Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan

Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan
Bab 65. Ceraikan Dia


__ADS_3

Bibi Linda melihat hasil usahanya sendiri sudah terkontaminasi oleh debu, dia ketakutan, Rendi keluar dan berkata, “Bibi bangunlah, Selir Prilly tidak marah padamu, dia marah pada Yang Mulia.”


Bibi Linda tidak berani bertanya, hanya memungut camilan di lantai, kemudian mengundurkan diri.


Dalam perjalanan Selir Prilly ke istana, makin memikirkannya dia semakin marah, dia memanggil orang kepercayaannya dan berkata, “Kamu pergi katakan pada Ayah, katakan bahwa masalah selir terdapat halangan, minta dia pergi mencari Hendra dan bicarakan beberapa kata.”


“Baik!” Bibi kepercayaan Prilly itu menerima perintah dan pergi.


Hendra akhir-akhir ini benar-benar dilanda amarah, hari itu Permaisuri Clara meminta orang untuk menyampaikan kata padanya, ingin agar dia pergi ke kediaman Raja Oscar untuk menunggu, hasilnya dia pergi selama dua hari berturut-turut dan Permaisuri Clara juga tidak menemuinya.


Hendra tadinya tidak ingin pergi lagi, tapi sekarang situasinya benar-benar tak tertahankan, dia hanya bisa menunggu di depan pintu kediaman, menunggu selama lebih dari setengah jam, kemudian baru melihat tandu Permaisuri Clara yang baru kembali.


Hendra menyimpan kemarahan di dalam hatinya, dengan raut wajah tersenyum memberi hormat, “Aku memberi salam pada Permaisuri Clara!”


Clara membuka tirai, menatapnya sekilas dengan dingin, “Ternyata Tuan Hendra?”


“Ya!” Hendra mendengar nada suara Clara yang tidak baik, tidak berani banyak bicara.


Clara dengan datar berkata, “Tuan Hendra, kamu pulanglah, gerbang kediaman Raja Oscar ini rendah, takutnya akan menyusahkanmu. Jika Permaisuri Ivonne tidak senang kemudian dia mengadu macam-macam mengenaiku di hadapan Kaisar, maka itu tidak baik, Anda kembalilah.”


Setelah selesai berbicara, Clara menurunkan tirai, tenda lanjut diangkat masuk ke dalam, meninggalkan Hendra yang terpaku diam di sana.


Hendra setidaknya juga merupakan bagian dari keluarga kerajaan, sangat memalukan untuk menunggu selama tiga hari berturut-turut tapi disuruh menunggu di luar, benar-benar penghinaan besar, wajahnya sangat tidak enak dilihat saat itu, mundur salah, maju pun salah.


Sampai matanya bertatapan dengan pandangan mata mengejek penjaga pintu Kediaman Raja Oscar, Hendra baru dengan marah berbalik badan dan pergi.


“Tuan Hendra!” Terdengar panggilan dari belakang.


Hendra berbalik badan dengan marah, melihat pelayan Clara yang datang, dia memasang senyum dingin di wajahnya, “Permaisuri mengatakan tadi dia bersikap tidak sopan, jadi memintaku untuk meminta maaf padamu.”


Hendra terpaku, meminta seorang pelayan untuk meminta maaf padanya? Bukankah itu sama saja menurunkan harga dirinya? Permaisuri Clara ini memandang rendah orang lain.


Pelayan itu berkata, “Tuan Hendra, Anda jangan marah, Permaisuri Clara juga menerima penindasan di Istana.”

__ADS_1


Mendengar masalah terkait dengan Istana, Hendra terpaku saat itu juga, dengan hati-hati bertanya, “Penindasan apa yang diderita oleh Permaisuri Clara?”


