
Kaisar Mikael berkata, “Karena Ronald menghormatimu, maka aku juga akan menghormati Ronald kali ini, pernikahan tidak dapat dipaksakan. Jangan sampai itu akan menjadi keluhan di kemudian hari, masalah ini aku akan menjelaskannya pada Selir Prilly. Kamu pergilah.”
Benar, masih ada Selir Prilly, kali ini Ivonne bahkan benar-benar telah menyinggung Ibu mertuanya sendiri. Benar-benar dikelilingi oleh musuh.
Keluar dari ruang kerja kerajaan, Ivonne sedang mempersiapkan pisau sepanjang 40 cm di dalam hatinya. Jika membunuh orang tidak berdosa, maka Ronald harus mati di tangannya.
Meninggalkan ruang kerja kerajaan, ada orang yang menunggunya di luar, mengatakan bahwa Selir Prilly ingin menemuinya.
Tidak tahu kapan tekanan dari dunia luar tiba, tapi Selir Prilly adalah yang tercepat.
Ketika sedang memantapkan diri pergi ke Istana Moonlight tempat Selir Prilly, tanpa diduga, di tengah jalan muncul Kasim Artur.
“Permaisuri, Paduka Kaisar mengundangmu!”
Bibi dari Istana Monnlight berkata, “Kasim Artur, Selir Prilly yang terlebih dahulu mengundang Permaisuri, dia hanya ingin memerintahkan beberapa kata. Atau tidak, bagaimana jika Permaisuri pergi terlebih dulu ke Istana Monnlight baru kemudian ke Istana Pearlhall?”
Kasim Artur tersenyum seperti Buddha Maitreya. “Tidak masalah, hanya saja takutnya Paduka Kaisar tidak sabar menunggu dan kemudian akan marah.”
Bibi itu juga tidak lagi bersikeras, “Kalau begitu, tolong setelah Permaisuri menemui Paduka Kaisar langsung pergi ke Istana Monnlight.”
Kasim Artur berkata, “Takutnya tidak akan begitu cepat. Ada banyak hal di tempat Paduka Kaisar sana. Dan lagi ada satu hal yang mengharuskan Permaisuri untuk segera keluar dari Istana untuk mengurusnya, kamu jawab saja pada Selir Prilly, katakan bahwa Permaisuri akan memasuki istana lagi lain kali dan akan pergi menemuinya.”
Raut wajah Bibi itu sedikit berubah.
“Ini adalah maksud Paduka Kaisar.” Kasim Artur berkata mengingatkan.
Bibi itu membungkukkan berkata, “Ya, kalau begitu aku akan kembali dan memberitahukannya pada Selir Prilly.”
Ivonne menghela nafas lega, berjalan mengikuti Kasim Artur.
Sepanjang jalan Ivonne berkata, “Terima kasih atas bantuan Kasim Artur.”
“Itu karena Paduka Kaisar yang sudah mengetahuinya.” Kasim Artur berkata sambil tersenyum.
Ya, orang tua itu memang pintar.
Tapi berapa lama dia bisa melindunginya? Di istana ini, tangannya bisa melindungi Ivonne, tapi ketika meninggalkan istana, maka tidak bisa mencapainya lagi.
Ketika sampai di Istana Pearlhall, Paduka Kaisar ternyata sedang berjalan-jalan di halaman, walaupun langkahnya canggung, tapi sudah lebih bersemangat dibanding hari-hari sebelumnya.
“Aku datang menemui Paduka Kaisar.” Ivonne memberi salam dengan sopan, melihat tubuhnya yang terhuyung, secara tidak sadar mengulurkan tangan untuk membantu memapahnya.
Kasim Artur bergegas berkata, “Tidak perlu …”
Paduka Kaisar memandangnya sekilas, kemudian mendengus.
Hatinya benar-benar begitu keras kepala, seperti tadi saja masih tidak mengizinkan orang lain untuk membantu?
“Masuklah untuk bicara.” Kata Paduka Kaisar.
Ivonne menjawab sekilas, memapahnya berjalan masuk ke dalam.
__ADS_1
Pria tua itu juga tidak berbaring, hanya duduk bersila dan bersandar di ranjang, Kasim Artur menghidangkan the, Paduka Kaisar malah dengan santai membunyikan sendi-sendi jarinya.
