
Timothy tersenyum padanya dan berkata dengan perlahan: “Itu tidak ada hubungannya dengan Yang Mulia, kudengar Permaisuri Ivonne juga menyelamatkan orang di gerbang kota pada hari itu.”
“Ya.” Ronald menatapnya kemudian memperingatkan, “Jangan berpikir untuk menggunakannya menjadi tameng.”
“Memang harus menggunakan Permaisuri Ivonne sebagai tameng!” Kata Timothy dengan tenang.
Ronald kembali menggebrka meja, “Jangan berharap.”
Timothy menatap Ronald dan berkata, “Yang mulia harus tenang dan dengarkan aku dulu.”
Ronald melambaikan tangannya, “Katakan saja, tapi sepertinya itu pasti bukan ide yang bagus.”
“Sang Permaisuri menyelamatkan orang-orang di luar gerbang kota, banyak orang yang melihat hal ini bukan? Berita ini sudah tersebar selama 2 hari, mengatakan bahwa Permaisuri Ivonne begitu baik hati, jika ingin mencari orang untuk bertanggung jawab maka Permaisuri Ivonne adalah yang paling cocok.”
“Apa-apaan ini?” Ronald menatap ke arah Timothy dengan marah.
Timothy tersenyum dan berkata, “Siapa orang yang paling disayang oleh Paduka Kaisar sekarang? Siapa di antara para Permaisuri yang memiliki nama paling baik sekarang? Apa Yang Mulia pikir jika Permaisuri Ivonne mengaku bersalah maka Kaisar akan benar-benar menyalahkannya? Bahkan jika Kaisar ingin pun Paduka Kaisar tidak akan mengizinkannya, ditambah lagi Permasuri Ivonne juga menyelamatkan Putri Karen, Pamanmu itu juga tidak akan berpangku tangan.”
“Bukankah itu semacam ancaman?” Ronald merasa metode ini tidak tepat, sang Ayah tidak akan tunduk pada ancaman.
Jika benar-benar membuat Ayahnya marah maka sudah pasti Ivonne akan menerima hukuman beberapa pukulan lagi, jika begitu bukankah bokong Ivonne akan menjadi besar dan rata karena dipukuli terus menerus? Tidak boleh!
Timothy menepuk pundak Ronald dan berkata: “Dengarkan aku, itu tidak akan salah.”
Ronald memelotot padanya, “Jika ada yang salah…”
“Maka Yang Mulia harus menanggung semuanya.” Kata Timothy.
“… tidak sopan!”
Timothy ini sama sekali bukan orang baik.
Meninggalkan akademi kekaisaran, Ronald berpikir sepanjang jalan, dia juga sengaja berkendara pergi ke gerbang kota untuk melihat apa Roy berada di sana atau tidak.
Roy ada di sana, lengannya terbalut, ketika menyelamatkan orang hari itu, bahu dan lengannya terluka.
“Yang Mulia!” Roy tiba-tiba tersenyum memperlihatkan giginya yang putih, berbalik untuk menyapanya, “Ronnie, tuangkan teh untuk Yang Mulia!”
Ronald menatap ke arah Roy, “Tidak perlu, aku hanya lewat saja untuk melihat bagaimana kondisi cideramu.”
“Terima kasih atas perhatian Yang Mulia, lukaku ini bukan masalah besar.” Roy tertawa, “Luka kecil semacam ini tidak ada apa-apanya bagi kami.”
“Apa kamu pernah berada di medan perang?” Tanya Ronald.
“Ya.” Kata Roy sambil tersenyum, “Aku pernah ikut perang beberapa kali, membunuh ratusan pasukan musuh hingga akhirnya menjadi pengawas di sini.”
Ronald tertegun, “Membunuh ratusan? Perang yang mana?”
“Perang Tebing Kepala Harimau!” Kata Roy.
__ADS_1
Ronald tertegun, “Perang Tebing Kepala Harimau? Pada saat aku adalah komandan utama, mengapa aku tidak melihatmu?”
Roy melambaikan tangannya, sedikit malu berkata, “Saat itu aku hanya seorang prajurit di garis belakang, bahkan jika Yang Mulia pernah melihat mungkin Yang Mulia tidak akan mengenalku.”
Dari prajurit yang berada di garis belakang hingga menjadi penjaga gerbang saat ini, Ronald dapat membayangkan betapa sulit jalan yang dilewatinya.
Hati Ronald makin merasa berat.
Pria ini ternyata pernah menjadi bawahannya!
Hanya karena harus menanggung dosa orang lain jadi harus menghapus semua jasa yang dilakukannya!
“Aku pergi dulu, jika ada waktu kita mengobrol lagi!” Ronald tidak dapat menghadapi senyum yang cerah itu, bertanya-tanya seperti apa senyumnya itu jika Roy mengetahui Kaisar ingin memecatnya.
“Baik, selamat jalan Yang Mulia!”
Ronald pergi dengan terburu-buru.
Kembali ke istana, Ivonne langsung bisa melihat Ronald memiliki pemikiran berat.
Ronald juga tidak bisa menyembunyikannya, dia benar-benar pusing jadi dia mengatakan apa yang dikatakan Ayahnya pada Ivonne.
Ketika Ivonne mendengarnya, dia benar-benar terkejut, menatap mata Ronald sebelum dia mengucapkan kalimat, “Bagaimana bisa Ayah begitu ceroboh?”
“Jika dia ingin menjaga reputasi Clara maka harus ada seseorang yang disalahkan!” Ronald berkata dengan suara berat.