Pelayan itu dengan samar berkata, “Aku tidak bisa mengatakannya, lebih baik Tuan Hendra kembali dan bertanya pada Permaisuri Ivonne, Ratu berkata, menjadi orang harusnya sedikit tahu diri, Kaisar tidak perlu menunggu untuk melihatnya, hanya saja itu semua demi kepentingan kerajaan, Tuan Hendra pikirkan sendiri saja, jangan sampai Permaisuri Ivonne menghambat jalanmu sendiri, oh, sangat disayangkan, Permaisuri Clara tadinya masih ingin membawamu untuk pergi menemui Tuan Gilang…. ”


Setelah pelayan itu selesai berbicara, dia membungkuk hormat dan mengundurkan diri.


Setelah Hendra mendengarkan kata-kata ini, dia terkejut dan marah, sebenarnya apa yang dilakukan Ivonne? Hingga membuat Permaisuri Clara begitu marah.


Hendra tahu Permaisuri Clara memintanya datang kemari, pasti memiliki niat baik padanya, tapi tidak disangka itu semua dihancurkan oleh Ivonne.


Gadis pembangkang ini, sama sekali tidak membantunya dalam hal apa pun, tapi malah selalu menghancurkan urusannya, Hendra benar-benar marah.


Setelah memikirkannya, Hendra meminta orang untuk mengantarkan berita ke kediaman Ronald, mengatakan bahwa kondisi Ibunya sangat buruk, meminta Ivonne untuk pulang.


Clara memasuki gerbang kediamannya, dengan perlahan menyeruput teh, melihat pelayannya yang sudah kembali, dia bertanya dengan lemah, “Apa sudah disampaikan?”


Pelayan itu menjawab, “Permaisuri tenang saja, disampaikan tanpa ada kalimat yang kurang, Tuan Hendra sangat marah.”


Clara menjawab sekilas, tidak lagi berbicara.


Sang Ratu juga memarahinya, jika bukan karena membawa nama kakeknya, takutnya sang Bibi tidak akan mengampuni dengan mudah.


Mengapa Ivonne bisa melihat semuanya dengan jelas? Itu di luar harapannya.


Orang ini tidak bisa tidak diawasi, yang bisa mengaturnya hanyalah Hendra, jika keluarga Hendra masih meninginkan kesuksesan, maka Ivonne harus dibereskan.


Ivonne tidak mendapat kasih sayang di kediaman Ronald, Kak Ronald sama sekali tidak memandangnya, Ivonne tidak bisa kehilangan dukungan dari keluarganya, jadi Ivonne mau tidak mau harus mendengarkan perkataan Hendra, dan juga mau tidak mau harus melakukannya.


Hanya saja hati Clara diam-diam bingung, dia tidak menyangka Ivonne mengerti akan teknik pengobatan, dan juga pemikirannya sangat jernih, seakan-akan diri Ivonne yang dulu itu hanyalah berpura-pura.


Sepertinya jika Hendra tidak bisa mengaturnya, maka Ivonne tidak bisa dibiarkan.


Orang Hendra datang ke Kediaman Ronald untuk melapor, mengatakan bahwa kondisi Nenek Ivonne tidak baik, meminta Ivonne untuk pulang dan menjenguknya.

__ADS_1


Ketika Ivonne mendengar perkataan ini, dia mulai bekerja keras untuk mengingat situasi di kediaman keluarga Ivonne yang asli.


Nenek tua di kediaman Hendra bermarga Lu, lahir di kota, ketika dia masih muda, dia adalah sosok yang sangat populer, ketika menikah ke keluarga ini semuanya berjalan dengan mulus, Hendra juga menduduki posisi asisten menteri di departemen militer.


Tapi, 8 tahun yang lalu, nenek tua menderita penyakit serius, sejak saat itu dia terbaring di ranjang, tabib berkata beberapa kali bahwa dia tidak akan dapat melewatinya, tetapi dia benar-benar keras kepala, berhasil melewatinya lagi dan lagi.


