikendalikan, secara garis besarnya seperti itu, aku sendiri juga tidak ingat perkataanku, aku tiba-tiba mengucapkannya.”
Ronald membeku, dengan tidka berdaya berkata, “Kamu … untuk apa kamu mengatakan hal ini? Ayah sudah pasti berpikir kamu memiliki niat buruk untuk menyalahkannya.”
“Ayah mungkin akan berpikir begitu, tapi jika bukan Clara yang bertanggung jawab atas masalah ini, bahkan jika itu bukan Roy artinya kita menyalahkan orang yang tidak bersalah, aku tidak ingin dipaksa pergi ke istana lagi, tongkat kerajaan itu tidak begitu mudahnya digunakan.”
“Kamu mengeluarkan tongkat kerajaan?” Ronald membelalakkan matanya, dia benar-benar tercengang.
Ini adalah ancaman langsung pada Ayah dan lagi merupakan ancaman secara terang-terangan.
Ivonne berkata: “Sebenarnya aku ingin mengeluarkan surat hutang itu, tapi aku tidak menemukannya setelah mencari cukup lama tanganku gemetar, sampai raut wajah Ayah menggelap, aku panik jadi mengeluarkan tongkat itu dan menyodorkannya di depan Ayah, saat itu aku juga terkejut, otakku tidak bisa bereaksi, hanya bisa menatapnya dengan pandangan memelas, untungnya aku tidak terpaku cukup lama, aku bergegas mengatakan serangkaian kalimat dan Ayah sepertinya mendengarkannya.”
Ronald benar-benar terdiam.
“Sudahlah jika Ayah nanti ingin memperhitungkannya maka menunggu sampai masalah ini reda baru dipikirkan. Nanti aku akan mencari beberapa alasan untuk membawamu keluar dari Ibukota sementara waktu, menghindari pusat perhatian, kita akan kembali ketika kemarahan Ayah sudah reda.”
Ivonne kemudian berkata: “Kali ini sepertinya aku menyinggung Keluarga Clara, kamu berhati-hatilah di kemudian hari.”
“Apanya yang sepertinya? Kamu itu sudah menyinggung keluarga Clara, kamu telah menyinggung keluarganya dulu, kamu tidak takut sebelumnya dan sekarang kamu takut?” Ronald berkata sambil tertawa.
Ivonne menghela nafas, pandangan matanya menatap lekat pada Ronald, “Pada waktu itu, aku masih muda dan bodoh, berpikir bahwa pangeran pasti akan mampu menekan Gilang yang memiliki posisi sebagai sekretaris negara, setelah menikah denganmu walaupun bisa dibilang aku sudah memiliki sandaran tapi siapa yang tahu kamu yang merupakan seorang pangeran ini juga harus bersikap hormat padanya, aku salah perhitungan.”
Ivonne menyandarkan kepalanya di bahu Ronald, “Menurutmu apa Ayah akan benar-benar menghukum Clara?”
Ronald membelai rambut Ivonne, “Hati sang Kaisar tidak dapat diprediksi, siapa yang tahu?”
“Sebenarnya aku berpikir tidak akan, tentu saja aku percaya itu juga akan sia-sia, setidaknya Ayah tidak akan menghukum Roy.” Kata Ivonne.
Ronald tidak mengatakan apa-apa, dirinya juga berpikir demikian.
Gilang hari itu memohon padanya demi Clara, bisa dilihat Gialng tidak mau reputasi Clara tercoreng.
Gilang melakukannya demi Oscar, Ayahnya juga melakukannya demi Oscar, jadi Ronald merasa Clara pasti akan dilepaskan.
Bagi Ronald itu tidak masalah.
Ronald hanya tidak ingin Roy dihukum.
Ivonne sepertinya merasa sedih bukan? Ivonne sudah menyeret dirinya sendiri tapi tidak bisa menyeret Clara.
__ADS_1
Ayah benar-benar buta.
Tidak bisa melihat kondisi yang sebenarnya.
Ronald merasa bersalah pada Ivonne.
Kediaman Oscar.
Clara duduk di depan ranjang Oscar, memegang semangkuk sup di tangannya kemudian mengaduk dengan pelan sup di dalam mangkuk, asap panas mengepul dan menutupi sebagian besar wajahnya.
“Ayo buka mulutmu!” Clara berkata dengan lembut, bulu matanya sedikit terangkat, luka di dagunya sudah tidak dibalut lagi, menunjukkan bekas luka yang merah tapi tidak terlihat mengerikan malah terlihat menyedihkan.
Oscar mengulurkan tangan untuk mengambil alih kemudian berkata dengan suara serak: “Aku sendiri saja.”
Clara sedikit terpaku menyaksikan Oscar yang meminum habis sup itu.
Sup itu tertelan melewati tenggorokannya, dengan begitu cepat dan buru-buru, seolah-olah sedang menjalankan misi.
“Kenapa?” Clara bertanya dengan lembut.
Oscar menyingkirkan mangkuk itu, tanpa sadar menghindari mata Clara, “Tidak, hanya saja kamu juga terluka, tidak boleh membiarkanmu melayaniku.”
“Bukankah sudah seharusnya aku melayani Yang Mulia?” Clara tersenyum, mengeluarkan saputangan dan menyeka sudut mulut Oscar kemudian berkata dengan lembut, “Lihatlah dirimu, sudah begitu besar tapi masih begitu berantakan ketika meminum sup.”
Oscar menatapnya kemudian bertanya: “Apa menurutmu akankah Ayah menghukummu?”
Clara menundukkan pandangannya kemudian berkata pelan, “Aku tidak tahu, tapi jika akan dihukum maka hukum saja, ini memang pantas kudapatkan.”
Oscar berkata: “Kudengar kamu mengirim seseorang ke istana untuk melaporkan kehamilanmu pada Ayah.”
“Ya.” Clara mengambil mangkuk itu kemudian meletakkannya di atas meja dan menatap Oscar, “Kamu tidak ingin memberitahukannya pada Ayah?”
Oscar menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku hanya merasa Tabib masih belum memastikan kamu hamil, dan lagi bahkan jika kamu benar-benar hamil, bukankah kamu harusnya melaporkan pada Ibu terlebih dulu dan membiarkan Ibu memberitahu Ayah?”
Clara bersandar di meja dan menatapnya, matanya menatap Oscar dengan suram, “Apa kamu tidak mengharapkan aku hamil?”
Oscar berkata dengan suara pelan: “Di dalam mimpi pun aku mengharapkannya.”
“Kalau begitu kenapa kamu tidak senang ketika aku hamil?” Tanya Clara.
__ADS_1
Oscar mendongak memandang Clara yang berdiri dengan tenang, begitu mata tenang, Oscar tidak bisa tidak memikirkannya, Clara yang begitu lembut, Clara yang begitu menyedihkan, Clara yang begitu baik, Clara yang begitu tenang bahkan terlihat kejam, sebenarnya yang mana yang merupakan Clara yang sebenarnya?”