“Kudengar kamu menentang Ronald mengambil selir.” Paduka Kaisar memejamkan matanya, bertanya dengan santai.
Benar-benar hal baik tidak tersebar, hal buruk malah tersebar luas.
“Yang Mulia berkata aku keberatan, maka aku keberatan bukan.” Ivonne tidak bisa mengungkapkan kemarahannya.
“Ya, baguslah jika keberatan.” Paduka Kaisar berkata samar.
Ivonne memandangnya, “Kenapa begitu?”
“Apanya yang tidak baik? Dengan begitu keluarga Cui akan membereskan Hendra, kemudian Hendra akan membereskanmu, Selir Prilly juga akan membereskanmu, bahkan Keluarga Su juga mungkin akan menjadikanmu sebagai sate.”
Senang di atas penderitaan orang lain!
Paduka Kaisar membuka matanya, tersenyum menatap Ivonne, “Selamat, di kemudian hari, kamu akan menjadi pusat pusarannya.”
“Berbuat sesuatu janganlah begitu kejam, setidaknya berikan jalan untuk hidup, Paduka Kaisar.” Ivonne berkata mengeluh, perlukah begitu sinisnya?
“Bukan aku yang mendorongmu ke dalam badai, mengapa kamu mengeluh?”
Ivonne berkecil hati.
Kaisar memandang Ivonne sekilas, tersenyum dan berkata, “Baiklah, aku akan menraktirmu minum.”
“Aku tidak minum alkohol.” Alkohol tidak baik untuk hati, hidup Ivonne sangat teratur, tidak memiliki kebiasaan buruk ini.
Paduka Kaisar berkata sambil mengangkat tangannya memanggil Kasim Artur untuk mengambil anggur.
Alkohol paling kuat yang pernah diminum Ivonne adalah sampanye, meminum dua gelas, dia sudah benar-benar mabuk, tapi dengan tubuh yang berbeda seharusnya kemampuan minumnya tidak akan begitu buruk, lagipula, orang-orang jaman kuno ini terkadang juga meminum alkohol.
Ketika mencium bau anggur osmanthus yang dibawa oleh Kasim Artur, Ivonne mencium baunya, tidak memiliki bau alkohol yang kuat.
“Aku tidak boleh minum, Artur juga tidak suka minum, aku ingin mencium aroma alkohol pun sangat sulit.” Paduka Kaisar sangat jelas terlihat sedikit bersemangat.
Kasim Artur sedang menungkan anggur, menuangkan secangkir untuknya. Ivonne menahannya dengan satu tangan, berkata memperingatkan, “Kamu hanya boleh mencium aromanya.”
“Mencium aromanya juga tidak apa-apa.” Paduka Kaisar menarik napas dalam-dalam, aroma anggur perlahan-lahan masuk ke dalam penciumannya, mengingatkan kembali bagaimana rasanya minum anggur, merasa bahwa dirinya sedikit melayang.
“Ayo, kamu minumlah, aku mencium aromanya!” Paduka Kaisar mengangkat gelasnya kemudian bersulang dengan Ivonne.
Paduka Kaisar meletakkan gelas di bibirnya, “Apa anggur ini berubah rasanya? Mengapa ketika dicium aromanya tidak seperti sebelumnya? Pada pelayan ini tidak menempatkannya dengan baik, aku akan mencicipinya, jika rasanya memang berubah, maka tarik mereka semua keluar dan beri hukuman dipukul dengan papan.”
Setelah selesai berbicara, dia mencicipi satu teguk, kemudian berkata, “Aku tidak bisa merasakannya.”
Baru mengangkat tangannya ingin terus mencicipi, Kasim Artur menahannya dengan satu tangan, “Paduka Kaisar, bisakah kamu mengganti caramu ini? Kamu kembali berbohong dan minum.”
Paduka Kaisar sangat marah, “Apa aku perlu berbohong untuk minum? Aku memang mau minum, memang kalian bisa menghentikanku?”
“Budak salah, kalau begitu kamu lepaskan, cium aromanya saja.” Kata Kasim Artur.
__ADS_1
Paduka Kaisar memaki dan meletakkannya, menatap ke arah Ivonne, “Kamu minumlah.”