Sekarang nenek tua sudah tidak lagi mengurus hal yang ada di kediaman, Ibu dari Ivonne yang asli bermarga Huang, dia adalah orang yang tidak memiliki pendapat, segala sesuatu yang ada di dalam rumah diserahkan pada istri kedua yang bermarga Zhou bernama Viona.


Berbicara mengenai Viona, sebenarnya dia juga bisa dibilang wanita berkarakter.


Dia awalnya adalah pelayan yang datang menemani ketika menikah, menurut rutinitas umum, dia kemungkinan akan menjadi wanita dari pria tua, tapi dia berwajah cantik, juga memiliki keterampilan, tidak tahu bagaimana dia hamil dengan Tuan kedua, tadinya dengan kondisi ini, hanya tinggal menyuruh Tuan muda Kedua untuk mengangkatnya sebagai selir, itu sudah cukup, tapi wanita itu tidak mau menjadi selir, dia lebih baik mati, jadi dia bunuh diri dengan menggantung dirinya yang membuat Tuan muda kedua begitu sedih dan juga terharu, lagipula ada seorang wanita yang rela mati demi dirinya, itu sudah memuaskan kesombongan sorang pria.


Setelah wanita itu diselamatkan, Tuan muda kedua mengabaikan bantahan keluarganya dan menikahinya sebagai istrinya.


Setelah nenek tua jatuh sakit, kebanyakan wanita itu yang mengurus semua hal yang ada di rumah, sedangkan Nyonya rumah itu, yang merupakan Ibu Ivonne, juga harus mendengarkan perkataan wanita itu.


Hendra juga sangat percaya dan hormat pada Bibi Viona ini, sekarang tidak ada orang di rumah yang mengingat nenek tua yang jatuh sakit di ranjang, hanya tahu Nyonya Viona ini, karena yang bersosialisasi dan melakukan pekerjaan di luar, semuanya dilakukan oleh Nyonya Viona ini.


Perasaan Ivonne yang asli terhadap neneknya seharusnya cukup baik, karena ketika Ivonne mendengar kondisi neneknya memburuk, hatinya panik.


Ivonne mengaturnya, mengatakan bahwa besok dia akan pulang ke rumahnya untuk menjenguk.


Bibi Linda seperti biasanya memberi tahu Yanto akan keberadaan Ivonne, kemudian Yanto pergi untuk melaporkannya pada Ronald.


Ketika Ronald mendengarnya dia tersenyum dingin, “Sepertinya mertuaku sudah tidak bisa menahannya.”


“Sebenarnya Yang Mulia bisa tidak memperbolehkan Permaisuri pulang.” Yanto berpikir sekarang kondisinya sedang panas, jika Permaisuri pulang, tidak tahu apa lagi yang akan dilakukan oleh Hendra, lagipula, Permaisuri paling mendengarkan perkataan Hendra, dulu ketika hubungan Permaisuri dan Yang Mulia begitu buruk, dikarenakan tekanan dari Hendra, Permaisuri akan melakukan berbagai macam hal untuk menyusahkan Yang Mulia.


Hal-hal itu, memikirkannya saja Yanto merasa jijik.


“Nenek sakit parah, dia akan pulang, tunggu setelah dia kembali, jika dia kembali melakukan hal yang menyusahkan, maka anggap saja tidak melihatnya, dan juga jangan memperbolehkannya datang ke tempatku.” Ronald berkata dengan dingin.


“Takutnya tidak tahu apa trik yang akan diajarkan oleh Hendra, jika menyuruhnya bunuh diri dengan cara menggantung diri, itu benar-benar gawat, lagipula, Paduka Kaisar masih memperhatikannya, dan juga mengirim Bibi Vera untuk menemaninya keluar dengan istana.” Yanto berkata dengan khawatir.

__ADS_1


Ronald mengingat masalah yang dibuat Ivonne dulu, ada rasa jijik di pandangan matanya, “Jika begitu, bahkan jika aku disalahkan oleh Ayahku, aku tetap akan menceraikannya.”


__ADS_2