Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan

Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan
Bab 66. Kembali Ke Rumah


__ADS_3

Hati Yanto terkejut, jika begitu, Kaisar dan Paduka Kaisar takutnya akan menjadi makin marah.


Tapi, kemarahan itu hanya sesaat, setelah menceraikan permaisuri, kediaman ini akan damai, dan lagi tidak harus terjerat oleh Hendra, jika dilihat dalam jangka panjang, lebih banyak keuntungan daripada kerugian.


“Bagaimana dengan masalah menikahi putri kedua dari keluarga Cui, bagaimana pendapat Yang Mulia?” Tanya Yanto.


Ronald sudah bosan dengan topik ini, tapi Ayah dan Ibunya terus mengungkitnya, ini adalah masalah yang tidak dapat dihindari dan harus dihadapi, dia balik bertanya pada Yanto, “Bagaimana menurutmu?”


Yanto menganalisis dan berkata, “Dari sudut pandang situasi, ini memang bermanfaat bagi Yang Mulia, keluarga Cui meskipun sudah menikahkan putri tertua pada Raja Oscar, tapi Gilang masih belum sepenuhnya menyatakan dukungannya untuk Raja Oscar, dikarenakan Ibu Suri, Gilang masih memiliki beberapa pertimbangan. Ditambah Paduka Kaisar selalu menghargai Yang Mulia, dirimu ini, jadi ini membuat keluarga Cui mau tidak mau berperilaku konservatif. Ini adalah situasi saat ini, tapi begitu Yang Mulia menikah dengan putri kedua dari keluarga Cui, maka keluarga Cui sedikit banyak akan mendukungmu, jika Raja Oscar tidak berguna, maka Gilang akan mengerahkan seluruh kekuatannya padamu. ”


Ronald dengan samar berkata, “Sepertinya, kamu juga setuju dengan kata-kata Ibu.”


Yanto menggelengkan kepalanya. “Tidak. Jika menganalisis situasi memang seperti itu, tapi aku tahu Yang Mulia tidak memiliki hati untuk mengejar posisi Pangeran Mahkota, tapi aku masih berharap Yang Mulia bisa menikahi putri kedua keluarga Cui sebagai selir, jika putri kedua keluarga Cui itu rela menjadi selir.”


“Mengapa perkataanmu ini saling bertentangan?” Ronald mengerutkan kening.


“Tidak bertentangan. Selir Prilly ingin dirimu menikah dengan putri kedua keluarga Cui demi berjuang memperebutkan tahta, tapi aku berhadap Yang Mulia menikahi putri itu demi mendapatkan perlindungan.”


“Aku masih perlu mendapatkan perlindungan?” Ronald berkata dengan dingin.


“Yang Mulia, ada beberapa hal yang tidak bisa kamu lakukan, tapi keluarga Cui bisa melakukannya.” Yanto berkata dengan jelas, “Seperti tindakan Raja Juno saat ini, jika keluarga Cui berdiri di sisimu, bukankah bisa memberikan pelajaran pada Raja Juno? Raja Juno sekarang benar-benar terlalu sombong. ”


Prajurit sombong akan dikalahkan, sebelum bisa dikalahkan, masih sangat mematikan.


Ronald dengan samar berkata, “Aku mengerti maksudmu.”


“Itu …” Yanto bertanya ragu-ragu, “Apa yang Yang Mulia pikirkan?”


“Tidak perlu seperti itu!” Kata Ronald.


Yanto paham, jadi dia tidak berkata lagi.


Ronald malah bertanya, “Menceraikan Ivonne, bagaimana menurutmu?”

__ADS_1


Yanto ragu-ragu sejenak dan berkata, “Aku setuju.”


Ronald terdiam.


Dini hari berikutnya, Ivonne meminta Bibi Linda pergi ke gudang untuk mengemas beberapa sarang burung dan ginseng untuk dibawa kembali ke rumah keluarganya.


Ivonne pulang kali ini, tidak membawa Bibi Linda atau Bibi Vera, hanya membawa Letty.


Ketika kereta tiba di kediaman Hendra, portir menyambutnya.


Hendra sudah memerintahkan sejak awal, mengatakan bahwa Ivonne pulang hari ini, jadi Nenek Viona sudah membawa menantunya dan menunggu di aula utama, melihat Ivonne masuk dia bangkit bangun dan tersenyum, “Ivonne sudah kembali? Cepat kemari dan duduk.”


Sesuai dengan aturan, dia harusnya memanggilnya dengan sebutan gelar Permaisuri, dan juga memberi hormat, tapi dengan panggilan itu, sudah menentukan senioritasnya.


Ivonne tidak bodoh, dia bisa mendengarnya, melihat orang-orang yang duduk di dalam rumah, setelah Nenek Viona bangun, mereka baru bangkit, raut mereka tidak terlalu hormat, dengan malas saling menyapa nama, dan bukannya memanggilnya Permaisuri.


Ivonne tidak menanggapi, dan langsung duduk.


Melihatnya sekilas dia mengenalinya, yang berdiri di sebelah Nenek Viona adalah menantu tertuanya bermarga Luan, mengenakan rok sutra biru bersulam, alisnya tipis, matanya sipit, hidungnya pesek, ada beberapa kerutan di sudut matanya, tapi tidak terlihat begitu jelas, bisa dilihat perawatannya cukup baik.