“Aku tahu, tadi aku sengaja pergi ke gerbang kota dan melihat Roy masih menjaga gerbang kota walaupun dia sedang terluka.” Ronald menghela nafas dengan berat.
Hati Ivonne benar-benar dingin.
Sebagai seorang peneliti, Ivonne tidak mengerti akan politik, tapi dia hanya merasa bahwa jika melakukan hal itu akan melukai perasaan orang.
Terutama bagi seseorang yang berjasa.
“Apa ada cara lain?” Tanya Ivonne.
Ronald ragu-ragu sejenak, menggelengkan kepalanya dan berkata: “Tidak ada, harus ada seseorang yang bertanggung jawab untuk masalah ini.”
Ivonne menghela nafas, “Ini benar-benar kejam.”
Penjaga itu benar-benar melakukan yang terbaik, setidaknya, melakukan tugasnya dengan baik dan tidak seharusnya disalahkan.
Pasangan itu saling berpandangan dan tidak berkata-kata, hanya bisa menghela nafas dan kalut akan kenyataan ini.
Sekian lama Ronald baru berkata: “Sebenarnya aku juga pergi ke Akademi kekaisaran untuk mencari Timothy tadi dan dia memberikan satu cara.”
“Cara apa?” Ivonne langsung bergegas bertanya.
Ronald menatapnya dengan ekspresi rumit: “Dia memintamu untuk menanggung dosa itu.”
__ADS_1
“Aku?” Ivonne terpaku, “Dosa apa yang harus kuakui? Aku tidak melakukan apa-apa, kejahatan apa yang bisa kuakui?”
“Timothy berkata, kamu sebagai Permaisuri mendapatkan rasa sayang dari Paduka Kaisar dan juga sangat didukung oleh para rakyat, pada saat insiden itu terjadi kamu tidak dapat mencegahnya, kamu juga tidak bisa menyelamatkan semuanya tepat waktu hingga membuat banyak korban makin terluka parah, di situasi yang kacau itu tidak dapat melindungi Putri Karen dengan baik hingga membuatnya terluka parah dan berada dalam kondisi kritis.”
Ivonne melotot untuk sejenak, “Ini … jika Kaisar mendengarnya dia pasti tahu bahwa aku sedang membuat masalah.”
Ronald berkata: “Tidak salah, tapi apa Ayah bisa menghukummu?”
Ivonne berkata dengan bodoh, “Karena aku memiliki tongkat kerajaan?”
Ronald berkata dengan nada tidak baik, “Tongkat kerajaan itu hanya bisa menakuti Oscar saja.”
“Apa kamu tidak takut?” Ivonne mengeluarkan tongkatnya dan menatap Ronald dengan serius.
Ronald bergegas berkata, “Jangan mengeluarkannya, cepat simpan.”
Ivonne menyimpan kembali tongkatnya, “Mengapa Ayah tidak akan bisa menghukumku? Niatku itu sangat jelas.”
“Karena sekarang kamu sudah memenangkan hati rakyat, para rakyat memujimu, Paman juga berterima kasih padamu, Kakek sangat sayang padamu, jika kamu dihukum atau disalahkan maka Kakek tidak akan berpangku tangan.”
Ivonne mendengus, “Ternyata ingin menggunakan Kakek, tidak, tidak boleh menggunakan Kakek sebagai perisai!”
Ini benar-benar bukan ide yang bagus.
Karena Ivonne baru saja mendapat penghargaan, sang Ayah baru saja sedikit menghargainya, jika memaksa sang Ayah melepaskan Roy maka perasaan baik sang Ayah padanya itu juga akan hilang.
Tapi siapa yang butuh akan penghargaan itu?
Setidaknya Ivonne tidak butuh.
“Kalau begitu lakukan seperti itu saja!” Kata Ivonne.
Ronald sedikit terkejut, “Apa kamu ingin memikirkannya lagi? Jika kamu melakukan hal itu maka Ayah sudah pasti akan curiga padamu.”
“Meski begitu dia juga tidak bisa membunuhku.” Ivonne menatap Ronald, ragu-ragu untuk sesaat, “Seharusnya dia tidak akan membunuhku kan?”
“Tentu saja tidak akan, bukankah kamu masih memiliki surat itu?” Ronald mengerucutkan bibirnya dan melihat sekilas ke arah lengan pakaian Ivonne.
Surat hutang yang dijaga oleh Ivonne bagai harta berharga, bahkan walaupun dia sudah mengembalikan mutiara selatan tapi Ivonne berhasil mempertahankan surat hutang ini.
“Benar, menurutmu Clara ini mengapa bisa hamil di saat seperti ini? Kupikir dia itu hanya pura-pura, Tuhan tidak memiliki mata, mengapa memberinya anak untuk melindunginya di saat yang penting seperti ini.” Kata Ivonne dengan lemah.
Clara benar-benar beruntung, setiap kali melakukan kesalahan, selalu ada seseorang yang muncul untuk melindunginya, jika bukan Gilang maka itu adalah sang Ratu, dan kali ini bahkan Tuhan pun membantunya.
Memikirkan apa yang dikatakan Permaisuri Stanley, Ivonne kemudian berkata: “Jika dia hamil sekarang, sepertinya Oscar akan dinobatkan menjadi Pangeran Mahkota.”
“Tidak senang?” Tanya Ronald.
Ivonne menggelengkan kepalanya, “Bukannya tidak senang, hanya merasa bagaimana bisa Oscar yang memiliki otak seperti itu menjadi pangeran mahkota? Berapa banyak nyawa yang harus dikorbankan?”
__ADS_1