Ivonne menyesap seteguk, merasa baik-baik saja, manis, sedikit bau alkohol, seperti alkohol buah, jenis anggur ini tingkat alkoholnya tidak tinggi.
30 menit kemudian.
Kasim Artur bertanya dengan khawatir, “Paduka Kaisar, menurutmu apa yang harus dilakukan?”
Paduka Kaisar jelas juga terkejut, “Mana aku tahu? Kamu yang membawa anggurnya.”
“Kamu yang memerintahkannya.” Kasim Artur menatapnya dengan aneh.
“Siapa yang menyuruhmu memberinya minum begitu banyak?” Paduka Kaisar marah, tadinya ingin membiarkan Ivonne setengah mabuk, agar lebih mudah untuk ditanyai, tapi tidak menyangka bahwa Ivonne benar-benar mabuk.
“Banyak? Itu adalah anggur osmanthus, rata-rata orang meminum setengah botol pun tidak masalah bukan? Dia baru minum segelas.” Bahkan gelas itu pun tidak lebih dari setengah.
Paduka Kaisar sakit kepala, menutup telinganya, “Suruh dia diam, berisik sekali.”
Kasim Artur memandang Ivonne yang sedang berada di atas meja sedang berkacak pinggang dan memaki, mulutnya mengatakan begitu banyak kalimat, tapi tidak tahu apa yang dia katakan, terlihat begitu emosional.
Tidak masalah jika memaki, tapi juga melemparkan barang, jika tidak menutup pintu, takutnya sudah banyak orang yang datang dan menontonnya.
“Apa sebenarnya yang dia katakan? Ini tidak seperti bahasa Dinasti Tang Utara.”
“Bahasa burung!” Paduka Kaisar berkata dengan tegas.
“Hei, berikan dia sup pnghilang mabuk, kemudian antar dia keluar.” Kasim Artur bergegas membuka pintu, memerintahkan pelayan istana untuk menyiapkan sup penghilang mabuk itu, pelayan istana itu pergi dengan ekspresi terkejut, sebenarnya apa yang terjadi di dalam? Kedengarannya seperti wanita tidak masuk akal yang sedang melampiaskan makian, apa itu ilusi? Siapa yang berani memaki di dalam Istana Pearlhall? Wanita tidak masuk akal dari mana?
Sup penghilang mabuk dibawakan, Ivonne memaki dengan keras, duduk di atas meja, terengah-engah.
“Ayo, lanjut minum!” Kasim Artur mendekatinya, mengapa kemampuan minumnya begitu buruk? Benar-benar memusingkan.
Ivonne mengambilnya, sup penghilang mabuk itu tumpah, Ivonne malah berkata, “Minum, minum … mengapa anggur ini begitu panas?”
“Anggur yang dihangatkan lebih kuat.” kata Kasim Artur.
Setelah Ivonne minum seteguk, dia merasa perutnya bergejolak, perlahan-lahan turun dan berjalan ke hadapan Paduka Kaisar, menatapnya sambil tersenyum, “Pria tua, aku ingin muntah.”
“Pergi!” Paduka Kaisar memaki dengan ngeri.
“Permaisuri, tidak boleh berlaku tidak sopan!” Kasim Artur bergegas berkata, bagaimana bisa meyebut Paduka Kaisar pria tua?
Ivonne menoleh dengan linglung, menarik Kasim Artur dan tersenyum dalam, “Kasim Artur, aku ingin … hueekk…”
Kasim Artur menatap langit dengan penuh duka, pakaian sutra hadiah yang diberikan Paduka Kaisar padanya.
Peter dipanggil ke Istana Pearlhall, dipercayakan sebuah tugas penting.
Peter dengan pandangan gugup memerintahkan tandu yang berwarna biru keluar dari Istana Pearlhall, kecepatan pembawa tandu sangat cepat, bahkan seakan sedang berlari keluar, ketika berada di luar Istana, diganti dengan kereta kuda, Peter yang secara pribadi mengendarai kereta kuda, ditemani oleh seorang pelayan wanita dari Istana Pearlhall, yang sangat amat takut hingga hampir mati di dalam.
Jika diketahui Kaisar Permaisuri mabuk di Istana Pearlhall dan berbuat hal gila, maka takutnya semua orang akan menderita.
__ADS_1