Berdiri di sebelahnya adalah adik dari Ivonne yang asli, Cecil, berusia 15 tahun, baru mencapai usia dewasa, memakai riasan, menatapnya dengan dua mata bundarnya, mata bagian putihnya lebih banyak dibanding bola matanya, tampak seperti bentuk mata segitiga, bibirnya sedikit lebih tipis, terlihat seperti orang yang tidak bisa menjaga omongan, tapi pada pandangan pertama, masih terlihat cantik.


Selain itu, ada dua anak gadis dari selir, berdiri di samping dengan patuh, menundukkan pandangannya, karena dilahirkan oleh selir, jadi penampilan mereka tidak begitu indah.


Masih ada banyak wanita di dalam rumah yang belum keluar, tapi karena Nenek Viona melihat orangnya terlalu sedikit, jadi dia memanggil dua cucu perempuan yang dilahirkan oleh selir untuk keluar.


Ivonne kembali memandangi Nenek Viona, dia sekarang lebih berisi, wajahnya bundar, keriputnya sedikit, rambutnya juga dicat, sama sekali tidak ada uban yang terlihat. Dia mengenakan pakaian yang mahal, ditutupi satin, rambutnya disanggul ke atas, terlihat elegan, mana terlihat dulunya dia adalah pelayan menyedihkan yang menemani nenek ketika menikah? Jika orang yang tidak tahu, takutnya mengira bahwa dia dilahirkan di keluarga terhormat.


Wajah semua orang dipenuhi dengan senyum datar, senyum itu sedikir meremehkan, tanpa dibayangkan juga bisa tahu, orang-orang di kediaman ini terhadap Ivonne yang merupakan seorang Permaisuri yang tidak mendapat kasih sayang sama sekali tidak dipandang.


Ivonne bertanya, “Ada yang melaporkan bahwa kondisi Nenek semakin memburuk, bagaimana kondisinya sekarang?”


Nenek Viona melirik ke luar sekilas, melihat bahwa Ivonne hanya membawa 1 pelayan kecil dan bukannya membawa Bibi Linda kemari, ekspresi seriusnya berkurang, “Nenekmu sama seperti sebelumnya, tapi kali ini Ayahmu yang memanggilmu pulang, pergilah ke ruang kerja untuk mencarinya. ”

__ADS_1


Ivonne mengerti maksudnya, tidak membawa orang, tentu saja tidak perlu memberi muka pada Ronald, dan juga terlalu malas untuk menjamunya, jadi dia langsung mengusirnya ke ruang kerja.


Ivonne mengerutkan kening, ingin menemuinya, bukankah bisa langsung datang ke kediaman Ronald, untuk apa repot-repot berbohong memberitahu bahwa nenek sakit?


Karena bukan Nenek yang sakit, jadi Ivonne tidak terburu-buru, dengan samar berkata, “Aku masih belum sarapan.”


Dia bukannya ingin bersikap seenaknya, pagi ini dia buru-buru pulang, dia bahkan belum sarapan dia kelaparan hingga tangan dan kakinya agak lemas.


Nenek Viona menatapnya dan berkata, “Kalau begitu kamu pergilah ke ruang kerja terlebih dulu, aku akan meminta orang untuk menyiapkan bubur millet untukmu.”


“Sekarang!” Ivonne menatapnya.


Nenek Viona memandangnya sebentar, berbalik badan dan memerintahkan, “Pelayan, hidangkan bubur millet.”


Menantu tertua Nenek Viona duduk, bibirnya mencibir, “Benar-benar sombong, ketika pulang langsung ingin makan bubur, kamu tidak mendapatkan makanan enak di rumahmu?”


Ketika dia berbicara demikian, menantu lainnya kemudian tertawa.


Luan adalah putri hakim daerah, bagi keluarga ini, bisa dibilang merupakan keluarga kecil, ketika Ayah Luan masih belum menjadi pejabat, sejak kecil Luan menemani Ibunya menjual sulaman untuk membantu ekonomi keluarga, sudah terbiasa berkecimpung di pasar, jadi wataknya saat masih menjadi pedagang kecil masih ada, ketika melihat Ivonne yang bersikap seperti itu, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak berkata sinis.


Ivonne bahkan tidak mengangkat matanya dan berkata, “Apa maksud bibi berarti Ronald begitu miskin hingga tidak bisa memakan bubur millet?”


Luan terpaku, “Aku tidak berkata Ronald miskin.”


“Kalau begitu maksudnya bahwa aku yang sebagai Permaisuri ini gagal, berada di dalam kediaman Ronald bahkan aku tidak bisa makan dengan kenyang, dan harus kembali ke rumahku untuk meminta bubur untuk kumakan.”


Pandangan mata Ivonne sangat tajam, menatap ke arah Luan.


Luan sangat marah, apa-apaan ini? Ketika Ivonne pulang dulu, bukankah dia harus mencari muka di sini? Hari ini mengapa dia bersikap begitu sombong?


Nenek Viona berkata sambil tersenyum di permukaan tapi tidak di dalam hatinya, “Sudahlah, kalian berdua mengapa malah bertengkar? Sarapan mengapa masih belum dihidangkan? Cepat pergi lihat, oh iya, hari ini bukankah Bibi Zhang membuat kue? Bawakan beberapa untuk Permaisuri.”


Pada akhirnya kekuasaan yang menang, jika tidak mengatakannya, hanya memakan bubur bubur millet.

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu, Ivonne malah memiliki kue untuk dimakan.


__ADS_2